Review Gendut Siapa takut

Antara Membaca dan Menonton, Gendut Siapa Takut?!

Saya sudah banyak menonton film Indonesia yang diangkat dari novel, tapi tidak semua film yang ditonton jadi bikin kepingin baca bukunya. Kali ini, mau tak mau harus baca bukunya juga supaya bisa membandingkan adaptasinya seperti apa. Sebagai yang sudah lama banget nggak membaca buku, tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog kali ini berat, tapi bukan tantangan namanya kalau terlalu mudah.

Awalnya niatnya menonton ulang film Indonesia mana yang sudah pernah dibaca bukunya untuk ditonton ulang lalu dituliskan perbandingannya. Tapi rasanya kalau sudah lama banget bacanya, sudah banyak hal yang terlupakan. Jadi mulailah menelusuri judul-judul film Indonesia yang ada di Netflix. Kenapa film Indonesia? Ya biar gampang dimengerti dan pasti karya asli dan bukan terjemahan.

Mencari tontonan yang ada bukunya

Ketika melihat film tahun 2022 yang dibintangi Marshanda dengan judul Gendut Siapa Takut?! saya langsung terpikir, ini kemungkinan diadaptasi dari novel Indonesia. Ternyata benar, film tersebut diadaptasi dari novel karya penulis bernama Alnira yang menuliskan cerita ini di Wattpad, sebuah media daring berbasis komunitas untuk membaca dan menulis berbagai cerita.

Sebelum mulai menonton, saya memastikan novelnya bisa dibaca di iPusnas. Sebenarnya novelnya ini tersedia di Gramedia Digital juga, tetapi saat ini saya sedang berhenti berlangganan. Berikutnya memastikan saya masih bisa mengakses iPusnas dan meminjam bukunya kalau memang ada. Duh mau nulis blog aja jadi repot banget ya bulan ini.

Setelah buku dari iPusnas bisa diakses, saya mulai menonton filmnya yang durasinya cuma 1 jam 40 menit. Oh ya, yang membuat saya semakin tertarik dengan karya ini (walau tidak pernah mendengar nama penulisnya), karena cuplikannya di Netflix dengan lagu yang bernuansa jadul dan deskripsi singkat yang menyebutkan tokoh utama dalam film ini adalah seorang penulis novel bestseller yang dilema memilih antara sutradara tampan dan musuh bebuyutan masa kecil yang muncul lagi dalam kehidupannya.

Sebelum mulai menonton, dari judul dan deskripsi, membuat saya bertanya-tanya apakah novelis yang gendut ini akan jadi rebutan 2 pria ganteng? Lalu apakah dia jadi langsing makanya jadi rebutan begitu? Nanti deh dibahas jawabannya di bagian ulasan filmnya ya.

Membaca 320 halaman dalam 2 hari

Saya bukan orang yang selalu membaca dari film adaptasi yang saya tonton, dan kalaupun saya membaca buku, saya hanya akan menonton adaptasi filmnya kalau memang pemainnya ternama atau semua orang membicarakannya seperti Harry Potter. Kali ini tuntutan tantangan, saya baca juga buku Gendut? Siapa Takut! dari iPusnas.

Walau awalnya merasa agak sulit membaca di komputer, ternyata saya berhasil menyelesaikan membaca bukunya dalam waktu 2 hari. Sungguh ini prestasi tahun ini! Saya menyelesaikan menonton dan membaca bukunya bahkan sebelum pertengahan Oktober. Sayangnya mood menulis terbang hilang sampai akhirnya menjadi deadliner lagi.

Seperti dugaan, ceritanya tidak persis sama dengan yang ada di film. Versi novelnya lebih banyak pelajarannya dan saya bisa merasakan kalau penulisnya ini seorang yang idealis dan suka memasukkan opini pribadi ke dalam tulisannya menjadi opini tokoh dalam ceritanya.

