Parenting ala Keluarga Cemara

review buku keluarga cemara

Harta yang paling berharga adalah keluarga

Ost Keluarga cemara

Bulan ini saya memutuskan membaca buku Keluarga Cemara karya Arwsendo Atmowiloto. Seperti halnya buku Beryukur Tanpa Libur, buku ini juga berisi kumpulan cerita kehidupan keluarga. Kalau buku Bersyukur Tanpa Libur adalah kisah kehidupan penulis, di buku Keluarga Cemara, penulis menggambarkan kisah keluarga sederhana yang memiliki 3 anak perempuan. Dipikir-pikir, mirip juga ya dengan Arswendo (alm) yang juga punya 3 anak.

Oh ya, sebelum membaca buku ini, saya hanya tahu kalau Keluarga Cemara ini pernah dibuatkan sinetron dan film selain buku. Akan tetapi saya belum pernah menontonnnya ataupun membacanya. Saya malah baru tahu kalau buku Keluarga Cemara ini ada 6 seri yang dikumpulkan dari cerita bersambung.

Sambil baca, yuk dengerin OST film Keluarga Cemara

Tentang Buku Keluarga Cemara #1

Buku Keluarga Cemara #1 di Storytel

Buku yang saya dengarkan di storytel ini bisa dibaca juga di ipusnas. Merupakan gabungan dari 3 buku: Hari Pertama, Musik Musim Hujan dan Kupon Kenangan. Total ada 39 cerita dalam 288 halaman. Bisa didengarkan 4 jam 7 menit (dengan kecepatan 1.75 kali).

Setelah membaca buku ini, saya baru tahu kalau Cemara itu bukan anak pertama. Entah apa alasannya Arswendo memberi judul buku ini Keluarga Cemara, padahal Cemara yang dipanggil Ara yang baru masuk TK ketika cerita dimulai adalah anak ke-2 dari Abah dan Emak. Punya kakak Euis umur 12 tahun dan adiknya Agil yang belum sekolah.

Dari buku Keluarga Cemara, saya baru tahu kalau cerita ini bercerita tentang keluarga Kristen. Ara juga sekolah di sekolah Kristen. Nama lengkap Ara, yaitu Cemara diambil karena Ara lahir di hari Natal. Selama ini, entah kenapa saya terpikirnya keluarga Cemara ini keluarga Islam loh, seperti umumnya kebanyakan sinetron di Indonesia.

Kisah buku ini ya apalagi kalau bukan tentang kisah keluarga si Cemara ini. Bagaimana mereka adalah orang yang biasa saja dan cenderung susah. Abah bekerja serabutan termasuk menarik becak, Emak mengurus semua pekerjaan rumah dan memasak opak untuk dijual. Euis, sebagai kakak paling besar bertugas mengantar adiknya ke sekolah, sambil bantu emak masak opak selain berjualan opak.

Walau di awal buku ini dikisahkan keluarga ini sangat pas-pasan dan bahkan harus berhutang ke salah satu tetangganya untuk memenuhi kebutuhan. Tapi, ternyata di tengah buku diceritakan kalau mereka tidak selalu miskin. Abah dulunya punya 2 perusahaan, karyawannya juga banyak. Satu perusahaan ekspor impor dan satu lagi usaha asuransi. Abah sudah biasa ke luar negeri dan juga punya 3 mobil selain 30 lebih pegawai. Akan tetapi, karena ada rekan bisnis yang menipu, usaha Abah bangkrut dan mereka harus pindah dari Jakarta ke kota kecil.

Satu-satunya anak yang pernah merasakan hidup nyaman itu ya Euis. Tapi walaupun begitu, Euis digambarkan sebagai anak yang baik dan tidak mengeluh. Dia juga menyesuaikan diri ketika kenyamanan yang ada sudah tidak ada lagi. Emak juga pernah hidup nyaman, dan ketika hidup susah, Emak tidak mengeluh. Prinsip Emak sih, bahagia apa adanya asal bersama-sama dengan keluarga.

Pelajaran dari Abah di Keluarga Cemara

Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari interaksi anggota keluarga di Keluarga Cemara ini. Nasihat-nasihat yang diberikan tentunya kebanyakan dari Abah. Pelajaran dari Abah ini sebenarnya mengingatkan saya dengan apa yang diajari oleh orantua saya dan berusaha saya terapkan untuk anak-anak kami.

