Kota dan Fase Kehidupan

Apakah sebuah tempat bisa membentuk seseorang? Mungkin saja bisa. Tetapi tidak selalu begitu halnya. Buat saya, kota atau tempat tidak bisa membentuk saya, tetapi bagaimana saya beradaptasi dan merespon apa yang terjadi (terpaksa ataupun terbiasa) itulah yang memberikan pengalaman dan pelajaran hidup.

Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Februari 2026 ini agak sulit dikerjakan, karena kemungkinan tulisan ini tidak bisa menjawab kota atau tempat yang membentuk saya. Tapi sebagai gantinya saya akan menceritakan 3 kota yang ditempati cukup lama yang kebetulan terbagi berdasarkan fase kehidupan.

Tentunya akan terlalu panjang kalau sayamenuliskan secara rinci apa yang dipelajari di setiap fasenya, jadi saya akan menuliskan garis besarnya saja.

Fase Anak Sekolah

Fase kehidupan sebagai anak sekolah saya lewati di kota Medan. Kota Medan sekarang sering disebut sebagai Gotham City dan banyak preman.

Waktu sekolah dulu, saya tidak pernah terpikir sama sekali tentang tingkat kejahatan dan premanisme yang ada. Saya bersekolah di sekolah negeri dari SD sampai SMA, pergi dan pulang juga gabungan berjalan kaki dan atau naik kenderaan umum atau becak dan tidak pernah merasa takut dengan adanya preman.

Sebagai anak sekolah, saya tidak pernah diberi uang saku. Orang tua saya hanya memberikan saya ongkos untuk naik angkutan umum. Dari situ saya belajar, saya perlu memperhitungkan waktu berangkat supaya tidak terlambat sampai sekolah.

Angkutan dari rumah ke sekolah waktu SD masih relatif gampang, karena jalur angkutannya tergolong dekat. Tetapi ketika SMP, saya perlu berganti angkutan setidaknya 2 kali. Saya juga jadi belajar kalau misalnya saya jalan kaki saya jadi bisa menghemat ongkos angkutan. Dari SD saya sudah belajar mendapatkan uang jajan dengan cara memilih berjalan kaki supaya punya uang jajan.

Sejak SMP saya juga belajar kalau mau nyaman ke sekolah bisa juga dengan beca bermotor, tetapi tentunya kalau pergi sendiri biayanya lebih mahal, jadi saya mencari teman seperjalanan supaya bisa bayarnya patungan.

Kemampuan tidak takut preman, berhitung antara ongkos dan uang jajan, memilih rute pulang, dan memastikan jam berangkat supaya tidak terlambat sudah terlatih sejak SD. Tentunya semua itu bisa saya lakukan karena sebelumnya saya diajari kakak-kakak saya yang juga bersekolah di tempat yang sama dengan saya.

Kemampuan yang saya pelajari di fase sebagai anak sekolah ini berperan penting di saat saya hidup jauh dari keluarga.

Fase Berlatih Kemandirian

Kehidupan yang melatih kemandirian saya baru benar-benar dimulai saat saya merantau menyeberang pulau ke Bandung. Saya tinggal di tempat kos tanpa keluarga dan teman yang sebelumnya saya kenal. Tidak ada kakak yang mengajari saya, tidak ada orang tua yang mengingatkan saya akan jadwal sekolah atau mengerjakan tugas kuliah.

Kemampuan berhitung ongkos angkutan di masa sekolah di kota Medan, harus diperluas dengan kemampuan berhitung biaya hidup supaya jangan sampai kiriman habis sebelum kiriman berikutnya datang.

Masa kuliah di Bandung ini saya belajar membuat banyak keputusan dalam hidup saya. Bukan saja kemampuan berhitung tetapi juga menyesuaikan keputusan dengan budget yang tersedia.

Tidak ada lagi makanan terhidang untuk setiap jam makan seperti waktu di rumah orang tua. Saya harus memutuskan mau makan apa dan jam berapa dan di mana. Ternyata memikirkan mau makan apa setiap hari itu jadi modal juga setelah jadi ibu yang harus menentukan menu makanan setiap hari.

