Baca Buku: Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam

review buku perempuan yang menangis kepada bulan hitam

Buku Perempuan yang Menangis kepada Bulan Hitam bercerita tentang Magi Diela yang menjadi korban kawin tangkap di Sumba, adat yang tidak adil bagi perempuan. Ceritanya agak berat dan sebenarnya bukan genre bacaan saya. Buku ini menarik karena berbeda dengan kisah fiksi lainnya dan saya jadi sedikit penasaran dengan budaya Sumba.

Saya mendengarkan buku ini di Storytel dibacakan oleh Siska Tola. Pembacanya ini sepertinya orang dari daerah NTT juga. Pantas saja ketika mendengarkan novel yang banyak menggunakan dialog dari daerah Sumba, terasa fasih sekali.Oh ya, kalau membaca bukunya, akan ada banyak catatan kaki yang lambat laun akan membuat kita merasa bisa bahasa Sumba. Dengan mendengarkan, awalnya saya juga agak bingung maknanya, akan tetapi lama -lama saya jadi mengerti berbagai kata bahasa Sumba yang digunakan.

Penulis buku ini bukan orang asli Sumba, akan tetapi kalau dari yang saya baca di goodreads, Dian Purnomo sempat tinggal di Sumba selama enam minggu untuk mengumpulkan fakta tentang budaya Sumba. Jadi kemungkinan besar, ceritanya cukup faktual dan bukan rekaan semata.

Didengarkan di storytel dari 8 jam jadi 4.37 jam

Fakta menarik tentang Sumba

Sebelum bercerita tentang sinopsis, saya tertarik karena penjelasan kalau lokasi cerita ini di Sumba. Saya senang kalau membaca cerita yang settingnya bukan hanya Jakarta atau Bandung. Setelah membaca Damar Hill oleh Bulan Nosarios yang berlokasi di Takengon, saya memang mencari bacaan yang lokasinya berada di daerah lain di Indonesia. Walaupun saya tidak dengan sengaja mencari cerita tentang perjuangan hak wanita yang dirampas atas nama adat istiadat.

Selain penggambaran suasana di Sumba dan bagaimana masyarakatnya berinteraksi, buku ini banyak sekali membahas adat Sumba terutama yang terkait dengan kawin tangkap dan kepercayaan terhadap membaca nasib dari ritual adat.

Tentang perempuan korban adat

Dari novel karya Dian Purnomo ini, saya merasa di luar sana, ada banyak perempuan yang mengalami nasib seperti Magi Diela Talo. Tokoh utama dari buku ini. Walaupun buku ini fiksi, saya berharap, tidak ada lagi kejadian yang dialami Magi Diela terjadi terhadap siapapun di masa mendatang.

Adat istiadat itu dulu dibuat dengan tujuan baik. Akan tetapi, adat itu bukan hukum yang paku mati. Bahkan hukum yang sudah ditetapkan sebagai undang-undang saja bisa direvisi. Saya rasa, tidak ada manusia yang mau haknya diinjak-injak atas nama adat.

Perempuan sering jadi korban adat. Ketika orang memilih menjalankan adat walaupun menyebabkan anak perempuannya menderita, ketika orang tidak mau malu karena disebut melanggar adat. Ada juga yang ketakutan kalau melanggar adat akan menyebabkan leluhur menjadi marah dan mendatangkan petaka, padahal adat yang dijalankan itu adalah petaka buat perempuan yang menjalaninya.

Sinopsis Buku

Sedikit peringatan buat yang akan membaca buku ini, buku ini bukan cerita cinta, bukan pula cerita tentang jalan-jalan melihat keindahan alam Sumba. Buku ini bercerita tentang seorang perempuan Sumba yang punya cita-cita untuk memajukan pertanian di desanya, tapi nasib berkata lain ketika ada pria yang menculiknya dan memperkosanya atas nama adat kawin tangkap. Buku ini membuka mata, kalau masih banyak wanita yang dijajah pria atas nama adat.

