Film Indonesia 1 kakak 7 Ponakan yang pertama kali muncul di Bioskop Januari 2025, akhirnya masuk ke Netflix di bulan Juli ini dengan judul A Brother and 7 Siblings. Agak aneh ya jadinya mengartikannya.
Menontonnya awalnya agak bingung karena pada dasarnya keponakan tokoh utama hanya ada 4 orang, tambahan 1 orang anak guru piano dan kedatangan kakak perempuan beserta suaminya yang membuat semua ada 8 orang dalam 1 rumah.
Ternyata film ini diadaptasi dari sinetron tahun 1996 karya Arswendo Atmowiloto oleh Yandy Laurens, yang juga mengadaptasi karya Arwendo lainnya: Keluarga Cemara. Mungkin perlu dicari tahu apakah di cerita aslinya memang ada 7 ponakan.
Isi tulisan ini
Masih tentang dinamika dalam keluarga
Cerita film ini saya pikir akan mirip dengan cerita Home Sweet Loan, tapi ternyata berbeda. Saya lebih suka karakter di Home Sweet Loan, walaupun saya juga suka dengan kelakuan ponakan di film ini dibandingkan kakak dan abang dari tokoh di Home Sweet Loan.
Isu yang diangkat memang berbeda, tapi masalahnya ga jauh-jauh dari ekonomi keluarga, di mana 1 orang menanggung beban untuk anggota keluarga lainnya.
Setidaknya sih, tokoh utama di film ini merasakan kebahagiaan dan kebersamaan walau susah secara finansial.
Si Kakak dan Mimpinya

Tokoh utama dalam film ini bernama Moko. Seorang sarjana Arsitek yang awalnya berencana untuk langsung kuliah s2 bersama pacarnya Maurin. Apa daya, karena kakak iparnya Mas Atmo meninggal kena serangan jantung, dan disusul oleh kakaknya, Agnes, yang meninggal setelah melahirkan ponakan ke-4 nya bernama Ima, Moko mau tak mau harus merawat ponakan-ponakannya tersebut.
Rencana S2 jelas bubar jalan, dia bahkan memutuskan hubungan dengan Maurin karena tak ingin membuat kehidupan Maurin ikut terhambat karena dirinya. Dengan sisa warisan yang ada dan bekerja freelance di sana sini, Moko berusaha membiayai keponakannya terutama yang masih bayi.
Kebayang ya, seorang ibu saja pasti sulit mengurus bayinya sendiiri, apalagi Moko seorang pemuda single yang tiba-tiba harus urus bayi baru lahir. Untungnya keponakannya yang lain anak-anak yang bisa diajak kerjasama.

Keponakannya yang saling membantu
Saya tidak tahu dalam sinetron aslinya, tetapi dalam film ini keponakan kandugn Moko hanya 3 orang, termasuk bayi yang baru lahir. Ada 1 orang keponakan dari suami kakaknya.
Setelah ada 4 orang yang menjadi tanggungannya, tau-tau guru pianonya menitipkan anaknya Namanya Gadis yang berusia remaja untuk tinggal bersama mereka. Janjinya sih akan dititip 1 bulan saja, gurunya juga memberikan segepok uang di dalam amplop. Tetapi ternyata gurunya tersebut tidak kunjung menjemput anaknya sampai bertahun-tahun kemudian.
Setelah Ima berusia 2 tahun, ponakan yang paling besar diminta gantian menjaga Ima supaya Moko bisa mencari kerja yang lebih permanen. Jadi sementara Woko, ponakan tersebut yang harusnya sudah kuliah, harus mengalah dulu dengan tidak kuliah. Adik berikutnya yang perempuan, Nina, sudah memasuki kuliah juga dan ponakan terakhir dan anak guru piano masih sekolah.
Melanjutkan cita-cita
Saat melamar menjadi seorang drafter ke sebuah biro Arsitek, tak sengaja Moko melamarnya ke tempat Maurin bekerja. Maurin yang melihat Moko langsung meyakinkan bosnya kalau Moko layak menjadi Arsitek Junior dan bukan sekedar drafter. Mungkin kalau kerja di dunia arsitek bisa lebih paham ya tingkatan karir dari pekerjaan arsitek ini.
Singkat cerita, walau ada kendala ketika mengerjakan pretest dari bos untuk menjadi pekerja di biro Arsitek, bantuan Maurin dengan meminjamkan laptop yang lebih canggih dibanding laptopnya sebelumnya membuatnya bisa diterima bekerja. Dia mendapat proyek di Anyer bareng Maurin untuk mendesain sebuah resort.