Satu hal yang menarik, film yang saya pilih itu tentang seorang penulis. Ternyata penulis novel ini bukunya sedang dalam proses adaptasi menjadi film. Nah, walau sekilas, di film ditunjukkan bagaimana seorang penulis yang karyanya diadaptasi menjadi film, terlibat dan bekerjasama dengan tim yang akan mengubah tulisannya menjadi film (screenwriter, sutradara, bahkan calon artisnya). Di bukunya, ada lebih banyak sih dibahas bagian adaptasi ini.

Sepanjang menonton dan membaca saya terpikir, loh kok kebetulan sekali, walau memilih secara acak, saya memilih karya yang membicarakan proses adaptasi lintas media di saat saya membutuhkannya untuk menulis tantangan dengan topik proses adaptasi lintas media. Bukan hanya alih media dari novel ke film saja, bahkan karya ini alih media dari Wattpad ke novel, lalu dari novel diadaptasi ke film.

Tentang Alnira dan Wattpad

Statistik Gendut? Siapa takut di Wattpad

Buat yang belum tau, Wattpad ini biasanya dipakai oleh penulis pemula untuk mencari pembaca. Biasanya mereka menerbitkan tulisannya beberapa halaman dan dalam kurun waktu bisa berbulan-bulan.

Dengan alasan gak tahu kapan selesai atau jangan-jangan tidak selesai, saya kurang suka membaca Wattpad (atau platform sejenis). Kualitas tulisan di Wattpad juga sangat beragam, karena tentunya belum ada editornya. Jadi biasanya saya memilih membaca buku yang memang sudah dikurasi dan diedit sebelum diterbitkan oleh penerbit seperti Gramedia.

Biasanya karya di Wattpad ini memang menjadi jalan buat penulis ditemukan oleh penerbit. Kalau dilihat dari profil Wattpad penulis buku ini, ternyata Alnira sudah aktif menulis di Wattpad sejak tahun 2014 dan saat ini sudah menerbitkan 39 buku (sebagian self publishing dan cukup banyak yang diterbitkan Gramedia).

Cerita Gendut? Siapa Takut! dituliskan sejak Mei 2017 sampai Agustus 2017, setahun kemudian di bulan Mei 2018 tulisan yang di Wattpad dihapus karena masuk proses edit untuk diterbitkan oleh Gramedia. Tidak berhenti sampai jadi buku, karya Alnira ini dilirik untuk difilmkan dan tayang perdana di bulan September 2022, dan inilah akhirnya film yang saya tonton di Netflix.

Profil Alnira di Wattpad

Ulasan Film Gendut Siapa Takut?!

Poster Gendut Siapa Takut?!

Oke mungkin sudah ada yang mulai nggak sabar mau tahu lebih banyak tentang film Gendut Siapa Takut?! Sebenarnya sih sudah saya sebutkan ceritanya tentang penulis yang bukunya sedang diadaptasi menjadi film yang suka berkhayal tentang pangeran berkuda putih yang akan menjadi pasangannya kelak.

Moza, nama tokoh utama dalam cerita ini sudah hampir 30 tahun. Tinggal dengan orang tua dan adiknya di pinggiran kota Jakarta. Walau berbadan gendut, dia sangat modis dan penampilannya terlihat cukup menaril. Moza cukup percaya diri dan prestasinya termasuk sudah menjual 3 buku laris yang kemudian buku ke-3 ini yang akan diadaptasi menjadi film.

Dalam film ini, warna kuning sangat dominan sekali. Saya sempat terpikir apakah di bukunya disebutkan warna kesukaan Moza adalah kuning? Ternyata bahkan cover bukunya bukan kuning. Jadi sepertinya warna kuning yang dominan dipakai Moza, termasuk warna kuku yang selalu ganti-ganti antara kuning dan oranye bukan karena dari buku, tapi mungkin biar efek komikal?

Moza menyukai Dafi, sutradara yang baru saja menerima penghargaan sutradara terbaik. Dafi ini juga yang akan menjadi sutradara film yang diadaptasi dari bukunya. Kesempatan buat Moza lebih sering bertemu Dafi. Tanpa disangka, Dafi ternyata sudah punya pasangan, seorang model yang ingin jadi artis. Pacarnya Dafi ini jelas lebih cantik dan langsing kalau dibandingkan Moza, tapi walau begitu, tiba-tiba ada rumor kalau Moza ingin merebut Dafi dari sang model.