Padahal Magi Diela Talo sudah diijinkan oleh bapaknya untuk berkuliah di Jogja. Dia kembali ke Sumba dan bekerja memberikan penyuluhan pertanian. Tapi ternyata, bapaknya mengirimnya kuliah semata-mata supaya mas kawinnya bisa semakin tinggi. Mending kalau yang melamarnya masih tak berbeda jauh umurnya, kalau dari cerita ini, yang melamar Magi adalah seorang yang sudah hampir seumur bapaknya, dan juga sudah pernah menikah dan istrinya kabur karena tak tahan menderita.

Bagian utama cerita ini adalah bagaimana Magi berusaha menyelamatkan dirinya dari nasib buruk setelah dipaksa menjalankan adat kawin tangkap ini. Tentu saja saya tidak akan menceritakan semuanya, karena cerita ini lebih menarik kalau dibaca sendiri.

Antara adat Sumba dan Batak

Sepanjang membaca buku ini, saya banyak memikirkan adat Batak. Sebagai wanita Batak, saya tahu kalau orang Batak ini umumnya sangat bangga dengan adatnya. Mereka bisa sangat marah kalau disebut orang yang tidak tahu adat. Saya pernah sedikit mengeluhkan tentang pesta adat batak yang terlalu lama, dan langsunglah berbagai komentar mampir di blog saya yang bahkan tidak membaca apa yang saya tuliskan secara lengkap.

Akan tetapi, sepengetahuan saya, adat Batak yang dijalankan sekarang itu pun sudah merupakan penyederhanaan dari adat aslinya. Kalau dulu pesta kawin bisa berhari-hari, sekarang ini bisa hanya beberapa jam saja sudah prestasi lah. Kalau dulu banyak orang tua yang menuntut anaknya hanya menikah dengan orang Batak yang dari suku Batak yang sama, saat ini sudah banyak orang tua yang menerima kalau cinta tidak dibatasi oleh tembok kesukuan.

Dulu, saya sering dengar kalau orangtua Batak rela berhutang uang asal bisa menjalankan adat pernikahan anaknya. Katanya hutang adat lebih sulit dilunasi daripada hutang uang. Permasalahan mas kawin pun konon dulu bisa menyebabkan tidak jadi menikah kalau permintaan keluarga perempuan tidak disanggupi oleh keluarga laki-laki. Ada sedikit kesamaan adat di dunia patriarki ini, perempuan itu jadi seperti barang yang bisa dipertukarkan dengan mas kawin saja.

Perempuan, yang melahirkan dan menderita?

Terlepas dari adat istiadat. Sebenarnya sering mendengar ada perempuan jadi korban kekerasan. Pelakunya siapa lagi kalau bukan orang terdekat alias pasangannya. Sebenarnya saya jarang mengomentari hal-hal dengan isu sosial seperti ini.

Membaca buku ini membuat saya berpikir, kok masih saja ada yang tega memperlakukan perempuan semena-mena. Bukankah mereka juga dilahirkan oleh perempuan? Bukankah mereka tahu kalau nggak ada perempuan, maka tidak akan ada keturunan selanjutnya? Kenapa sih masih saja pada tega membiarkan perempuan menderita?

Kalau di buku ini, bukan saja yang melamar Magi Diela yang jahat, tapi juga bapaknya! Apa sih pentingnya menikahkan anak kalau akhirnya anaknya disiksa orang yang merasa memiliki karena sudah membayar mas kawin?

Penutup

Tidak semua orang mungkin kuat membaca buku ini. Kalau kamu tidak suka dengan cerita yang mengandung fakta dan bercerita tentang dunia yang seperti tidak ada cahaya di dalamnya, sebaiknya jangan membaca buku ini, daripada jadi stress setelah membacanya.

Saya mendengarkan buku ini sampai selesai, karena saya penasaran dengan nasib Magi Diela. Sejujurnya saya berharap akhir yanglebih bahagia buat Magi dan adatnya lebih adaptasi dengan jaman seperti di adat Batak. Akan tetapi, sepertinya di banyak daerah, adat itu masih lebih kental daripada hukum lainnya.

Semoga saja ke depannya, adat itu bisa lebih dipilah, mana yang memang baik untuk dijalankan dan mana yang sebaiknya tidak lagi dijalankan karena bisa jadi adatnya merampas hak hak orang tertentu.

Ada rekomendasi buku yang bercerita dengan latar belakang adat dan budaya Indonesia lainnya?

Leave a Reply