Critical Eleven, Antara Buku dan Film

critical eleven antara buku dan film

Banyak yang bilang, kalau ingin menonton film yang diadaptasi dari sebuah buku, jangan baca dulu bukunya. Namanya adaptasi, ceritanya tidak selalu sama dan juga banyak hal yang terasa lebih bagus di buku. Untuk adaptasi film Critical Eleven ini ceritanya juga ada bedanya, walaupun garis besar konflik ceritanya sama.

Kalau saya ditanya lebih bagus mana buku atau filmnya? Ya buat saya sih keduanya cukup bisa dinikmati jalan ceritanya, walaupun secara tidak sadar membuat catatan yang sedikit membanding-bandingkan. Supaya tidak mengulang, garis besar ceritanya bisa dibaca di tulisan saya sebelumnya: Buku Critical Eleven Ika Natassa.

Tentang Film Critical Eleven

Film ini pertama kali ditayangkan di layar lebar bulan Mei 2017. Baru bulan September 2022 ini filmnya masuk ke layanan streaming Netflix. Film yang dibintangi oleh Adinia Wirasti sebagai Anya dan Reza Rahadian sebagai Ale juga didukung oleh bintang-bintang film lainnya yang sudah ternama seperti Slamet Rahardjo Djarot, Widyawati Sophiaan, Revalina S Temat, Hamish Daud, Hannah Al Rashid, Astrid Tiar, Refal Hady, Anggika Bolsterli, Mikha Tambayong, Aci Resti, Nino Fernandez, Dwi Sasono, dll.

Starvision Plus tidak tanggung-tanggung dalam memproduksi film ini. Kalau melihat lokasi syuting di New York, dan jajaran pemainnya, sudah pasti film ini diproduksi dengan biaya yang lumayan, akan tetapi hasilnya juga lumayan. Film yang disutradarai Monty Tiwa dan Robert Ronny yang juga menjadi produser bersama dengan Chand Parwez ini berhasil masuk nominasi dalam berbagai festival film.

Yuk lihat dulu trailernya sebelum melanjutkan ke bagian unek-unek saya tentang film ini.

Trailer Critical Eleven (Starvision Plus)

Film berdurasi 135 menit ini garis besar ceritanya masih sama dengan di buku. Tentang Anya dan Ale yang bertemu di penerbangan menuju Sydney. Lalu mereka merasa cocok dan menikah setahun kemudian. Setelah menikah, seperti semua keluarga yang menikah, mereka menantikan kehadiran seorang anak. Dan ketika mengetahui Anya hamil, mereka sangat bahagia dan Ale menjadi lebih cerewet dan overprotektif dari biasanya. Lalu ketika seminggu menjelang kelahiran, calon bayi yang sudah mereka beri nama Aidan itu ternyata meninggal di dalam rahim karena kemungkinan terbelit tali pusar.

Rasa kehilangan dan bagaimana cara mereka berduka membuat semuanya menjadi berubah. Hubungan yang tadinya bagaikan 2 orang yang paling berbahagia di muka bumi, menjadi berubah 180 derajat. Ketika kehilangan, orang memang bisa jadi berubah. Walaupun mereka masih saling mencintai, tapi ada rasa lain yang membuat mereka seperti 2 orang asing walaupun ketika bersama-sama.

Anya dan Ale, menikmati kehidupan di New York sebagai penganti baru

Beberapa Perbedaan Cerita Film dari Buku

Namanya adaptasi, pasti nggak bisa sama persis. Beberapa hal yang berbeda dari bukunya misalnya:

  1. Setelah menikah di film ini Anya dan Ale pindah ke New York. Alasannya sih biar lebih dekat ke Mexico. Anya juga bersedia berhenti bekerja dari pekerjaanya di Jakarta. Walaupun akhirnya dia bosan di rumah saja dan menjadi konsultan paruh waktu di Amerika. Kalau di buku, Anya tetap bekerja di Jakarta. Ada beberapa cerita tentang Amerika, tapi bukan karena mereka pindah ke sana.
  2. Tentang Kopi. Kalau di buku digambarkan Ale bisa membuat kopi paling enak yang pernah diminum Anya. Ale juga belajar bikin kopi ini dari papanya. Tapi di film ini, mereka malah beli kopi agak “sembarangan” saja. Dari pinggir jalan ataupun dari coffee shop. Tidak sekalipun rasanya ditunjukkan Ale membuat kopi di rumah. Padahal kan bisa pakai mesin kopi.
  3. Cerita tentang detail pertemuan pertamanya juga nggak persis sama, tapi yang ini nggak masalah deh.
  4. Endingnya juga beda, tapi garis besarnya sih sama.