Karakter di Gendut Siapa Takut ?!

Setelah membaca bukunya, saya baru tahu kalau cerita tentang rumor ini tidak ada di bukunya, tapi sepertinya konflik ini penting untuk membuat Nares, tetangga masa kecil yang dulunya sering membully Moza, punya saingan untuk mendapatkan hati Moza.

Jadi di film ini, Moza bahkan ga perlu berusaha langsing untuk mendapatkan cowok ya. Cukup dengan penampilan modis dan menjadi diri sendiri, kalau jodoh pasti akan ada jalannya. Oh ya, saya tidak akan menceritakan siapa yang akhirnya jadi jodoh Moza, karena film ini cukup menghibur untuk ditonton sendiri. Kehadiran artis pendukung seperti Cut Mini dan Tora Sudiro juga membuat film ini jadi lebih terasa komedinya.

Ulasan Buku Gendut? Siapa Takut!

Cover Buku Gendut? Siapa Takut! karya Alnira

Buku Gendut? Siapa Takut! karya Alnira ini yang diadaptasi menjadi film Gendut Siapa Takut?! Tetapi kalau diperhatikan, judulnya ada sedikit perbedaan letak tanda bacanya. Mungkin sengaja, atau entahlah saya tidak mencari tahu.

Tentunya tidak pernah ada cerita adaptasi yang persis sama dengan cerita aslinya. Bukan hanya penulisan judul, ada beberapa perbedaan tentang tempat tinggal, nama teman, dan bahkan konfliknya.

Di bukunya, diceritakan kalau Moza tinggal sendiri di rumahnya, adiknya tinggal di apartemen tapi masih satu kota dengannya, sedangkan orangtuanya tinggal beda pulau. Hubungan Moza dengan adiknya cukup akrab, dan hubungan baik dengan adiknya inilah yang membuat Moza bertemu kembali dengan Nares, yang di masa kecil jadi musuh bebuyutan dan suka merundung Moza.

Konflik utamanya di buku lebih banyak tentang bagaimana proses Moza mendapatkan pasangannya. Khas cerita metropop tentunya. Selain itu dibukunya digambarkan karakter Moza yang walau gendut, tetap tampil modis dan berusaha untuk sering masak sendiri dan makan lebih sehat.

Moza digambarkan juga berusaha untuk diet, tetapi selalu gagal. Maka akhirnya dia memilih untuk tidak memikirkan diet dan tetap makan banyak. Mungkin seandainya Moza sudah belajar tentang defisit kalori dan juga olahraga yang tepat, usaha Moza menguruskan badan bisa lebih berhasil.

Beberapa hal yang menarik dari buku Gendut? Siapa Takut!

Dari bukunya, ada banyak tips yang bisa dipelajari untuk menjadi penulis novel. Sebenarnya kebanyakan bukan hal yang baru, tetapi tetap saja seperti mengingatkan kembali seperti kenapa perlu membaca buku sampai bagaimana perasaan seorang penulis terhadap karya-karyanya.

Yuk bisa dibaca bagaimana yang saya maksud dengan opini penulis yang dititipkan ke opini karakter utamanya yang seorang penulis.

Penulis dan membaca buku

Moza sebulan baca sepuluh buku, saya setahun baru satu. Pantesan saja sekarang isi blog makin jarang ya. Oh ya, di sini saya merasa membaca opini dari Alnira si penulis buku yang disuarakan lewat karakter Moza. Tentang bagaimana dia menulis apa yang dia suka dan bukan pesanan orang, bagaimana dia menganggap karyanya adalah anaknya sendiri dan bagaimana dia menerima kritik terhadap karyanya.

Penulis dan karya yang diadaptasi

Bagaimana sebuah karya diadaptasi perlu disesuaikan

Namanya adaptasi, pasti banyak penyesuaian. Si pemilik karya asli pasti dapat ekstra dari karya yang diadaptasi. Biasanya pemilik karya asli akan dilibatkan dalam proses adaptasi dan sudah pasti akan ada yang berbeda dengan harapan tetap membuat karyanya semakin lebih baik lagi.

