Apakah keluarga itu hanya karena ikatan darah?

keluarga dan ikatan darah (fitur image dari situs https://risna.info)

Pernah dengar istilah darah lebih kental daripada air? Kalau belum, saya kasih tahu artinya ya, peribahasa ini menyatakan kalau hubungan dalam sanak famili atau keluarga akan lebih dekat daripada orang lain.

Peribahasa ini sudah berkali-kali memang saya buktikan sendiri. Saya dan kakak saya orangnya sama-sama keras. Setiap kali kami bertemu, kami sering berbeda pendapat, tapi walaupun begitu, kalau lama tidak bertemu kami rindu ingin bertemu. Sesering apapun kami ribut ketika bertemu, saya dan kakak saya bisa akur seketika, karena kami bersaudara. Ada ikatan darah diantara kami.

Tapi, di tulisan ini, saya juga ingin menyoroti hal lain tentang kekeluargaan yang bukan terbatas karena ada ikatan darah. Ikatan kekeluargaan bisa terbentuk karena adanya ikatan lain, misalnya saja karena kebersamaan sejak lama atau ikatan yang dimateraikan di kantor catatan sipil seperti pernikahan ataupun adopsi anak.

Kisah keluarga tanpa ikatan darah

Untuk memudahkan, saya akan bercerita sedikit melalui cerita drama Korea yang kemungkinan besar bukan hanya sekedar drama dan bisa jadi ada versi kisah nyatanya.

Kdrama Dali and the Cocky Prince

Seorang anak yang sejak kecil diadopsi dan diasuh orang tua angkat. Dia tidak pernah mengetahui siapa orang tua kandungnya. Ibu angkatnya sudah meninggal dari kecil, tapi ayah angkatnya tetap mengasuhnya dengan kasih sayang sebagai putri tunggalnya.

Ketika dia sudah besar, ayah angkatnya meninggal dunia. Anak ini mewarisi semuanya, termasuk hutang dari orang tua angkatnya ini. Lalu, ada berita kalau dia hanya anak angkat. Dalam drama tersebut, awalnya berita ini bikin gempar. Banyak yang beranggapan kalau dia tidak berhak mendapatkan warisan dari orang tua angkatnya ini (padahal yang diwarisi itu hutang loh!)

Akan tetapi, yang saya suka dari drama Dali and the Cocky Prince ini adalah, anak tersebut tidak sedikitpun merasa ayah angkatnya itu bukan ayahnya. Dia tetap merasa beliau adalah orang tua kandungnya. Dia tetap merasa bertanggungjawab melunasi hutang yang ditinggalkan ayahnya, untuk mengembalikan nama baik keluarga mereka.

Kutipan dari Dali and the Cocky Prince (sumber: drakorclass.com)

Kdrama Thirty Nine (39)

Cerita berikutnya, dari drama yang masih tayang di Netflix: Thirty Nine. Seorang anak yang sejak kecil diadopsi. Selain memiliki orang tua angkat, dia juga punya kakak angkat. Keluarga yang mengadopsinya ini sangat sayang dengan dia.

Akan tetapi, si anak ini sejak SMA sampai dia dewasa dan sudah sukses dalam karir sekalipun, selalu mencari-cari keberadaan ibu kandungnya. Dia selalu merasa ada yang kurang dalam hidupnya tanpa ibu kandungnya. Bisa dimaklumi, mungkin dia penasaran kenapa ibunya tidak menginginkannya dan meninggalkannya di panti asuhan.

Pertanyaan saya adalah, kenapa dia merasa perlu mencari tahu ibu yang tidak menginginkannya? Padahal keluarga angkatnya semua baik padanya dan plot cerita seperti ini sering juga sih terjadi di drama-drama lainnya.

Kemungkinan besar, apapun alasan ibunya meninggalkan anaknya, si anak akan serta merta memaafkan ibunya karena darah yang lebih kental dari air itu? Tapi, sebenarnya, apakah ibunya ini lebih mengerti dia daripada keluarga angkatnya ya?

Keluarga bukan hanya karena ikatan darah

Cukup dulu cerita dramanya. Ada banyak berbagai variasi cerita tentang hubungan saudara angkat dan saudara kandung yang terpisah lama lalu bertemu kembali. Tapi, kalau menurut saya, hal yang membuat saya dan kakak saya bisa tetap baikan walaupun sering ribut bukan hanya karena hubungan darah saja, tapi karena kami dibesarkan bersama. Kami sudah saling mengetahui satu sama lain sejak kecil, dan kami selalu saling memaklumi kelakuan satu sama lain.

Jadi, apakah keluarga itu hanya sebatas ikatan darah? Kalau kata saya sih tidak. Keluarga itu juga bisa terjalin melalui kantor catatan sipil, misalnya saja ikatan pernikahan. Ya iya, saya dan suami saya jelas-jelas tidak punya ikatan darah. Setelah kami berkomitmen untuk menikah dan diberkati pendeta (dan mencatatkan pernikahan secara sipil), kami pun menjadi keluarga.

Demikian juga dengan kisah adopsi. Proses adopsi itu kan melalui proses hukum, lalu ketika mereka sudah bertahun-tahun tinggal bersama, apakah perlu mempertanyakan lagi hubungan kekeluargaannya? Kata saya sih tidak. Malah lebih aneh kalau anak angkat yang diasuh dalam kehangatan keluarga adopsi, tapi tetap saja mencari-cari ibu kandungnya.

Penutup

Memang benar, hubungan kekeluargaan itu lebih terasa dekat karena ada ikatan darah. Di keluarga besar orang batak, kekeluargaan juga lebih terasa ketika mengetahui marga apa. Terasa ada ikatan darah, walaupun sebenarnya tidak ada ikatan darah. Tapi sebenarnya, tidak ada patokan atau jaminan hubungan yang memiliki hubungan darah pasti lebih dekat daripada yang tidak, apalagi kalau belum saling mengenal dengan baik.

Pada dasarnya tulisan saya ini hanya ingin mengatakan kalau kita tidak bisa memandang keluarga secara sempit. Kita bisa menganggap orang asing menjadi saudara setelah kita mengenal dan cukup sering berinteraksi dengan mereka.

Misalnya saja, di dalam komunitas, kita juga bisa bertemu dengan teman-teman yang sudah menjadi seperti keluarga. Dan karena kita sudah menjadi keluarga, tentunya kita akan saling mendukung satu sama lain untuk terus berkarya.

Kalau kamu, lebih suka kisah Dali and the Cokcy Prince, atau kisah Thirty Nine dalam memandang hubungan kekeluargaan?

6 thoughts on “Apakah keluarga itu hanya karena ikatan darah?

  1. Saya selalu bilang ke anak-anak kalau lagi berantem.. darah itu lebih kental dari air. Dan mereka pun berbaikan ?. Tapi yang teh Risna tulis memang benar, keluarga bisa ditemukan dimana saja, walopun bukan sedarah. Kereen teh tulisannya

  2. Setuju banget sama Teh Risna, enggak ada patokan kalau hubungan keluarga karena darah bisa lebih dekat atau enggak. Pada akhirnya yang menentukan bagaimana kita berinteraksi dan seberapa besar “deposit” yang dimiliki masing2 enggak sih?

    Soalnya saya sering merasa lebih dekat dan lebih senang menghabiskan waktu dengan sahabat2 saya, daripada misalnya sepupu yang jarang saya temui. Hehe

  3. Aku belum nonton kedua drakor ini. Tapi memang betul, kekeluargaan bisa terasa walau tidak ada ikatan darah.

    Kalau yang aku lihat di film2, anak adopsi tetap cari orangtua kandung walau bahagia dengan keluarga adopsi lebih ingin tahu ‘kenapa ia tidak diinginkan orangtua’ atau ingin tahu asal-usulnya.

  4. Kirain aku dari judulnya mau nulis tentang aku, keluarga yang bukan keluarga. Eh, kita keluarga ya, masih ada satu darah, LOL ?
    iya banyak baca/nonton kisah adopsi yang ya dia ngerasanya keluarganya sama orangtua yang mengadopsi dia dibanding dengan ibu yang melahirkan dia. Semoga kapan-kapan bisa nonton juga dramanya. Mungkin beberapa tahun lagi (selalu anti mainstream, gak mau nonton drama yang baru keluar :D)

Leave a Reply to Lia Cancel reply