Ali & Ratu Ratu Queens, New York dan Mimpi

Setelah menonton film Indonesia A Perfect Fit, saya menonton film Indonesia berikutnya yang sudah direkomendasikan oleh banyak teman-teman saya. Film yang tayang di Netflix sejam 17 Juni 2021 ini entah kenapa baru bisa diakses di Netflix Thailand bulan ini. Mungkin juga waktu itu Netflix saya saja sedang gangguan ya.

Bisa jadi sudah banyak yang menonton dan menulis tentang film ini. Saya juga tidak ketinggalan ingin mengungkapkan beberapa hal yang mengganggu dari film ini. Bukan saya mau jadi kritikus film, tapi menurut saya film ini secara warna gambar dan musik memang lumayan bagus, tapi saya kurang suka dengan ide ceritanya.

Terus, apakah film ini bagus? Ini pendapat pribadi ya, film ini tuh bagus. Para pemainnya yang jadi ratu-ratu Queens bermainnya cukup bagus seperti Nirina Zubir, Tika Panggabean, Asri Welas dan Happy Salma. Tapi ceritanya agak kurang bagus. Padahal punya potensi loh film ini.

Menyesal menontonnya? Nggak juga sih, okelah buat hiburan, tapi saya agak khawatir tentang banyak hal setelah menonton film ini.

Baca sampai habis biar tahu hal-hal apa yang menurut saya bisa jadi pesan yang salah dari film ini.

Trailer

Tulisan ini akan mengandung spoiler. Sebelum lanjut membaca, bisa tonton trailernya dulu dan putuskan untuk menonton atau tidak.

Kalau anti spoiler, bisa nonton dulu di Netflix, tapi jangan lupa kembali setelah menonton dan kita samakan catatan ya, gak sama juga gak apa-apa, hehehe.

Trailer Ali & Ratu-ratu Queens dari Youtube Netflix

Kalau gak anti spoiler, terusin deh baca tulisan saya.

Tentang film Ali dan Ratu-Ratu Queens

Inti ceritanya adalah seorang anak yang ditinggal ibunya sejak usia 5 tahun. Setelah ayahnya meninggal, dia tinggal dengan saudara dari ayahnya. Karena menemukan tiket yang pernah dikirimkan ibunya, dia bertekat untuk menyusul ibunya ke New York.

Keluarga tentu saja menentang. Tapi Ali sudah nekat dan tidak mau mendengarkan nasihat dari siapapun. Tekatnya bulat untuk menemukan ibunya di New York.

Para Pemain Ali dan Ratu Ratu Queens (Instagram.com/luckykuswandi/)

Saya akan bahas ceritanya lebih lanjut sambil mengenalkan tokoh dalam cerita ini.

Ali, Usia 17 Tahun

Ali (Iqbal Ramadhan, bukan Dilan) adalah anak usia 17 tahun yang baru saja kehilangan ayahnya. Dia sudah ditinggal ibunya sejak usia 5 tahun. Jadi bisa dibilang, ibunya bisa jadi sudah tidak mengenalinya karena sepertinya sudah cukup lama tidak ada komunikasi (ceritanya 12 tahun silam, belum semua orang bisa terhubung video call dengan mudah seperti sekarang).

Setelah lulus SMA , Ali tidak mau kuliah dan memilih menjadi YouTuber dengan sepupunya. Dalam ceritanya Ali suka menggambar sejak kecil dan cukup berbakat. 

Sekitar beberapa bulan setelah ayahnya meninggal karena stroke, Ali mengontrakkan rumahnya dan memutuskan pergi mencari ibunya ke New York setelah menemukan tiket yang belum pernah dipakai.

Keluarga dari ayahnya jelas-jelas menentang keputusan Ali. Tapi Ali tidak mendengarkan larangan yang ada, karena merasa yakin bisa menemukan ibunya berbekal alamat surat menyurat yang pernah diterima.

Saya tuh langsung bertanya-tanya, emangnya tiketnya masih berlaku sampai kapan? Segampang itu ya menyewakan rumah dan percaya kalau penyewanya akan menjaga rumah dengan baik? Emangnya rumahnya nilai sewanya berapa?

Belum lagi pertanyaan: Emangnya New York itu cuma sebesar kelurahan sebelah yang bisa dengan gampang cari alamat? Emangnya duitnya sebanyak apa sih nih anak nekat ke Amerika, emangnya gampang dapat Visa ke Amerika? Ini Amerika loh, bukan cuma ke Malaysia atau sesama Asia yang kita bisa masuk tanpa visa.

Mungkin, kalau ceritanya ibunya dari kampung ke Jakarta masih lebih bisa saya terima. Tapi, film ini kan pengen cerita tentang New York ya, bukan tentang Jakarta. Jadilah semuanya digampangkan dalam film ini.

Singkat cerita, sesampainya Ali di New York, dia langsung ke alamat ibunya dari amplop surat dengan alamat Apartemen di Queens. Tapi, tentu saja ibunya sudah tidak di situ lagi.

Mia, Ibu Ali

Mia (Marissa Anita) punya cita – cita jadi penyanyi, makanya dia pergi ke Amerika. Tapi cita-citanya itu kandas dan walaupun ijin tinggal sudah habis, dia tetap saja ga mau pulang ke Indonesia.

Mia bersusah payah kerja serabutan sampai akhirnya bertemu bule, menikah dan punya 2 anak lagi. Mia hidup bahagia, tinggal di Broklyn yang konon daerah elite New York dan punya teman-teman baru para bule yang hobinya minum alkohol siang-siang.

Eits.. maaf, bukan nyinyir, tapi memang ada digambarkan Mia sedang berkumpul dengan teman-temannya sambil menyajikan alkohol sebagai salah satu minumannya. Kalau lagi galau juga ditunjukkan dia minum alkohol. Kalau di Indonesia paling banter kita suguhan teh pahit ya, sampai Broklyn suguhannya beda euy.

Setelah dengan susah payah Ali mencari Mia dengan bantuan dari para tante yang tinggal di apartemen ibunya yang lama, Mia malah langsung menutup pintu rumahnya dan menyuruh Ali pergi. Tanpa penjelasan apa-apa.

What?? So not fair!!!!

Sebagai penonton saya jadi emosi dan pengen berhenti menontonnya. Tapi, akhirnya tetap diterusin sih karena pengen tahu apakah film ini akan memberikan penjelasan kenapa Mia tega banget sama anaknya.

Penonton sebal karena ibu yang meninggalkan anaknya itu hidup bahagia makmur sentosa. Dan semakin sebal karena ibunya ini tetep ga mau Ali ada di New York dan berusaha Ali biar pulang aja. Alasannya tentu saja si Mia ini tak mau kalau suami barunya mengetahui tentang masa lalunya.

Whaaaat.

Ali tidak menyerah dan tetap berusaha sambil meyakinkan ibunya kalau dia memaafkan ibunya. Dalam hati saya berkata, “Kok ini anak 17 tahun lebih bijaksana daripada seorang Ibu yang sudah pernah mengalami kegagalan di New York?”

Satu hal yang sebenarnya ganjalan besar buat saya adalah: emangnya Mia keren banget ya suaranya makanya yakin pengen jadi penyanyi di New York? Kalau di Indonesia aja tidak laku, kok ya malah sok-sok an pengen ke New York?

Artis Indonesia yang udah punya nama aja belum tentu bisa sukses dengan mudah jadi penyanyi di New York. Ah benar-benar Mia ini mimpinya kayak orang mimpi ga pengen bangun #kesel.

Ratu-ratu Queens 

Ratu-ratu Queens (Netflix)

Ratu-ratu Queens adalah orang Indonesia para penghuni apartemen di Queens, di mana Mia pernah tinggal. Mia pernah sekamar dengan Parti (Nirina Zubir). Tapi saat Ali datang, anggota di apartemen itu sudah pada berbeda dan tinggal Parti yang masih mengingat Mia.

Singkat cerita, 4 tante yang hidupnya biasa saja di New York ini cukup baik hati dan yang membantu Ali untuk mencari Mia.

Mereka masing-masing punya cerita kenapa sampai di New York dan punya mimpi yang membuat mereka masih tetap membuat mereka bertahan di sana walau hanya bekerja rendahan. Cita-citanya sih dari kerjaan serabutan, mereka menabung untuk membuka restoran Indonesia.

Mereka yang menyemangati Ali ketika ibunya menolaknya. Mereka juga sebenarnya ikut kesal dengan kelakuan Mia yang jadi terkesan sombong setelah menikah dengan Bule dan tinggal di Broklyn. Tapi, demi Ali mereka tetap menerima Mia untuk merayakan Thanksgiving bersama-sama di apartemen mereka.

Emosi jiwa saat Thanksgiving

Setelah beberapa kali secara sembunyi-sembunyi dari keluarganya saat menemui Ali dan setelah ikut hadir merayakan Thanksgiving di apartemen di Queens, Mia memutuskan kalau Ali harus pulang.

Mia minta tolong pada Parti untuk meyakinkan Ali, dan Mia juga menitipkan uang untuk Ali, dan tentunya untuk para tante yang sudah menerima Ali di apartemen mereka.

Ini tuh terus terang bikin saya pengen ngomel ke si Ibu Mia, ngapain dia datang ke Thanksgiving kalau akhirnya ga pengen mengakui Ali sebagai anak?

Ya emang ga mudah pastinya, dia kan udah punya keluarga baru lagi, dan dia ga pernah cerita tentang masa lalunya ke suaminya.

Tapi kalau gitu jangan kasih harapan dong. Jadi sepanjang film saya misuh-misuh dengan pertanyaan tentang ibu Ali ini.

Endingnya gimana? Happy kah? Ah tonton aja kalau nggak kesal seperti saya, hehehe.