Antara kata-kata dan visual

Mengadaptasi sebuah novel menjadi film bukan hal yang mudah, karena penikmatnya juga pasti berbeda. Semua kembali pada selera pemirsa. Ada yang suka membaca karena biasanya lebih terasa lengkap dan menjelaskan banyak pertanyaan yang ada, ada juga yang lebih suka menikmati filmnya saja.

Kemungkinan warna kuning yang dominan di film adaptasi dibuat untuk membuat warnanya jadi cerah ceria. Bisa juga mungkin ini warna favorit penulis skenario yang mengadaptasinya saja, hehehe.

Antara Membaca dan Menonton: Tak Harus Memilih

Kesimpulan akhir buat saya, antara membaca dan menonton itu kembali ke selera masing-masing saja. Seperti halnya banyak yang menonton film yang sama atau membaca buku yang sama, tetapi bisa mendapatkan pesan dan kesan yang berbeda, tentunya tidak ada yang memaksa harus memilih salah satu dari sebuah karya adaptasi.

Saya tidak pernah berharap adaptasi yang akan plek ketiplek seratus persen, atau merasa perlu memberi nilai kalau yang satu lebih baik dari yang lain. Saya juga tidak pernah mempertanyakan yang asli yang mana. Karena untuk karya adaptasi lintas media, jelas ada proses yang menyebabkan perubahan. Selama masih bisa dinikmati lanjutkan, kalau tidak bisa dinikmati ya hentikan dan coba lagi lain kali.

Kalau buat saya pribadi, untuk hiburan ringan, saya lebih suka menonton saja. Tetapi kalau punya waktu lebih banyak dan ingin melihat sebuah cerita dari sudut pandang lain, maka saya akan mencoba membaca bukunya. Seperti halnya saya merasa terhibur menonton Gendut Siapa Takut?! dan juga cukup menikmati dan merasa belajar banyak dari buku Gendut? Siapa Takut!

Bukan membenarkan untuk membiarkan diri gendut loh, tapi setidaknya membaca opini seorang penulis dan tentang proses adaptasi karyanya.

Tulisan ini untuk mengikuti Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Oktober 2025 dengan Tema: Menyelami Orisinalitas dalam Adaptasi Karya Lintas Medium

Comments

6 responses to “Antara Membaca dan Menonton, Gendut Siapa Takut?!”

  1. dewi laily purnamasari Avatar

    Thanks teh Risna sudah menuliskannya. Aku jadi kepincut kepingin nonton film ini.
    Sepakat bahwa menonton film dan membaca buku memang pada dasarnya tak bisa dibandingkan.

    Salam semangat

  2. Alfi Avatar

    Gendut? Asal sehat sih ga usah takut lah ya!? Eh? Hihihihi

  3. sunglow mama Avatar

    Akupun ngga semua film yang diangkat dari novel pengen baca novelnya. Jarang biasanya film yang buat aku mau baca buku aslinya. Menarik juga ada proses adaptasi ke filmnya di novel ya

  4. Sistha MGN Avatar

    Luarr biasaaa… ternyata bisa juga ya ternyata selesai 300 halaman dalam 2 hari.
    Duh iya, asupan penulis itu memang bacaan ya.

  5. srinurillaf Avatar

    Vibe-nya mirip “Imperfect” ya Mah Risna. Tentang self love dan pentingnya percaya diri meski dunia memandang lewat standar sempit.
    Ahahaha, kak Risna, “Mungkin seandainya Moza sudah belajar tentang defisit kalori dan juga olahraga yang tepat, usaha Moza menguruskan badan bisa lebih berhasil.”.. lha iya, di era yang informatif ini, kok ya Moza ga paham ya ehehe.

  6. Jade Petroceany Avatar
    Jade Petroceany

    Woohoo Teh Risnaaa baca buku di ipusnas kelar dua hari demi tantangan. Kereen. Aku jadi malu perpanjang teroosss buku yang gak tamat-tamat ?

Leave a Reply