Proses Mengumpulkan Tulisan Menjadi Flipbook

mengumpulkan tulisan menjadi e-book

Saya berkenalan dengan flipbook di tahun 2021 ketika melihat bagaimana e-book yang berisi kumpulan tulisan teman-teman di KLIP bisa di baca di web seperti majalah online. Saya jadi penasaran dan mencari tahu bagaimana sih membuat flipbook tersebut.

Dari hasil pencarian, saya melihat kalau ada banyak layanan pembuatan Flipbook gratis maupun berbayar di internet. Setelah mencoba berbagai layanan, saya memilih Heyzine untuk menampilkan flipbook Cerita dari Chiang Mai 2021. Tahun lalu saya belum terpikir mencari pluginnya di WordPress. Tahun ini saya mencari plugin di WordPress karena kebanyakan pilihan yang gratis menampilkan iklan atau memberi watermark.

Untuk mengerjakan kumpulan tulisan lagi tahun 2022 ini, saya agak bermalas-malasan. Sudah terbayang prosesnya tidak singkat. Kurang motivasi karena toh tulisannya sudah dipublikasikan semua di blog. Lalu menemukan ada beberapa alternatif plugin flipbook di WordPress, semangat bangkit kembali untuk mencoba-coba plugin flipbook. Akhirnya saya berhasil mengerjakan kumpulan tulisan untuk jadi “Skripsi” KLIP tahun 2022 ini.

Flipbook tahun 2022

Memang dalam mengerjakan sesuatu, akan lebih menarik kalau ada hal baru yang dipelajari. Dalam mengumpulkan tulisan menjadi buku, saya perlu belajar hal baru. Berikut ini catatan proses mengumpulkan tulisan, dan hal-hal yang saya pelajari selama prosesnya yang membuat saya jadi bersemangat kembali.

Memilih Topik untuk Dijadikan E-book

Berbeda dengan kebanyakan orang yang bercita-cita membuat buku, saya belum berkeinginan menulis buku. Walaupun sepanjang tahun banyak menulis dengan topik yang garis besarnya sama, akan tetapi saya belum pernah berhasil memikirkan satu topik yang inign saya tuliskan menjadi buku. Akibatnya, saya punya banyak sekali topik di blog dan bingung mencaritahu kira-kira topik mana yang cukup 19.000 kata.

Saya mencoba membuat garis besar tulisan saya sepanjang tahun 2022. Berikutnya saya mempertimbangkan tulisan mana yang akan saya kumpulkan menjadi buku. Ada 2 kandidat yang menjadi pilihan: Tulisan review film dan tulisan tentang pengalaman berlatih konsisten membaca di tahun 2022. Pilihan jatuh ke konsisten membaca, karena ini merupakan salah satu prestasi tersendiri buat saya yang patut saya ingat ketika malas membaca.

Memindahkan Tulisan ke MS Word

Setelah memilih topik yang ingin dijadikan e-book, pekerjaan dimulai dengan memindahkan tulisan ke Word atau Google Doc. Saya memilih memindahkan ke Word karena pengalaman di tahun sebelumnya. Google Doc memang powerful, tetapi fiturnya masih kalah dengan Ms Word terutama untuk memproses dokumen yang jumlah halaman dan gambarnya banyak. Saya juga merasa bekerja dengan Ms Word artinya pemrosesan berjalan di lokal dan tidak tergantung koneksi internet.

Memindahkan dokumen ini bukan sekedar salin tempel, tetapi juga perlu sekalian memperhatikan memberi section break dan header atau footer yang dibutuhkan. Kenapa section break dan bukan hanya page break? Karena saya ingin memberikan footer yang berbeda untuk setiap babnya. Kalau saya memilih page break, otomatis semua halaman dari depan sampai belakang akan sama persis header dan footernya, sedangkan dengan adanya section break berganti halaman, saya bisa membuat header dan footer yang berbeda jika diinginkan.