Walaupun dalam cerita buku ini, Abah terkadang terkesan terlalu bijaksana dan siapa tahu bisa meniru prinsip Abah ketika menghadapi berbagai situasi hidup dalam mendidik anak.

Dalam mendidik anak itu suami istri harus sepakat supaya anak jangan bingung

Ada beberapa hal yang sering diulang-ulang dalam buku ini: Kejujuran, Berbuat Baik, dan mengenai apa itu hal jahat.

Kejujuran

Kita harus jujur, karena Tuhan selalu tahu

Dalam beberapa cerita, penekanan kejujuran ini misalkan ketika menemukan sesuatu di jalan, kita harus mengembalikan. Kalau tidak tahu mengembalikan ke siapa, ya laporkan saja ke kantor polisi. Walaupun mungkin nantinya yang kita kembalikan tidak kembali ke pemilikinya, tapi itu bukan urusan kita lagi. Intinya kita tidak mengambil apa yang bukan menjadi hak kita.

Jujur berarti tak mengambil yang bukan hak kita

Berbuat Baik

Berbuat baik ke siapa saja walau tidak kenal

Dalam buku ini, Abah selalu mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi orang baik dan. berbuat baik. Dalam sehari-hari banyak juga sih ketemu orang yang tidak baik. Tapi, tentu saja walaupun orang lain tidak baik, bukan berarti kita perlu ikutan menjadi orang tidak baik. Menjadi baik itu juga bukan karena kenal saja, tapi ya membantu siapa yang bisa dibantu tanpa mengharapkan imbalan.

Orang baik itu memberi tanpa berharap imbalan

Tentang hal yang jahat

Salah itu biasa, asal bukan berniat jahat

Di buku ini, Abah diceritakan menjadi panutan dari seluruh keluarga dan hampir tak boleh dibantah. Akan tetapi, ada juga bagian di mana Abah mengaku kalau dia salah. Sepertinya bagian ini ingin menunjukkan kalau manusia pasti ada kemungkinan berbuat salah, dan itu masih tidak apa dibandingkan berbuat salahnya disengaja alias diniatkan dengan motif jahat.

Tak perlu malu karena hal lain, akan tetapi malulah kalau jahat

Ada juga kisah bagaimana Euis pernah merasa malu karena ada temannya yang menghina Opak jualannya sebagai makanan kuda. Perasaan malu ini membuatnya tidak ingin ke sekolah atau melakukan apapun. Abah menasihati Euis kalau tidak perlu malu karena miskin, tapi yang perlu malu itu orang yang jahat.

Kesan keseluruhan

Menakut-nakuti itu sama saja dengan menteror

Masih ada banyak hal yang bisa dipelajari dari buku ini. Ada bagian di mana anak-anak yang polos berdoa kepada Tuhan berharap mendapatkan sesuatu (walaupun seringnya tidak kesampaian). Ada juga bagian cerita bagaimana terkadang sebagai kakak menakut-nakuti adiknya dan Abah mengingatkan kalau menakut-nakuti itu sama saja dengan teror dan lebih buruk akibatnya.

Dari 2 buku Arswendo yang saya baca, saya suka dengan gaya bercerita keseharian, penuh nasihat bijak walaupun tidak terlalu berasa menggurui. Saya bisa mengerti kenapa Sinetron Keluarga Cemara bisa bertahan bertahun-tahun di berbagai stasiun televisi (walau saya tidak menonton sama sekali). Mungkin saya akan mencari buku berikutnya dan meminjamnya dari ipusnas.

Nasihat-nasihat Abah dalam usahanya untuk bangkit kembali seperti masa jayanya perlu dibaca untuk mengingatkan bagaimanapun keadaan hidup, kita harus tetap jujur, mengusahakan berbuat baik dan jangan berbuat jahat terhadap orang lain. Dari semua nasihat Abah untuk anak-anaknya, intinya tetap kembali ke orang tua harus satu suara, supaya anak-anak tidak bingung.

mamah gajah ngeblog

Tulisan ini juga saya sertakan untuk Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni dengan Tema: parenting.