Nonton atau tidak?

Untungnya walau ga ketemu Ibu nya, Ali ketemu 4 tante baik hati (Netflix)

Kalau mau lihat New York dan siap menerima berbagai hal yang terlalu dimudahkan, ya nonton saja. Saya sangat menyayangkan film yang tentunya punya budget besar ini seperti tidak punya cerita yang cukup kuat. Sampai akhir, saya tidak bisa paham alasan Mia mengejar cita-cita ke New York.

Mulai dari terlalu menggampangkan persoalan visa, dan seperti menjual mimpi walau berani tinggal tanpa ijin tinggal, itu semua harusnya ada peringatannya.

Jangan sampai deh, banyak orang yang meniru pergi meninggalkan keluarga demi cita-cita yang tidak masuk akal seperti Mia. Atau, jangan sampai deh banyak anak yang tidak mau sekolah karena berpikir bisa dengan mudah dapat sekolah di Amerika kalau nekat pergi ke sana. Jangan sampai deh banyak yang pergi keluar negeri dan tinggal tanpa ijin karena merasa di sanalah mimpinya.

Mimpi sih boleh saja, tapi namanya aturan hukum jangan dilanggar. Nggak ada yang melarang kita bermimpi, apalagi kalau kita tetap berusaha untuk mewujudkannya. Yang tidak boleh itu adalah membuat kesan kalau hukum itu bisa dilanggar seenaknya atas nama cita-cita!

Film ini tuh kayak ngasih ajaran yang nggak baik. Jangan sampai banyak ibu yang meninggalkan keluarga demi cita-cita yang tidak realistis. Dan jangan sampai banyak orang Indonesia yang menggampangkan tinggal di luar negeri tanpa ijin legal.

Mungkin akan ada yang bilang masih banyak kok pesan positif dari film ini. Ya, tapi buat saya, pesan positifnya ketimpa oleh pesan tak baiknya, hehehe. Kalau ada yang tidak setuju dengan pendapat saya, nggak apa-apa kok.

risna

A blogger who likes to watch Korean dramas and learn about digital desain with Canva and video editing using Kinemaster.

8 thoughts on “Ali & Ratu Ratu Queens, New York dan Mimpi

    • July 29, 2021 at 9:29 am
      Permalink

      Boleh kok nonton, lumayan menghibur kalau bisa tutup mata tentang visa dan ga perlu memikirkan alasan Mia ngotot di Amerika

      Reply
  • July 29, 2021 at 8:47 am
    Permalink

    Kayaknya si Ali berangkat ke New York bukan pake tiket yg lama itu deh, tp beli sendiri pake uang hasil ngontrakin rumah, walau ga jelas jg sewa rumahnya brp. Scene tiket lama cuma buat nunjukin bahwa mamanya dulu pernah ngirimin tiket biiar ayahnya dan Ali nyusul.

    Tapi saya pun kesel nonton film ini, jd kesannya ga kyk orang2 yg bilang film ini keren blablabla haha.. Udah terlanjur kesel sejak awal pas suaminya bilang pengen istrinya pulang, tp dia ga mau pulang. Di saat orang2 kesel kenapa suaminya ga mau nyusul, saya justru kesel knp dianya yg ga mau pulang dulu..

    Reply
    • July 29, 2021 at 9:32 am
      Permalink

      Kalau Ali beli tiket baru, tambah bertanya-tanya dia dapat duit dari mana ya. Ada kan temennya transfer 2000 USD ke dia, tapi segitu itu kayaknya aja banyak, di Amerika sebentar habis itu.

      Naaah iya, kenapa Mia ga mau pulang? Aku rasa suaminya realistis loh ga mau nyusul ke Amerika, ngapain coba ngabisin duit buat jadi orang susah di negeri orang? Walaupun ga tau juga suaminya ini kerjanya apa di Indonesia.

      Reply
  • July 29, 2021 at 11:50 am
    Permalink

    Kak Risnaaaa aku abis nnton ini semacam menyesal..ending ga asik bgt sumpeh dh.. Ali tuh kyk kurang ajar ga siy sm keluarganya di jkt? Udh dirawat, dibesarin, udh besar malah kabur ke amrik.. Aku bakal lebih happy klo endingnya si Ali kena batu dan balik ke jkt trs minta maaf sm keluarganya…hyahaha..
    Maafkan emosi ini..mungkin krn nntonnya pas lg ppkm, jd gampang tersulut..?

    Reply
    • July 29, 2021 at 12:36 pm
      Permalink

      Hayo bikin alternatif ending nya Ali, wkwkwk… Ada banyak ending lain sebenarnya, tapi nanti jadi 16 eps kayak drakor, hahaha

      Reply
  • Pingback: Tontonan untuk Hiburan dan Tetap Produktif - Risna Info

  • Pingback: Lokakarya Literasi Film (Voila 2021) Sesi I - Risna Info

Leave a Reply

%d bloggers like this: