KMovie: Waiting for Rain, Menanti Sahabat Pena

Hari ini, iseng-iseng menonton film Korea yang baru release bulan April 2021 lalu, tapi baru tersedia di Iqiyi beberapa waktu lalu. Film dengan durasi 117 menit ini genrenya romanance, drama dan melodrama. Biasanya saya langsung ogah menonton film dengan genre ini, tapi karena cuaca sedang sering hujan, saya jadi penasaran kan kenapa sih filmnya nungguin hujan.

Salah satu faktor yang membuat saya menonton film ini juga karena ada Kang Ha Neul dan Kang So-ra. Mereka berdua pernah main drama bareng Misaeng: Incomplete life di tahun 2014 yang mana akhirnya tidak saya selesaikan 2 episode terakhirnya haha.

Film ini aktor utamanya Kang Ha-neul dan Chun Woo-hee bukan Kang So-ra. Tapi scene yang paling saya suka justru saat Kang So-ra nerima payung dari Kang Ha-neul. Payungnya keren deh, bagian dalamnya ada kayak aurora atau gugusan bintang di langit malam gitu.

Ah ya sebelum saya melanjutkan hal-hal lain yang membuat film ini menarik untuk menjadi tontonan akhir pekan, coba kita lihat dulu trailernya.

Trailer Waiting for Rain (Iqiyi)

Sinopsis Waiting for Rain

Cerita film ini sesuai dengan judulnya, adalah cerita penantian. Penantian datangnya hujan di tanggal 31 Desember. Di Korea, bulan Desember itu bukan musim hujan tapi musim dingin. Menanti datangnya hujan di tanggal 31 Desember itu seperti menantikan datangnya keajaiban dan mungkin juga jodoh?

Cerita tentang 2 sahabat pena yang janji untuk bertemu di tanggal 31 Desember, dan dalam rentang beberapa tahun mulai dari mereka masih di awal 20-an sampai jelang 30.

Apakah mereka akhirnya bertemu? Bagaimana ceritanya mereka bisa saling suka padahal hanya melalui surat-suratan saja?

Poster Waiting for Rain (Hancinema)

Young ho diperankan oleh Kang Ha Neul

FIlm ini berkisah tentang seorang pemuda bernama Young ho (Kang Ha-neul) seorang pemuda yang kurang cerdas di bidang matematika. Dia harus mengulang kelas persiapan untuk kuliah untuk ke-2 kalinya.

Saat sedang mengerjakan soal , dia melihat gambar orang sedang berlari. Gambar itu membuat dia teringat dengan saputangan yang dia dapatkan dari seorang teman sekolah di masa SD.

Dia hanya mengingat nama yang tertera di baju temannya ini: Gong So-yeon. Sebenarnya bisa dibilang Gong So-yeon ini bukan teman akrab atau sahabat, tapi hanya seorang yang membantunya dengan memberikan saputangan ketika dia jatuh dalam perlombaan lari di sekolahnya.

Ingatannya ini membuat dia tergerak untuk mencari tahu tentang alamat temannya yang sudah pindah ke Busan sebelum dia bisa berteman baik dengannya.

Karena ceritanya mengambil tempat di tahun 2003, dan pada masa itu ponsel dan e-mail belum sepopuler sekarang, komunikasi dilakukan melalui surat menyurat.

Gong So-hee diperankan oleh Chun Woo-hee

Gong So-hee tinggal di Busan, dia merupakan adik dari Gong So-yeon. Berbeda dengan kakaknya yang diterima dengan beasiswa di Universitas Busan, Gong So-hee tidak kuliah dan kegiatannya membantu ibunya mengelola toko buku bekas.

Selain itu, dia juga sering mengunjungi Gong So-yeon yang sakit parah. Kakaknya ini walaupun sadar, tidak bisa bicara dan hidupnya tergantung dengan mesin. Saya kurang menangkap apa sakitnya, tapi hidupnya sudah divonis tak lama lagi.

Gong So-hee sangat menyayangi kakaknya. Dia senang membacakan buku dan juga membantu kakaknya menjawab surat yang dia terima dari Young ho. Oh ya, karena kakaknya tidak bisa bicara, komunikasi dilakukan dengan menunjukkan huruf dan ketika itu huruf yang dipilih, kakaknya akan membunyikan bel.

Haduh, saya sampai berpikir betapa sabarnya Gong So-hee. Saya yang menonton sebagian kecil dari scene itu saja sudah hampir tidak sabar untuk mempercepat filmnya.

Awalnya Gong So-yeon membalas surat Young Ho bahwa dia tidak ingat dengan Young Ho, tapi So-hee punya ide lain. Dia pikir, supaya kakaknya merasa ada teman, dia menjawab kembali dengan syarat gak boleh minta ketemu.

Tentunya buat yang pernah punya sahabat pena bisa relate ya dengan penantian menerima surat dan membalasnya, lalu saling menceritakan kejadian yang dialami. Mengirimkan surat lagi dan menunggu balasan lagi.

Proses surat-suratan itu berlangsung beberapa bulan. Kakaknya meninggal menjelang ulang tahunnya So-hee di tanggal 31 Desember 2003. Sebenarnya, tanggal itu juga yang dijanjikan untuk mereka bertemu dengan syarat kalau tanggal itu hujan turun.

Soo jin diperankan Kang So-ra

Tokoh Soo jin ini digambarkan tiba-tiba muncul di kehidupan Young Ho. Dia juga mengulang persiapan kuliah untuk tahun ke-2. DIa sering random menceritakan kisah hidupnya ke Young Ho.

