Kenapa Mamah Tidak Minum Kopi?

Minum kopi itu bukan sekedar menikmati rasa saja, tapi sudah seperti gaya hidup dan bahkan selalu sukses kalau dijual menjadi judul film, buku fiksi dan latar belakang cerita yang memulai kisah dalam novel fiksi. Berbagai penelitian untuk membuktikan apakah kopi itu bermanfaat untuk kesehatan atau malah membahayakan juga sudah banyak dilakukan. Sampai terkadang, saya suka menuduh kalau ada yang menulis hasil penelitian berbagai manfaat kopi itu disponsori oleh produsen kopi tertentu.

Tulisan kali ini bukan tulisan ilmiah. Kalau ada yang membaca tulisan ini karena berharap saya akan menyertakan hasil penelitian ini dan itu, silakan melipir ke tulisan di journal penelitian, hehehe.

Saya memang suka minum kopi, tetapi bukan orang yang mengerti banyak tentang kopi. Walaupun saat ini saya sudah tahu lebih banyak tentang kopi, tapi saya juga tidak terlalu fanatik dan pilih-pilih dengan jenis kopi.

Peminum Kopi, Dulu dan Sekarang

Kalau dulu, yang minum kopi itu biasanya bapak-bapak. Kopinya pun jenis kopi tubruk yang diminum panas-panas. Begitu pula yang biasa nongkrong di warung kopi itu ya bapak-bapak. Mereka minum kopi sambil merokok dan ngobrol ngalor-ngidul. Terkadang sambil main catur, atau main kartu remi.

Sekarang ini, kopi bukan lagi hanya konsumsi bapak-bapak. Perempuan juga banyak yang menggemari kopi. Mungkin dulunya, daripada menyeduh buat suaminya doang, mereka juga mencicipi dan jadi suka. Tapi tentunya, buat yang tidak suka kopi yang pahit, mereka mengakali dengan mencampur susu dan gula ke dalam kopinya. Lalu, buat yang tidak suka dengan bubuknya, mulailah dicari cara menyaringnya supaya bisa menikmati tanpa gangguan bubuk kopi. Atau ya terkadang membeli kopi instan yang kalau diseduh bisa larut sempurna.

Tapi itu semua hanya dugaan saya saja. Yang jelas, peminum kopi bukan lagi hanya para pria. Perempuan mulai dari remaja sampai usia tua, banyak yang nongkrong di warung kopi yang sekarang disebut dengan cafe atau coffee shop. Mamah yang menunggu anaknya bubaran sekolah juga sering menunggu sambil ngopi cantik. Terkadang para mamah janjian dengan kode warna baju yang sama lalu mencari warung kopi yang bisa dipamerkan di media sosial.

Di kalangan pekerja kantoran, minum kopi seperti menjadi kebutuhan. Biasanya di setiap kantor, disediakan kopi untuk pegawainya. Mulai dari permen kopi, kopi instan, kopi bubuk dan creamer terpisah, atau tersedia mesin kopi yang kita masukkan biji kopi dan air saja, dengan 1 tombol bisa keluarlah kopi espresso secangkir.

Alasan Mamah yang Tidak Minum Kopi

Sekarang ini, kopi sudah begitu populernya, sampai-sampai semua warung kopi bukan hanya berlomba menjual jenis-jenis biji kopi dan teknik memperindah kopinya, tapi mereka juga memperindah warung kopinya. Makanya warung kopi menjadi sebuah tempat yang paling sering digunakan untuk janjian, atau menunggu anak berkegiatan.

Lalu, bagaimana dengan mamah yang tidak minum kopi? Apakah mereka tidak pernah menginjakkan kaki ke warung kopi? Tentu saja mereka tetap ke warung kopi. Selain misalnya untuk menemani pak suami atau bertemu teman, biasanya di warung kopi tersedia teh atau minuman coklat. Walaupun teh dan coklat itu juga aslinya pahit seperti kopi, akan tetapi karena terbiasa disajikan manis, kebanyakan orang yang tidak minum kopi, kemungkinannya minum teh (manis) ataupun coklat (manis) tersebut ketika ke warung kopi.

Kopi itu Pahit

Dari beberapa mamah yang saya tanya kenapa tidak minum kopi, jawabannya adalah karena kopi itu pahit. Memang kopi itu pahit. Saya sendiri dulunya hanya minum kopi yang ditambahkan gula. Lalu belakangan, kopi yang ditambahkan susu dan gula. Baru lama-kelamaan saya menemukan kalau tidak semua kopi itu sama pahitnya.

Karena saya bukan ahli kopi, saya tidak bisa menjelaskan apa saja faktor yang membuat kopi bisa berkurang pahitnya. Tapi memang, tidak semua kopi sama. Ya jelas saja, ada Arabika, Robusta, dan belum lagi berasal dari dataran tinggi mana dia ditanam. Tapi, kalau alasannya tidak minum kopi karena kopi itu pahit, ya kan tinggal dikasih gula supaya tidak pahit, hehehe …

Saya malah pernah mengambil kesimpulan kopi itu asam. Kalau saya minum kopi instan Nescafe, pasti akan ada menyisakan rasa asam di mulut saya. Kalau dari yang saya baca-baca, ternyata memang kopi itu ada kadar keasamannya. Jadi saya tidak salah juga merasa kopi itu asam.

Takut Tidak Bisa Tidur

Kopi mengandung kadar kafein. Konon katanya kafein itu bisa membuat efek terjaga. Mungkin ini kenapa para pekerja kantoran yang terkantuk-kantuk sehabis makan siang (yang mungkin makan kebanyakan), mencari kopi untuk membuatnya terjaga. Padahal sebenarnya, teh dan coklat juga ada kadar kafeinnya. Dan apapun kandungan di dalam teh, ada juga loh orang yang tidak bisa tidur setelah minum teh. Pada akhirnya sih memang kembali ke jenis kopi, teh, dan cokelat yang dikonsumsi dan mungkin sedikit sugesti kalau minum kopi jadi bisa terjaga.

Pengalaman saya sih, minum kopi tidak selalu bikin saya terjaga. Tapi memang, kadar kafein yang tinggi pernah bikin saya tidak tidur dan efek jantung berdebar. Tapi efek tersebut bukan karena saya minum kopi, melainkan karena minum Krating Daeng yang jelas ada kafeinnya.

Sepertinya saat itu, saya mengalami jantung berdebarnya karena saya tidak tidur sama sekali menjelang ujian tengah semester saat kuliah. Kombinasi tegang menghadapi ujian dan tidak tidur itu yang bikin jantung berdebar. Kalau misalnya ada Mamah yang mengalami seperti itu setelah pengalaman minum kopi, saya yakin mereka tidak akan minum kopi lagi, seperti saya yang tidak mau coba-coba minum Krating Daeng lagi.

Abis Minum Kopi, Jadi Mules

Banyak mamah lain yang tidak minum kopi karena penyakit maag ataupun gangguan lambung lainnya. Ada juga yang tidak minum kopi karena setiap habis minum kopi selalu bikin ingin ke belakang karena mules. Ini sih bisa jadi bukan dari kopinya, tapi dari susunya. Tapi memang, kopi ini ada rasa asamnya. Rasa asam ini tentunya tidak baik untuk yang memiliki gangguan maag atau gangguan lambung lainnya.

Ada yang mengakali dengan minum kopi tanpa kafein. Tapi kalau kata saya sih, misalnya sudah ada gangguan lambung, lebih baik jangan memaksakan diri minum kopi.

Tidak Suka Saja

Ini alasan yang tidak usah dijelaskan lagi ya. Setiap orang berhak untuk suka atau tidak suka terhadap sesuatu. Seperti halnya ada yang sangat menyukai makan jengkol, saya memilih tidak makan jengkol. Jadi bagian ini tidak usah diperpanjang lagi.

Kapan Saya Tidak Minum Kopi?

Saya ingat, suatu saat kami sedang makan bersama teman-teman di Chiang Mai. Lalu, selesai makan, seorang teman mengajak melanjutkan kongkow ke warung kopi. Lalu saya menyetujui ke warung kopi, tapi saya bilang kalau saya sedang tidak minum kopi. Teman saya heran, karena dia tau saya ini peminum kopi. Saya lupa kalau saya belum memberi tahu kalau saat itu saya sedang hamil anak ke-2.

Walaupun banyak penelitian yang bilang tidak apa-apa minum kopi ketika hamil, tapi memang saya memilih untuk tidak minum kopi di saat hamil. Saya peminum kopi, tapi saya bukan pecandu kopi. Saya bisa berhenti minum kopi kalau memang saya memilih untuk tidak minum kopi. Saya masih tidak minum kopi sampai anak usia 3 bulan. Tapi setelahnya, saya mulai lagi minum kopi. Semata-mata karena saya merasa cukup puasa minum kopinya.

Buat saya kopi itu awalnya pengganti minuman manis yang bisa membuat saya merasa bersemangat kerja saat kantuk menyerang di siang hari. Tapi saat ini, kopi itu adalah saat duduk berdua dengan pak suami untuk ngobrol berbagai hal. Ngopinya juga bukan harus di warung kopi, kami lebih sering ngopi di rumah kok. Mulai dari kopi yang dari biji maupun kopi instan. Bukan kopinya yang jadi fokus, tapi kebersamaan minum kopinya.

Satu lagi untuk menjawab pertanyaan kapan saya tidak minum kopi, adalah ketika kehabisan kopi di rumah. Hehehe….

5 thoughts on “Kenapa Mamah Tidak Minum Kopi?

  1. Riset mengenai alasan para Mamahs yang tidak suka ngopi, menarik Mah Risna. 🙂 Terima kasih ya sudah mau merangkumnya. 🙂

    *
    Mah Risna ini tak diragukan lagi seorang coffee drinker ehehe, terlihat dari jawaban tidak ngopi saat kopinya lagi habis ahahahaha. Mantabb Mah Risna. 🙂

    *
    Btw, itu saya termasuk nih. Minum teh jadi bikin melek semalaman. Dulu bingung kenapa, ternyata pas baca, ealah teh pun mengandung kafein juga ya ehehe. Sejak saat itu, saya jadi mengurangi konsumsi teh.

  2. Jadi ingat dengan istilah ngopi cantik dan ngafe ala para mamah hehe. Ngopi itu memang sudah menjadi gaya hidup ya Risna, makanya banyak cafe-cafe baru bermunculan.

    Aku juga sekarang ga terlalu harus minum kopi tiap hari, kalau lagi pengen aja. Kadang malah lupa, sepertinya mending gitu, ga harus jadi kewajiban, dan ngurangin asupan kafein juga

  3. Menurutku buat kopi itu entah kenapa terasa lebih ribet daripada teh. Nyeduh teh lebih sederhana dan kemungkinan gagalnya kecil. Beda dengan kopi yang kayanya sering kepahitan atau nggak pas takaran rasa dan keketalannya.

Leave a Reply