Salah Memilih Sleeper Bus

Tulisan ini sekedar catatan untuk yang sedang mempertimbangkan menggunakan sleeper bus untuk perjalanan jarak jauh (sekitar 450 km, atau lebih dari 10 jam di jalan). Kami mencoba sleeper bus dari Denpasar menuju Malang di tahun 2025 yang lalu. Hitung-hitung memberikan pengalaman untuk anak-anak, maka kami pikir ini akan menjadi pengalaman menarik.

Sebenarnya konsep sleeper bus memang cukup menarik, sayangnya ada faktor asap rokok yang membuat perjalanan ini jadi kurang nyaman. Seandainya saja ada sleeper bus yang bebas rokok, mungkin perjalanan akan menjadi benar-benar nyaman.

Pengalaman berkesan Bangkok Chiang Mai di 2017

Ceritanya di tahun 2017, kami pernah naik bus dari Bangkok ke Chiang Mai yang ditempuh sekitar 10 jam. Waktu itu bus nya sebenarnya bukan sleeper bus, tetapi sejenis bus yang kursinya bisa cukup jauh diposisikan tidur, ada fungsi pijatnya dan kakinya juga bisa diangkat. Isi bus nya cuma 30 kursi, susunannya 2 dan 1. Karena kami waktu itu ber-5 dengan oppung, jadi kami duduknya di sisi kanan yang 2 sebaris dan oppung di tempat yang 1 di samping kiri.

Waktu itu kami memilih bus nya berangkat jam 10 pagi dari Bangkok, jadi bukan bus malam. Anak-anak cukup suka dengan perjalanan menggunakan bus yang kursinya besar seperti ini dan pengalamannya juga mirip-mirip seperti naik pesawat juga. Di atas bus diberikan cemilan beberapa kali selain makanan. Bus berhenti untuk makan siang dan sekalian menggerakkan kaki. Pemandangannya juga cukup banyak yang bisa dilihat di luar jendela.

Pengalaman kurang baik di 2025

Perjalanan tahun 2017 anak yang kecil tidak ingat sama sekali, dia melihat fotonya dan jadi ingin naik bus jarak jauh lagi. Sewaktu liburan di bulan April 2025, kami memutuskan mencoba sleeper bus di Indonesia dari Denpasar menuju Malang. Tujuan kami sebenarnya ingin mengunjungi kota Batu dan bus menuju Malang ini yang terdekat untuk menuju Batu. Setelah mencari beberapa review dan bertanya dengan teman yang pernah naik, kami punya ekspektasi lebih untuk sleeper bus di Indonesia dibandingkan bus yang di Thailand.

Pilihan naik bus dari Denpasar ke Malang juga dilakukan karena memikirkan efisiensi waktu liburan. Kalau naik pesawat dari Denpasar ke Malang, selain tiketnya juga relatif lebih mahal dibandingkan tiket bus, kami juga harus ke airport yang relatif jauh dari kota, menunggu beberapa jam sebelum terbang, dan belum tentu juga pesawatnya tepat waktu. Pilihan pesawat dari Denpasar ke Malang juga tidak banyak yang langsung, kalau harus transit ke kota lain dulu rasanya pasti akan lebih cape naik turun pesawatnya. Jadwal penerbangan saja butuh sehari walaupun terbangnya hanya sebentar.

Kami lihat ada banyak pilihan bus dari Bali ke Malang. Tidak semuanya sleeper bus, ada yang model kursi seperti bus di Thailand juga. Kami tertarik sleeper bus karena setiap orang diberikan ruang masing-masing. Selain itu sepertinya kaki bisa benar-benar lurus. Yang diluar perkiraan adalah ternyata punggungnya nggak benar-benar lurus dan tetap seperti kursi. Untuk orang yang tinggi badan, malah rasanya kaki agak mentok. Untuk saya dan anak-anak, ukurannya masih cukup punya ruang buat letakkin tas ransel di bagian kaki. Untuk koper sih tidak ada masalah, karena koper bisa masuk di bagian bagasi di bawah bus.

Tiap ruang ada pintu dan gorden, di luar ada tempat sepatunya

Kalau waktu dari Bangkok ke Chiang Mai, kami sengaja memilih jadwal bus di siang hari, kali ini kami memilih perjalanan dilakukan sore hari dan berharap bisa tidur nyenyak. Jadwal berangkat jam 5 sore dari Denpasar dan tiba di Malang sekitar jam 5 subuh. Semua masih terasa menyenangkan sampai bus berangkat. Namanya pengalaman baru, kami masih asik mengeksplorasi ada apa saja di dalam bus tersebut.

Awal keberangkatan setiap orang diberikan cemilan yang isinya ada roti, air mineral, earphone untuk menonton tivi, dan masker. Jadi ceritanya di setiap ruang memang ada layar untuk menonton, bahkan bisa menonton Netflix segala, walaupun ternyata jangan harap bisa menonton 1 film sampai habis, karena sinyalnya tidak selalu lancar sepanjang jalan.

Ada bagusnya juga dikasih roti di awal, karena ternyata jadwal berhenti untuk makan malamnya bergeser ke hari berikutnya. Ketika melihat jalanan macet, kami sudah menyuruh anak-anak untuk makan rotinya saja. Oh ya, sebelum berangkat ke stasiun bus, kami juga sudah memastikan si kecil sudah cukup kenyang. Gak kebayang kalau kami ga mempersiapkan perut, menunggu jam makan yang jelang tengah malam.

