Harapan Palsu di Buku Everything is F*cked

Sebenarnya baca buku Everything is F*cked yang diterjemahkan menjadi Segala-galanya Ambyar oleh Mark Manson ini sudah selesai bulan lalu. Saya bacanya cukup lama karena sering lupa melanjutkan.

Secara keseluruhan buku ini menarik untuk dibaca dan banyak hal yang membuat kita merenung dan berpikir tentang hidup ini. Tapi, kesimpulan akhir saya berbeda dengan kesimpulan penulis.

a book a bout hope
Cover buku Segala-galanya ambyar

Saya ingat pernah menuliskan awal membaca buku ini saya membaca buku fisik, lalu saya beralih ke buku digitalnya bulan Juni tahun 2020. Secara bertahap ketika membaca buku ini saya juga sudah membagikan beberapa poin di tulisan terpisah.

Misalnya saja tentang kita harus bersyukur. Saya kutip kembali tulisan saya sendiri:

Mengucap syukur itu penting. Dalam hidup ini, kita gampang sekali mengeluh. Mark Manson dalam bukunya yang ke-2 “Everything is F*cked” bilang kalau kemudahan yang sudah kita dapatkan sekarang ini membuat kita lupa kalau ada banyak hal yang pernah lebih buruk daripada masa ini. Jadi kenapa mengeluh kalau ada hal yang tidak nyaman sedikit saja?

Poin lain yang juga sudah saya tuliskan adalah tentang perbedaan selera.

Mark Manson bilang dalam bukunya segala-gala ambyar, kalau otak perasa kita terkadang membuat keputusan kalau sesuatu itu lebih baik di dunia ini daripada yang lain, inilah yang menjadikan selera setiap orang tidak sama.

Kesan Tentang Buku Mark Manson ke-2

buku mark manson ke-2
Daftar isi buku Segala-galanya Ambyar

Buku ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama tentang Harapan dan bagian ke-2 tentang Segala-galanya ambyar.

Saya bisa mengerti contoh-contoh yang disajikan dan argumen dari Mark Manson. Tapi seperti pendapat kebanyakan orang, menurut saya Mark Manson terlalu bertele-tele dan kebanyakan mengulang/mengutip dirinya sendiri dari buku pertama tentang Sebuah seni untuk bersikap bodo amat.

Awalnya, saya sempat keliru menangkap makna judul dari buku ini. Saya pikir judul yang berkata buku tentang harapan artinya dia akan mengajak kita tetap berharap dan bagaimana berharap yang benar.

Yah seperti halnya semua buku self-help yang banyak teori. termasuk teori tentang berharap ala Mark Manson.

Di bagian awal, Mark menjelaskan tentang 3 hal yang dibutuhkan untuk mengelola harapan:

  1. Perasaan kita punya kendali
  2. Nilai atau sesuatu yang kita anggap penting dan ingin kita upayakan
  3. Komunitas yang memiliki nilai yang sama sehingga kita bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama.

Lalu, sehubungan dengan harapan, Mark menjelaskan tentang bagaimana cara otak kita bekerja antara Thinking Brain dan Feeling Brain. Manusia punya logika dan perasaan yang butuh seimbang. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pada logika dan tidak bisa juga mengandalkan perasaan. Sampai di sini saya masih mengangguk-angguk setuju.

Mark panjang lebar menjelaskan dan memberi contoh-contoh tentang kita pikir kendali ada di kemampuan berpikir secara logika, padahal kendali keputusan sering kali ada di tangan perasaan yang membuat pengendalian diri itu hanyalah ilusi.

Harapan Palsu?

Kesan selanjutnya, Mark mengacak-acak segala hal termasuk tentang agama. Mark bikin petunjuk tentang cara membuat agama baru, yang mungkin saja masuk akal dan ada benarnya. Sebagai orang yang beragama, di bagian ini saya mulai tersendat membacanya. Antara ingin tahu apakah argumennya benar dan mentah-mentah menolak idenya.

Tapi, akhirnya saya meneruskan membacanya sedikit demi sedikit dalam rentang waktu satu tahun. Hahaha… Dan waktu saya mau menuliskan reviewnya, saya harus membaca ulang sebagian besar.

Mark menyimpulkan supaya sebaiknya jangan pernah berharap, karena semua yang memberi harapan itu akan membawa kekecewaan dan kehancuran. Kalau kenal Mark, saya akan kasih usul dia mengganti judul bukunya menjadi: Segala-galanya ambyar (gara-gara harapan).

Harus diakui, cara dia meyakinkan bahwa harapan hanya bikin kita merasa makin terpuruk ada benarnya. Saya sendiri mengalami baru-baru ini merasa sedikit terpuruk ketika melihat angka pasien Covid-19 baru di Thailand tiba-tiba seperti berlomba dengan pasien baru di Indonesia.

Padahal waktu itu, saya baru berpikir dengan adanya program vaksinasi yang sudah dimulai, tak lama lagi saya bisa mudik ke Indonesia. Pada saat itu saya berharap, dan ternyata ketika harapan saya kandas dengan fakta Covid-19 belum pergi dan malah makin parah, di situlah saya merasa ambyar dan Mark Manson ada benarnya.

Kesimpulan Saya Tentang Harapan

Eh tapi, kesimpulan akhir saya tidak sama kok dengan Mark Manson. Ada faktor lain yang mungkni menurut Mark adalah nilai yang saya punya berbeda dengan nilai yang dipahami Mark Manson. Saya lebih percaya kuasa Tuhan dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri apalagi kekuatan manusia lainnya.

Mungkin Mark Manson terlalu mengelola perasaan dan logika, sampai lupa dengan adanya Tuhan. Mark Manson bisa saja menuliskan cara-cara membuat agama baru, tapi faktanya, dia sendiri mungkin tidak punya sesuatu yang dia imani.

Saya tidak tahu apakah Mark Manson orang yang percaya Tuhan atau tidak dan agamanya apa. Tapi ini bukan tentang agama sih, tapi tentang iman.

Karena saya punya Tuhan, saya percaya kalau mengelola harapan itu bukan dengan perasaan punya kendali, bukan tentang nilai dan bukan tentang komunitas dengan nilai yang sama.

Renungan tentang Harapan

Harapan itu hanya di dalam Tuhan saja. Percaya kalau Tuhan sudah punya rencana untuk setiap kita manusia dan rencana Tuhan adalah rencana damai sejahtera dan bukan rencana yang membuat ambyar.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

1 Korintus 13:13 (TB)

Kalian sudah baca buku ini belum? Bagaimana kesimpulan akhir tentang harapan? Semoga tidak ambyar seperti Mark Manson ya.

risna

A blogger who likes to watch Korean dramas and learn about digital desain with Canva and video editing using Kinemaster.

Leave a Reply

%d bloggers like this: