Jangan Biasakan Berhutang!

jangan berhutang

Salah satu perubahan besar yang saya rasakan ketika mudik tahun ini ke Indonesia adalah kemudahan berbelanja online. Ada banyak sekali platform yang tersedia saat ini untuk membeli berbagai kebutuhan. Masing-masing platform menyediakan berbagai aplikasi untuk berbelanja. Kita bisa menghabiskan duit tanpa perlu kemana-mana dan sambil rebahan.

Tanpa disadari klik sana sini lalu dana dari rekening sudah berkurang banyak. Aplikasi ini pun pintar dan menyediakan berbagai layanan untuk kita bisa membayar di belakang dengan cicilan. Sebenarnya berbagai aplikasi belanja ini sih terasa sangat membantu. Daripada harus pergi sendiri ke luar, bayar bensin dan parkir, rasanya lebih mudah berbelanja secara online saja. Tapi tentu harus hati-hati supaya tidak terjebak dalam gaya hidup berhutang akibat berbelanja tanpa perencanaan dan mudah tergoda promosi.

Sebagai orang yang lebih suka di rumah, saya bersyukur dengan adanya berbagai kemudahan belanja, tapi ada juga saya perhatikan berbagai promosi dari platform belanja yang seperti menjebak pembeli, kalau tidak hati-hati. Namanya promosi, pastinya bertujuan untuk membuat orang yang tadinya nggak butuh jadi merasa butuh. Mencari calon pembeli yang tadinya ragu-ragu jadi mantap membelinya.

Potongan harga bersyarat

Namanya promosi, pihak penjual tentu tidak berharap merugi. Mereka memberikan berbagai bentuk promosi yang menggoda untuk dilewatkan. Mulai dari promosi potongan harga untuk pembelian berikutnya, atau potongan harga kalau berbelanja dengan nilai minimum. Atau potongan harga yang besar kalau kita berbelanja semakin banyak.

Mereka juga selalu menawarkan untuk menambahkan ini dan itu sebelum kita membayar nilai akhir. Yang juga terkadang menjebak adalah setelah dipotong ini itu, ada saja tambahan lain-lain yang akhirnya membuat belanja akhirnya jadi banyak.

Pay Later

Beberapa tempat berbelanja juga gencar membuat program pay later alias beli dengan bayar belakangan dan bahkan bisa dicicil. Masing-masing membuat sistem pay later sendiri yang katanya tanpa bunga. Bahkan beberapa promosi memberikan diskon lebih besar kalau pengguna membayar dengan pay later. Walaupun sistem pendaftaran untuk menggunakan pay later ini tidak sederhana, tetap saja rasanya menggoda sekali kalau bisa dapat potongan harga lebih asal bayar belakangan.

Sebenernya, pay later ini jadi solusi dan memudahkan untuk yang memang membutuhkan sesuatu tapi belum gajian, atau dana masih kurang sedikit lagi. Tapi tempat begini tentu saja akan menagih jadi lebih mahal dari harga awal seandainya kita tidak bayar tepat waktu. Sistem pay later ini mirip dengan sistem kartu kredit.

Penjual berusaha membuat kita membeli walaupun tidak punya uang. Sebagai pembeli yang bijak, kita tentu hanya menggunakannya ketika terpaksa. Tapi pertanyaannya, apakah lebih banyak pembeli bijak atau pembeli yang lapar mata dan merasa mumpung diskon saja?

Kemudahan meminjam uang

Selain pay later, ada lagi sistem yang belakangan seperti dimudahkan. Berbagai bank digital berlomba-lomba untuk mempromosikan pinjaman dengan mudah dan dengan jumlah yang besar. Akan tetapi satu hal yang belum disadari nasabah adalah bunga pinjaman itu lumayan besar loh.

Kalau bunga tabungan misalkan dituliskan 2 persen itu artinya 2 persen setahun, sedangkan kalau bunga pinjaman dituliskan 2 persen, artinya 2 persen sebulan alias 24 persen setahun (ini kalau bunganya gak berbunga lagi). Akan tetapi banyak juga loh yang bunga pinjaman sampai 20 persen sebulan dan orang-orang ada saja yang bilang: terpaksa jadi gak apa-apa.