12 thoughts on “Parenting ala Keluarga Cemara

  1. Keluarga Cemara ini sinetron masa kecilku dulu, barengan dengan ACI hehe. Yang film malah ga nonton deh, cuma liat trailernya.

    Suka dengan quote-quotenya, jadi pengen baca bukunya deh. Makasih Risna

    1. Ah iya, sinetron Aku Cinta Indonesia rasanya aku nonton, tapi kok lupa ya ceritanya.

      Bagus deh ini buku keluarga Cemara, karena ceritanya lepasan tiap babnya, jadi bisa dibaca sebentar2

  2. Akupun belum pernah nonton atau baca kisah keluarga cemara. Sepertinya banyak petuah bijak ya. Kisah ini juga sepertinya selalu dikenang, maksudnya sampai di remake lagi berarti mungkin isinya bagus

    1. isinya baguuuus, aku sih suka, walau dalam hati campur aduk kadang2 dengan nasib mereka. Tapi ya nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga ini yang dalam buku bagus sih.

  3. Baru tau kalau Keluarga Cemara tu ada bukunya. Taunya sinetron dan film aja…
    Duluan mana antara buku dan sinetron kak? Ceritanya sama nggak tuh?

    1. Kalau ga salah malahan ini tadinya duluan ada dalam bentu cerita bersambung di tabloid gitu, terus dijadikan buku, baru diadaptasi jadi sinetron dan film. Kemungkinan ceritanya ga sama persis, karena jumlah episode sinetronnya juga cukup banyak, tapi karakternya kemungkinan besar ya sama, karena yang nulis ceritanya pasti Arswendo juga. Pinjem gih bukunya ada di ipusnas

  4. Wah jadi kakak dulu nggak nonton sinetronnya? Aku suka nih keluarga cemara, menurutku justru susah banget ya jadi mereka, meskipun banyak keterbatasan tapi tetap positif dan saling mendukung. Maunya sih jadi parent yang kayak Abah dan Emak, tapi mungkin mereka sanggup begitu karena mereka adalah tokoh dalam cerita ya. Kalau dalam kenyataan susaaaah huhu

    1. iya, aku ternyata nggak nonton sama sekali.Mungkin mau nyari filmnya aja dan nonton deh, siapa tau dapat ilmu parenting tambahan di dalamnya. Emang sih mereka tokoh ideal ya, kalau dalam dunia nyata, entah adakah yang seperti mereka…

  5. Lengkap banget, Risna, parenting ala Abah dan Emak dari Keluarga Cemara ini. Owalah ternyata Risna juga sama kayak saya ya, tidak pernah menonton sinetron jadulnya ehehe, semua berbekal dari bukunya ya.
    Dan lagi-lagi, saya baru tahu kalau Keluarga Cemara ini ada bukunya. Nuhun pisan informasi dan sinopsisnya ya Risna. 🙂

    ***
    Nilai-nilai yang diajarkan sungguh mendalam dan bagusss. Apalagi bagian yang bahwa hanya Tuhan yang tidak pernah salah, tetapi kita masing-masing BISA salah. Pelajaran ketuhanan yang berharga dan patut ditanamkan sejak dini, serta menyadari bahwa sebagai manusia PASTI tidak sempurna dan punya keterbatasan.

    ***
    Very well-written indeed. Both buku Arswendo Atmowiloto dan tulisan review Mamah Risna. 🙂

  6. teh Risna … aku nonton film ini di bioskop bareng Teteh. Senang sekali bisa menemukan film yang baik dan mengandung makna hidup yang dalam.
    Kalau bukunya malah belum pernah baca he3 …
    Nah … aku setuju banget nih dengan model seperti ini dalam parenting: “Dalam mendidik anak itu suami istri harus sepakat supaya anak jangan bingung.”

    salam semangat

  7. Wah baru tahu kalo Keluarga Cemara itu asalnya dari buku. Dulu cuma lihat film serinya sepotong-sepotong. Sepakat sama beberapa teteh di atas, kayaknya tokoh Abah dan Emak ini too good to be true di dunia nyata. Semoga makin banyak keluarga yang punya nilai-nilai seperti Keluarga Cemara.

Leave a Reply