Tips Memutus Siklus Menunda Menulis

just do it

Saya sering mengalami siklus menunda menulis sebagai berikut: 

Ada deadline tulisan seminggu ke depan, merasa masih beberapa hari jadi santai-santai aja dulu, idenya sudah ada, nanti pasti selesai pada waktunya. Lalu kemudian H-2 mulai sedikit panik, tetapi tetap yakin masih ada hari esok. Mendekati waktu, sekitar H-1 tiba-tiba merasa tekanan dan mencari seribu alasan untuk tidak mengerjakan. Hari H tiba, memaksa diri menyelesaikan walaupun hasilnya jadi serabutan sambil berharap deadline bisa digeser. Akhirnya selesai sih, terkadang selamat sebelum deadline, tetapi sering juga kereta kencana sudah berubah menjadi labu. 

Pembelaan diri: Tapi kan selesai toh! Pokoknya selesai!

Setelah itu menarik napas lega. Ketika ada deadline berikutnya, kembali lagi dengan siklus yang sama. Dengan berjuta alasan kalau saya masih banyak kerjaan. Padahal saya tahu bahwa semua itu cuma ALASAN SEMATA.

Memang saya yang salah yang menghasilkan siklus seperti ini. Mungkin terkadang saya terlalu banyak menyanggupi mengerjakan sesuatu, lalu menggampangkan dan menunda, lalu akhirnya selalu dikejar-kejar oleh deadline. Lalu bagaimana memutuskan mata rantai siklus yang selalu bikin adrenalin naik dan merasa dikejar-kejar ini?

Putuskan Siklus Menunda

Setelah lelah dengan siklus dikejar deadline gara-gara menunda, saya memutuskan. untuk keluar dari lingkarannya. Caranya?

Mengurangi pekerjaan

Karena waktu tidak bisa ditawar jumlahnya, yang bisa dikurangi tentu saja jumlah pekerjaannya. Kalau memang merasa sudah terlalu sering dikejar-kejar dengan deadline dan selalu harus bikin alasan ini dan itu sampai akhirnya merasa tidak enak sendiri, artinya memang ada yang perlu dikurangi. Biasanya saya mengurangi deadline tentu saja berdasarkan skala prioritas. Kalau masih ada orang lain yang bisa mengerjakannya, ya serahkan saja pada orang lain.

Untuk hal-hal yang merupakan target untuk diri sendiri, hal ini sih tidak jadi masalah, saya hanya perlu mengurangi target misalnya dari menulis setiap hari dengan berbagai topik yang random, menjadi menuliskan hal-hal yang memang paling ingin saya tuliskan topiknya.

Menghargai waktu orang lain

Berbeda halnya jika deadline yang saya sanggupi itu terkait dengan orang lain. Saya membayangkan kalau ada orang lain yang pekerjaannya adalah menunggu hasil pekerjaan saya. Bisa-bisa jadi efek bola salju. Saya meyebabkan pekerjaan orang lain tertunda selesainya. Ibaratnya kalau ada pelari estafet, setelah pelari pertama dan kedua berhasil curi start jauh mengalahkan tim lain, saya sebagai pelari ke-3 menyebabkan pelari terakhir tidak ada harapan untuk menang. Nah untuk hal begini, saya akhirnya memilih untuk berhati-hati sebelum menyanggupi.

Daripada membuat orang lain menunggu dan akhirnya merasa tidak enak, lebih baik jangan menyanggupi. Lagipula lama-lama orang bisa tidak percaya lagi kalau saya sering berjanji menyelesaikan suatu pekerjaan tetapi tidak menepati.

Saya perlu menghargai waktu orang yang menunggu hasil dari saya sesuai dengan janji saya. Bahkan lebih baik lagi, sewaktu saya menetapkan target pada diri sendiri harus lebih realitis dan ya setiap ada rencana menulis ya langsung dikerjakan, minimal tuliskan draftnya.

Kenapa Menulis Jangan Ditunda?

Alarm si penunda

Ada beberapa alasan kenapa sebaiknya ketika kita punya deadline menulis itu langsung dikerjakan dan jangan menundanya:

Menangkap momen

Kalau ditunda, ada kemungkinan akhirnya tidak jadi dituliskan. Setidaknya itu yang terjadi dengan saya. Ada beberapa hal yang sempat terpikir untuk dituliskan, lalu ketika ditunda terlupa atau momen dan moodnya sudah berubah. Idenya sudah berubah juga.

Supaya idenya tidak hilang

Sebagai ibu yang tidak selalu bisa langsung menulis ketika ada ide, harus terbiasa untuk menuliskan garis besar dari ide yang hadir. Ide itu akan hilang kalau tidak dituliskan. Akan lebih baik lagi kalau bisa langsung memikirkan pengembangan garis besar hal-hal yang ingin diceritakan pada tulisan tersebut.

