“Gak ada foto, hoaks!”
Beberapa tahun lalu, kalimat itu sering diungkapkan untuk meminta bukti kebenaran dari sebuah informasi yang kita terima. Tetapi, sekarang ini, kalimat itu menjadi tidak berlaku lagi dengan kemudahan menciptakan gambar dan video dengan bantuan kecerdasan buatan. Kita tidak bisa lagi dengan mudah memercayai apa yang kita baca dan lihat di media internet. Perlu lebih memakai logika untuk membedakan kebenaran dari informasi. Bukan cuma foto, bahkan video saja sudah bisa direkayasa dengan mudah dengan adanya AI yang diterjemahkan juga sebagai akal imitasi alias kecerdasan buatan.
“Logikanya di mana sih, apa iya kejadian itu bisa terjadi? Sungguh tidak masuk akal!”
Ini kalimat lain yang sering juga diungkapkan ketika keheranan dengan hal yang terasa tidak masuk akal terjadi. Kok bisa? Emang dia ga mikir dulu? Begitu yang kita pertanyakan ketika membaca berita tentang si A atau B yang kelakuannya sungguh terasa di luar nalar. Mau itu kasus rumah tangga orang yang bukan urusan kita, atau urusan barang ketinggalan yang mengalahkan berita bencana alam. Media sosial memang sumber berita yang benar terjadi tetapi terasa di luar logika.
Daripada pusing dan bertanya-tanya tentang kok bisa begitu dan kenapa logika ga dipakai, saya menerima kalau logika setiap orang itu tidak sama. Kalau ada yang bilang sesuatu tidak masuk logika, saya akan bertanya lagi, “Logika siapa?” Karena sesungguhnya walau kebenaran itu katanya mutlak, tetapi kemampuan setiap orang memroses sebuah berita itu berbeda-beda. Seperti ilusi optik tentang lukisan yang sama, bisa dilihat berbeda tergantung dari persepsi dari masing-masing orang, demikian pula logika setiap orang tidak mutlak seperti ilmu matematika.
Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan ini mengajak menuliskan hal-hal di luar logika. Karena saya tahunya ya logika saya, maka baiklah saya akan menuliskan hal-hal yang di luar logika saya.
Isi tulisan ini
Berbagai utas di media sosial
Mencari hal yang tidak masuk logika bisa dengan mudah saya temukan di media sosial terutama Threads. Sepertinya algoritma media sosial saya sering sekali membawa saya ke tulisan-tulisan yang viral dan sebenarnya tidak masuk di akal saya. Biasanya saya tidak akan terlalu memikirkan tulisan tersebut, tetapi demi topik kali ini, saya akan mengutip beberapa contoh di tulisan ini. Untuk menjaga privasi, saya tidak akan menyertakan tangkapan layar dari utas yang saya ceritakan. Terserah yang baca mau percaya atau tidak, tapi contoh kasus yang saya sebutkan ini saya baca di awal bulan November 2025 ini.
Istri yang selalu menunggu transferan ketika belanja
Salah satu hal random yang menurut saya tidak masuk logika adalah tentang seorang yang harus menunggu di belakang antrian kasir ketika belanja, karena seorang wanita di depannya menunggu transferan dari suaminya untuk bisa membayar belanjaannya.
Awalnya saya pikir, nekat juga nih ibu-ibu pergi belanja tanpa uang di tangan. Tetapi setelah membaca komentar-komentarnya, saya mendapati kalau bukan hanya ibu itu saja yang mengalami begitu, ada beberapa respon yang menceritakan mereka tahu ada teman yang sangat diatur oleh pasangannya soal keuangan dan memang harus menunggu transferan setiap kali belanja.
Saya tidak akan membahas panjang lebar siapa yang benar dan salah si istri atau si suami, tapi saya jadi tahu ternyata walau itu di luar logika (saya) untuk berbelanja tanpa memegang uang tunai langsung, memang nyata adanya orang yang seperti itu.
Jual ginjal/diri demi Iphone/barang mewah
Saya baru tau, ada yang segitunya pingin pakai iPhone couple dan rela menjual ginjalnya demi bisa mendapatkan ini. Buat mereka, tindakan ini tentu masuk logika, daripada nunggu lama, mereka milih jalan cepat. Tapi buat saya tidak masuk logika, karena iPhone itu umurnya paling lama 10 tahun akan ketinggalan jaman, sedangkan ginjal itu dipakai seumur hidup.
Karena iseng, saya cari tuh berita tentang jual ginjal, ternyata kejadian ini bukan hanya sekali saja, sudah sejak iPhone 4 ada kejadian orang jual ginjal untuk beli iPhone. Ada juga orang-orang yang jual ginjal untuk biaya hidup. Seperti berita sebelumnya, saya tidak bisa berkomentar banyak. Saya berharap orang-orang bisa lebih bijak memikirkan apa yang lebih penting dalam hidup ini.
Kelakuan netizen
Namanya media sosial yang bekerja berdasarkan algoritma, secara acak kita bisa tak sengaja sampai pada sebuah utas yang ramai dibicarakan. Ada yang lucu melihat keributan yang ada di media sosial tentang utas viral ini, semua pihak merasa benar. Biasanya orang yang bikin pernyataan pertama dituduh mencari nama saja, lalu akan ada yang ikut menghujat atau membela. Banyak ahli yang ikut berkomentar. Setidaknya dalam bulan ini ada 2 utas viral yang tak sengaja saya temui di threads.
Utas viral pertama tentang pernyataan seorang lulusan ITB yang mengingatkan perempuan jaman sekarang jangan menggantungkan diri 100 persen dari suami saja. Kebetulan dia mencontohkan bagaimana ibunya berhasil menyekolahkannya dengan bekerja keras di saat ayahnya tidak punya pekerjaan. Buat penulis itu adalah fakta, buat pembaca yang terbaca adalah si lelaki ini membenarkan kalau lelaki tak bekerja dan malah berharap perempuan yang menghidupinya.
