Novel Pollyanna oleh Eleanor H. Porter (3)

Pollyanna

Hari ini berhasil membaca bab 4 – bab 6 dari Novel Pollyanna. Di bagian ini mulai terlihat kenapa Pollyanna disebut sebagai terlalu optimis dan ceria. Pollyanna menjadi ceria karena sudah terbiasa dengan permainan SUKACITA.

Di beberapa bab ini, terjemahan bahasa Indonesianya mulai terasa mengganggu. Misalnya ketika membaca Pollyanna memanggil orang yang lebih tua dengan Anda. Bahkan ketika menulis ini, saya merasa gaya bahasa saya ikut kaku seiring dengan bahasa yang digunakan di novel terjemahan, hehehe.

Dalam bahasa Inggris, bahasa asli novel ini, mungkin biasa saja ketika seorang anak kecil memakai kata “you” untuk orang yang lebih tua yang merupakan bibinya. Tapi, dalam bahasa Indonesia, saya tidak pernah mendengar atau saya sendiri tidak pernah menyebut saudara ibu saya dengan kata Anda. Biasanya kalau misalnya saya memangil mereka tante, maka saya akan selalu memakai kata Tante dan tidak pernah memakai kata Anda.

Pemakaian kata permainan sukacita juga agak terasa terlalu kaku. Kalau dari deskripsi dan contoh-contoh yang ada, sebenarnya permainan sukacita ini maksudnya mencari hal yang positif dari setiap hal dan tetap mencari hal yang bisa disyukuri. Tapi memang digambarkan Pollyanna selalu menunjukkan dia berbahagia, bersukacita dan gembira untuk semua hal, termasuk ketika dia mengetahui kalau kamarnya tidak seindah yang diharapkan sebelumnya.

Buku ini menarik karena baru beberapa bab saja, saya bisa belajar untuk tetap bersyukur, bahkan untuk hal-hal yang sepertinya tidak ada hal yang baik yang bisa disyukuri dari hal tersebut.

Bersukacita dan Tetap Bersyukur

Di bab 4 dan 5 diceritakan Pollyanna mendapati kamarnya yang kecil dan tidak ada tirai di jendela, karpet di lantai atau hal-hal lain di dinding seperti yang dia bayangkan sebelumnya yang biasanya terdapat di rumah orang kaya. Sebenarnya di bab ini dijelaskan alasan dari Miss Polly memberi kamar tersebut ke Pollyanna. Miss Polly khawatir kalau Pollyanna akan merusak benda-benda yang bagus yang ada di rumahnya. Bukan alasan yang baik sebenarnya, karena Miss Polly selalu berusaha terlihat bertanggung jawab, tapi juga lebih mementingkan materi di atas kenyamanan keponakannya.

Bukan hanya tentang kamarnya saja, Pollyanna juga bisa melihat hal baik dari apa saja yang dilakukan bibinya, misalnya:

  • Pollyanna merasa senang ketika bibinya melarangnya bercerita banyak tentang ayahnya dan hal-hal yang diajarkan oleh ayahnya, karena dengan demikian Pollyanna tidak akan merasa sedih karena sering mengingat ayahnya
  • DIa merasa senang ketika jendela kamarnya tidak ada tirainya, karena dengan demikian dia bisa melihat pemandangan keluar yang seperti lukisan.
  • Pollyanna merasa senang tidak ada cermin di kamarnya, karena dengan demikian dia tidak perlu melihat bintik-bintik yang ada di wajahnya.
  • Ketika makan malam hanya susu dan roti karena Pollyanna tidak datang tepat waktu sesuai dengan aturan dari Miss Polly, dia juga tetap bergembira dan menikmati susu dan roti.

Permainan sukacita ini sudah dimainkan Pollyanna sejak dia masih kecil. Ayahnya yang seorang pendeta, hidupnya hanya dari kotak amal ataupun donasi dari orang-orang sekitar. Dia masih ingat, ketika dia harus bergembira mendapatkan tongkat di dalam kotak amal, padahal dia mengharapkan sebuah boneka. Tapi dia bergembira setelah ayahnya memberitahukan kalau Pollyanna bisa bergembira karena dia tidak membutuhkan sebuah tongkat.

bersukacitalah senantiasa

Jadi permainannya cukup dengan menemukan sesuatu yang bisa membuat kita senang dalam segala hal, tak peduli apapun itu. Karena Pollyanna anak seorang pendeta, saya langsung teringat dengan sebuah ayat di Alkitab yang juga menyebutkan kita harus tetap bersukacita dan selalu mengucap syukur.

Tentang Tanggung Jawab

Miss Polly semakin terlihat sikap kakunya yang punya aturan yang kaku tentang jam makan malam ataupun sarapan pagi. Dia ingin Pollyanna mengikuti aturan di rumahnya untuk makan sesuai waktu yang ditentukan. Kalau Pollyanna tidak datang pada waktunya, maka Pollyanna hanya boleh makan seadanya.

Keberadaan Pollyanna di rumahnya dianggapnya sebagai tanggung jawab untuk memberi makan dan memberi pendidikan. Dia juga memeriksa apakah baju-baju yang dimiliki Pollyanna semua masih layak dipakai. Dia mengatur jadwal kegiatan Pollyanna setiap harinya untuk belajar apa saja.

Pollyanna, yang tentunya masih ingin bermain tidak menerima begitu saja, dia bertanya ke bibinya kenapa tidak ada jadwal untuk hidup? Tentu saja aneh ya kalau ada anak umur 11 tahun meminta waktu untuk hidup. Ternyata yang dimaksud Pollyanna dengan waktu untuk hidup adalah melakukan apapun yang dia mau untuk diri sendiri. Misalnya membaca bukan bagian dari pelajaran, tapi untuk diri sendiri. Selain itu tentunya waktu untuk bermain.

Miss Polly menjelaskan kalau dia mengatur jadwal belajar Pollyanna karena dia bertanggung jawab terhadap keponakannya ini, tapi Pollyanna bisa merasakan kalau Miss Polly seperti merasa tangung jawab itu sesuatu yang dilakukan karena terpaksa dan bukan dengan senang hati. Tanpa menyadari kalau kalimatnya terdengar kurang sopan, Pollyanna meminta Miss Polly untuk mencari cara agar bibinya bisa menyukai urusan tanggung jawab ini.

Setelah awalnya agak marah, Miss Polly akhirnya menemukan kalau dia akan senang kalau urusan tanggung jawab ini selesai.

Baca terjemahan atau cari buku aslinya?

Sampai di sini, saya mulai mempertimbangkan untuk mencari buku Pollyanna ini dalam bahasa aslinya. Tapi kalau tidak ketemu, ya lanjutkan saja membaca buku terjemahannya.

One thought on “Novel Pollyanna oleh Eleanor H. Porter (3)

Leave a Reply