landmark chiang mai, bandung dan medan

Berbagai Landmark Kota yang Terlewatkan

Siapa yang seperti saya, tinggal di sebuah kota bertahun-tahun, tetapi tidak pernah mengunjungi landmark kota tersebut. Bukan karena tidak ingin, tetapi karena merasa kapan pun bisa ke sana, ditunda-tunda perginya sampai akhirnya kesempatan itu menjadi langka.

Karena saya pernah tinggal cukup lama di 3 kota, maka saya akan membahas landmark dari 3 kota tersebut. Mulai dari kota yang saat ini menjadi tempat tinggal dilanjutkan dengan kota yang pernah menjadi tempat tinggal.

Berbagai Kuil di Chiang Mai

Wat Pratat Doi Suthep (sumber: Google Map)

Orang di Chiang Mai bilang belum sah sampai ke Chiang Mai sebelum ke Doi Suthep mengunjungi kuil Wat Pratat Doi Suthep yang terlihat jelas dari kota Chiang Mai. Dan sebaliknya dari sana kita bisa melihat pemandangan kota Chiang Mai.

Untuk sampai ke kuil kita bisa naik tangga sebanyak 300 undakan, atau naik lift dengan mengantri dan membayar per orang nya. Pasti bisa tebak dong kami naik ke sana tentu saja naik lift yang kalau dipikir-pikir hebat sekali mereka mendesainnya. Saya susah memndeskripsikannya, karena liftnya agak unik, bukan naik biasa tetapi agak diagonal begitu.

Walau setiap hari bisa melihat Doi Suthep dari berbagai sudut kota Chiang Mai, saya akhirnya mengunjungi tempat itu ketika ada keluarga yang datang mengunjungi kami. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali toh!

Banyak kuil dan tempat di Chiang Mai yang sebenarnya menjadi landmark sekaligus menyimpan cerita sejarah tentang kota ini. Tetapi dari beberapa yang sudah dikunjungi, masih banyak yang belum dikunjungi. Biasanya kami akan mengunjungi tempat-tempat wisata termasuk landmark kota itu kalau ada yang datang dan meminta kami menemani ke sana.

Sebenarnya sih kalau bukan lagi musim polusi, Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan April 2023 ini merupakan salah satu alasan yang baik untuk mengunjungi berbagai landmark itu, tetapi ya karena polusi lain kali deh jalan-jalan di Chiang Mai nya, siapa tahu ada Mamah Gajah yang juga ingin ditemani jalan-jalan di Chiang Mai. Hari in lebih baik saya menceritakan landmark kota di Indonesia yang belum juga saya kunjungi walau pernah tinggal di sana bertahun-tahun. Sekalian anggap saja tulisan ini menjadi daftar itinerary kalau akan mudik berikutnya.

Gedung Sate di Bandung

Gedung Sate Bandung (sumber: Wikipedia)

Percaya ga percaya, bertahun-tahun di Bandung saya baru sekali ke Tangkuban Perahu, belum pernah masuk ke bonbin yang menjadi tempat menunggu angkot setiap harinya, tidak pernah ke museum geologi dan kalau diingat-ingat, bahkan Gedung Sate pun saya hanya lewat dari depannya dan tidak tahu ada apa di dalamnya. Keterlaluan ya!

Jadi memang, saya tahu Gedung Sate itu unik karena ada seperti tusukan sate di atasnya, tetapi saya tidak tahu apakah saya boleh masuk ke dalamnya, ada apa di dalamnya dan bahkan saya tidak pernah berfoto dengan latar belakang Gedung Sate!

Menuliskan hal ini membuat saya merasa perlu kalau ke Bandung wajib foto-foto di berbagai landmark yang ada di sana, terutama Gedung Sate dan Gedung tempat diadakannya Konferensi Asia Afrika.

Kalau baca di Wikipedia, selain desain yang unik gedung yang dibangun sejak tahun 1920 ini merupakan hasil karya arsitek Ir. J.Gerber dan kelompoknya yang tidak terlepas dari masukan maestro arsitek Belanda Dr.Hendrik Petrus Berlage, yang bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara. Butuh 4 tahun untuk menyelesaikan bangunan utamanya yang merupakan hasil eksperimen sang arsitek dan mengarah pada gaya Indo-Eropa.

Daripada saya mengulang isi wikipedia, bisa baca saja detail sejarah Gedung Sate di sana ya, hehehe. Pokoknya keren dan bahkan ada yang bilang Gedung Sate ini bangunan terindah di Indonesia. Anak arsitek mungkin lebih mengerti detailnya ya, kalau saya sih cuma jadi penasaran ingin melihatnya saja kalau ada kesempatan mudik ke Bandung. Biar ga malu ketahuan pernah lama di Bandung tetapi kok malah belum pernah masuk melihat sendiri kemegahan Gedung Sate.

Istana Maimun di Medan

Istana Maimun di Medan (Sumber: Wikipedia)

Seperti halnya dengan tidak pernah ke Gedung Sate di Bandung, saya ini orang Medan yang tidak pernah ke Istana Maimun. Setiap kali ada yang bertanya ke saya apa tempat yang menarik di Medan, saya akan menyebutkan Istana Maimun. Tetapi ketika ada yang bertanya ada apa di sana? Saya tidak tahu jawabannya karena belum pernah ke sana.

Keterlaluan ya? Ya begitulah.

Bertahun-tahun tinggal di Medan, sejak kecil sampai lulus SMA. Beberapa kali lewat Istana Maimun tetapi tidak pernah mengunjunginya. Kebetulan tidak ada tugas sekolah ke sana dan orang tua saya juga tidak pernah mengajak ke sana.

Beberapa kali mudik ke Medan juga saya tidak sempat mengunjungi tempat itu, padahal seperti halnya Gedung Sate, Istana Maimun ini arsitekturnya keren.

Istana yang dibangun di atas tanah seluas 2772 meter persegi ini memiliki 30 kamar. Arsiteknya orang Belanda dan membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menyelesaikan pembangunan istana ini (dimulai dari 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891). Desain interiornya yang unik, memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu Deli, dengan gaya Islam, Spanyol, India, Belanda dan Italia.

Saya susah membayangkan tetapi jadi penasaran juga. Sepertinya langsung saja nanti dilihat kalau mudik ke Medan. Kalau cerita dari salah seorang teman yang tinggal di Medan dan beberapa kali ke sana, di Istana Maimun ini ada bagian museum yang menceritakan sejarah dan segala sesuatu tentang kota Medan dan kebudayaan Deli-Melayu yang menjadi budaya asli Medan. Kalau mau foto dengan baju Melayu juga bisa loh di sana. Tiket masuknya juga nggak mahal, jangan bandingkan dengan tiket masuk ke Dunia Fantasi, atau ke berbagai museum Ilusi terbalik lainnya.

Sudah mengunjungi landmark kota tinggalmu?

Sebenarnya ada 1 kota lagi yang pernah saya tinggali, tetapi sangat sebentar dan saat itu saya masih tergolong batita. Setelah merantau ke Chiang Mai, saya akhirnya sudah berkunjung ke Monas tahun 2016 yang lalu. Siapa hayo yang belum ke Monas padahal sering lewat ketika ke stasiun Gambir?

Jangan seperti saya, tinggal berlama-lama di satu kota, tetapi tidak mengunjungi landmark kota tersebut ya. Terkadang kita pikir bisa kapan saja mengunjungi tempat tersebut, tetapi akhirnya hanya bisa melihat dari wikipedia saja karena menunda-nunda. Yuk kenali dan datangi landmark kota masing-masing (ngomong ke diri sendiri hehehe).

banner tantangan MGN 2023

Comments

6 responses to “Berbagai Landmark Kota yang Terlewatkan”

  1. srinurillaf Avatar

    Ehehe kadang seperti itu ya Risna. Kita malah jarang berkunjung ke landmark di domisili kita, take it for granted. Nanti baru kerasa ‘hilangnya’ pas pindah dari kota tersebut ehehe.

    Kuil Wat Pratat Doi Suthep adalah salah satu incerankuuuuu. Aaaa kapan ya ehehehe. Duh 300 undakan ya, sepertinya saya prefer naik lift saja deh. Bukan karena capeknya, tapi masih trauma pas naik tangga di Batu Caves. Cukup curam, dan waktu itu abis hujan, sudah deg degan takut tergelincir, eh mau pegangan, di situ suka banyak monyet nongkrong. Tidaaaaak. Sereeeem kalo inget.

  2. Alfi Avatar

    Bener banget kak! Gara2 kami, ada beberapa temen Prancis yang jadi ke menara Eiffel, coba? Hahahaha…

  3. ariestyasikin Avatar

    Hahaha.. memang konon katanya, kalau tempat yang dekat itu malah yang paling jarang dikunjungi ya teh Risna ?
    Aku jg rasanya blom pernah masuk gedung sate yg deket rumah, tp udh pernah ke maimun waktu kebetulan ada conference di medan.

    Terima kasih ya teh Risna sudah ikut tantangan Landmark, jadi penasaran pgn masuk gedung sate hehehee

  4. Ririn Avatar

    Hihihi kirain mau nyeritain 1000 kuil teh. Aku selama di Bandung nggak pernah ke Gedung Sate.hehehe. begitu jadi turis di medan, berkunjung deh ke istana Maimun.

  5. Yustika Avatar

    Cukup kompleks juga ya arsitektur Istana Maimun, memadukan berbagai kebudayaan begitu. Masuk bucket list nih, kebetulan belum pernah ke Medan.

  6. Dini Avatar

    Wahhh, sy pernah dapat kesempatan masuk gedung sate, sampai naik ke lantai paling atas, melihat taman ke arah monumen bambu runcing yang benar2 lurus membingkai tangkuban perahu.

    Ntah kapan bisa naik lagi kesana

Leave a Reply