Maksakeun Maca: The Clutter-Free Home

clutter free home

Setelah membaca 3 buku fiksi dan 1 buku non fiksi sejak ikut maksakeunmaca, waktunya untuk mencari buku non fiksi. Pilihan jatuh ke buku ini, dan bacanya juga di scribd. karena dari dulu sudah terlalu lama menunda beberes rumah dari barang-barang yang sudah tidak terpakai. Mainan anak-anak yang sudah tidak dimainkan sampai dengan baju-baju yang bikin lemari penuh padahal sudah tidak bisa dipakai.

Tentang buku The Clutter-Free Home

clutter free
Daftar isi Buku Clutter-Free Home

Buku The Clutter-Free Home ini memiliki subjudul: making room for your life. Buku setebal 206 halaman ini saya baca dari scribd, ada versi cetak dan versi audionya. Menurut tulisan di sampulnya sih, penulisnya Kathi Lipp adalah seorang pendiri Clutter-Free Academy. Saya belum mencari tahu apa itu clutter free academy, mungkin seperti ada banyak kelas berbenah yang belakangan ini saya liat seliweran di media sosial saya.

Kenapa harus baca buku dulu baru beberes? Padahal kalau mau beberes ya langsung saja beberes, bukannya malah duduk membaca. Ya… kan namanya mengumpulkan niat ya. Seperti membaca yang harus dipaksa, sepertinya berbenah pun harus butuh kesadaran memaksakan diri. Nah ini langkah awal untuk memaksakan diri mengurangi barang-barang di rumah.

Sedikit cerita, saya sudah pernah membaca beberapa bab buku Marie Kondo, dan hasilnya saya tidak menyelesaikan membaca bukunya karena saya tau saya tidak akan melakukan cara yang dia ajarkan, hahahaha, kemalasan menang ya. Nah buku ini sih nggak mengajarkan untuk meminimalisasi semuanya, tapi lebih ke mengajak untuk membentuk kebiasaan hanya memiliki barang yang ada tempatnya.

Apa sih Clutter itu?

Clutter yang dimaksudkan dalam buku ini adalah benda-benda yang berada di rumah kita tapi sebenarnya tidak kita pakai dalam keseharian. Untuk sederhananya contoh-contoh clutter yang dimaksud di sini bisa jadi:

  • tumpukan kotak bekas makanan atau gelas plastik yang kita dapat ketika memesan makanan online
  • baju yang sudah tidak muat lagi tapi kita berharap suatu saat bisa kita pakai lagi kalau berat badan turun, atau baju yang ada robeknya sedikit dan berencana kita perbaiki tapi tak kunjung kita lakukan
  • tumpukan koran atau majalah yang ada resepnya, kita kumpulkan dengan niat untuk dicoba masak tapi tak kunjung kita lakukan
  • tumpukan buku pelajaran anak-anak yang sudah tidak dipakai lagi
  • kalau di rumah saya sih mainan anak-anak jaman masih balita padahal yang terkecil sekarang sudah usia 6 tahun. Pada dasarnya mainan tersebut sudah tidak dimainkan lagi beberapa tahun belakangan ini, tapi saya belum juga mengumpulkan mainan tersebut dan menjual atau menyumbangkan mainan itu untuk yang masih bisa memainkannya.
  • tumpukan kertas tagihan di depan meja yang rencananya ingin dirapihkan untuk mencatat pengeluaran tapi tidak kunjung dilakukan
  • surat-surat tagihan pembayaran berlangganan sesuatu yang sebenarnya sih sekarang sudah bisa dibayar online dan entah kenapa masih saja dikirimin tagihan via surat.
  • merchandise seperti kotak BTS Meal yang dulu sempat hype dan saya cuma iseng aja beli dan ternyata nggak ada yang saya kenal mengoleksi kotak itu.

Di rumah saya memang banyak yang sudah saya tahu perlu dibuang, tapi ya inilah sedang mengumpulkan niat untuk menguranginya dari rumah.

Intinya adalah barang yang tidak dipakai dan hanya disimpan bertahun-tahun di kotak (seperti halnya tumpukan benang saya dari jaman rajin merajut) sebenarnya masuk kategori clutter yang harus disingkirkan. Dari dulu berniat untuk kembali merajut lagi, tapi ternyata sepertinya saya terlalu malas untuk merajut lagi, tapi sampai sekarang masih merasa sayang menyingkirkannya.

Prinsip supaya rumah yang bebas dari tumpukan barang

Buku ini mengenalkan 10 prinsip yang bisa kita pakai untuk membuat rumah tetap bebas dari tumpukan barang. Tapi sepertinya sih inti dari semuanya adalah:

  • semua barang ada tempat mengembalikannya
  • setiap ruangan jelas untuk kegiatan apa
  • setiap kali membeli barang harus sudah jelas tempatnya di mana
  • decluttering itu menjadi kebiasaan dan bukan hanya sesekali saja

Biasanya ada 3 alasan yang membuat kita ragu-ragu menyingkirkan sebuah benda dari rumah kita:

  1. Kita takut kalau kita membutuhkannya suatu saat nanti
  2. Rasa bersalah karena benda itu pemberian seseorang buat kita
  3. Malu karena sudah mengeluarkan duit cukup banyak untuk membelinya dan tidak bisa mengembalikannya lagi ke toko.

4 Langkah untuk decluttering

Langkah yang perlu dilakukan untuk mulai menyingkirkan barang yang tidak terpakai dibagi menjadi 4 tahap:

  1. Dedikasikan atau berikan setiap ruangan di rumah fungsinya masing-masing
  2. Putuskan apa yang ingin dirasakan ketika memasuki setiap ruangan di rumah
  3. Singkirkan barang-barang per ruangan yang tidak memberikan rasa atau sesuai fungsi yang sudah ditentukan di 2 langkah sebelumnya.
  4. Dekorasi ruangan yang sudah bebas dari tumpukan barang jika diinginkan tanpa melupakan poin yang sudah ditentukan dilangkah sebelumnya.

Buku ini banyak memberi tips praktis dari setiap langkah di atas, tapi karena saya belum selesai membacanya, saya akan menuliskannya di bagian selanjutnya.

Kira-kira gimana, sudah siap untuk mulai menyingkirkan barang-barang yang tidak diperlukan di rumah?

Leave a Reply