Cerita jadi Mentor Tamu di Kampung Bakat IP

Hari ini mau cerita sedikit pengalaman menjadi mentor tamu di Kampung Bakat yang menjadi bagian dari Ibu Profesional (IP). Menjadi mentor tamu ini bukan karena saya sudah paling ahli, tapi karena memang konsepnya KLIP ini kan Kelas Literasi yang sebagian besar juga anggota Ibu Profesional, nah di Komunitas Ibu Profesional sendiri ada lagi kelas-kelas lainnya yang bukan hanya sekedar literasi.

sertifikat apresiasi Kampung Bakat IP
Terimakasih buat Kampung Komunitas IP

Saya tidak bisa menjelaskan ada kampung bakat apa saja, karena saya belum tergabung dalam komunitas Ibu Profesional, akan tetapi setidaknya ada yang fokus di bidang jahit menjahit, masak, fotografi, public speaking dan banyak lah fokus lainnya.

Kampung bakat yang ada berdasarkan passion masing-masing. Salah satu kegiatan kampung komunitas IP mengajak beberapa kampung bakat berkolaborasi dan membuat produk literasi digital yang sifatnya mengedukasi pembaca. Produk yang dihasilkan ada berupa e-book, channel Youtube dan ada juga website. Saya bersama dengan beberapa teman dari KLIP diundang menjadi mentor tamu untuk produk yang dihasilkan teman-teman dari kampung bakat tersebut.

Tugas Sebagai Mentor Tamu: Mereview

Sebagai mentor, tugasnya diminta untuk mengobservasi produk yang dihasilkan teman-teman dari kampung bakat (setiap mentor hanya mereview 1 produk) lalu memberikan catatan, masukan dan saran untuk produk tersebut. Mentor tamu tidak memberikan nilai berupa angka, tapi lebih berupa masukan dari orang luar.

Karena saya kebagian tugas mereview sebuah website blog, tugas menjadi mentor ini menginspirasi saya mempertanyakan kembali bagaimana sih menilai sebuah situs blog. Setelah itu saya menuliskan catatan sebagai mentor untuk diberikan pada saat kelompok yang mengerjakannya presentasi.

Menjelajah Website Seribu Wajah Ibu

Situs yang saya review diberi judul Seribu Wajah Ibu dan disingkat dengan Es Sewu. Selain berupa artikel, ada quiz, komik, resep, video dari YouTube dan podcast juga. Website ini direncanakan nantinya diisi dengan karya-karya ibu di era digital.

Karya yang ditampilkan juga pastinya seputar dunia Ibu dan kreativitasnya. Jadi idenya selain ibu yang bertanggung jawab dalam keluarga, ibu juga perlu berkarya dan membagikan karya tersebut untuk kemajuan ibu lainnya.

Saya kurang tahu berapa lama teman-teman dari kampung bakat menyiapkan situs ini. Jumlah anggota kelompoknya cukup banyak walau tidak terlalu banyak. Mudah-mudahan saja situs ini bisa tetap ditambahkan isinya secara berkala dan menjadi sumber bacaan ibu-ibu untuk semakin produktif berkarya.

Melihat situs ini membuat saya teringat dengan perjalanan Drakor Class yang tanggal 10 Oktober 2021 berusia 1 tahun. Di masa awal kami memulai dengan rutin mengisi situs Drakor Class dengan tulisan yang kemudian disusul dengan media sosial dan channel You Tube nya. Pengalaman dengan Drakor Class salah satu yang membuat saya belajar banyak dunia blog dan sosial media (dan berani mengajukan diri jadi mentor mereview situs).

Mengikuti Presentasi di WhatsApp Grup

Di jaman banyaknya acara zoom ke zoom ini, acara presentasi produk kampung bakat dilakukan di WhatsApp Grup (WAG). Menurut saya ini unik, kelompok yang presentasi juga cukup kreatif dalam memaparkan presentasinya. Mengikuti presentasi di WAG ini pengalaman pertama buat saya.

Dulu pernah ikut materi kuliah di WAG, tapi seringnya malahan tidak saya baca sama sekali karena berpikir, nanti juga bisa. Tapi kali ini, karena namanya juga sedang jadi mentor, tentunya saya mengikuti presentasinya lewat WAG.

Tiba giliran merespon, saya memberikan review yang sudah saya persiapkan sebelumnya dalam sebuah tulisan. Untuk menghemat waktu, saya langsung memberikan responnya berupa alamat di mana respon saya bisa dibaca.

Ada 2 orang yang menjadi mentor website ini, tapi ya penilaian masing-masing. Secara umum setelah review diberikan, dilanjutkan tanya jawab dari peserta yang mempresentasikan apabila ada catatan dari mentor yang dianggap kurang jelas. Lalu peserta dari kampung bakat lainnya juga boleh ikut merespon materi presentasi maupun catatan dari mentor.

Selanjutnya semuanya dikembalikan ke pembuat situs itu apakah mereka akan melakukan perubahan sesuai catatan dari mentor atau mereka boleh saja tidak melakukannya.

Keputusan akhir dari sebuah produk tentunya ada di tangan pembuatnya, bukan di tangan mentor. Ini kan bukan tugas kuliah yang ada tulisan lulus tak lulus, hehehe.

Kesan Jadi Mentor Tamu

Saya kagum dengan kreativitas ibu-ibu yang tergabung di kampung bakat Ibu Profesional. Kebetulan saya bisa mengintip karya-karya yang lain juga selain yang saya review. Kagum karena di antara kesibukan menjadi ibu, mereka juga tetap ingin berdaya, berkarya dan berdampak dengan passion yang mereka miliki.

Pada dasarnya kegiatan Ibu Profesional ini semuanya keren, tapi sampai sekarang saya belum berani mendaftar karena saya belum siap terikat komitmen dengan tugas-tugasnya. Kalau jadi mentor kan hanya sesekali aja.

Saya senang belajar dari teman-teman yang sudah mengikuti pembelajaran di Ibu Profesional, saya bisa ikut curi ilmu di sana sini. Termasuk ilmu komunitas.

Ada yang mulai penasaran apa itu Ibu Profesional? Atau penasaran dengan situs Es Sewu yang saya review? Hasil review nya sengaja tidak saya sertakan karena tentunya itu lebih berguna untuk pembuat situs daripada pembaca blog saya.

Yuk kunjungi situs Es Sewu juga ya, supaya mereka tetap semangat mengisi artikel,podcast, dan video baru di situs tersebut.

One thought on “Cerita jadi Mentor Tamu di Kampung Bakat IP

Leave a Reply