Review Buku Bersyukur Tanpa Libur

bersyukur tanpa libur

Yay, akhirnya menyelesaikan membaca satu buku di bulan Februari 2022 ini. Buku yang berhasil diselesaikan di bulan Februari ini berjudul Bersyukur Tanpa Libur, Catatan Kehidupan Arswendo Atmowiloto. Diterbitkan Gramedia Pustaka Utama di bulan Januari 2021 ini dan bisa dibaca di Gramedia Digital. Saya sudah menuliskan insight dari buku ini sebelumnya.

Sedikit mengulang, buku berjummlah 280 halaman ini dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama adalah berdasarkan apa yang ditulis Arswendo tentang dirinya, tulisan tersebut ditemukan di komputernya yang lama dan disusun oleh tim penulis yang sepertinya teman-teman sekerjanya. Bagian ke-2 isinya merupakan tulisan dari orang-orang yang mengenal Arswendo di masa hidupnya. Mulai dari keluarga, teman seprofesi, dan rekan kerjanya. Di bagian akhir, ternyata ada tulisan dari Presiden RI Joko Widodo juga loh.

Saya sudah menuliskan bagian cerita Arswendo tentang dirinya dan apa kata keluarganya dan teman seprofesinya. Di bagian ini saya akan mereview ulang sedikit sambil menambahkan apa kata teman sekerjanya tentang Arswendo.

Tentang Arswendo Atmowiloto

Buku ini sejenis buku biografi yang dimulai dengan autobiografi. Tetapi, karena tulisan ini diterbitkan setelah Arswendo Atmowiloto meninggalkan dunia, buku ini jadi sejenis memoar atau catatan hal-hal yang bisa dipelajari dari hidupnya dan karya-karyanya.

Arswendo Atmowiloto lahir di Solo 26 November 1948 dengan nama Sarwendo dan mengganti namanya setelah lulus SMA. Drop out dari IKIP Solo karena keterbatasan biaya, tapi karena dari muda (sekitar tahun 1970-an) selalu aktif mengirimkan tulisannya ke berbagai media (yang bahkan berbahasa Jawa), dia dikirim ke Iowa Universitas Amerika Serikat tahun 1979 mengikuti program menulis kreatif.

Dari kecil, dia suka bercerita dan bahkan suka menjadi dalang. Kesukaannya bercerita ini juga dituangkan dalam bentuk tulisan dan juga menggambar komik. Saat di Amerika, dia juga sempat manggung sebagai dalang dengan wayang seadanya yang didapatkan dari komunitas orang Indonesia di Iowa.

Sebagai penulis dan jurnalis, Arswendo terkenal sangat produktif. Bukan hanya mengisi di media cetak, karya-karyanya juga merambah ke televisi. Buat yang tumbuh dan besar sejaman dengan saya, mungkin ingat di TVRI ada serial Aku Cinta Indonesia (Aku Cinta Indonesia), atau beberapa tahun belakangan ada sinetron Keluarga Cemara. Buat pembaca majalah Hai dan kemudian tabloid monitor, pasti sudah pernah dengar dengan nama Arswendo.

Saya termasuk yang sudah pernah dengar, tapi tidak terlalu mencari tahu siapa dia. Saya hanya tau dia sebagai seniman yang masuk penjara karena tanggung jawab sebagai pemimpin redaktur tabloid Monitor. Kasusnya apa? silakan dicari sendiri ya, yang jelas, dia masuk penjara bukan karena jahat, tapi lebih karena sesuatu yang terbit di majalahnya, dan sebagai pemimpin, dia harus bertanggung jawab dengan apa yang diterbitkan.

Setelah keluar dari penjara, dia tetap melanjutkan karyanya dan bekerja di tabloid Bintang Indonesia selama 3 tahun, kemudian membuat usaha media sendiri di tahun 1998. Sebenarnya, bahkan dari dalam penjara dia juga tetap berkarya walau menggunakan tulisan tangan dan nama samaran.

Arswendo meninggal dunia 19 Juli 2019 setelah menderita sakit selama beberapa bulan terakhir dalam hidupnya. Sepanjang hidupnya, dia sangat bangga hanya punya 1 istri, 3 anak dan juga punya anjing peliharaan yang juga menjadi bagian dari cerita buku Beryukur Tanpa Libur.

Tentang Pekerjaan dan Profesi

Di bagian terakhir buku ini, salah satu cerita yang menarik adalah dari bagaimana Arswendo dianggap teman kerja oleh anak yang masih sangat muda. Yang menuliskannya ini ibu dari anak tersebut. Awalnya sepertinya terkesan anak remaja itu kayak kurang sopan ya, masak iya menyebut diri teman sekerja Arswendo yang karyanya udah banyak banget. Eh tapi, Arswendo malah menilai itu tandanya anak tersebut punya kepercayaan diri yang baik dan menghargai profesinya.

Bagian ini menunjukkan kalau Mas Wendo (demikian rekan seprofesinya menyebut alm), menghargai karya setiap orang. Bukan hanya orang yang sudah terkenal, berkarya banyak ataupun sudah sangat tinggi jam terbang berkarya. Setiap karya itu sama berharganya.

Nasihat-nasihat lainnya

Selain beberapa hal yang sudah saya kutip sebelumnya, teman-teman Mas Wendo juga mengingat berbagai nasihat kehidupan yang dibagikan dan membuat itu menjadi semangat buat mereka juga.

Nasihat yang disebutkan ini semuanya sebenarnya sudah sangat jelas maknanya ya. Misalnya tentang tebarkan jala, ya ini dengan kata lain kita tetap harus usaha dan terus berkarya. Karena ikan ga masuk sendiri ke dalam penggorengan.

Nasihat tentang risiko pekerjaan dan kesempatan mengembangkan diri ini juga untuk menyemangati orang-orang yang dia delegasikan kepercayaan dalam pekerjaan. Bukan hanya menasihati, sebenarnya inilah yang terjadi ketika dia harus menanggung risiko sebagai pemimpin redaktur Monitor dan dia harus masuk penjara karena kontraversi yang diakibatkan tulisan yang terbit di tabloidnya.

Penutup

Pada akhirnya, nasihat-nasihat yang ini mungkin bukan hanya Arswendo yang menyebutkan, bisa jadi, dia juga mendapatkannya dari buku-buku yang pernah dia baca. Tapi saya ingin mengutipnya lagi. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat buat orang lain.

Semoga tulisan review buku ini juga bisa bermanfaat buat yang membacanya. Kalau mau mendapatkan lebih banyak insight, langsung saja baca buku Bersyukur Tanpa Libur, bisa baca di Gramedia Digital, atau kalau lebih suka buku cetak, bisa cari di Gramedia langsung.

Kalian ada rekomendasi buku karya Arswendo Atmowiloto yang berkesan dan menarik untuk dibaca? Saya sepertinya berikutnya akan mencoba mencari buku karya fiksinya sebelum membaca lagi buku Mengarang itu Gampang.

3 thoughts on “Review Buku Bersyukur Tanpa Libur

  1. RIP Mas Wendo, baru tahu kalau beliau sudah meninggal.

    Karya-karyanya memang melegenda ya, terbaik memang. Menarik nih Risna bukunya, nanti kucoba baca di Gramedia Digital.

Leave a Reply