#maksakeunmaca: Hidup itu Indah, Kalau Kita Tahu Cara Menikmatinya!

Hidup itu Indah, Ayub Yahya

Tadinya berniat membaca buku karya Arswendo Atmowiloto, tapi waktu melihat buku berjudul Hidup itu Indah, Kalau Kita Tahu Cara Menikmatinya! karya Ayub Yahya ini di Gramedia Digital, saya jadi tertarik untuk melihat sekilas.

Memang benar ya, judul buku itu penting menarik orang untuk tertarik membuka dan membacanya. Saya belum pernah dengar tentang buku ini sebelumnya, tapi dari 20 halaman yang sudah saya baca dari total 146 halaman, saya menyukai cerita-cerita parodi kehidupan yang dituliskan di dalamnya dan memutuskan untuk membacanya sampai habis.

Buku ini bukan buku baru, diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama di bulan Juni 2011. Kalau menurut prakata yang dituliskan di depannya, cerita di dalamnya sebagian besar parodi kehidupan, tapi ada juga yang bukan parodi melainkan nyata terjadi di sekitar kita dan tidak akan lekang oleh jaman. Benar saja, saya merasa ceritanya masih relevan dengan kehidupan jaman now. Setidaknya dari yang sudah saya baca ya.

Dari 20 kisah di dalamnya, saya sudah menyelesaikan 4 kisah dalam waktu singkat. Saya harus berhenti karena saya perlu menuliskannya dulu buat setoran KLIP, hehehee.

Kesan dari 4 Cerita Pertama

Cerita pertama berjudul Kukuay. saya tidak mengerti arti kata ini, tapi kalau dari ceritanya kukuay ini sebutan untuk orang sulit yang suka reseh dan bikin resah. Tapi di cerita pertama ini, kita diminta mengerti kenapa mereka menjadi orang yang menyebalkan. Bisa jadi mereka punya masalah yang tidak kita ketahui. Kita diminta bersimpati terhadap orang-orang yang seringkali bikin kita sebel.

Cerita kedua berjudul Gosip. Dari judulnya saja sudah jelas ya kalau ini mengingatkan kita tentang orang-orang yang tidak bisa menahan diri menyebarkan cerita yang awalnya mungkin fakta, tapi kemudian menjadi gosip.

Gosip ini bisa jadi bukan disebarkan secara sengaja, tapi terkadang ketika ada yang melihat suatu kejadian, tidak mengkonfirmasi ke yang bersangkutan, malah mempertanyakan apa yang dia lihat ke orang lain yang tidak melihatnya. Ujung-ujungnya ya runyam, karena masing-masing akhirnya punya imajinasi yang bisa jadi liar dan seperti kata infotainment, gosip itu makin digosok makin sip.

Cerita ketiga berjudul Mulut Ember. Tadinya saya pikir ember apaan, ternyata maksudnya ya mirip-mirip dengan gosip juga. Bedanya, di cerita mulut ember ini, yang menjadi sumber gosipnya adalah orang yang tadinya kita percayakan cerita kita tapi kemudian ternyata menyebarkannya ke orang lain.

Ember tadinya berguna untuk menampung air, tapi kalau bocor keliling ya tidak ada gunanya karena merembes kemana-mana. Cerita ini mengingatkan kita jangan jadi ember bocor kalau ada yang mempercayakan sesuatu kepada kita, tapi juga mengingatkan kalau ada rahasia, paling aman cerita ya ke Tuhan saja deh.

Cerita keempat judulnya Bluffer. Cerita ini tentang orang yang selalu mengaku-aku punya koneksi dengan orang-orang yang terkenal, ataupun berkuasa. Padahal, bisa jadi koneksinya itu jauh banget! Kalau dari cerita ini sih, mengingatkan kita untuk ga usah sok kenal sok dekat kalaupun kenal dengan orang terkenal. Selain itu juga, kalau kita adalah orang yang suka bluffing, saatnya intropeksi diri, kenapa penting banget mengaku-aku kenal dengan orang-orang terkenal itu.

Hal yang menarik dari buku ini

Cerita-cerita dalam buku ini konon tadinya dituliskan terpisah-pisah dan dipublikasikan secara online. Jadi saya bisa membaca beberapa cerita, lalu berhenti untuk mengingat-ingat lagi, apakah saya menjadi salah satu tokoh yang diparodikan dalam cerita itu.

Gaya bahasa berceritanya juga sangat ringan, istilah-istilah yang digunakan juga sepertinya istilah yang sering saya gunakan juga kalau bercerita. Kadang-kadang memang agak berlebihan dan agak muter-muter, tapi saya tetap bisa mengerti apa yang ingin diceritakan.

Walaupun dari 4 cerita yang ada, tidak disebutkan bagaimana cara menikmati hidup ketika bertemu orang-orang sulit seperti yang diceritakan, tapi saya tetap bisa menikmati ceritanya dan malah jadi bercermin sendiri apakah jangan-jangan saya sedang menjadi orang sulit tersebut.

Sepertinya, karena buku ini tipis dan ceritanya menarik, saya bisa menyelesaikan membaca buku ini dengan cepat. Nantikan saja tulisan selanjutnya ya!

One thought on “#maksakeunmaca: Hidup itu Indah, Kalau Kita Tahu Cara Menikmatinya!

Leave a Reply