#maksakeunmaca: Bersyukur Tanpa Libur, Catatan Kehidupan Arswendo Atmowiloto (2)

bersyukur tanpa libur

Hari ini saya ingin meneruskan menuliskan insight yang didapatkan dari buku Bersyukur Tanpa Libur, Catatan Kehidupan Arswendo Atmowiloto. Setelah bagian pertama merupakan kumpulan tulisan yang ditemukan oleh rekan sekerjanya di komputer lamanya, bagian kedua merupakan tulisan dari orang-orang yang dekat denganya.

Bersyukur Tanpa Libur

Saya belum selesai membaca semuanya. Sejauh ini masih membaca bagian tulisan dari keluarga dan teman seprofesinya. Masih ada bagian berikutnya yang merupakan tulisan dari teman-temannya.

Dari beberapa tulisan yang sudah saya baca, saya jadi mengerti kenapa judul buku ini Bersyukur Tanpa Libur. Tiga kata itu merupakan kata yang paling sering dibagikan oleh Arswendo kepada setiap orang dalam berbagai keadaan.

Tulisan dari keluarganya membuat saya merasa ikut bersedih. Dari cerita-cerita yang ada, saya semakin tertarik untuk mencari karya-karya Arswendo seperti misalnya: Sedesi: Sukses dengan satu istri, dan juga novel Barabas yang konon merupakan perjalanan spiritualnya sejak di penjara, dan menangkap sasmita Tuhan bahwa “berserah itu indah”.

Arswendo bukan orang yang religious di masa mudanya, bahkan ketika menikah, dia belum dibabtis. Tapi, pada perjalanan hidupnya dia akhirnya menemukan Tuhan dan meminta dibabtis.

Tentang waktu

Dari awal buku, sesuai dengan ceritanya sendiri maupun cerita dari keluarga dan teman seprofesi, Arswendo selalu menulis setiap kali. Dia juga menyemangati setiap orang yang berkarya. Ketika ditanya bagaimana dia bisa sangat produktif menulis, jawabannya ya waktu 24 jam itu banyak sekali, coba deh dipakai dengan baik. Dalam hal ini, beliau memakai waktunya dengan baik untuk menulis.

Tentang Menulis

Sejalan dengan bukunya yang bilang Mengarang itu Gampang, dia juga menyemangati siapapun yang mulai menulis. Nasihatnya sih sederhana tapi pasti kita sudah sering dengar, intinya sih nulis aja terus!

Saya termasuk yang menulis tanpa mikir mau diterbitkan, hehehe. Tapi, buat saya sih mengarang itu masih lebih sulit. Kalau sekedar bercerita begini sih, sudah bisa lebih mudah.

Tentang Hidup

Ada banyak sekali hal yang bisa dipelajari dari kisah kehidupan Arswendo di buku Bersyukur tanpa Libur ini. Hidupnya sudah menyentuh banyak orang disekitarnya, baik itu keluarga, teman seprofesi dan kemungkinan para pembaca tulisannya sejak dia menulis.

Memang benar ya, kalau ingin menjadi abadi, menulislah. Tulisanmu akan membuatmu tetap diingat orang. Karyamu membuat hidupmu menjadi lebih berarti dan bisa menyentuh kehidupan orang lain.

Memang benar, hidup cuma sekali, kenapa harus menjadi tidak berarti?

Leave a Reply