Teman-teman kos saya bukan berasal dari kota Medan, dan mereka juga tidak pergi ke kampus yang sama dengan saya, jadi saya perlu beradaptasi dengan orang-orang dari berbagai kota dan usia yang berbeda juga dengan saya.

Saya perlu menyesuaikan gaya bahasa saya supaya komunikasi bisa nyambung. Ternyata walaupun Medan dan Bandung sama-sama di Indonesia, ada beberapa kosa kata yang berbeda dimulai dengan kata Bakwan dan Bala-bala.

Selama kurang lebih 12 tahun tinggal di Bandung, saya berlatih mandiri sampai akhirnya benar-benar mandiri. Kalau awalnya menerima uang kiriman dari orang tua, setelah lulus kuliah saya tidak lagi dikirimin uang oleh orang tua saya. Mulailah komponen berhitung bertambah. Karena setelah tidak dapat kiriman, artinya semua pengeluaran dari dompet sendiri, mau itu untuk kebutuhan primer, sekunder, ataupun tersier.

Fase Berkeluarga

Ketika saya tinggal di Medan, saya tidak pernah terpikir akan tinggal di Bandung. Ketika tinggal di Bandung, saya pikir saya akan selamanya tinggal di Bandung. Tidak pernah terpikir kalau ternyata, saya harus merantau lebih jauh lagi. Kalau sebelumnya saya menyeberang pulau, kali ini saya menyeberang garis batas negara.

Sejak menikah, saya ikut suami ke Chiang Mai, Thailand. Kota yang sebelumnya tidak pernah saya dengar namanya sebelumnya karena saya tidak mengikuti berita olahraga. Negara yang membuat saya merasakan menjadi orang buta huruf dan gagap bahasa.

Awal tinggal di Chiang Mai, semua pelajaran adaptasi yang pernah dipelajari di Bandung seperti hilang begitu saja. Saya sempat minta pulang sama paksu karena saya merasa tidak bisa membuat beradaptasi dengan bahasa yang sulit dipelajari (pada saat itu).

Ternyata, setelah saya mulai bisa berbahasa Thailand yang lebih sulit dari belajar matematika, dan tidak buta huruf lagi, saya mulai betah tinggal di sini. Tak terasa, kota ini sudah menjadi kota terlama yang pernah saya tempati. Tahun ini merupakan tahun ke-19 kami tinggal di Chiang Mai.

Cerita tentang Chiang Mai sudah banyak saya tuliskan di blog saya, pelajarannya juga bukan lagi sekedar berhitung budget bulanan ataupun membuat keputusan mau makan apa. Di kota ini saya belajar menjadi orang tua dan juga menjadi bagian dari komunitas.

Di Chiang Mai saya bertemu dengan orang Indonesia dari berbagai kota, selain itu saya juga berkenalan dengan orang dari berbagai negara lain dari berbagai benua. Saya juga bertemu dengan banyak orang baik yang walau baru bertemu tetapi mau berbagi ilmu saat saya baru menjadi Ibu. Kami juga bertemu komunitas yang membuat kami berani memutuskan menghomeschool anak-anak kami.

Apakah akan ada kota berikutnya?

Saya tidak tahu apakah akan ada kota berikutnya untuk saya tempati. Saat ini kami masih betah tinggal di Chiang Mai. Apakah fase berikutnya masih akan tetap di Chiang Mai atau pindah ke kota berikutnya. Sekarang ini sih, kami masih memilih tinggal di Chiang Mai selama masih memungkinkan.


Posted

in

,

by

Comments

2 responses to “Kota dan Fase Kehidupan”

  1. may ~ 3 di bumi Avatar

    Hi Risna, terimakasih sudah berbagi cerita ya. Aku jadi ingat dulu ada satu teman angkatanku, perempuan dari Medan. Pas TPB aku suka numpang istirahat di rumahnya pas mau ujian hari Rabu itu, kita beli lauk dari Kokesma atau Salman, lalu masak nasi di rumahnya. Aku yang bukan anak kost belajar banyak dari dia 🙂

  2. Lenny Avatar
    Lenny

    Kak Risna, terimakasih tulisannya, saya suka refleksi mengenai pertumbuhan tingkat kemandirian di berbagai fase.

Leave a Reply