#maksakeunmaca: Bersyukur Tanpa Libur, Catatan Kehidupan Arswendo Atmowiloto

bersyukur tanpa libur

Setelah berganti-ganti buku selama bulan Februari, dan tidak sempat menuliskan insight dari buku yang dibaca, hari ini saya memutuskan mencari buku di Gramedia Digital. Awalnya mencari buku fiksi, tapi setelah membaca beberapa pengantarnya tidak ada yang cocok, akhirnya pilihan jatuh kepada buku non-fiksi lagi.

Buku dengan judul Bersyukur Tanpa Libur, dengan jumlah halaman 280 halaman dan dibagi menjadi 2 bagian. Bagian pertama, berasal dari tulisan Arswendo Atmowiloto tentang dirinya yang ditemukan di komputer lamanya oleh rekan sekerjanya. Dan bagian ke-2 adalah apa kata orang-orang yang dekat dengannya tentang dia.

Siapakah Arswendo Atmowiloto?

Saya sebenarnya belum pernah menyelesaikan membaca karyanya, saya hanya pernah mendengar namanya ketika dia masuk penjara karena tabloid yang dipimpinnya mengadakan sebuah voting dan hasil votingnya yang diterbitkan ternyata dianggap menistakan agama.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga membaca bukunya tentang Mengarang itu Gampang di ipusnas. Bukunya menarik, karena penyajiannya dalam bentuk tanya jawab dan ada humornya, akan tetapi waktu itu karena ipusnas batas waktu peminjaman terlalu sebentar, saya belum menyelesaikannya dan bukunya harus sudah dikembalikan.

Cara bercerita yang ringan dan terasa akrab

Nah, kali ini saya tertarik membaca buku Bersyukur Tanpa Libur ini bukan karena nama Arswendonya sebenarnya, tapi karena judulnya. Judulnya cukup unik, dan ternyata isinya juga cukup menarik.

Banyak hal yang bisa dipelajari dari kehidupan seorang Arswendo Atmowiloto. Yang juga menarik adalah cara berceritanya yang ringan dan terasa ada humor di dalamnya yang membuat serasa dia bercerita dengan akrab.

Kalau dari yang saya mengerti, buku ini disusun oleh teman-teman sejawatnya dari hasil menemukan beberapa tulisannya di komputer lamanya. Arswendo digambarkan sebagai orang yang memang selalu menulis. Tidak ada hari tanpa menulis. Dalam cerita yang dita tuliskan, dia juga menceritakan bagaimana dari kecil dia suka menjadi dalang, lalu suka bercerita, suka membuat komik, suka menulis walau menggunakan arang, menulis dengan tangan, sampai bagaimana dia berusaha supaya bisa mendapatkan akses ke mesin tik dan membeli mesin tik pertamanya

Cerita apapun jadi menarik

Cerita-cerita yang sederhana sekalipun bisa jadi terasa menarik. Misalnya saja ketika cerita diawali dengna cerita anjing pertama. Saya awalnya merasa skeptis dan bertanya-tanya, apa sih yang menarik untuk menceritakan anjing yang pertama. Ternyata, dari bercerita tentang hewan peliharaan, Arswendo ingin bercerita tentang arti sebuah kenangan dan juga tentang rasa sayang.

Selain bercerita tentang anjing pertama, di buku ini juga ada beberapa hal pertama lainnya: Ibu pertama, mesin tik pertama, celana panjang yang pertama, tato yang pertama, mobil yang pertama, rumah sakit pertama, mendalang pertama sampai mahluk halus pertama.

Dalams setiap bab, tergambar jelas bagaimana Arswendo orang yang suka bercerita, dan suka menulis. Tidak ada hari tanpa menulis katanya, bahkan ketika di penjara, dia tetap menulis walau dengan tulisan tangan dan berdoa meminta dapat akses ke mesin ketik.

Mengingatkan tetap bersyukur, tanpa menggurui

Dalam beberapa bagian dalam hidupnya, diceritakan kalau dia orang yang mengandalkan Tuhan. Dia bersyukur walau keadaan hidupnya sering tidak nyaman dan malah bisa dikatakan berkekurangan. Misalnya saja ketika dia ingin celana panjang, dan ibunya tidak punya uang untuk membeli jins biru dan akhirnya memakai celana panjang yang dijahit dari kain terpal dan super panas.

Sepanjang ceritanya, ada banyak hal yang bisa dijadikan kutipan yang mengingatkan kita untuk tetap bersyukur, berdoa dan juga tidak cepat bersungut-sungut ataupun marah.

Saya tidak akan menuliskan semua secara detail di sini, karena menurut saya bukunya lebih menarik kalau dibaca sendiri. Tanpa terasa bagian pertama yang terdiri dari 130 halaman sudah selesai saya baca. Besok saya berencana melanjutkan membaca bagian ke-2 yang merupakan catatan dari orang yang pernah dekat dengan Arswendo Atmowiloto.

Setelah membaca bagian pertama buku ini, saya jadi ingin membaca buku mengarang itu gampang lagi. Mungkin setelah buku ini selesai, saya akan mencari buku itu di ipusnas lagi. Ada yang sudah membaca buku karya Arswendo? Ada rekomendasi yang menarik untuk dibaca?

4 thoughts on “#maksakeunmaca: Bersyukur Tanpa Libur, Catatan Kehidupan Arswendo Atmowiloto

  1. Saya belum pernah sekalipun membaca buku karya Arswendo Atmowiloto. Dan yang berita dipenjara itu, hanya ingat sekilas, tetapi waktu itu tidak paham apa permasalahannya.

    Aduh dari judulnya saja sudah menarik sekali ya Risna. “Bersyukur Tanpa Libur”. Dan cara beliau dalam menerima beragam keadaan dan melihatnya sebagai hal yang positif, patut diteladani.

    Apalagi, bersyukur juga merupakan pondasi kebahagiaan lahir batin dalam menjalani hidup. 🙂

Leave a Reply to Sri Nurilla Cancel reply