Baru saja keterima bekerja, tambah 2 orang di rumah untuk dikasih makan
Oh ya, saat Moko sudah diterima bekerja, kakaknya Osa yang selama ini tinggal di Melbourne dan tidak bisa pulang saat kakak tertua meninggal, ternyata sudah bisa pulang dan tinggal bersama mereka. Jadi total keponakan, kakak, dan suami kakaknya, ada 7 orang yang harus dibiayai hidupnya oleh Moko.
Walaupun Mas Eka, suami kak Osa, gayanya sih udah paling bertanggung jawab gitu orangnya dan meyakinkan Moko untuk pergi aja kerja ke Anyer, biar ponakan lain dia dan Osa yang urusin.
Sudah bisa diduga sejak Mas Eka muncul, dia akan menjadi orang yang selalu minta uang ke Moko dengan berbagai alasan. Tapi ya, caranya berkomunikasi sangat meyakinkan dan sopan. Selalu bertanya apa kabar, dan juga gaya super perhatian dan mengayomi gitu deh. Walaupun tentu saja kalau ujung-ujungnya minta transferan melulu, saya ikut kesal melihat Moko yang mau aja selalu memberi.

Haruskah semua jadi tanggungan Moko?
Sampai pada akhirnya, Moko ngobrol dengan teman-temannya dan berbagi tips soal finansial. Moko merasa ada yang tidak beres di rumah karena keponakannya tidak bisa dihubungi.
Bener saja dong, ternyata Mas Eka bawa kabur tuh duit yang selama ini dikirimkan Moko. Belum lagi, keponakannya disuruh kerja cari duit.
Sebenarnya sih, poin untuk mengajarkan anak-anak mencari duit apalagi untuk 2 keponakan yang sudah usianya lulus SMA sih oke saja ya, tapi anehnya, yang paling kecil malah disuruh kerja jadi kuli bangunan. Duh bahaya bener tuh si Mas Eka jadi om.
Kesan tentang Film 1 Kakak 7 Ponakan (No Spoiler)
Terus gimana ending dari film ini? Apakah Proyek Moko di Anyer berhasil? Apakah Mas Eka akhirnya kembali lagi ? Bagian ini tidak akan saya spoiler. SIlakan ditonton sendiri di Netflix.
Saya rasa, Moko bisa sebaik itu karena ini cerita Arswendo yang walaupun dibuat setting tahun sekarang, tetap saja khas kehangatan keluarga dan selalu ada yang mau berkorban demi semuanya.
Kalau ceritanya dituliskan sekarang ini, rasanya sudah sangat langka ada yang berpikir seperti Moko. Malahan banyakan tuh orang jaman sekarang ya seperti Mas Eka yang gayanya banyak, ngomongnya seperti perhatian, tapi ya ternyata mementingkan dirinya sendiri. Tega banget nyusahin keluarga, padahal seharusnya sebagai kakak tertua, dia tuh yang harusnya mengambil peran yang selama beberapa tahun sudah dilakukan Moko, biar Moko bisa meneruskan cita-citanya dengan lebih tenang.
Eh tapi mungkin juga dengan kesulitan yang dia alami, membuat Moko menjadi orang yang lebih tangguh dan juga tetap mau berusaha yang terbaik untuk ponakannya. Setidaknya Moko beruntung bertemu Maurin yang tetap mau menerima Moko walau tau beban hidup Moko seperti apa. Sepertinya jaman sekarang ini akan sulit menemukan orang seperti Moko dan Maurin.
Saya masih tidak tahu kenapa judulnya menjadi A Brother and 7 Siblings ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Mungkin ada yang tahu kenapa?


Leave a Reply