Review Film “Love and Monsters” (2020)

review film love and monsters

Film tahun 2020 berjudul Love and Monsters produksi Paramount Pictures dan dibintangi oleh Dylan O’Brien ini saya tonton di Netflix. Film ini cukup menarik untuk ditonton saat bersantai di akhir pekan. Seperti halnya film-film lain di Netflix, saya tertarik menontonnya dari melihat trailernya saja. Salah satu film yang membuat saya menonton dari menonton trailernya saja misalnya Meenakshi Sundareshwar.

Trailer Love and Monsters (Paramount Pictures)

Sinopsis “Love and Monsters”

Film Love and Monsters ini bertema fantasi dan survival melawan serangga mutan. Akibat penggunaan berbagai bahan kimia, serangga bermutasi dan menjadi berbagai jenis monster yang menyerang manusia. Manusia membangun bunker dan mereka tinggal membentuk koloni-koloni untuk bertahan dari serangan monster. Sesekali mereka akan ke permukaan untuk mencari bahan makanan.

Tokoh utama dalam film ini adalah seorang pemuda bernama Joel (diperankan oleh Dylan O’Brien) yang pada saat awal kejadian mutasi monster itu berumur 16 tahun. Karena kekacauan yang terjadi, selama bertahun-tahun dia terpisah dari cinta pertamanya. Setelah berusaha menghubungi berbagai frekuensi koloni lainnya, dia menemukan Aimee, cinta pertamanya dan lokasi koloni Aimee berada.

Film ini mengambil setting 7 tahun setelah manusia bersembunyi di bunker bawah tanah dengan sedikit kilas balik untuk menceritakan bagaimana hubungan Joel dan Aimee sebelum serangan monsters yang memisahkan mereka.

Joel ini bukan tokoh jagoan pada umumnya dalam sebuah film. Dia adalah seorang yang selalu disuruh tetap di belakang. Dia memang selalu terpaku ketika berhadapan dengan monster, alih-alih dari melawan. Di koloninya, Joel bertugas untuk memasak makanan untuk yang lain, sementara teman-teman koloninya berusaha sesekali ke permukaan untuk mencari sumber makanan baru.

Kekuatan cinta mengalahkan ketakutan?

Singkat cerita, setelah berkomunikasi melalui radio dengan Aimee, Joel nekat ingin menemui Aimee. Lokasi Aimee ini membutuhkan 7 hari perjalanan dari lokasi Joel berada dengan berjalan kaki. Kenderaan tidak ada, karena bahan bakar dan jalanan sudah pada rusak diakibatkan monster.

Jadi bayangkan saja, seorang pemuda yang tidak bisa berantam, menembak, dan selalu membeku ketika ada monster datang, nekat mau jalan kaki 7 hari di permukaan demi menemui cinta pertamanya. Klise? Bodoh? Berlebihan?

Berbagai Monster di film “Love and Monsters”

Tenang saja, penulis cerita berkali-kali mewakili kita semua untuk mengingatkan Joel kalau yang dia lakukan itu konyol. Jangan mengharapkan wanita yang sudah terpisah 7 tahun akan berlari menghambur padanya kalaupun Joel sampai dengan selamat di koloninya. Apalagi konon, tidak ada orang yang mampu bertahan hidup lebih dari 5 hari di permukaan.

Kalau ini drama Korea, mungkin ceritanya akan mudah disimpulkan. Tapi ini kan film Hollywood. Katanya hidup tidak seindah drama Korea, termasuk film Hollywood pastinya beda jalan ceritanya. Saya suka dengan ending cerita ini, karena semua masalah diselesaikan dan pesannya membuat saya berpikir tentang pandemi ini.

Terlepas dari bagaimana ending cerita ini, film ini cukup menarik untuk ditonton. Untuk saya yang biasanya tidak suka dengan tema survival (kalau melibatkan saling membunuh manusia), dan tidak suka dengan monster yang bentuknya menyeramkan, di film ini monsternya bentuknya mirip dengan serangga dalam bentuk raksasa.

Bagian yang bisa dibuang

Ada sih bagian yang kurang bagusnya dari film ini, mengingat film ini rating 13+, ada sedikit scene di awal yang walaupun tak digambarkan tapi seperti memberi ide kurang bagus buat para remaja. Tapi ini hanya beberapa menit pertama dan bisa diskip kalau tak suka melihatnya.

Bagian awal ini hanya ingin menggambarkan kalau Joel kesepian karena semua orang di bunkernya punya pasangan, sedangkan dia belum move on dan masih menyimpan Aimee di hati.

