Review Buku Filosofi Kopi (2006)

Review buku Filosofi Kopi - Risna Info

Berkat audiobook dari storytel, akhirnya ada juga nih buku yang selesai dibaca di bulan Maret 2022 ini. Lagipula, salah saya sendiri, memilih buku fiksi berbahasa Inggris yang tidak ada versi audionya, jadilah agak lama menyelesaikannya. Kemarin, ketika ada teman memberitau ada sebuah aplikasi yang membacakan buku berbahasa Indonesia, saya langsung mencobanya. Cerita tentang aplikasinya nanti dalam posting terpisah saja ya.

Alasan saya mendengarkan buku ini sudah jelas, karena saya suka minum kopi. Di aplikasi Storytel, buku ini dibacakan oleh Chicco Jerikho, yang menjadi Ben dalam film Filosofi Kopi dan Dee Lestari, sang penulis buku. Dari pengalaman mendengarkan buku, sebuah buku itu lebih menarik ketika yang membacakan adalah penulisnya. Dari beberapa contoh buku-buku lain yang saya dengarkan, baru buku ini yang cara membacakannya paling enak didengarkan.

Tentang Buku Filosofi Kopi oleh Dee Lestari

Buku Filosofi Kopi karya Dee Lestari yang pertama kali terbit di tahun 2006 ini merupakan kumpulan prosa satu dekade (1995 – 2005). Bisa dibilang, ini adalah karya Dee Lestari yang sebagian kemungkinan dia tulis sebelum karyanya yang laris manis seperti Supernova. Tulisan dalam buku ini bahkan karya sebelum kumpulan cerita dalam buku Madre yang dituliskan antara 2006 – 2011.

Seperti halnya buku Madre, buku Filosofi Kopi ini memiliki beberapa judul, 18 judul tepatnya. Tidak semuanya berupa cerita pendek, ada juga puisi dan prosa pendek. Seperti halnya Madre, cerita utama dari buku ini tentunya berjudul Filosofi Kopi dan bahkan cerita ini sudah diadaptasi menjadi Film.

Berhubung saya belum menonton filmnya, saya tidak bisa berkomentar tentang filmnya. Karena saya menyukai kopi, ada kemungkinan saya akan menonton filmnya. Tunggu saja ya, kalau ditonton mudah-mudahan akan ditulis ulasannya di sini.

Kesan tentang Cerita Filosofi Kopi

Kalau buku Damar Hill bercerita tentang kopi dari Takengon, buku Filosofi Kopi ini lebih bercerita tentang sebuah warung kopi yang menjual aneka kopi. Warung kopi yang bukan hanya menjual kopi, tapi juga berusaha mengenalkan filosofi dari kopi yang diminum oleh pengunjungnya. Mereka juga berusaha mendengarkan apapun yang menjadi kebutuhan dari pengunjungnya dan berusaha menemukan kopi terbaik.

Katanya, pilihan kopi itu menggambarkan orang yang meminumnya. Berikut ini beberapa filosofi dari kopi yang disebutkan dalam buku tersebut. Sebagai orang yang sebenarnya baru belakangan mengerti apa beda setiap kopi ini, saya rasa pemilihan kata-kata menggambarkan kopinya cukup menarik.

Kopi tubruk itu lugu, kopi yang sederhana. Tapi kalo kita mengenal dia lebih dalam, dia akan sangat memikat.

Filosofi KoPi

Saya ingat, dulu saya sering minum kopi tubruk, tapi saya nggak ingat, apakah memang dia memikat. Kalau dalam buku ini, diceritakan cara menikmati kopi tubruk itu harus dinikmati dulu aromanya, sebelum disesap kopinya.

Cappuccino itu kopi yang genit, ketebalan dan tekstur foam harus presisi. Butuh standar penampilan yang tinggi. Karena capuccino cocok untuk orang yang suka keindahan sekaligus kelembutan.

Filosofi Kopi

Saya sering memesan cappucino karena ada campuran susunya. Tidak pernah terpikir tentang ketebalan dan tekstur foam harus presisi. Baru belakangan saya tahu, kalau kopi cappucino itu berbeda dengan latte, dan yang dihias itu biasanya latte bukan cappucino.

Filosofi macchiato, sendirian atau berdampingan, hidup sepatutnya tetap penuh arti.

Filosofi Kopi

Nah ini jenis kopi yang belakangan sering dipesan Joe, tapi di sini sih malahan dikasih caramel, jadi namanya caramel macchiato. Entah sama atau tidak, saya tidak tahu.

Apakah mereka akan menemukan kopi terbaik? Seperti apakah rasa dari kopi terbaik itu?

Kesan Tentang Cerita Lainnya

filosofi kopi - storytel - risnainfo

Seperti halnya dengan buku Madre karya Dee Lestari, cerita lainnya terasa biasa saja dan agak kurang menarik buat saya. Beberapa cerita ya mungkin menarik, misalnya saja cerita dengan Rico sang Coro yang menjadi tokoh utamanya. Sebenarnya coro atau kecoak itu binatang yang nggak ada lucu-lucunya. Tapi memang, disitulah seninya ya, Dee membuat cerita dari kisah seekor coro yang jatuh cinta dengan manusia.

Semua ceritanya saya dengarkan sampai habis, tapi rasanya hanya cerita Filosofi Kopi yang paling menarik buat saya.

Buku ini saya dengarkan dengan kecepatan yang saya atur 1.25 kali lebih cepat dari normal, dan masih bisa dinikmati mendengarkannya. Hanya butuh 2 jam 55 menit untuk menyelesaikannya. Mungkin, untuk yang punya kecepatan membaca sangat cepat, buku ini bisa diselesaikan dibaca dalam waktu kurang dari 2 jam 55 menit. Memang bukunya nggak tebal, hanya 134 halaman saja.

Penutup

Buat yang ingin mengetahui detail tentang cerita-cerita yang ada dalam buku ini, Dee Lestari sudah menuliskan tentang buku ini di situsnya. Oh ya, setelah tahun 2007 buku ini di terbitkan oleh Gagas Media, di tahun 2013, buku ini diterbitkan oleh Bentang Pustaka.

Kalau ingin mencari versi digitalnya, bisa dibeli dari Gramedia Digital. Iya dibeli terpisah karena, saya lihat harga di Gramedia digital 29 ribu rupiah untuk bisa membacanya. Tapi untuk mendengarkan di Storytel, saya mendengarkan dengan gratis karena masih dalam masa promosi gratis 7 hari, atau kalau kamu sudah berlangganan, kemungkinan sih bisa mendengarkan dengan gratis.

Kalau kamu penyuka kopi, kemungkinan kamu sudah membaca buku ini ya, saya aja yang memang agak ketinggalan membacanya, hehehe.

One thought on “Review Buku Filosofi Kopi (2006)

Leave a Reply