Bijaksana mengatur keuangan

Padahal seharusnya, ketika kita meminjam uang, kita harus memikirkan bagaimana akan mengembalikannya. Ketika kita berbelanja, kita harus punya uang untuk membayarnya. Jangan karena dikasih kesempatan bayar belakangan, lalu kita cuma berpikir pokoknya beli dulu, bayarnya gimana nanti.

Jangan berhutang untuk hal yang tidak benar-benar perlu. Jangan tergoda dengan berbagai promosi yang memaksa kita membeli lebih dari seharusnya. Misalnya tadinya hanya ingin beli 1, jadi beli lebih hanya karena pembelian berikutnya ada diskon. Atau, jangan karena ada promosi dengan nilai minimum, kita jadi membeli lebih demi mendapatkan promosinya.

Kapan dong boleh berhutang?

Orang tua saya dulu mengajarkannya hidup tanpa hutang. Jadi, bukan masalah tidak boleh, tetapi memilih untuk mencukupkan yang ada. Misalnya, kalau memang belum mampu beli mobil baru dengan plat toko, ya sudah beli mobil bekas yang harganya terjangkau saja. Atau kalau harus mengkredit demi pakai iPhone, mendingan pakai ponsel cina yang bisa dibeli cash saja.

Bagaimana untuk membeli rumah? Ya mengambil kredit rumah sebenarnya sama saja berhutang dan ini boleh dengan catatan. Pastikan sebelum mengambil kredit, harus jelas punya sumber penghasilan untuk membayar cicilan. Ketahuilah, membeli apapun secara kredit itu sebenarnya lebih mahal jadinya dibandingkan membeli langsung, apalagi kalau tidak mampu membayar tepat waktu. Memang akan terasa sulit menabung untuk beli rumah, kalau masih harus bayar kontrakan. Pengeluaran berlipat dua, akhirnya kapan terkumpulnya. Idealnya sih, kalau bisa mengkredit rumah yang kita tempati. Jadi, anggap saja cicilan rumah itu seperti membayar sewa rumah.

Investasi, jangan cuma menabung

Mungkin ada yang akan bilang, kapan terkumpulnya kalau menyimpan tabungan di bank, alih-alih ada bunga, malah bayar administrasi melulu. Uangnya keburu habis deh. Kalau dulu saya juga taunya daripada mencicil membayar hutang, lebih baik menyimpan sedikit demi sedikit setiap bulan. Tapi, belakangan saya baru tahu, kalau menabung saja tidak cukup. Kita harus belajar investasi juga.

Jangan berpikir investasi yang butuh modal langsung besar ya. Kalau menurut drakor Monthly Magazine Home, kita perlu mempelajari bidang di mana kita akan berinvestasi tersebut sambil berhemat dan mengumpulkan modal awalnya. Oh ya, jangan terpikir untuk langsung mencari pinjaman saja biar bisa buka usaha bermodal besar dengan harapan langsung kembali besar. Jangan langsung mencari pinjaman untuk berinvestasi, karena namanya investasi itu tidak bisa langsung dijamin berhasil. Makanya kalau ada yang menawarkan investasi dengan jaminan pasti berhasil sampai seratus persen, bisa dpastikan kalau itu investasi bodong alias penipuan.

Kesimpulannya jangan membiasakan diri berhutang, walaupun ada berbagai promosi yang menggiurkan. Beli seperlunya, yang memang benar-benar diperlukan. Berhemat dan mencukupkan diri dengan apa yang ada, pelan-pelan menabung dan belajar untuk investasi. Saya sendiri belajar untuk berinvestasi di pasar saham. Setelah membaca berbagai buku, saya mencoba investasi di Ajaib dan Stockbit. Sejauh ini sih, walaupun hasilnya belum cukup untuk beli rumah, tapi saya belajar untuk mengelola risiko dalam berinvestasi.

Leave a Reply