Masih banyak perbedaan lainnya, tapi ya nggak terlalu mengganggu sih buat saya.

Unek-unek dari menonton film Critical Eleven

Ada beberapa hal yang agak menganggu buat saya ketika menonton film ini. Bukan, bukan dari segi akting ataupun jalan ceritanya. Semua cukup oke dan bisa dinikmati kalau dari segi akting ataupun perubahan yang terjadi dalam cerita ketika mereka mengadaptasi buku ke film.

Rating usia penonton di Netflix

Netflix menuliskan kalau film dengan genre drama romantis dan agak melodrama ini di 13+. Akan tetapi, cerita Critical Eleven ini menurut saya tidak cocok untuk umur 13 tahun. Bagian tidak cocoknya, tentu saja karena ada adegan yang cukup mesra antara suami dan istri. Entah ya, apakah saat ini dianggap wajar memperlihatkan kemesraan yang ada di film ini di depan anak umur 13 tahun.

Saya juga tidak tahu apakah anak 13 tahun tertarik dan bisa merasakan kesedihan ketika ada kasus orangtua kehilangan bayinya. Bahkan mungkin jangankan untuk anak 13 tahun, untuk orang dewasa juga harus ada peringatan kalau film ini bukan untuk ibu hamil yang mungkin agak paranoid.

Apartemen di Manhattan,Tapi Kok Nanggung

Seperti halnya dalam cerita di buku, Ale bekerja sebagai pengebor minyak di lepas pantai. Dengan alasan Ale bekerja di Mexico, maka setelah menikah mereka pindah ke New York dan tinggal di Manhattan. Well memang sih New York – Mexico lebih dekat dan mungkin 1 timezone daripada Jakarta – Mexico, tapi… kenapa harus di Manhattan yang terkenal mahal?

Oh disebutkan sih dalam ceritanya kalau Ale mau yang terbaik untuk istrinya. Makanya dia memilih apartemen di Manhattan dan bukan Broklyn. Okelah, Ale dan Anya memang berasal dari keluarga kaya dan mampu beli apartemen di Manhattan, tapi kenapa agak tanggung dan harus nyuci di tempat laundry koin? Well, kalaupun Anya melakukannya sendiri, kan bisa dong beli mesin cuci untuk di apartemen. Atau mungkin sengaja biar Anya punya kegiatan ke luar rumah?

Coffee Shop buat Video Call dan Office Meetings?

Tapi, berikutnya yang juga aneh adalah ketika Anya dan Ale melakukan video call di coffee shop dan yang agak ganggu adalah ketika Anya yang ada di coffee shop tidak pakai earphone dan percakapannya ya hal-hal yang dibicarakan antara suami istri. Memang sih mereka menggunakan bahasa Indonesia jadi mungkin yang dengar ga akan ngerti, tapi aduh kok kayaknya nggak ada privacy ya kalau orang yang Long Distance Marriage (LDM), video call di tempat umum.

Satu lagi yang agak mengganggu ketika Anya tidak diperlihatkan kantornya. Eh memang sih dia cuma konsultan, tapi ketemu untuk rapat kerja kok di coffee shop saja yang ditunjukkan? Jadi agak bertanya-tanya, jangan-jangan itu syutingnya nggak beneran di coffee shop di New York.

Tonton aja deh!

Eh tapi hal-hal yang saya tuliskan tersebut bukan kritik loh, cuma unek-unek doang. Bukan pula membandingkan dengan cerita di buku. Karena pada akhirnya, mengadaptasi buku ratusan halaman, menjadi film yang durasinya terbatas, mereka harus memilih mana yang perlu disajikan dan mana yang perlu dimodifikasi. Misalnya saja yang dimodifikasi itu dalam hal penokohan, di film ini ada tokoh teman kerja Anya yang tidak ada di buku.

Ya sudah, kalau ingin melihat Reza Rahadian dan Adinia Wirasti dalam film yang sama, langsung saja tonton filmnya mumpung sudah masuk Netflix.

Leave a Reply