Review Buku: Belok Kiri Langsing

Buku ini merupakan buku karya Achi TM yang ke-2 yang dibaca. Buku pertama dibaca di bulan Desember judulnya Insya Allah Sah, tapi belum ditulis review-nya. Mungkin kapan-kapan deh, atau mungkin sekalian di sini aja.

Pada dasarnya, cerita di buku ini mirip banget dengan cerita di buku yang pertama saya baca. Padahal jarak antara 2 buku itu ada 5 tahun. Berhubung belum baca buku-buku lainnya, belum bisa bikin kesimpulan kalau cerita karya mbak Achi selalu begitu.

Tentang Buku Belok Kiri Langsing

Buku ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Versi e-book nya bisa dibeli di Gramedia Digital. Akan tetapi, saya hanya mendengarkan audiobooknya saja di aplikasi Storytel.

Buku dengan jumlah lebih dari 300 halaman ini, membutuhkan waktu hampir 10 jam untuk didengarkan, tapi untuk mempercepat, kita bisa mengatur kecepatan mendengarkannya. Awalnya saya mempercepat 1.25 kali, tapi belakangan saya percepat 1.5 kali. Kalau dipercepat, tentunya waktu yang dibutuhkan untuk mendengarkan jadi berkurang cukup bayak.

Walaupun sudah berkurang cukup banyak, saya menyelesaikan membaca buku ini beberapa hari, ya nggak mungkin kan mendengarkan buku seharian langsung lebih dari 1 jam. Memang kecepatan membaca sendiri dibandingkan dibacakan aplikasi itu beda ya. Saya baca dari beberapa ulasan, ada juga orang yang berhasil membaca buku ini sekali duduk. Either dia membacanya super cepat, atau dia emang bisa berjam-jam duduk membaca tanpa terdistraksi.

Buat saya sih, buku ini nggak mungkin akan bisa saya baca sekali duduk, karena jalan cerita di buku ini nggak terlalu bikin penasaran, apalagi karena sudah membaca buku sebelumnya yang ceritanya mirip banget.

Sinopsis Belok Kiri Langsing

Dari blurb cerita ini, disebutkan kalau gadis bernama Gendis Utami (sering dipanggil dengan sebutan GendUt) diputusin oleh Herman pacarnya selama 5 tahun. Mereka bahkan sudah menyicil rumah bareng, karena tadinya sudah berencana menikah. Alasan diputusinnya karena Gendis kegemukan.

Awal mereka jadian padahal di sebuah acara fun run, Gendis yang saat itu cuma 60 kg dengan tinggi 165 cm menjadi juara pertama. Gendis sudah berkali-kali sebenarnya menembak Herman, tapi ditolak, nah kali ini dengan semi memohon, Gendis bilang ke Herman kalau dia menang fun run, Herman harus jadi pacarnya. Entah karena kasian, atau Herman memang suka juga dengan Gendis, akhirnya mereka pun pacaran.

Gendis dan Herman ini satu perusahaan tapi beda divisi. Herman urusan desain, Gendis urusan administrasi. Tapi, pada saat Gendis udah berharap biar segera dilamar dan dinikahi Herman, eh malahan Herman memutuskan untuk putus dengan Gendis. Waktu putus, Herman udah bilang kalau dia sudah menemukan wanita lain yang lebih tahu menjaga pola makan dan sesuai dengan dirinya.

Gimana nasib cicilan rumah? Well, Herman yang sudah keluar banyak untuk DP bilangnya sih sebagai kompensasi sudah mengecewakan, Gendis boleh melanjutkan cicilan rumahnya.

Terus Gendis menerima begitu saja? Ya, mau ga nerima juga emangnya bisa apa? Namanya hubungan percintaan itu kan 2 arah ya, kalau searah itu namanya entahlah apa. Mana bisa memaksa cinta, kalau hati sudah beralih, ya mau tak mau Gendis pun menerima.