Hal yang menarik dari Love and Monsters

Ada banyak bagian menarik dari film ini antara lain:

  • Trailernya berupa gambar animasi dan dinarasikan oleh Joel. Animasi ini menjelaskan asal mula kenapa mereka harus tinggal di bunker.
  • Joel bukan jagoan, tapi dia punya insting dan mau belajar. Di sini digambarkan dia bertemu dengan 2 orang yang sudah lebih tau tentang kehidupan di permukaan. Dengan mengikuti saran-saran dari 2 orang tersebut, dia akhirnya jadi lumayan jago walau ya nggak jago banget.
  • Di perjalanan, Joel bertemu dengan seekor anjing yang tidak punya pemilik. Anjingnya aktingnya pinter banget! Dia bisa terlihat ketakutan dan cukup ekspresif. Saya malah jadi terpikir, jangan-jangan ini beneran anjing peliharaan dari si pemeran tokoh utama. Atau… jangan-jangan anjingnya ini rekayasa komputer?
  • Joel juga bertemu dengan sebuah robot yang memiliki kecerdasan buatan. Robot ini berbentuk humanoid tapi tidak bisa berjalan lagi karena bagian tubuhnya sudah hilang, tetapi masih bisa bicara. Joel mendapat kesempatan ngobrol dan melihat foto-foto orangtuanya yang bisa diakses oleh robot tersebut dari sosial media. Robot ini juga memberikan sisa energi dari batere nya untuk dipakai Joel mengaktifkan radio komunikasinya mengontak koloni Aimee. Pertemuan sesaat tapi bermakna.
  • Dalam ceritanya, monster yang berupa serangga yang bermutasi itu digambarkan tidak semua menyeramkan. Ada juga monster yang cukup berguna, katanya sih liat dari matanya saja, terkadang kita bisa dibantu malah sama monster-monster itu.
  • Joel memang tidak jago bertarung, tapi dia jago menggambar, mewarnai dan mengkatalogkan setiap monster yang pernah dia temui. Dia menuliskan juga karakteristik dari monster tersebut lengkap dengan kelemahan yang diketahui. Ilmu bertahan hidup dikombinasikan mengenali apa yang menjadi kelemahan monster itulah yang menjadi bekal untuk di dunia baru.
Joel, bersama dengan 2 pengembara yang mengajarkan berbagai tips, dan anjing yang mengikutinya (love and monsters)

Pesan dari Film Love and Monsters

Ada 2 pesan penting yang saya ambil dari film ini. Bukan, pesannya bukan tentang kisah cintanya, tapi tentang bagaimana menghadapi monsters yang ada di luar sana.

Buat catatan/katalog

Setelah 7 tahun, mereka baru akhirnya berani untuk keluar rumah menghadapi monster dan mencari tempat yang mana monsternya tidak suka untuk datang. Ide awalnya tentunya dari Joel yang mengkatalogkan berbagai monster dan mutan yang ditemui, dengan mencatatat kelemahan dari tiap monster dan bagaimana mengalahkannya.

Berbagai tumbuhan juga dikatalogkan, untuk membantu menghilangkan efek racun dari serangga tertentu. Jadi memang dengan mengumpulkan data, membuat catatan, mengambil kesimpulan, bisa digunakan untuk mengalahkan hal-hal yang tadinya tidak kita ketahui.

Joel yang tidak jago berantam saja bisa bertahan hidup dengan mengandalkan catatan dan tips bertahan hidup dari sesama pengembara lainnya. Kalau semua orang mengumpulkan dan bertukar catatan, pastilah bisa lebih mudah mengalahkan monsternya.

Don’t Settle

Pesan terakhir dari film ini adalah, walaupun ada bahaya di luar sana, kita jangan terus menerus mengurung diri di tempat yang kita pikir nyaman dan aman (di rumah saja?). Walaupun film ini dibuat sebelum pandemi, tapi sepertinya film ini sangat bisa dihubungkan dengan kita yang sudah 2 tahun di rumah saja karena pandemi.

Yang perlu kita lakukan adalah, mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap sehat. Bersama-sama, kita menghadapi pandemi dan melanjutkan hidup.

Seperti halnya pandemi ini, virusnya bermutasi, kita tetap perlu waspada dan mengkatalogkan berdasarkan apa yang sudah dihadapi. Tapi manusia akan bisa bertahan di permukaan, asal tahu cara menghadapi lawannya. Kita perlu bertukar catatan dan bersama-sama menghadapi mutasi virus.

5 thoughts on “Review Film “Love and Monsters” (2020)

  1. Not my kind of genre, tapi pesan yang diambil menarik banget, Teh. Mengamati, mencatat, dan membuat katalog, saintifik banget. Kalo ada sekuelnya, mungkin Joel akan jadi peneliti ahli monster. Hehehe..

  2. Aku dah lama banget ga nonton Hollywood movie gara-gara Drakor nih :).
    Menarik juga nanti kuliat ah Risna, makasih reviewnya

  3. Keren nih bisa nulis pesan yang didapat dari film *jempol. Kalu aku mah nonton gak kepikiran pesannya, kecuali yang obvious ada moral of the story nya kayak Unyil hihi.

    Ini film netflix ya kak, bukan film bioskop?

  4. Menarik kayanya. Karena teh Risna biasanya kritis banget nilai sebuah film, jadi kalau dianggap bagus mungkin harus dicoba nonton. Walau biasanya aku malas nonton tipe film begini

  5. setiap orang punya kelebihan masing-masing yang bisa digunakan untuk bertahan hidup ya kak, tinggal kerja sama dengan orang yang ahli di bidang lain supaya bisa bersama bertahan. ini tipenya mirip kayak The Walking Dead deh, aku suka pesannya. thanks for sharing

Leave a Reply