Memilih Style dan Design Layout

Setelah semua artikel disalin ke MS Word, langkah berikutnya adalah memberi style untuk setiap bagian tulisan. Berikan heading, subheading, paragraf dan caption gambar secara konsisten. Manfaatkan Style dan Design Layout yang tersedia di Ms Word. Pastikan semua bagian menggunakan style. Tujuannya tentu saja, jika ada bagian yang ingin diubah, kita tinggal mengubah dari style dan otomatis bisa diubah di seluruh dokumen.

Setelah memberikan style pada setiap bagian dokumen, kita tetap harus memperhatikan lagi apakah ada bagian tulisan yang style-nya belum berubah. Teorinya, dokumen di blog kita harusnya sudah diperiksa ejaan dan tatabahasanya ketika dipublikasikan. Akan tetapi jika ingin memastikan, kita bisa mengaktifkan spelling checker di Ms Word, setelah mengubah pengaturan bahasanya menjadi bahasa Indonesia. Cara ini berguna untuk memeriksa dengan cepat apakah ada tipo atau hal yang masih perlu diedit.

Memang antara mengedit dan melayout jangan dilakukan bersamaan. Tetapi pengalaman kemarin itu, berkali-kali setelah diedit, ketika melayout masih saja saya menemukan kesalahan di sana sini. jadi memang, harus berkali-kali memeriksa layout ulang ketika ada perubahan.

Oh ya, standar dokumen di Word itu adalah untuk kertas A4 atau letter. Ketika ingin mengubah menjadi e-book, ada baiknya kita mengubah ukuran kertas menjadi A5. Dengan cara begini, tulisan bisa lebih besar di dalam buku dan lebih terbaca ketika dilihat di ponsel, tablet, komputer, atau bahkan ketika ingin dicetak.

Merapihkan Cover dan Daftar Isi

Berikutnya kita bisa menambahkan cover di bagian depan. Word menyediakan beberapa template yang bisa digunakan, bisa juga kita menambahkan file gambar yang kita kerjakan di aplikasi lain seperti Canva.

Untuk pembuatan daftar isi, jangan membuat secara manual, pilih untuk menambahkan daftar isi secara otomatis memanfaatkan heading yang sudah dibuat. Cara ini sangat memudahkan hidup. Ketika ada perubahan di dalam dokumen, kita bisa mengupdate daftar isinya dengan 1 klik.

Simpan Sebagai PDF Kemudian Tambahkan ke WordPress

Setelah edit, desain layout, cover dan daftar isi selesai, kita bisa simpan pekerjaan kita sebagai pdf. Untuk membuat file pdf di word sangat mudah, kita tinggal memilih save as pdf. File pdf ini perlu diperiksa (proofreader) sebelum dituliskan. Jika semua sudah oke, lanjutkan ke langkah berikutnya

Sebenarnya, file pdf yang dihasilkan sudah merupakan bentuk buku. Jadi menambahkan WordPress ke plugin ini sangat mudah. Bisa dibaca di tulisan ini ya.

Tulis di Page atau Post Blog

Langkah terakhir tentu saja menuliskan sebuah pengantar yang dicantumkan tautan untuk bisa melihat langsung e-book yang dihasilkan.

Kesulitan mengerjakan e-book

Setiap kali mengerjakan kumpulan tulisan menjadi e-book, rasanya ingin mengumpulkan topik-topik lainnya, mumpung masih ingat berbagai ilmu baru bekerja dengan MS Word. Semoga saja setelah ini bisa agak lebih rajin nih mengumpulkan tulisan menjadi e-book.

Bagian paling lama dari membuat e-book ini adalah bagian mengedit tulisan, terutama karena saya masih kurang rajin memeriksa kesalahan penulisan sebelum mempublikasikan tulisan. Kesulitan berikutnya bagian layout gambar. Saya belum menemukan cara bagiamana ketika gambar sudah diatur di sebuah halaman, gambar itu tidak bergeser lagi ketika ada perubahan sedikit di halaman sebelumnya. Terutama perlu diperhatian supaya tidak ada gambar yang terpisah dari caption ataupun terasa hilang dari bagiannya.

Ada yang ingin menambahkan pengalaman lain dalam mengumpulkan tulisan di blog menjadi buku? Tuliskan di komentar ya!

Leave a Reply