Ceritanya masih panjang, jadi kalau baru baca bagian yang saya tulis sudah emosi jiwa, mungkin lebih baik nggak usah baca. Karena sebenarnya ada bagian lain dari Gendis yang menurut saya sih pantesan saja diputusin Herman. Ketika berapa banyak makanan yang dia makan setiap harinya dideskripsikan. Mendengarnya saja, saya udah yakin ini pasti akan jadi penyebab diputusin.

Oh ya, Gendis diputusin di warung ayam geprek yang biasanya ada paket beli 1 gratis 1 untuk pasangan, atau disebut Geprek Couple. Nah, sebelum kejadian putus itu, Herman dan Gendis pernah mau makan di sana, tapi ditolak karena belum resmi menikah. Tapi kemudian, restorannya berubah kebijakan, orang pacaran boleh makan di situ. Eh tapi naas banget ya Gendis malah diputusin pas makan di situ.

Pemilik warung Geprek itu yang awalnya disangka pelayan, orangnya ganteng dan berbaik hati mendengarkan keluh kesah Gendis pasca diputusin. Dan ternyata, Dimas, sang pemilik warung Geprek itu adalah salah seorang peserta Fun Run yang menyaksikan bagaimana Gendis meminta Herman menjadi pacarnya. Gendis tidak mengenali Dimas, karena waktu Fun Run 5 tahun yang lalu, Dimas badannya sangat besar. Tapi ternyata, karena waktu Fun Run itu Dimas agak dihina oleh Gendis, Dimas menjadi bersikeras menguruskan badannya dan berhasil. Eh malah Gendis yang jadi gendut kayak kena karma.

Haduh sudah panjang ya, singkat cerita bisa ditebaklah ya. Diputusin Herman, Gendis curhat ke Dimas. Dimas kasian pada Gendis dan berusaha membantu Gendis menguruskna badan. Walaupun Dimas memotivasi Gendis itu murni untuk kebaikan Gendis sendiri. Tapi lama-lama, Dimas jadi tertarik sama Gendis dan karena Gendis tidak mau pacaran lagi, Dimas langsung melamar dan ngajak nikah saja.

Udah, gitu doang? Sebenarnya ada banyak detail yang tidak bisa dituliskan di sini, tapi intinya kira-kira begitu. Oh ya, spoiler lagi, Herman nikah dengan teman sekantor Gendis yang notabene tadinya teman Gendis buat makan makanan yang banyak, tapi ternyata si cewe itu walau makan banyak, tetep olahraga yang banyak juga dan nggak makan malam lagi, makanya tetap bisa kurus.

Kesan dari Buku Belok Kiri Langsing

Buku ini mengajarkan beberapa hal yang baik, walau terkadang jatuhnya nyebelin. Misalnya tentang: jangan pacaran lama-lama, atau tentang: jadi cewe nggak usah deh ngejar-ngejar cowok, nggak pantes.

Pelajaran lain tentu saja tentang perhatikan makanan yang masuk ke tubuh, karena apa yang masuk itu akan menjadi lemak yang susah payah untuk menguruskannya. Menjadi kurus itu tidak mudah, walaupun dalam buku ini dengan berbagai metode, bisa loh 2 bulan turun 18 kilogram! Tapi, kata saya sih, ini jangan ditiru, turun berat badan dalam waktu singkat, bisa-bisa banyak penyakit menyusul.

Terus yang nggak bagusnya apa? Ya, gak bagusnya, pas baca ceritanya, semua karakternya itu pada dasarnya nggak ada yang bener juga sih. Herman memang salah, tapi Gendis juga punya andil salah.

Gimana dengan Dimas? Nah ini juga ada bagian yang saya gak suka terutama tentang cara dia memaksa-maksa Gendis buat diet dengan alasan ingin Gendis sehat, terus lama-lama pas dia suka, bukannya menyatakan suka dulu ke Gendis, malah main lamar ke ortu, dan melamar Gendisnya di depan umum, di pesta pernikahan adiknya.