Selain diberikan roti, ada disediakan makan malam juga. Tetapi makan malamnya ini dijadwalkan setelah menyeberang dari Bali ke pulau Jawa. Masalahnya, jalanan dan antrian naik ke kapal feri cukup lama, makanya kami baru bisa makan sekitar dini hari. Untungnya anak-anak nggak rewel ketika dibangungkan untuk turun dari bus ke restoran. Setidaknya bisa meluruskan kaki sedikit, ke toilet, dan makan. Makanannya sudah dingin, saya hanya makan sedikit supaya perut tidak kosong saja. Roti saja ternyata tidak cukup meyakinkan kalau perut tidak kosong.

Ruang AC dan asap rokok di sleeper bus

Ruangan di bus menggunakan AC, awalnya udaranya tidak terlalu dingin, lama-lama terasa makin dingin. Bus nya menyediakan bantal dan selimut, tetapi masih tetap terasa dingin, untungnya saya sudah menyiapkan membawa jaket untuk dipakai di bus.

Masalah terbesar mulai terasa mengganggu buat saya, ketika bau asap rokok masuk ke bagian dalam ruang saya. Memang ruangannya tidak benar-benar kedap, setiap pintu itu agak bolong-bolong. Saya tidak melihat sendiri ruang rokoknya seperti apa, kemungkinan sih harusnya lebih tertutup pintu kaca. Saya jadi teringat dengan ruang rokok di bandara, ataupun ruang rokok di restoran yang letaknya di tengah-tengah ruangan. Selalu saja ada orang yang keluar masuk ruang rokok yang tidak menutup dengan rapat. Akibatnya bau rokok selalu keluar. Kemungkinan besar, ruang AC di bus juga pintunya tidak tertutup rapat, makanya bau asapnya masuk ke setiap ruangan. Padahal kami memilih kursi yang berada di belakang supir, posisinya jauh dari ruang merokok.

Beberapa kali saya berusaha tidur, tetapi tidak bisa karena bau rokok. Saya pingin marah, tetapi ya ga bisa juga. Kalau saya marah dan diturunkan di tengah jalan kan gawat. Untungnya anak-anak bisa tidur terutama si kecil. Akhirnya saya memakai masker sepanjang perjalanan dan berharap orang-orang yang merokok itu juga segera tidur supaya baunya hilang.

Ketika bus berada di atas kapal feri, saya baru menyadari kalau sumber asap bukan hanya dari ruang rokok, tetapi juga dari bagian depan. Pak supir dan kondektur merokok di ruang depan. Pintu ruang depan juga tidak tertutup rapat ke ruang penumpang. Pantas saja baunya nggak hilang-hilang dan sangat terasa, pak supir dan kondektur kan ga tidur dan lokasi duduk kami sangat dekat dengan ruang supir.

Saya tidak yakin apakah saya tertidur atau tidak, saya hanya berusaha menutup mata dan berharap kalau sudah tertidur saya tidak merasakan bau rokok. Ada juga kekhawatiran saya jadi sakit setelah berjam-jam terpapar asap rokok begitu, tetapi ya sudahlah mau apa lagi.

Sepanjang jalan pakai masker termasuk tidur

Belajar dari kesalahan

Saya tidak akan menyebutkan sleeper bus apa yang kami pakai, karena ini bukan review. Sekedar pelajaran saja buat yang mencari sleeper bus, kalau tidak tahan dengan asap rokok, lebih baik mencari bus yang benar-benar bebas rokok dan tidak ada ruang rokoknya sama sekali. Semua fasilitas yang diberikan akan lebih nyaman kalau tidak ada faktor asap rokok. Saya bahkan berpikir bus dari Bangkok ke Chiang Mai yang tidak harus pakai ruangan masih lebih nyaman, karena jadinya lebih mudah mengawasi anak-anak, selain bawaan ransel bisa diletakkan di lantai dan gak sempit di kaki.

Perjalanan siang hari juga sepertinya cukup nyaman untuk memberikan pengalaman perjalanan. Tetapi namanya bus, selalu ada kemungkinan terkena macet. Belum lagi kalau makanannya harus berhenti di restoran, ini bisa menambah waktu tempuh. Walaupun kemarin itu setelah berhenti makan, perjalanan lancar dan busnya bisa ngebut sehingga kami tetap tiba di Batu sesuai jadwal yang ditargetkan.

Kalau ada pilihan naik kereta api, sepertinya kami akan memilih naik kereta api. Perjalanan naik kereta api di Indonesia sejauh ini cukup menyenangkan, terutama karena di kereta api Indonesia ada aturan dilarang merokok dan tidak ada kemungkinan kena macet. Selain itu di kereta api, untuk makan kita bisa membawa makanan sendiri ataupun membeli di restoran kereta api tanpa harus menunggu berhenti di titik tertentu sehingga terlewat jam makan.

Selesai juga tulisan ini untuk memenuhi tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog di bulan Juli 2026 dengan topik momen salah. Semoga tidak ada yang mengalami momen salah milih sleeper bus seperti yang kami alami ya. Kalau kuat dengan asap rokok sih bebas aja, tetapi kalau nggak kuat, mending cari pilihan transportasi lain deh.


Posted

in

, ,

by

Comments

2 responses to “Salah Memilih Sleeper Bus”

  1. Shanty Dewi Arifin Avatar

    Nice sharing. Jadi catatan kalau ingin naik sleeper bus. Kupikir orang tidak akan merokok saat berkendaraan. Merokok itu kalau pas habis makan di restaurant misalnya. Tega amat ini supirnya atau siapa pun yang merokok di kendaraan umum.

    1. risna Avatar

      Di mana ada ruang merokok, di sana ada aja orang yang entah kenapa ga habis2 rokoknya. Jadi emang mending cari yang bener-bener no smoking kayak pesawat atau kereta api.

Leave a Reply