Review Buku: The Courage to Be Disliked

the courage to be disliked-review

Buku The Courage to Be Disliked karya Ichiro Kishimi dan Fumitake Koga ini merupakan buku pertama yang saya baca dan dengarkan di scribd. Saya menyelesaikan membaca buku ini di bulan Desember 2021 yang lalu. Sebuah buku yang tepat sekali untuk menutup tahun 2021.

Sebelum saya membacanya, saya sudah sering mendengar buku Berani Tidak Disukai disebut-sebut, tapi saya pikir buku ini akan provokatif mengajak kita melakukan hal-hal yang tidak umum. Kebanyakan buku self-help kan isinya sudah tergambar dari judulnya, seperti misalnya buku yang pernah saya baca: People Can’t Drive You Crazy if You Don’t Give Them the Keys.

Buku ini berbeda. Karena Berani Tidak Disukai di sini artinya bukan kita memprovokasi orang lain supaya sebel sama kita, tapi lebih ke arah: kita tidak perlu memikirkan apa kata orang tentang kita, selama apa yang kita pikirkan itu menurut kita baik.

Buku ini ternyata bukan buku self-help biasa, tapi lebih ke buku psikologi yang membahas teori psikologi Adlerian. Saya baru pernah mendengar namanya di buku ini, akan tetapi ternyata seluruh isi buku ini bukan hal yang baru buat saya. Sedikit banyak, saya ternyata seorang Adlerian.

Banyak hal yang bisa dikutip dalam buku ini, akan tetapi saya ingin mengutip 3 hal yang menurut saya menjadi intisari yang perlu dicoba untuk dilakukan. Penjelasan sisanya adalah penjelasan untuk bisa menerapkan 3 hal ini. Sesuai dengan judul lengkap buku ini The Courae to Be Disliked: How to Free Yourself, Change your Life and Achieve Real Happiness.

Tentang hal yang di bawah kendalimu atau tidak

Untuk menjawab bagaimana membebaskan dirimu dan mengubah dirimu, sebenarnya jawabannya sederhana, tapi pelaksanaannya yang mungkin tidak mudah. Tidak mudah karena buku ini mengajak kita untuk menentukan apa yang menjadi nilai kita, apa yang membuat kita bahagia, dan untuk tidak ambil pusing dengan hal-hal yang di luar kendali kita.

Hidup di masa sekarang

Buku ini dimulai dengan pernyataan kalau trauma itu tidak benar-benar ada, yang ada adalah bagaimana cara kita meletakkan nilai terhadap suatu peristiwa di masa lalu dan bagaimana kita tidak mau move on untuk melangkah di masa sekarang. Buku ini juga mengatakan kalau masa depan itu sama saja dengan masa lalu, tidak eksis.

Saat ini, itulah yang terpenting untuk diputuskan. Jadi dengan kata lain, kita ga usah mikirin hal-hal yang telah berlalu dan larut dengan kesalahan kita (ataupun orang lain) di masa lalu. Kita boleh punya. perencanaan masa depan, tapi kita tidak perlu terlalu berangan-angan jauh ke depan. Yang terpenting adalah hiduplah di waktu sekarang. Putuskan apa yang ingin kau lakukan, putuskan apa yang menurutmu perlu untuk hidupmu saat ini.

Dan masa lalu yang sudah berlalu tentu saja tidak bisa kita ubah dan di luar kendali kita, demikian juga dengan masa depan yang belum terjadi, belum dalam kendali kita (karena kita tidak ada yang tahu hari esok, dan siapa tau malahan esok itu kita tidak ada lagi). Sedangkan sekarang ini, waktu ini, kita tahu dan terserah pada kita mau ngapain kita saat ini.

Tentang perubahan diri

Hanya orang itu sendiri yang bisa mengubah dirinya. Dengan kata lain: kalau kau ingin menjadi orang yang lebih baik, kau bisa melakukannya, asal kau tau dan mau melakukannya. Seringkali kita bilang tidak bisa, padahal bukan tidak bisa, tapi mungkin tidak tahu caranya atau tidak mau melakukannya.