Dia juga secara terbuka bilang kalau dia ingin menghabiskan waktu bersama Young Ho. Tapi, ya.. ini bukan cerita kisah cinta segitiga. Karena, buat Young Ho, sahabat pena yang misterius dan hidup di Busan lebih membuat dia tertarik daripada Soo jin yang selalu muncul dengan ceria dan berbagai kisah hidupnya.

Soo jin sebenarnya suka dengan Young Ho, tapi dalam hal ini, ceritanya mereka sahabat saja. Dan toh Young Ho juga nggak pernah janji apa-apa sih ke Soo Jin.

Soo jin sampai pernah nanya: apa bedanya dia dan sahabat penanya ini buat Young Ho? Katanya Soo jin ini bintang yang bersinar dan bercahaya sendiri, sedangkan sahabat penanya ini memberikan rasa nyaman.

Ah ya…saya suka tokoh Soo jin ini digambarkan selalu ceria walaupun sebenarnya hidupnya juga banyak masalah. Memang tepat penggambaran kalau dia seperti bintang yang bercahaya, tapi ya kasian juga kasih tak sampai ke Young Ho.

Alur maju mundur antara 2003 – 2011

Cara menceritakan maju mundur antara tahun 2003 dan 2011 ini agak membingungkan pada awalnya. Apalagi tidak selalu ada keteranga waktu kapan terjadinya. Tapi kalau diperhatikan dari gaya dandan rambut dan busana termasuk tas, kita akan bisa mengikutinya.

Ceritanya dibuka dengan setting tahun 2011, lalu mundur dan maju dan mundur dan maju sesuai dengan kebuhan penceritaan. Ada juga scene yang mundur ke masa mereka masih SD, tapi karena aktornya cukup berbeda, ini bisa dibedakan dengan jelas.

Dalam waktu kurang dari 2 jam, film ini menyajikan kisah kehidupan yang berlangsung selama 8 tahun. Mulai dari usiaa awal 20 sampai akhirnya menjadi orang yang berhasil dan memiliki hal yang mereka tekuni.

Young Ho menjadi pembuat payung, terinspirasi dari sahabat pena nya yang menyukai hujan.

Menonton film ini serasa membaca buku. Semuanya disajikan dengan detail dan ya tinggal dinikmati saja.

Quote dari Film Waiting for Rain

Dari awal film ini sudah memberi peringatan kalau film ini adalah cerita tentang penantian. Jadi, kalau memang kamu bukan orang yang sabar menanti, film ini bukan untuk kamu.

Film ini menggambarkan kehidupan yang analog. Mulai dari surat yang ditulis tangan, dan juga ayah Young Ho seorang pengrajin kulit dan Ibu So-hee yang bekerja di toko buku bekas.

Sambil menonton film ini, berbagai dialog menarik untuk ikut dipertanyakan.

Bakat atau Usaha?

Dalam percakapan antara Young Ho dengan ayahnya, dia mempertanyakan apa yang lebih penting dalam belajar, memiliki bakat atau usaha?

Mungkin sebagian orang akan bisa menjawab dengan cepat usaha lebih menentukan. Tapi di film ini, ayahnya malah menjawab bakat, seolah berkata ngapain kamu usaha susah-susah, gak akan berhasil kalau pada dasarnya kamu tak berbakat.

Tapi, obrolannya tidak berhenti di situ saja, karena berlanjut ke pertanyaan. berikut.

Oh ya, namanya percakapan film, jangan diambil begitu saja ya, karena walaupun ayahnya berkata begitu, pada dasarnya di bagian akhir ditunjukkan apa jawabannya.

Melakukan yang disuka atau menyukai yang dilakukan?

Masih sambil mengerjakan sesuatu (kerajinan tangan dari kulit), Young Ho bertanya lagi ke ayahnya. Apakah sebaiknya orang melakukan apa yang mereka suka, atau menyukai apa yang mereka lakukan?

Pertanyaan ini sebenarnya sudah sering pastinya muncul di buku atau di film ya. Dan jawabannya selalu lakukan apa yang kau suka.

Di film ini ayahnya Young Ho menambahkan, kalau tidak ada yang mudah, jadi lakukanlah apa yang kita suka.

Tapi itu kan teori ya, faktanya banyak orang yang masih melakukan apa yang mereka tidak suka dengan terpaksa.

Seperti halnya yang dikatakan oleh teman So-hee yang selalu membaca buku di toko bukunya sampai diberi julukan Book Worm, kalau hari yang panas belum tentu selalu hari baik, dan hari hujan tidak selalu berarti hari yang buruk.

Penutup

Jadi, apakah sudah penasaran apakah So-hee dan Young Ho akhirnya bertemu?

Sedikit spoiler, ada beberapa menit terakhir yang jangan sampai tidak ditonton.

Karena ditunjukkan ternyata anak perempuan yang memakai baju dengan name tag Gong So Yeon dan memberikan sapu tangan itu bukan So Yeon. Jadi memang So Yeon tidak penah bertemu Young Ho.

Ah film Korea memang suka gitu ya, bikin twist di akhir banget, tapi saya jadi suka dengan twist yang sedikit ini. Gimana dengan kamu? Suka ga dengan twist yang memberi akhir manis?

risna

A blogger who likes to watch Korean dramas and learn about digital desain with Canva and video editing using Kinemaster.

Leave a Reply

%d bloggers like this: