Novel Pollyanna oleh Eleanor H. Porter (4)

Pollyanna

Masih melanjutkan membaca buku Pollyanna, dan hari ini berhasil baca bab 7 sampai bab 9. Masih seperti sebelumnya, Pollyanna semakin berusaha untuk menularkan permainan sukacita dengan orang-orang di sekitarnya.

Bab 7 tentang Pollyanna dan Hukuman

Di bab 7 bercerita tentang Pollyanna yang sangat senang karena Bibi Polly mengajaknya berbelanja baju. Semua bajunya yang dia bawa dianggap tidak layak pakai. Tentu saja, untuk Pollyanna berbelanja baju menjadi pengalaman baru yang menyenangkan.

Pulang dari berbelanja dan selesai jam makan malam, Pollyanna tidak bisa tidur karena kamarnya di loteng sangat panas. Dia tidak diperbolehkan membuka jendela kamarnya karena belum ada kasa di jendelanya, dan lalat bisa masuk kalau dia membuka jendelanya.

Bibinya yang menjelaskan betapa lalat itu membawa banyak hal kotor memberikan buku untuk Pollyanna baca, dan Pollyanna sangat senang mengetahui fakta baru tentang lalat.

Karena kepanasan, Pollyanna pergi ke kamar loteng yang lebih besar dan membuka jendelanya. Ternyata di bagian luar dari loteng itu ada bagian luas yang datar dan di luar kamar anginnya sejuk. Pollyanna memutuskan tidur di atap ruang kaca dari Miss Polly.

Karena mendengar atapnya berderik seperti ada orang berjalan, Miss Polly memanggil Timothy dan Pak Tom untuk memeriksanya. Mereka tidak terpikir sama sekali kalau Pollyanna lah yang berjalan-jalan di atap.

Membaca bagian ini saya jadi teringat, pada suatu masa, saya mendengar seperti ada orang berjalan di bagian atas rumah, waktu diperiksa saya tidak menemukan siapapun, keesokan paginya, ternyata… memang ada maling lagi jalan-jalan di atap rumah kos di Bandung! Jadi bisa dimengerti waktu Bibi Polly merasa khawatir ada orang jahat di atap rumah.

Ketika mereka mengetahui kalau yang berjalan itu adalah Pollyanna yang berusaha tidur di luar karena kepanasan, akhirnya bibi Polly menghukum Pollyanna dengan menyuruhnya tidur di kamar bibi Polly. Tentu saja hukuman ini membuat Pollyanna gembira. Ya saya juga sepakat sih sama Pollyanna di bagian ini. Hukuman yang membuat dia tidur di kamar yang lebih lega, di kasur yang pastinya lebih empuk dan ada temannya (di kamar loteng kan dia tidurnya sendirian), adalah hukuman yang lebih seperti imbalan dibandingkan hukuman.

Tapi pada dasarnya, Pollyanna selalu bisa melihat sisi positif dari hukuman apapun yang diberikan oleh bibinya. Bukan hanya hukuman sih, di bab 7 ini juga ada cerita lainnya di mana Pollyanna selalu bisa menunjukkan selalu ada alasan untuk bersyukur dengan segala sesuatu.

Pollyanna dan orang dewasa

Bab 8 dan 9 bercerita bagaimana interaksi Pollyanna dengan orang dewasa yang dia temui di sekitar rumah Bibi Polly. Di sekitar rumah Bibi Polly memang tidak ada anak yang berusia sama dengan Pollyanna, tapi itu tidak menjadi masalah karena Pollyanna suka ngobrol dengan siapa saja yang dia temui.

Mrs. Snow adalah tetangga Bibi Polly. Karena Mrs. Snow kurang sehat, bibi Polly sering membuatkan makanan dan menyuruh Nancy untuk mengantarkannya. Pollyanna meminta Nancy supaya dia saja yang mengirimkannya dan disambut Nancy dengan senang hati. Mrs. Snow ini bukanlah wanita yang menyenangkan, dia selalu mengeluh apapun makanan yang dibawa.

