Antara Sekolah, Pendidikan dan Belajar

Beberapa waktu lalu saya ingat dengan buku yang pernah saya baca yang dituliskan oleh anak-anak homeschooling. Judul bukunya: Aku Belajar Tapi Aku Nggak Sekolah. Sebagai keluarga yang menghomeschool anaknya, kami sering sekali dipertanyakan kenapa anak tidak dikirim ke sekolah, lalu bagaimana nanti dengan ijasah anak-anak?

Jelas sekali, kebanyakan orang masih berangapan pendidikan itu hanya didapatkan melalui lembaga sekolah dan dibuktikan melalui lembar ijazah. Lembar ijazah itu memang diperlukan, karena setidaknya itu membuktikan kalau kita sudah dievaluasi dan mendapatkan nilai sesuai standar. Tapi, lembar ijazah itu seharusnya bukan tujuan utama, melainkan hanya sebagai salah satu alat ukur saja.

Pendidikan Anak Sejak Usia Dini

Pendidikan itu kita dapatkan sejak kita kecil dan bermula dari rumah dan lingkungan. Maria Montessori, salah satu pendidik yang terkenal dengan metode montessorinya menyebutkan kalau tujuan dari pendidikan anak sejak usia dini seharusnya untuk membuat anak memiliki keinginan belajar secara alami.

Jadi, pendidikan itu bukan karena orang tua pingin anaknya dinilai hebat dan atau ijasahnya selalu nilainya hebat. Tapi pendidikan adalah proses belajar yang bukan hanya sekedar membuat anak memiliki pengetahuan yang berupa hapalan teori dan fakta, tapi juga bisa mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupannya.

Belajar

Belajar itu kegiatan untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan kemudian mengaplikasikannya untuk menjadi keahlian. Berdasarkan pengalaman, kalau ada hal yang dipelajari karena dipaksa dengan dipelajari karena memang ingin tahu, biasanya saya akan lebih cepat mengerti hal yang memang saya ingin tahu.

Keingintahuan menjadi kunci yang penting dalam kegiatan belajar. Yang tidak kalah penting adalah keinginan untuk melakukan sesuatu untuk menjawab keingintahuan. Salah satu hal yang saya rasakan di masa pandemi adalah, ada banyak sekali kelas-kelas belajar gratis yang bisa diikuti secara online. Kita tinggal milih mau belajar apa. Akan tetapi, mengikuti kelas-kelas tersebut bukan menjadi jaminan kita langsung mengerti dan bisa.

Seperti kutipan dari Zig Ziglar: Jika kita tidak punya keinginan belajar, tidak akan ada yang bisa menolong kita. Tapi, ketika kita punya tekat untuk belajar, tidak ada yang bisa menghentikan kita. Terkadang, kalau hanya mengetahui dan tidak ada tindak lanjut untuk terus mencoba dan mengaplikasikan pengetahuan baru tersebut, ya akhirnya pengetahuannya menguap sekedar tahu dan tidak jadi apa-apa. Ini tuh sama seperti saya tahu teori tentang menurunkan berat badan, tapi saya tidak melakukannya sehingga berat badan saya tetap tidak turun, hehehe.

Ketika saya pertama belajar Canva, saya mengikuti kelas gratisan, tapi saya tidak langsung mencoba dan atau mengeksplorasi lebih lanjut. Tentu saja, saya jadi merasa Canva itu sulit sekali. Tapi, ketika saya mulai memberikan waktu lebih banyak untuk mengeksplorasi dan mencoba berbagai hal, akhirnya walaupun saya tidak bilang saya ahli sekali, saya merasa jadi lebih mengerti bagaimana menggunakan Canva untuk menghasilkan desain yang baik.

Belajar itu harus aktif

Di tahun 2021 saya banyak belajar hal baru. Saya mengikuti kelas gratis atau berbayar, mencari tahu di internet, mencoba-coba dan juga bertanya dengan yang sudah bisa lebih dulu. Rasanya senang sekali kalau dari mempelajari hal baru tersebut, saya langsung bisa berkarya, melakukan sesuatu dari hasil pelajaran tersebut.

Dengan banyaknya kelas-kelas gratis, terkadang saya melihat teman di kelas gratis yang hobi bertanya tapi tidak mau membaca jawaban. Mungkin karena gratis, jadi mereka belajarnya nggak sungguh-sungguh? Atau ya mungkin juga ada orang yang lebih suka disuapin dengan pengetahuan tapi ga mau mencoba mengaplikasikan dengan berbagai alasan.

Kegiatan belajar itu harus dilakukan secara aktif. Tidak berhenti di sekedar tahu. Tidak juga hanya bertanya dan puas dengan jawaban yang diberikan orang lain, tanpa berusaha mencoba sendiri jawaban yang diberikan tersebut.

Belajar bukan hanya di sekolah

Belajar tidak mengenal batas usia ataupun batas di sekolah atau tempat berbayar saja. Akan tetapi, memang kalau ingin belajar yang benar, carilah sumber yang baik juga. Belajar dari orang yang lebih punya keahlian, bisa mempercepat proses belajar kita sendiri.

Jaman dulu, lembaga yang mengeluarkan ijasah memang hanya sekolah formal. Saat ini, ada banyak lembaga untuk mengikuti ujian persamaan. Kalau memang membutuhkan ijasah, peserta homeschooling bisa mengikuti ujian persamaan yang ijasahnya setara dengan yang didapatkan dari sekolah. Akan tetapi, yang terpenting bukan ijasahnya, tapi apakah hasil belajarnya memang sudah bisa diaplikasikan? Apakah hasil belajarnya membuat seseorang punya keahlian yang bisa terjun untuk mengerjakan sesuatu produk?

Kalau tujuan akhir hanya ijasah, apalagi dengan sistem ujian pilihan berganda, saya rasa anak dengan kemampuan menghapal bisa menghapalkan berbagai jawaban setelah mengerjakan kumpulan soal yang banyak tanpa mengerti bagaimana mengerjakannya. Tujuan akhir dari pendidikan sekolah tentunya bukan sekedar ijasah. Ada berbagai hal lain yang juga bisa dipelajari selama anak di usia sekolah.

Kalau Mark Twain bilang: “Jangan biarkan pendidikan formal menghalangi pembelajaran Anda.” Nggak punya ijasah? Ya carilah ujian persamaannya kalau memang ijasah itu penting, tapi jangan lupa, ada yang lebih penting dari lembaran ijasah tersebut.

Belajar bukan hanya di sekolah. Seperti halnya anak-anak homeschool yang tidak ke sekolah, tapi mereka tetap belajar dan memperoleh pendidikan. Jadi kalau pun kita mengirim anak ke sekolah, pastikan mereka punya keinginan untuk belajar sehingga tujuan dari pendidikannya tercapai.

Aduh jadi panjang, padahal tadi mau nulis ini karena hari ini 2 Mei 2022, dan saya ingin mengucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional! Semoga kita bisa memberikan pendidikan untuk generasi mendatang, yang bukan sekedar ijazah, tapi juga menghasilkan generasi yang bisa berkarya membangun bangsa.

Leave a Reply