Baca Novel: Damar Hill oleh Bulan Nosarios (2)

baca buku Damar HIll

Entah karena semangat tahun baru, atau karena grup #maksakeunmaca yang isinya orang-orang yang rajin baca. Mungkin juga memang pilihan bukunya yang mirip ala drama Korea. Dalam 2 hari ini, saya berhasil baca beberapa bab lanjutan dari Novel Damar Hill karya Bulan Nosarios ini.

Baru hari ke-2 udah sampai 90 halaman! Prestasi yang menggembirakan buat seorang yang biasanya sulit membaca novel karena suka ga sabaran, hehee.

Sebenarnya, hari masih panjang, ada kemungkinan (tepatnya keinginan) untuk meneruskan baca dan menuliskan insightnya nanti malam saja, tapi… karena hari ini masih banyak hal lain yang perlu dilakukan, mari kita tuliskan saja beberapa hal yang didapatkan dari bab 4 sampai bab 8 buku ini.

Takengon dan Damar Hill

Bab 4 mulai banyak bercerita tentang kota Takengon dan tentang rencana Nadya untuk mempertahankan penginapan Damar Hill yang menjadi milik keluarganya.

Kota Takengon yang berada di daerah Gayo digambarkan kota yang dingin. Karena saya belum pernah ke sana, saya hanya bisa membayangkan mungkin lokasinya seperti daerah lembang di Bandung, atau seperti Chiang Mai di musim dingin. Tapi, kota Takengon ini ceritanya ada dekat pantai juga, jadi daerahnya naik turun dan juga ada danaunya.

Karena penasaran, saya mencari tau tentang penulis buku ini. Benar saja, dia pernah tinggal di dataran tinggi Gayo. Tidak heran dia bisa menceritakan daerahnya dengan cukup detail dan bahkan bisa membuat pembaca seperti saya sedikit banyak membayangkan deskrispi yang ada.

Latar belakang keluarga Nadya si tokoh utama juga mulai banyak diceritakan walaupun sejauh ini masih banyak pertanyaan dan bikin agak penasaran, sebenarnya, ibu yang diajak Nadya bicara itu cuma halusinasi atau Ibunya memang masih ada? Kenapa ada kesan Ibunya hanya bisa Nadya yang ajak bicara?

Eh ini bukan cerita horor, tapi ini sayanya aja agak-agak sok menebak nebak lebih awal karena ga pengen terkecoh jalan cerita hehehe.

Daryl Sukmawan atau Kemal?

Seperti dugaan di tulisan sebelumnya, tokoh Daryl ini muncul lagi dong di Takengon, daaan menginap di penginapan Damar Hill yang tentunya milik keluarga Nadya.

Sejak bab 5 sampai bab 9, tokoh Daryl ini yang membuat saya jadi makin penasaran. Saya jadi bertanya-tanya bagaimana jalannya Nadya akan suka dengan Daryl yang digambarkan tidak banyak bicara, dan terlihat dingin.

Kemal itu memang sudah dianggap kakak oleh Nadya, tapi kalau dari awal cerita, seolah-olah semua kenangan masa kecil Nadya itu ya isinya tentang Kemal semua. Ada kesan, si penulis emang pingin bikin pembaca penasaran dan sejauh ini berhasil.

Tokoh Daryl Sukmawan yang bertemu sekilas di kota Jakarta, mulai mengisi hari-hari Nadya Sera walaupun digambarkan masih interaksi standar antara pemilik penginapan dan penyewa. Loh kenapa tiba-tiba teringat dengan drakor Memories ot the Alhambra ya?

Padahal ceritanya Daryl ke Takengon bukan buat membeli penginapan ataupun sebagai investor yang menjadi programmer, tapi ternyata ada fakta baru kalau dia bukan sekedar pemiliki warung kopi biasa, tapi seorang anak pemiliki perusahaan besar yang biasa membeli kebun kopi skala besar.

Jadi makin mirip drakor aja, tapi sejauh ini malah jadi suka sih membacanya, hehehe…

Telur Dedah

Telur dedah (sumber: cookpad)

Di bab ke-8, salah satu makanan khas Aceh muncul lagi, namanya telur dedah. Karena penasaran kenapa masakan telur pakai daun pisang, saya mencari tahunya dan menemukannya di Google.

Dari Cookpad, saya menemukan ada 4 resep telur dedah yang bisa dicoba. Ternyata dari telur bebek yang dimasak seperti orak arik tapi dilakukan di atas daun pisang. Telurnya diisi dengan potongan tomat, cabe dan berbagai rempah lain serta daun-daunan untuk penambah rasa

Telur sejenis ini saya pernah ketemu di Chiang Mai, Thailand, tapi masaknya di panggang di atas api. Saya jadi terpikir mencarinya nih, sekalian saya sertakan di tulisan ini biar nggak lupa.

Makanan Thai: Ook Kai / Egg Grilled with banana leaves (sumber: cookpad)

Memang ada banyak kesamaan makanan Thai dengan Indonesia. Dan ini sebenarnya telurnya bisa diisi apa saja sesuai selera dan sesuai perlengkapan yang ada di dapur. Aduh jadi kemana-mana deh mikirnya gara-gara baca novel saja.

What’s next?

Sabar…

Hari ini masih panjang, jumlah halaman bukunya juga belum setengah dibaca. Sejauh ini cukup menarik membuat saya mencari tau tentang kota Takengon, makanan Gayo dan cara bercerita yang ala drama Korea yang membuat saya cukup bisa menikmati fiksi.

Ikut penasaran? Nantikan saja kelanjutan cerita dari membaca buku ini ya!

One thought on “Baca Novel: Damar Hill oleh Bulan Nosarios (2)

Leave a Reply