Hari itu, Pollyanna mengantarkan jelly dari kaki anak sapi. Dan seperti dugaan, Mrs. Snow mengeluh dan berkata sedang ingin makan kaldu domba. Lalu Pollyanna dengan santai menjawab kalau dia pikir Mrs. Snow sedang ingin ayam. Mrs.Snow tentu saja kaget dengan celotehan Pollyanna.

Tapi Pollyanna pintar mengambil hati, dia memuji Mrs. Snow cantik dan menawarkan untuk mengatur rambutnya. Walaupun Mrs. Snow awalnya merasa tidak ada gunanya mengatur rambutnya, tapi ketika dia melihat hasil riasan Pollyanna dan karena ada yang memujinya cantik, sedikit banyak dia jadi merasa senang juga.

Salah satu orang dewasa lain yang Pollyanna sering ajak bicara adalah seorang pria yang dia sebut sebagai Sang Pria. Pria itu awalnya selalu terlihat tergesa-gesa, tapi Pollyanna selalu menyapa dengan berkata sesuatu tentang cuaca hari itu. Sampai akhirnya sang pria yang biasanya tidak pernah mengajak siapapun bicara jadi berubah dan malah jadi yang selalu menyapa Pollyanna lebih dahulu.

Pollyanna selalu punya cara membuat orang di sekitarnya jadi melunak padanya. Walaupun mungkin awalnya komentar Pollyanna terasa aneh, tapi lama-lama mereka mulai terbiasa dengan Pollyanna.

Calf’s Foot Jelly

Setiap kali membaca buku fiksi, selalu ada saja nama makanana yang disebutkan sekilas tapi sering bikin penasaran. Calf’s Foot Jelly alias jelly dari kaki anak sapi ini bikin saya bertanya-tanya dan akhirnya mencari tahu.

Ternyata ada 2 jenis makanan jelly dari kaki anak sapi, makanan yang manis sebagai hidangan penutup dan makanan yang asin dikenal juga dengan nama Petcha.

Sesuai namanya, makanan ini adalah hidangan agar-agar yang bahannya dari kaki anak sapi dan merupakan hidangan penutup yang populer pada abad ke-19 di era Norman dan Victorian.

Calf’s Foot Jelly (sumber: Bloglilian.tumblr.com)

Dari hasil pencarian, bentuk jelly ini bukan karena dikasih bahan agar-agar seperti kita masak jelly biasa, tapi katanya kalau kita rebus kaki anak sapi, nanti ekstrak gelatinnya bakal keluar. Cairannya disaring terus dicampur dengan berbagai bahan lainnya seperti air lemon dan bumbu lainnya, terus didinginkan di kulkas, bakal jadi deh berbentuk jelly.

Makanan ini sendiri awalnya dianggap sangat bernutrisi, tapi ada juga yang menyebutkan ini tuh akal-akalan untuk memanfaatkan apapun yang ada untuk dijadikan bahan makanan. Daripada kakinya dibuang, mending di masak kayak bikin sup, eh tau-tau pas dingin jadi kayak puding. Kalau dikasih gula dan manis rasanya, kan bisa jadi dessert.

Tapi, entah kenapa, walaupun disebutkan sebagai dessert, saya membayangkan makanan ini sangat berlemak sekali dan bakal bikin gak enak sisa makanannya di gigi. Teringat kalau sup sapi yang masuk ke kulkas, lapisan lemaknya membeku dan gak enak tersisa di gigi. Mendingan makan sup anget-anget daripada jelly begini.

Kalau kalian gimana? Jadi penasaran ingin membuat, atau malah sudah pernah mencoba makan puding jelly dari bahan kaki anak sapi?

One thought on “Novel Pollyanna oleh Eleanor H. Porter (4)

Leave a Reply