Walaupun saya bukan orang yang romantis, tapi apa yang dideskripsikan tentang lamaran Dimas ke Gendis itu bener-bener nggak banget deh! Apalagi ada bagian, di mana Dimas menjadi bos di kantor Gendis, dan dia memecat Gendis dengan alasan: ada penawaran kerjaan lain. Dan penawaran kerja itu adalah menjadi istri buat Dimas.

Hellow? Kayaknya, udah ga jaman deh memaksa cewek berhenti kerja hanya karena menikah. Iya, emang Dimas udah punya uang lebih dari cukup, tapi kan ada saja cewek yang merasa ingin tetap bekerja karena itu yang membuat mereka merasa lebih berguna? Sayapun ketika berhenti bekerja itu karena keputusan berdua, bukan karena dipaksa suami atau suami bilang: udahlah, aku punya banyak uang kok. Lagipula, kenapa sih nggak ditanya baik-baik dulu, dikomunikasikanlah setidaknya. Siapa tau si cewek lagi punya banyak cicilan utang buat dibayar. Jangan mentang-mentang punya banyak duit, merasa bisa membeli siapa saja gitu dong ah!

Penutup

Hehehe, namanya juga fiksi ya, jadi terima sajalah. Nah, bagian mana yang mirip dengan buku Insya Allah Sah? Kalau sudah baca, mungkin bisa lihat ya plot utamanya sama. Tapi kalau belum, aku sebutin aja di sini ya kesamaanya:

  • tokohnya wanita, pacaran lama dan hampir menikah dengan pacarnya yang selalu terlihat ragu untuk menikahi
  • tokoh wanitanya bertemu dengan pria yang lebih ganteng dan ada kesempatan sengaja atau tidak di mana mereka akan sering berinteraksi. Tokoh ke-3 ini kenal juga dengan cowoknya si wanita
  • somehow pernikahan dibatalkan oleh si pacar, dan biasanya si pacar sudah punya wanita pengganti, walau tidak mengaku disebut selingkuh
  • si wanita yang hatinya hancur lebur, akhirnya menemukan kalau si lelaki ganteng yang selama ini beredar di sekitarnya bisa jadi tempat curhat yang baik, walaupun interaksi mereka di awal agak lebih sering ribut dan sewot daripada ngomong baik-baik
  • si wanita akhirnya jadi lebih taat ibadah, apalagi karena sering disindir oleh si pria ganteng tapi nyebelin
  • si pria yang datang kemudian ini ternyata juga punya hati ke si wanita yang tiba-tiba jadi single and available ini. tapi pria-pria ini ceritanya nggak mau pacaran lama-lama, mereka tipe langsung ngajak nikah
  • dan happy ending di ceritanya tentu saja si wanita tokoh utama menikah dengan pria yang baru saja dia kenal, tapi lebih alim.

Kelebihan dari buku Belok Kiri Langsing ini adalah, tentu saja memotivasi siapapun yang sedang berusaha untuk langsing. Bukan supaya ketemu pria seperti Dimas, tapi ya di buku ini ditekankan berkali-kali, kalau mau diet, lakukan untuk diri sendiri, bukan untuk orang lain.

Udah gitu aja. Kalau mencari hiburan ringan, walau udah ketebak, bolehlah didengarkan atau dibaca buku ini. Kalau bosan dengan cerita yang begitu-begitu saja, waktunya buat ganti genre.

3 thoughts on “Review Buku: Belok Kiri Langsing

  1. Membaca cerita tentang buku ini bikin aku jadi ingat formula cerita romantis itu kadang tokoh utama pria ‘memaksa’ leading lady untuk menerima dia. Cuma karena paras ganteng dan charming sehingga lebih diterima, hehe

  2. jadi kaya Korean Drama ya Risna hehe, aku bakal gemes ini, sebel ama Dimas juga. Trus kok tiba-tiba Dimas jadi boss-nya Gendis ?

    Aku belum pernah dengar audio book gini, seru juga kali ya buat nemenin kerja malam2.

Leave a Reply