Mengubah What If menjadi Produktif

what if

Semua orang pasti pernah berandai-andai. Siapa yang tidak pernah? Kemarin, ketika sedang memikirkan rencana ke depan, saya jadi terpikir dengan beberapa pengandaian. Terus malah jadi kepikiran berbagai hal alternatif pengandaian.

Saya juga jadi teringat dengan cerita serial Marvel “What If” yang menggambarkan apa yang terjadi kalau Steve Roger tidak menjadi Captain Amerika, lalu digantikan oleh seorang wanita bernama Peggy Carter. Cerita film itu menggambarkan ada banyak sekali kemungkinan tanpa batas yang bisa terjadi dengan menggunakan What If. Tulisan ini bukan review film, karena saya tidak menonton serialnya dan hanya mendengar ceritanya dari Joe.

Kesimpulan dari berandai-andai yang kemarin saya lakukan adalah, ternyata kita bisa menggunakan berandai-andai ini menjadi sesuatu yang produktif. Baca terus tulisan saya kalau mau tau contohnya seperti apa.

Pengandaian dengan Imajinasi Tanpa Batas

Captain Carter (center) and the Howling Commandos in Marvel Studios' WHAT IF…? exclusively on Disney+. ©Marvel Studios 2021. All Rights Reserved.
Captain Carter (center) and the Howling Commandos in Marvel Studios’ WHAT IF…? exclusively on Disney+. ©Marvel Studios 2021. All Rights Reserved.

Namanya juga pengandaian, tentunya ini sesuatu yang tidak terjadi. Ada 2 alasan sesuatu hal tidak terjadi, karena kita melakukan sesuatu atau karena kita memilih untuk tidak melakukan sesuatu.

Ada banyak titik di dalam hidup kita, ketika kita dihadapkan pada pilihan ini. Pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan. Setiap keputusan kita membawa kita pada titik pengandaian berikutnya. Semua pengandaian ini tentunya bisa membuat imajinasi kita kemana-mana tanpa batas.

Ucapan Syukur atau Jadi Penyesalan?

Hal yang paling sederhana misalnya: Kalau dulu kami memutuskan untuk tidak jadi ke Thailand, kira-kira kami akan berada di mana saat ini? Kalau saja tidak ada pandemi saat ini, kira-kira apakah kami masih akan di Thailand saat ini? Berbagai pertanyaan ini bisa saja berupa pertanyaan, bisa juga berupa pertimbangan.

Kalau kami tidak berada di Thailand, kira-kira apakah anak kami akan diberi nama yang sama? Karena memang ketika memilih nama anak, kami sengaja memilih nama yang gampang diucapkan oleh semua orang terutama orang Thailand.

Begitu banyak titik yang bisa menjadi pertanyaan kira-kira apa yang terjadi kalau saja…

Beberapa orang mungkin menggunakan pengandaian ini karena menyesal melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan. Tapi sejauh ini, dari semua pengandaian yang ada, saya selalu memilih pengandaian yang kira-kira akhirnya bakal tetap sama.

Bisa jadi kami tetap memilih nama anak yang sama seperti sekarang. Bisa jadi entah bagaimana caranya, kami pada akhirnya akan berada di Thailand. Bisa jadi juga entah di negara mana yang tidak terpikirkan sebelumnya. Karena sebenarnya, berada di Thailand ini salah satu hal yang tidak pernah ada dalam rencana saya sebelumnya.

Modal Menjadikan Cerita Fiksi

Salah satu hal yang tiba-tiba terpikirkan, pengandaian yang ada bisa dijadikan modal untuk menjadi cerita fiksi. Karena bisa saja misalnya saya membuat cerita pengandaian katakan saja pasangan yang baru menikah mendapat tawaran untuk bekerja di Thailand. Apa yang terjadi seandainya mereka memilih tidak pergi?

Pasangan itu memilih untuk tetap tinggal di Bandung. Mereka tidak ingin jauh dari keluarga besarnya, lagipula mereka memilih untuk menjadi pengajar saja di institut tempat mereka menuntut ilmu sebelumnya. Setelah sekian tahun menikah, akhirnya mereka dikaruniai seorang anak laki-laki (atau bisa saja di sini ceritanya jadi anak perempuan).

Kelanjutannya tentu pemilihan nama anaknya, lalu kalau tinggal di Bandung, bisa jadi mereka tidak menghomeschool anaknya, atau bisa jadi mereka tetap menghomeschool anaknya karena semua sekolah yang ada tidak ada yang terlihat menarik.

Yang jelas, anaknya sih kemungkinan besar akan fasih berbahasa Indonesia (atau bisa jadi tetap lebih fasih berbahasa Inggris karena lebih banyak dibacakan buku cerita berbahasa Inggris daripada bahasa Indonesia).

Kelanjutan ceritanya bisa jadi setelah beberapa tahun tinggal di Bandung, mereka memutuskan pindah ke kota lain atau malah negara lain. Mungkin saja salah satu si suami atau si istri memutuskan untuk sekolah lagi, dan mendapatkan beasiswa untuk bersekolah entah di mana.

Katanya kan cerita kehidupan ini tak ada akhirnya, jadi bisa dong bikin cerita dengan berbagai kemungkinan sesuai arah pilihan dalam pengandaian. Tapi bisa jadi dalam pengandaian ini, mereka berandai-andai apa yang terjadi seandainya mereka memilih untuk meninggalkan Bandung ketika mendapat tawaran dulu.

Namanya pengandaian, bisa jadi cerita tanpa batas, bebas mau dibelokkan ke mana dan sampai mana. Cerita tanpa akhir, bahkan bisa diakhiri dengan akhir yang diserahkan pada pembaca mengambil kesimpulannya.

Menulis Fiksi atau Menulis Fakta?

Setelah menemukan kalau penggunaan “What If” bisa menjadi sumber cerita fiksi, sebenarnya saya jadi terpikir untuk mulai mencoba menulis fiksi. Saya akan bisa menuliskan banyak sekali cerita menggunakan teknik pengandaian ini. Tapi masih tidak yakin kalau saya akan cukup tabah untuk menulis kejadian secara detail ala penulis fiksi.

Eh tapi, sesungguhnya belum terlambat sih kalau mau jadi penulis fiksi, atau mungkin mencari ghost writer saja ya untuk menuliskan ide-ide dari pengandaian yang saya susun jadi cerita? Hehehe…

Mungkin saja akan ada yang bilang kalau memang demikianlah cara penulis fiksi bekerja, mereka hanya mengandaikan segala sesuatu di dalam khayalannya dan menuliskannya. Mungkin saya yang terlambat menyadarinya.

Tapi memang, sampai saat ini saya merasa menulis fiksi itu sesuatu yang sulit buat saya. Masih lebih mudah untuk menuliskan review film daripada menuliskan cerita fiksi walau sudah banyak menonton film dan merasa cerita film itu plotnya sering tak banyak bedanya.

Walaupun menulis fiksi itu menulis sesuatu berdasarkan imajinasi dan bukan hal yang terjadi sesungguhnya, tapi tidak semua cerita fiksi itu menarik untuk dibaca kalau terlalu sulit dicerna oleh akal pikiran. Salah satu alasan kenapa saya tidak ikut menonton serial “What If” karena saya malas dengan cerita tanpa akhir yang bisa ditebak, cukup hidup ini saja yang sulit menebaknya, kalau cerita fiksi saya lebih suka dengan yang jelas bisa ditebak.

Kalau menurut kalian, lebih sulit mana menulis fiksi atau menulis opini atau fakta?

2 thoughts on “Mengubah What If menjadi Produktif

Leave a Reply