Kalau topiknya terasa terlalu luas dan akan repot untuk ditulis sekali duduk, bisa saja kita tuliskan saja idenya sebanyak yang terlintas di kepala, nanti kita susun ulang dan bagi-bagi menjadi beberapa tulisan. Tetapi bisa juga kalau ingin menuliskan garis besarnya dulu, ya dituliskan saja berupa list.

Bisa mendapatkan lebih banyak ide untuk tulisan lainnya

Setelah ada kesempatan untuk menulis, jangan mendistraksi diri dengan ide-ide lainnya. Langsung eksekusi ide yang mampir di kepala. Tetapi, kalau memang ternyata mood sudah agak berubah, ya sudah kembali dengan kumpulan ide tulisan sebelumnya.

Beberapa kali, yang terjadi ketika mengedit adalah muncul ide-ide baru dan tulisan yang tadinya singkat, malah jadi terlalu panjang. Kalau tulisan dirasa terlalu panjang, jangan ragu-ragu untuk memotong tulisan menjadi beberapa bagian. Atau setidaknya, usahakan agak tulisannya memiliki kerangka yang masih berkesinambungan dan tidak terlalu melanlang buana dari sabang sampai merauke.

Punya waktu untuk baca ulang dan editing

Sebagai penulis curcol dan moody, saya sering tidak menyelesaikan tulisan. Karena itu, sesekali saya akan memaksakan diri untuk menyelesaikan topik yang sudah dimulai. Setidaknya diselesaikan semampunya, lalu diendapkan dan diedit kemudian.

Setelah tulisan selesai diedit dan dirasa cukup, barulah kita pindahkan ke blog untuk dipublikasikan. 

Langsung Memulai Walau Waktu Terbatas

Salah satu alasan saya menunda menulis adalah karena saya tahu saya tidak bisa menyelesaikannya dalam waktu singkat. Untuk mereview film atau bercerita kisah liburan, saya tahu akan butuh waktu untuk mencari dan mengupload foto selain menuliskan berbagai hal dari ceritanya. Untuk ini, berikut cara yang saya coba supaya ide menulisnya tidak hilang dan lebih mudah dilanjutkan:

Memulai dengan kerangka tulisan dan gambar pendukung

Ketika ada ide, langsung cari gambar pendukungnya. Biasanya, dengan adanya gambar pendukung dan kerangka tulisan, menulis menjadi bertambah idenya. Tapi sekali lagi, perlu diingat agar tulisan tidak terlalu ke sana kemari.

Saya termasuk orang yang masih sering menulis ke sana kemari, tapi saya mengusahakan untuk melatih diri menulis lebih langsung ke pokok utama. Karena tentunya semua pembaca mengharapkan tulisan yang memberi informasi/tips/manfaat, daripada membaca tulisan tak sesuai janji.

Selesaikan paragraf pembuka

Ketika membuat kerangka tulisan, paragraf pertama selalu merupakan bagian pembuka yang akan memberikan gambaran untuk pembaca apa sih isi tulisan tersebut. Supaya tetap fokus ketika melanjutkan menulisnya, pastikan menuliskan apa yang ingin disampaikan dalam tulisan tersebut di bagian awal dari tulisan atau bagian pembuka.

Setiap tulisan akan ada bagian pembuka dan penutup selain isi. Di bagian pembuka kita menuliskan garis besar tentang apa yang akan didapati oleh pembaca. Bagian isi tentu saja uraian dari hal-hal yang sudah kita janjikan di bagian awal. Bagian penutup membuat kesimpulan sekali lagi sambil memastikan kalau kita sudah menuliskan hal yang kita janjikan di awal.

Selesaikan Secepatnya

Saya menyanggupi menulis sesuatu biasanya karena sudah ada idenya. Itu saja bisa terjebak dengan siklus menunda. Saya perlu mengingat lagi setiap kali menyanggupi menuliskan sesuatu saya perlu langsung memulai dan tentunya menyelesaikan secepatnya. Walaupun deadlinenya masih minggu depan atau masih lama, lebih baik diselesaikan supaya kalau ada ide lain, saya tetap punya waktu untuk menuliskannya.

Saat ini ada banyak sekali tumpukan ide draf yang belum saya selesaikan. Memang sih target menulis saya di tahun 2023 ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Targetnya kali ini lebih banyak ditentukan diri sendiri untuk mengisi blog sendiri. Untuk kontribusi ke blog lainnya tidak dalam target, tetapi tidak menutup kemungkinan, sesuai dengan rencana tahun 2023: Just Do It!

One thought on “Tips Memutus Siklus Menunda Menulis

Leave a Reply