Review Buku: Read to Lead

read to lead

Salah satu buku yang selesai dibaca (dan didengarkan) di bulan Februari ini adalah buku berjudul Read to Lead karya Jeff Brown dan Jesse Wisnewski. Buku yang diterbitkan oleh Baker Publishing di tahun 2021 ini tidak saya tuliskan insightnya karena ada terlalu banyak tips tentang membaca buku yang terdapat di dalamnya.

Sebagai orang yang sedang berusaha untuk konsisten membaca, saya merasa buku ini agak berat tapi juga perlu dibaca berkali-kali. Ada beberapa hal yang saya senang dari buku ini karena buku ini tidak menghakimi orang yang membaca buku versi audio seperti saya. Buku ini juga menyebutkan kalau tidak ada aturan bahwa membaca buku itu harus dari depan sampai belakang diselesaikan sampai habis. Sah-sah saja kalau ada yang ingin membaca buku hanya bab tertentu, sesuai dengan kebutuhannya.

Tentang Buku Read to Lead

Buku Read to Lead ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama mengingatkan kembali alasan kenapa kita perlu membaca buku dan bagaimana pada masa sekarang ini semakin sedikit orang yang membaca buku dengan berbagai alasannya. Saya termasuk yang dari dulu punya sejuta alasan untuk tidak membaca. Dari tahun ke tahun saya berencana untuk membaca lebih banyak buku, dan baru di tahun 2022 ini saya memaksakan diri membaca.

Bagian kedua buku ini membahas bagaimana memilih buku untuk dibaca. Intinya pada bagian ini kita menentukan sendiri apa yang menjadi target kita dalam membaca, dan kita membuat sendiri rencana baca kita. Walaupun di bagian ini ada rekomendasi buku untuk dibaca, tapi penulis buku ini membebaskan kita untuk memilih buku apapun yang ingin kita baca kalau memang itu yang menjadi tujuan kita membaca.

Membaca buku fiksi ataupun non fiksi sama baiknya. Ketika membaca fiksi, kita bisa mengenali karakter yang diceritakan dalam sebuah fiksi dan belajar untuk melihat apakah ada yang bisa dijadikan catatan dari karakter yang fiksi tersebut.

“As you read books in general, you’ll better understand people, improve your decision-making skills, sharpen your ability to communicate, and become more creative, which are all essential characteristics of the modern-day leader.”

From “Read to Lead: The Simple Habit That Expands Your Influence and Boosts Your Career” by Jeff Brown.

Read more on Scribd: https://www.scribd.com/book/519140623

Bagian ketiga membagikan berbagai tips untuk menjadi pembaca yang cerdas. Jadi, bukan sekedar membaca, tapi kita diajak untuk mengerti dan mengingat apa yang kita baca. Selain itu juga ada tips bagaimana melatih kecepatan baca kita (kalau kita ingin membaca lebih banyak, ada baiknya kalau kita bisa membaca lebih cepat). Ada juga tips untuk menskimming sebuah buku dengan cepat. Bagian yang tak kalah penting adalah di bagian ini diceritakan pentingnya mengikuti sebuah klub baca buku untuk membuat kita lebih semangat membaca.

9 Cara menyediakan waktu untuk membaca

Tidak ada alasan untuk tidak membaca, buku ini memberikan 9 cara supaya kita tetap bisa membaca:

  1. Membuat strategi baca, pada dasarnya kita bisa mencari tahu berapa jam waktu yang dibutuhkan untuk membaca sebuah buku dengan mengetahui kecepatan membaca kita per menit. Di kindle ataupun scribd, sering ada keterangan berapa jam waktu yang dibutuhkan orang rata-rata untuk membacanya. Selanjutnya setelah mengetahui ini, kita perlu membuat strategi baca kita (beberapa menit per hari, atau bisa juga berdasarkan jumlah halaman per hari)
  2. Komit untuk membuat membaca menjadi prioritas. Jadi misalnya kalau kita sudah tahu butuh 30 menit per hari, selama 30 menit yang kita pilih untuk membaca, kita harus fokus dan tidak melakukan hal lain selama kita membaca.
  3. Kenali ritme kehidupan harian atau mingguan Anda. Sebelum menentukan berapa lama waktu yang bisa disediakan untuk membaca per hari atau per minggu, kita perlu tahu dulu di manakah waktu yang bisa kita pakai tanpa gangguan tersebut.
  4. Ketika kita kesulitan menemukan waktu yang bisa kita sediakan untuk membaca, coba deteksi waktu yang sebenarnya tidak produktif dan lebih banyak dipakai untuk hal-hal seperti sosial media, menonton youtube ataupun hiburan tak penting lainnya. Kurangi hal tersebut dan alokasikan untuk membaca. Kalau memang kita sudah merasa tidak membuang waktu tapi tidak ketemu waktu juga, coba cek apakah ada waktu diperjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang bisa dipakai untuk membaca, atau bahkan kalau perlu gunakan audiobook untuk mendengarkan di perjalanan (atau sambil olahraga di pagi hari).
  5. Gantikan waktu yang dialokasikan untuk hal lain menjadi waktu untuk membaca. Hal ini perlu dilakukan kalau misalnya kita tidak juga menemukan waktu yang tersedia. Dari salah satu obrolan sesama emak, ada loh yang membaca buku ketika berada di toilet, karena di situlah satu-satunya tempat yang tidak ada distraksi dan rutin dilakukan setiap hari. Kalau buat saya sih, sebenarnya masih ada banyak sekali waktu yang bisa digantikan untuk membaca, tinggal masalah niatnya aja, hehehe.
  6. Lawan teknologi dengan teknologi. Kalau memang tidak bisa membaca di ponsel karena kita tidak bisa menguasai diri dan selalu terdistraksi dengan pesan yang masuk, ya matikan saja internet di jam kita membaca. Kalau buat beberapa orang, bisa juga menginstal aplikasi seperti ForestApp yang akan membatasi akses ke aplikasi yang mendistraksi kita ketika membaca.
  7. Buat jadwal ideal mingguan, pastikan ada waktu membaca yang menjadi komitmen kita di dalamnya
  8. Katakan tidak, jika ada yang meminta waktu untuk melakukan hal lain yang sudah kita jadwalkan untuk membaca. Walaupun kita bisa saja menggesernya ke waktu yang lain, tapi ini merupakan awal jadwal menjadi berantakan kalau kita tidak bisa tegas berkata tidak.
  9. Sediakan waktu setiap ada kesempatan, mulai dari pagi hari, di saat sarapan, saat istirahat siang, ataupun menjelang tidur. Sebenarnya, ini yang dilakukan anak saya, tapi jadinya dia kadang-kadang terlalu asik baca, pekerjaan utama malah sering diabaikan (ga baik juga ya).

Intinya sih, nggak usah cari alasan, kalau memang merasa membaca itu penting, ya diniatkan, diusahakan, dipaksakan.

Penutup

Secara keseluruhan buku ini mengingatkan/ memberi argumen kenapa kita perlu membaca. Bukan saja untuk yang ingin menjadi pemimpin tapi ya karena di dalam buku ada berbagai hal yang bisa dipelajari lebih cepat dibandingkan kita harus duduk belajar di sekolah formal.

Tidak semua orang yang membaca buku akan menjadi pemimpin, tapi semua pemimpin pastilah orang yang suka membaca buku.

Untuk tips lainnya, baca sendiri aja di bukunya ya. Menurut saya, buku ini seperti menguatkan kembali alasan saya untuk mengusahakan untuk komitmen membaca buku lebih banyak lagi.

2 thoughts on “Review Buku: Read to Lead

Leave a Reply