Baca Sendiri Bukunya, Bukan Hanya Ulasannya Saja

Adakah yang pernah merasa membaca ulasan buku dari konten orang lain berupa tulisan ataupun video sudah cukup dan tidak perlu membaca bukunya sendiri?

Atau adakah yang dari ulasan negatif dari sebuah buku, lalu ikutan merasa buku tersebut pasti tidak bagus?

Jangan ya, jangan menyimpulkan sebuah karya berdasarkan apa kata orang lain. Jangan juga sok tau tentang isi sebuah buku hanya setelah membaca rangkuman atau ulasannya saja.

Di tulisan ini saya akan berikan alasan kenapa kita masih perlu membaca buku walaupun sudah ada banyak yang menuliskan rangkuman buku tersebut.

Banyak Versi Ulasan

Beberapa waktu yang lalu saya menemukan aplikasi yang bisa mendengarkan rangkuman dari berbagai buku yang populer. Biasanya sih buku kategori self-help. Biasanya memang buku-buku model tersebut tebal-tebal dan butuh waktu ekstra untuk membaca dan mencernanya, tetapi dengan aplikasi tersebut saya bisa mendapatkan garis besar dari semua bukunya dalam waktu kurang dari 10 menit.

Sekarang ini selain dari aplikasi, ada banyak juga penulis buku yang mempromosikan bukunya dalam bentuk siniar, ataupun tayangan pendek di youtube. Lagi-lagi mereka sudah seperti merangkum keseluruhan isi bukunya. Banyak yang belum membaca bukunya sendiri, tetapi merasa sudah bisa ikutan belajar banyak hal dari ringkasan yang ada.

Beberapa waktu lalu, seorang teman juga bercerita kalau dia memperhatikan ada fenomena anak jaman sekarang yang merasa sudah cukup dari melihat reels, video ataupun rangkuman dari buku tersebut tanpa merasa perlu membaca bukunya.

Saya jadi bertanya-tanya sebenernya apa sih kelebihan dari membaca bukunya sendiri secara utuh?

Beda Proses Berpikir

Saya ingat ketika membaca buku Mark Manson yang berjudul Segala-galanya Ambyar. Setelah selesai membaca buku itu saya iseng mendengarkan rangkuman buku tersebut dari aplikasi ragkuman. Ternyata dong saya menangkap pesan yang berbeda dengan yang dirangkum oleh orang tersebut.

Kok bisa?

Ya tentu saja bisa. Karena apa yang saya tangkap itu hasil pemrosesan saya saat membaca. Setiap orang bisa mempunyai pengertian yang berbeda tergantung dari pengalaman hidup masing-masing.

Beda Persepsi

Sama seperti ketika saya dan teman-teman yang menonton film yang sama, tetapi punya pendapat yang berbeda tentang hal yang menarik atau yang perlu diingat dari film terssebut. Bahkan pesan dari film tersebut bisa ditangkap berbeda.

Persepsi setiap orang berbeda. Memang bisa saja ada beberapa orang yang memiliki pengertian yang kurang lebih sama dan menyimpulkan hal yang sama, tapi kebanyakan nggak begitu kok.

Beda Kesan dan Pesan

Kita perlu membaca sendiri buku secara lengkap untuk mendapatkan makna yang dipahami sendiri. Kita bisa mendapatkan kesan dan pesan yang mungkin lebih baik atau tidak sama baiknya tapi masih baik dari apa yang ada di rangkuman ataupun apa yang diceritakan orang lain.

Seperti halnya saya yang punya kesan cerita yang suram tentang buku Di Tanah Lada sehingga memutuskan tidak menyelesaikannya, berbeda dengan teman saya yang gemas dengan ceritanya dan semakin mencari buku-buku dari pengarang yang sama karena suka dengan cara berceritanya.

Membaca buku itu sebuah proses untuk memaknai, bukan sekedar membaca kata demi kata saja.

Saya ingin mengingatkan lebih baik bacalah sendiri versi lengkapnya dan jangan hanya membaca ulasan atau rangkuman saja sebelum membuat kesimpulan terhadap suatu karya. Lebih baik lagi kalau bisa membuat ulasan versi sendiri.

Tulisan saya ini juga pengingat buat diri sendiri untuk mulai menyempatkan membaca buku lagi sampai selesai.

Tahun 2025, saya hanya menyelesaikan membaca satu buku walaupun sudah memulai beberapa buku. Mudah-mudahan tahun ini bisa menuliskan ulasan beberapa buku yang berhasil diselesaikan dibaca, bukan hanya membaca dan menuliskan kesan awal saja.


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply