Mempertanyakan Pahlawan dan Villain di Cerita Dongeng: Film Netflix The School for Good and Evil (2022)

school of good and evil netflix

Film The School for Good and Evil yang merupakan film Netflix yang diadaptasi dari serial novel dengan judul yang sama. Judulnya bikin bertanya-tanya: “Apakah kebaikan dan kejahatan itu bisa dipelajari di sekolah? Dan apakah ada yang benar-benar jahat atau benar-benar baik?”

Film fantasi ini menarik untuk yang suka cerita dongeng yang selalu ada orang baik dan orang jahatnya. Sekolah yang satu mendidik menjadi pahlawan orang baik sedangkan sekolah yang satu lagi mendidik menjadi penjahat yang sangat jahat. Benarkah ada yang bisa pure good atau pure evil?

Sinopsis The School for Good and Evil

Sebelum cerita panjang lebar, ada baiknya kita melihat trailernya dulu. Entah kenapa, sebelum menonton dan setelah menonton, melihat trailer itu rasanya berbeda. Mungkin karena setelah menonton, sudah tahu lebih banyak detail ceritanya ya.

Trailer The School of Good and Evil (Netflix Indonesia)

Walaupun ceritanya dibuka dengan kisah pertarungan 2 bersaudara yang mendirikan sekolah Good and Evil untuk keseimbangan dunia, cerita utamanya tentang 2 gadis remaja miskin yang tinggal di desa Gavaldon. Mereka tidak punya teman karena dianggap aneh dan kotor.

Agatha yang tinggal dekat kuburan selalu disebut sebagai penyihir. Sedangkan Sophie yang warna rambutnya keemasan, sangat memperhatikan tatanan rambutnya dan merasa dirinya adalah seorang putri dari buku dongeng. Sophie tidak memiliki ibu lagi, dia tinggal dengan bibinya. Ketika ibunya masih ada, dia ingat ibunya pernah berkata kalau Sophie akan menjadi seseorang yang mengubah dunia.

Mereka berdua suka sekali membaca. Suatu hari, mereka pergi ke sebuah toko buku bekas dan menemukan buku dongeng yang berasal dari sekolah Good and Evil. Menurut buku tersebut, semua tokoh pahlawan berasal dari School of Good sedangkan semua tokoh jahat berasal dari School of Evil. Sophie yang selama ini ingat pesan ibunya untuk menjadi seorang yang mengubah dunia, langsung mencari cara supaya mereka bisa diterima bersekolah di sana.

Tanpa disangka, harapannya terkabul. Mereka dibawa oleh seekor burung besar ke sebuah tempat di mana dua sekolah tersebut berada. Tapi, di luar dugaan, Sophie menjadi murid sekolah jahat, sedangkan Agatha menjadi murid sekolah baik.

Cerita berlanjut dengan usaha Sophie untuk dapat diterima di sekolah baik. Agatha, sebagai sahabat yang baik, ikut membantu Sophie supaya bisa pindah sekolah. Konon untuk dapat pindah ke sekolah baik, seorang murid dari sekolah jahat harus mendapatkan true kiss dari seorang yang menjadi anggota sekolah baik.

Bisa ditebak, kalau kemudian pria yang disukai oleh Sophie, ternyata menyukai Agatha. Lalu, walaupun Sophie merasa dirinya seharusnya masuk ke sekolah untuk para pahlawan, akhirnya mulai jadi jahat karena merasa cemburu. Agatha yang terpilih di sekolah baik, membantu Sophie sekuat tenaga dengan tujuan bisa kembali ke Galvadon. Tetapi, karena pria yang disukai Sophie menyukainya, dia malah dibenci oleh Sophie.

Apakah Sophie akan mendapatkan true kiss nya? Atau Sophie malah berubah menjadi pure evil? Bagaimana ending dari film ini? Silakan ditonton sendiri ya.

Guru dan Murid di film the School of Good and Evil (netflix)
Guru dan Murid di film The School of Good and Evil (netflix)

Visual ala dongeng dengan pesan buat penonton

Selain melihat trailernya, saya tertarik menonton film ini karena ada Michelle Yeoh. Walaupun dia tidak banyak terlihat, tapi saya cukup yakin film ini bisa menghibur.

Cerita tentang hero vs villain dalam fairy tale sudah biasa ya. Tapi konsep bahwa semua tokoh pahlawan dan penjahat itu adalah produk sekolah, membuat ceritanya jadi menarik. Bagaimana tokoh-tokoh di sekolah baik harus belajar mulai dari tersenyum, berdandan sampai dengan bela diri. Atau bagaimaan tokoh jahat tidak boleh memperhatikan penampilan karena dianggap penampilan itu mendistraksi fokus untuk berbuat jahat.

Visual dari film ini menarik untuk dilihat. Spesial efek ketika terjadi pertarungan atau adanya kekuatan magis juga disajikan dengan baik. Akting dari pemain muda yang saya bahkan belum pernah lihat sebelumnya cukup oke dan tak kalah dengan aktor senior yang ada di film ini.

Kembali ke pertanyaan apakah manusia bisa menjadi seratus persen jahat atau seratus persen baik? Tentu saja tidak bisa. Mendekati seratus persen mungkin ada, apalagi yang jahat. Di film ini terlihat bahkan murid-murid dari sekolah baik pun masih saja ada perundungan atau rasa iri hati dan persaingan tak sehat. Apalagi ternyata murid-murid yang gagal melakukan tugasnya beberapa kali, langsung dilenyapkan, apakah seperti itu perbuatan yang baik?

Spoiler Ending The School for Good and Evil

Sedikit spoiler: Ada bagian yang bikin saya agak cemas ketika menonton film ini sejak mereka menyebutkan tentang true kiss. Karena film jaman sekarang ini selalu disisipi pesan tambahan. Saya khawatir kalau pada akhirnya dua gadis miskin tersebut merubah persahabatan menjadi hal lain. Tapi saya cukup lega karena kekhawatiran saya tidak terbukti.

Oh ya, ada beberapa hal tak terduga yang muncul di ending film ini, tapi saya tidak akan menceritakannya. Pastinya ada indikasi kalau Netflix akan memproduksi kelanjutan dari cerita film ini. Mungkin diambil dari buku berikutnya.

Pada akhirnya, film ini nggak usah dipikirin terlalu dalam juga, namanya cerita fantasi, apalagi adaptasi dari buku. Kalau mencari hiburan film fantasi dengan vibes kisah dongeng, boleh nih mencoba menonton film The School for Good and Evil ini di Netflix.

Kalau mau mencari kesan saya tentang film lainnya, silakan dibaca tulisan lainnya tentang film.

Leave a Reply