Kdrama Review: The Sound of Magic

review the sound of magic

Sudah lama rasanya tidak menonton drama Korea yang menjadi Netflix Original Series. Bulan Mei 2022 ini saya melihat trailer dari The Sound of Magic yang tayang di Netflix dan langsung diberikan 6 episode. Saya langsung tertarik karena berpikir ini drama ringan yang bisa dinikmati di akhir pekan.

Salah satu dari K-drama yang tayang bulan Mei 2022 (sumber: Drakorclass.com)

Sebenarnya saya sudah menyelesaikan menonton drama ini sejak minggu pertama drama ini release, saya menunda menulis karena ternyata ekspektasi saya tentang drama ini salah. Drama yang dibintangi Ji Chang Wook, Choi Sung Eun dan Hwang In Yeop ini tadinya saya pikir rating 13+ ternyata 16+ dengan peringatan adanya cerita bunuh diri, pelecehan seksual dan bahasa yang tidak pantas. Pantasan saja disebutkan ada cerita psikologisnya.

Teaser The Sound of Magic (sumber: The Swoon)

Kesan dari Menonton The Sound of Magic

Do you believe in magic?

Ri eul

Drama The Sound of Magic ini merupakan drama musikal. Ini merupakan drama Korea musikal pertama yang saya tonton. Sebelumnya, saya juga termasuk jarang menonton drama musikal. Tapi, lagu pembuka dari drama ini bisa membuat saya merasakan aura misterius dari si pesulap yang tinggal di sebuah taman bermain yang sudah terbengkalai. Lagu dan koreografinya membuat saya merasakan juga kalau drama ini akan terasa gelap dan membawa muatan cerita kriminal.

Ya melihat rating dan lagu pembuka, saya langsung mengubah ekspektasi saya. Saya langsung menyadari kalau ini bukan drama ringan, tapi karena visual yang disajikan membuat saya penasaran dan meneruskan menontonnya.

Episode pertama, cukup lama menunjukkan kehidupan tokoh utama wanita yang menurut saya tokoh sentral dari drama ini. Yoon Ah Yi yang diperankan oleh Choi Seung-eun, seorang pelajar kelas 2 SMA yang ditinggalkan ibunya dan juga ayahnya yang terlibat hutang dan tidak jelas kabarnya di mana. Ah Yi masih harus membiayai adiknya juga yang masih kecil.

Selain biaya sekolah, makan dan kebutuhan sehari-hari dia juga harus memikirkan biaya sewa rumah yang sudah ditagih-tagih oleh pemilik rumah. Begitu sulitnya kondisi keuangannya, sampai-sampai dia tidak bisa mengganti kaos kakinya yang robek ketika di hari pertama sekolah dia jatuh di tangga.

Yoon Ah yi, si pelajar yang ingin cepat dewasa (sumber: Netflix)

Saya bisa bayangkan, sebagai anak remaja, dia pasti merasa frustasi karena harus memikirkan masalah yang dia tidak bisa diselesaikan. Untuk membayar sewa rumah dan biaya makan, dia kerja paruh waktu di sebuah mini market. Saat dia menceritakan masalahnya ke pemilik mini market, eh malahan si pemilik mini market memberikan uang, tapi ternyata tidak dengan gratis karena berharap imbal balik boleh pegang-pegang yang merupakan tindakan pelecehan seksual.

Saat Ah-yi merasa tersudut dari kelakuan pemilik mini market, dia berharap ada keajaiban pertolongan dari seseorang. Di situlah muncul sang magician yang sebenarnya sebelumnya sudah pernah tidak sengaja bertemu di depan taman bermain yang terbengkalai.

Sang magician Ri Eul yang diperankan oleh Ji Chang Wook membantunya dan menghilangkan si pemilik mini market. Di bagian ini, sebenarnya Ah Yi jadi ketakutan sendiri, karena dia sudah mendengar berita tentang pesulap yang membuat orang benar-benar hilang. Ah Yi merasa sedikit takut tapi juga penasaran dengan sang magician misterius.

Pertanyaan apakah si pesulap orang baik atau orang jahat, membuat saya juga ikut penasaran dan meneruskan menonton drama ini.

Sebenarnya, ada bagian-bagian yang membuat saya ingin meninggalkan drama ini, tapi saya pikir, tanggung juga ya cuma 6 episode dan toh sudah ditonton sebagian. Ada beberapa bagian yang cukup menarik dan membuat saya bertahan menontonnya.

Hal yang menarik dari The Sound of Magic

Ada beberapa hal yang membuat saya meneruskan menonton drama ini, antara lain:

Musiknya dan lagunya enak didengar

Walaupun saya bukan penggemar film musical, tapi hal pertama yang membuat saya ingin meneruskan menonton drama ini ya karena musiknya dan lagunya cukup enak didengar. Walaupun di beberapa bagian, lagu-lagunya jadi terasa menggantikan dialog saja, tapi di awal dan di akhir, musiknya pasti sudah direncanakan dengan baik.

Dalam drama ini, lagu-lagu yang menggantikan dialog itu dinyanyikan oleh pemerannya. Jadi aktor dan aktris di drama ini bukan hanya dituntut bisa berakting, tapi juga bisa bernyanyi dan sedikit mengikuti gerakan koreografinya.