Ada lagi utas tentang kejadian pengalaman seorang dokter yang menemukan kejadian ‘rahim copot’ di tahun 2000. Lalu bermunculan dokter-dokter lain mengungkapkan kalau kemungkinan itu tidak mungkin terjadi dan mungkin ini untuk istilah yang salah. Bukan hanya netizen yang ramai, orang-orang yang ternyata kenal dengan salah satu yang ada di foto di tahun 2000 ikut jadi merasa penting di sana. Sedangkan dokter yang menceritakan tentang kejadian itu gak ambil pusing dengan keributan yang ada.
Dari berbagai hal viral yang ada di media sosial, yang buat saya tidak masuk logika adalah orang-orang kebanyakan waktu berkomentar di sosial media, tanpa kenal langsung dengan si pembuat utas tersebut. Kalau kasus ketinggalan barang di kereta api sepertinya tidak perlu saya bahas ya.
Biasanya saya akan abaikan saja berita-berita viral. Sesekali melihat sekilas dan cukup tahu saja, dan saya tidak merasa perlu berkomentar. Sekali lagi, yang saya ceritakan di tulisan ini hanya contoh kecil dari kelakuan netizen yang buat saya sungguh tidak masuk logika. Apalagi dalam setiap utas viral yang beredar, biasanya akan dilengkapi dengan bumbu media yang saya tidak tahu beneran atau hasil akal imitasi untuk ilustrasi.
Berbagi rahasia rumah tangga, beneran atau demi engagement?
Satu hal yang juga banyak muncul di media sosial adalah cerita rumah tangga. Sepertinya banyak sekali orang yang dengan mudah menceritakan rahasia rumah tangganya. Memang sih mereka pasti menggunakan nama akun yang bukan nama aslinya. Mungkin mereka memang perlu melepaskan unek-unek dan ingin didengar, tapi rasanya ada juga yang ceritanya terasa berlebihan seperti sengaja memancing komentar saja.
Biasanya utas seperti ini bisa jadi inspirasi buat penulis fiksi sih. Mungkin saja yang dituliskan itu benar, karena di jaman sekarang ini, rasanya apa saja bisa terjadi dan tidak ada yang tidak mungkin. Manusia ini memang ajaib kelakuannya.
Manusia dan Akal Imitasi(AI)
Hal lain yang juga banyak diluar logika saya adalah bagaimana dampak dari kecerdasan buatan terhadap hidup manusia saat ini. Mulai dari kecurangan ujian, membuat foto dan berita palsu, sampai dengan tidak bisa memisahkan dunia virtual dan dunia nyata.
Menikah dengan AI hasil ChatGPT
Seorang wanita di Jepang yang berusia 32 tahun memutuskan menikah dengan karakter ciptaannya di ChatGPT. Berita lengkapnya bisa dibaca di berbagai media, salah satunya di sini. Mungkin saja dia sudah kehilangan kepercayaan terhadap manusia, tapi mengingat pernikahannya tidak diakui negara, bisa saja kalau ketemu orang yang tepat dia akan berubah pikiran dengan pilihannya. Tapi, buat saya ini sih tidak masuk logika, karena apa artinya punya pasangan kalau ga bisa bantuin ngurus cucian? #eh
Sebelum pernikahan dengan karakter AI ini, sudah ada juga sih orang yang memilih menikahi objek bukan manusia yang buat mereka tentunya dipercayai lebih baik dari manusia.
Itu Beneran?
Belakangan ini setiap melihat berita atau video yang meragukan, saya selalu mempertanyakan apakah itu beneran. Anehnya, berita tersebut bukan hanya sekali, tetapi biasanya diulangi oleh media sosial lain yang mencari berita viral. Dengan semakin banyaknya fitur canggih untuk deepfake, semakin banyak juga berita palsu di internet terutama di media sosial. Bahkan berita bencana beneran seperti banjir di Sumatera Utara, ada saja yang menambahkan foto seolah-olah ada harimau lepas dari hutan di lokasi perumahan penduduk.
Kemarin ketika banjir di Thailand Selatan, saya melihat berita yang menunjukkan beberapa orang berusaha menyelamatkan diri dengan berjalan di kabel listrik. Awalnya saya pikir kalau itu hasil rekayasa akal imitasi, tetapi setelah melihat sumber beritanya adalah ThaiPBS, saya jadi percaya kalau itu benar adanya.
Logika itu relatif terhadap pemiliknya
Logika setiap orang tidak sama. Apa yang menurut saya bisa diterima logika, belum tentu diterima logika orang lain. Untuk orang yang sengaja berbohong demi engagement ataupun mencari perhatian, saya tidak mau ambil pusing. Ini salah satu kenapa saya menghindari ikut komentar kalau ada yang ramai di media sosial.
Logika menjadi relatif karena tiap orang punya nilai kebenaran yang berbeda. Walaupun banyak yang beranggapan kebenaran itu mutlak, tetapi apa yang dianggap satu pihak benar belum tentu dianggap orang lain benar. Nah ini nanti jadi pembahasan kemana-mana.
Intinya, buat saya logika itu relatif terhadap nilai kebenaran yang saya punya. Nilai kebenaran itu tergantung dengan pengetahuan dan prinsip yang saya miliki. Jadi, apa yang saya anggap di luar logika, bukan berarti tidak mungkin terjadi, tetapi saya hanya heran kenapa itu bisa terjadi.
Tulisan ini sepertinya harus dicukupkan sampai di sini, sebelum yang membaca menjadi yakin kalau tulisan ini tidak masuk logika, hehehe…



Leave a Reply