Di bagian ini sih saya jadi terpikir dengan diri sendiri yang bertahun-tahun gagal diet ataupun berolahraga. Saya sudah tahu begitu banyak teori, tapi saya tidak melakukannya. Jelas kalau saya tidak bisa berubah karena saya tidak mau melakukannya.

Dengan pola yang sama, kita tidak bisa mengubah orang lain, karena orang lain itu di luar kendali kita. Bagian ini juga dijelaskan kalau kita punya pemisahan tugas. Masing-masing orang memiliki tugasnya masing-masing dalam kehidupan ini, dan kita tidak bisa melakukan tugas orang lain. Hanya orang tersebut yang bisa melakukan tugas tersebut, termasuk anak kita.

Bagian ini diibaratkan, kita bisa membawa kuda ke dekat air, tapi kita tidak bisa memaksa kuda untuk minum airnya.

Di bagian ini, saya banyak merasa ditegur. Sering kali saya merasa sudah memberi contoh banyak, akan tetapi masih saja misalnya anak-anak saya tidak mau mengerjakan tugas sekolahnya seperti harapan saya. Padahal yang tugasnya belajar itu anak saya, tugas saya adalah menyediakan waktu untuk menemani belajar dan memberi jawaban kalau mereka ada kesulitan.

Tentang Komitmen dan Komunitas

Contoh lain di buku ini juga banyak menggambarkan dunia bekerja ataupun dalam komunitas. Bagaimana setiap orang punya tugas dan tanggung jawab masing-masing sesuai dengan komitmennya. Saya harus belajar untuk menerima pembagian tugas dan mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab saya. Saya juga perlu menerima kalau ada orang lain yang tidak mengerjakan sesuatu sesuai standar saya, atau saya juga harus belajar menerima adanya perbedaan pendapat karena setiap orang punya cara pandang yang belum tentu sama.

Kita tidak bisa mengubah cara kerja dan irama kehidupan orang lain. Misalnya saja ketika dalam komunitas ada orang yang suka menunda pekerjaan, saya tidak bisa memaksa dia untuk berubah menjadi orang yang tidak menunda pekerjaan. Akan tetapi, kalau saya tahu ada kebiasaan saya yang kurang baik, saya yang harus mengusahakan untuk mengubah kebiasaan yang kurang baik itu, dan tidak berharap ada orang lain yang akan mengubah saya untuk menjadi lebih baik.

Dalam banyak hal, ketika ada ketidaksepakatan akan sesuatu, saya tidak perlu memaksa orang lain menerima pandangan saya. Namanya saja tidak sepakat. Akan tetapi, tergantung dengan hal apa yang tidak disepakati itu, kalau memang hal tersebut menyangkut sesutu yang menjadi tanggung jawab saya, maka saya yang harus memutuskan untuk melakukan tugas saya.

Kalau hal tersebut misalnya saja setidak penting pemakaian istilah bahasa Indonesia dalam bahasa Ingris itu adalah bahasa atau Indonesian language, ya sepertinya tidak usah terlalu diributkan ya, apalagi kalau saya pakai salah satu dari keduanya, toh orang asing akan mengerti. Terus kenapa harus ribut-ribut ya? Hehehe… Mungkin akan ada yang tidak setuju dengan contoh ini, tapi ya menurut saya tidak penting sih, hehehe.

Ah jadi muter-muter ya, hehehe.

Intinya, buku ini juga mengajarkan saya, kalau dalam berkomunitas, lakukanlah apa yang sudah menjadi komitmen saya dan tidak perlu pusing kalau orang lain tidak melakukan apa yang menjadi komitmennya, karena itu sudah di luar kendali saya.

Menjadi Bahagia

Untuk menjadi bahagia kuncinya adalah fokus dengan apa yang bisa kita kendalikan di saat ini. Judul tentang berani tidak disukai sendiri bermakna, kalau ada yang tidak suka dengan kita, itu hak mereka dan kita tidak perlu repot-repot mengubah diri supaya memenuhi kemauan orang lain.

Kenali diri sendiri, ketahui apa nilai dirimu, lakukan apa yang menurut kamu sesuai dengan prinsipmu, perbaiki diri jika ada yang inigin kau perbaiki, cintai dirimu dan terima dirimu sebagai ciptaan Tuhan yang tertinggi di antara ciptaan lainnya. Fokus dengan hal yang bisa kamu kendalikan daripada pusing ngurusin orang lain. Seperti kata pepatah: dalam nya laut bisa diduga, dalam hati siapa yang tahu, jadi… ngapain pusing mikirin apakah dia suka atau tidak dengan kita.

Seandainya pun ada yang bilang terang-terangan kalau dia membenci kita, ya terima saja sebagai informasi, dan tidak usah tanya kenapa, karena bukan tugas kita untuk membuat orang lain menyukai kita. Tugas kita adalah melakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita sesuai dengan nilai yang kita tahu baik. Kalau semua orang melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan dan menerima dirinya apa adanya, sepertinya masalah di muka bumi ini bisa berkurang banyak.

Pembahasan dalam buku ini lebih panjang lagi sebenarnya, baca sendiri aja ya bukunya. Kalaupun ada yang tidak sepakat dengan isi buku ini juga nggak apa-apa kok. Kalau saya sih sepakat dengan banyak hal.

Buat yang sudah baca buku ini, tulis dong bagian mana yang kalian sepakat atau yang tidak sepakat, tulis di komen yuk.

9 thoughts on “Review Buku: The Courage to Be Disliked

  1. Hehe aku belum selesai bacanya nih. ketunda muluk. Eh, ditunda muluk. Baca: aku memang tidak mau menyelesaikan buku ini (entah kenapa), dan aku mencari alasan sebagai pembenaran kenapa aku belum selesai baca. Misalnya: aku sibuk, aku lelah, anakku bandel (apa hubungannya), atau cuaca terlalu dingin (as if rumah gak punya heater). Hahhaa..

    Ada satu point yang ganjel banget tapi ntar aja aku tulis kalau udah baca semua, di rangkuman seluruhnya.

    Nicely written, thanks kak!

  2. Pernah beberapa kali mendengar tentang buku ini. Tapi belum tertarik baca, karena dari review yang pernah saya baca, sepertinya saya sudah cukup ‘membebaskan’ diri dari perkataan orang lain. Salah dua prinsip hidup yang saya pegang demi hidup yang lebih tenang adalah ‘what other people think of me is none of my business’ dan ‘you can’t please everyone’. Dan membaca review kak Risna, sepertinya prinsip hidup yang saya pegang, sedikit banyak mirip dengan yang dipaparkan buku ini.

    Saya malah jadi tertarik dengan Scribd yang bisa digunakan untuk mendengarkan buku. Saya kira Scribd hanya untuk membaca saja ^^”

  3. Penasaran euy dengan Scribd, kayanya asik juga buat dengerin di kereta. Baca buku udah ga sanggup, cape matanya kalau di jalan.

    Nice summary Risna, jadi ternyata sabodo teuing itu bagus ya, kaya pepatah anjing menggonggong khalifah tetap berlalu.

    Dulu penasaran baca buku ini, tapi nanti kutunggu Dea selesai nulis reviewnya dulu, baru decide mau baca atau ngga haha, ini baca punya Risna ama Dea dah berasa kaya baca buku.

  4. Aku suka banget nih buku ini. Rasanya pengen dibagikan ke semua orang buat baca. Terutama buat orang yang gampang sensi dan melankolis. Hidup rasanya lebih simple dengan konsep-konsepnya Alfred Adler ini.

  5. Naturally, kita (saya lebih tepatnya) lebih nyaman dipuji daripada di-judge. I will not say dihina atau diejek. People mostly easier to judge rather saying bad words directly to us. I think I understand now why mba Risna strongly recommend this book buat kaum sensi kaya saya hehe. What I like most from your The Courage to be Disliked book review is the point of changing ourselves. Ya kalo kitanya pengen kepikiran ya akan kepikiran terus.

    Thank you for writing this beautiful and straight forward book review ??

  6. Aku belum pernah baca buku ini… tapi kok jadi pingin baca ya abis baca review- ya di sini? Hihihi… Thanks ya… aku jadi belajar untuk melepaskan harapan atas sesuatu yang gak di bawah kontrolku sepenuhnya.

Leave a Reply to May Cancel reply