Visualnya terasa magical

Visual dari drama ini, terutama di bagian yang menunjukkan taman bermain yang tiba-tiba hidup lagi dengan lampu-lampunya menyala semua, cukup membuat kesan yang magic. Magic di sini bukan berarti sihir tapi lebih ke arah sulap. Melihat visualnya membuat saya ingat masa kecil dan ingin pergi ke taman bermain.

Salah satu yang membuat saya agak terkecoh dengan drama ini adalah karena biasanya kalau ada taman bermain itu kan kisahnya kira-kira romantis ataupun bahagia seperti kebahagiaan masa kanak-kanak. Tapi ternyata, orang-orang dalam drama ini tidak sebahagia keindahan visual yang ditunjukkan.

Isu yang diangkat membuat kita berpikir

Ada beberapa isu yang diangkat oleh drama ini. Mulai dari isu orang tua yang kabur meninggalkan anaknya, ataupun orang tua yang menuntut anak untuk mengikuti cita-cita orang tuanya. Selain itu ya isu tentang pelecehan seksual oleh orang yang seharusnya melindungi, pura-pura kasian dengan memberikan uang, tapi kemudian menuntut balas jasa berupa tindakan yang tidak pantas.

Ada lagi isu kesehatan mental anak sekolah, ketika mereka dituntut orang tua menjadi sempurna. Bagian ini saya kurang suka sih cara penyelesaiannya, karena sepertinya drama ini memberi contoh seorang anak itu boleh memilih berhenti sekolah kalau memang tidak bahagia.

Walaupun saya tidak setuju dengan orang tua yang memaksakan cita-cita ke anaknya, tapi saya juga nggak setuju dengan drama ini yang memberikan kesan kalau tidak apa-apa putus sekolah dan kemudian jadi pesulap. Aduh, kalau saja beneran bisa menciptakan uang dari daun-daun, mungkin semua orang bakal berhenti sekolah dan belajar sulap saja.

Kekurangan dari drama The Sound of Magic

Dan berikut ini hal-hal yang menurut saya agak membingungkan dan membuat drama ini terasa tidak selesai ceritanya.

Magic: Trik atau Supernatural?

Poster The Sound of Magic (Netflix)

Selain pertanyaan apakah si pesulap adalah orang baik atau orang jahat, saya agak penasaran dengan penjelasan sulapnya. Walaupun di beberapa bagian si pesulap mengajarkan tipuan sulap kepada Ah-yi, tapi ada beberapa hal yang ditunjukkan tetap tidak bisa dijelaskan.

Walaupun namanya juga film dan tidak semua harus dijelaskan dan masuk akal, tapi saya sering merasa andai dijelaskan pasti lebih baik. Misalnya saja bagaimana mungkin seorang dewasa tinggal di taman hiburan terbengkalai dan bisa menyalakan lampu-lampunya semua. Siapa yang bayar listriknya? Apa nyuri langsung dari tiang? Apakah hal itu bisa terjadi juga di Korea?

Bagaimana si pesulap mengubah liontin kupu-kupu menjadi kupu-kupu hidup? Setahu saya, kupu-kupu itu sangat rapuh sayapnya, nggak mungkin dia bisa simpan kupu-kupu hidup di balik lipatan jubah tanpa merusak sayapnya. Ataukah kupu-kupu itu hanya imajinasi? Atau hipnotis?

Apakah ceritanya si pesulap ini sesungguhnya punya kemampuan supernatural mengendalikan kupu-kupu?

Oh ya, satu lagi. Ada bagian kotak surat yang konon bisa menyampaikan surat ke siapa saja. Jadi kalau kita letakkan surat ke kotaknya, beberapa menit kemudian akan hilang. Tapi tidak ditunjukkan mekanisme hilangnya surat dari kotak surat.

Kesamaan Nasib Antara 2 Pemeran Utama Pria

Bagian ini mungkin spoiler. Tadinya saya pikir akan ada harapan untuk Hwang In Yeop mendapatkan wanita yang dia sukai. Tapi ternyata, peran dia di drama ini bukan untuk menjadi cerita romantis dari pemeran wanita, tapi sekedar cinta bertepuk sebelah tangan, dan juga seperti cerminan masa lalu dari si pesulap.

Yang mengesalkan buat saya adalah ketika kemudian dia pun memilih untuk berhenti sekolah. Tetap kurang suka dengan bagian ini. Nggak mau ngikutin ambisi orang tua satu hal ya, tapi kalau memilih jadi pesulap daripada belajar (padahal toh dia ditunjukkan pintar), kok ya agak terlalu berlebihan.

Yay or Nay?

Kalau kamu mau lihat Ji Chang Wook nyanyi, sambil melihat sedikit koreografi dan bisa menerima cerita yang tidak jelas batasan antara sekedar imajinasi dan atau supernatural, bolehlah ditonton drama ini. Toh cuma 6 episode saja. Banyak bagian dalam drama ini sepertinya sengaja tidak dijelaskan dan penonton bebas menginterpretasikan sendiri.

Tapi kalau kamu berharap cerita yang gak harus membuat kamu memikirkan sendiri beberapa hal seperti yang saya tulis di atas, drama ini kurang cocok buat kamu.

One thought on “Kdrama Review: The Sound of Magic

Leave a Reply