Gap di Dunia Pendidikan

Beberapa waktu terakhir sering membaca utas di sosial media dari para pengajar les ataupun bimbel, ada juga utas dari banyak orang tua yang mencari guru les. Ada juga utas orang tua yang merasa keberatan dengan patungan biaya untuk berbagai kegiatan termasuk untuk memberikan hadiah kepada guru di akhir tahun ajaran.

Teringat dengan beberapa waktu lalu membaca utas tentang seorang ibu yang bilang akan bekerja supaya punya uang untuk menyekolahkan anak dan mampu membiayai anak berbagai les seperti yang saya tuliskan di tulisan Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga. Ironisnya, walaupun ada yang sangat ekstrim dengan membiayai anaknya sekolah, banyak juga berita yang menyebutkan kemampuan literasi dan numerasi anak SMA yang bahkan tidak bisa menjawab pertanyaan matematika kelas SD.

Mungkin ada yang pernah liat unggahan video seorang lulusan SMK yang menjadi prajurit TNI dengan bangga bercerita kalau dia tidak punya kemampuan matematika dasar. Pantas saja ada yang menyebutkan 10 + 6 hasilnya 17. Mendengarnya pingin ketawa, tapi ya ketawa sedih sambil bertanya-tanya itu video benar atau hasil akal imitasi.

Tantangan blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Juni 2026 ini ngajakin kita mikirin gap/perbedaan yang terjadi di sekitar kita. Terkait dengan berbagai hal yang saya baca dan juga urusan nilai TKA maupun urusan SPMB dan segala sertifikasi jalur prestasi yang sempat jadi sorotan untuk yang sedang mendaftar ke jenjang berikutnya, saya melihat ada gap yang sangat besar dalam dunia pendidikan kita.

Sekolah Negeri atau Sekolah Swasta?

Beberapa waktu lalu, di sebuah grup alumni ada pertanyaan tentang apa yang menjadi pertimbangan orang tua dalam memilih sekolah. Saya juga sering bertanya-tanya kenapa lebih banyak orang sekarang ini memilih sekolah swasta daripada sekolah negeri. Lalu kenapa sekarang ini sepertinya di antara sekolah negeri juga ada perbedaan peminat, ada yang menjadi sekolah favorit dan tidak walau sama-sama negeri.

Saya dan suami adalah produk sekolah negeri. Anak-anak saat ini kami didik di rumah alias homeschool. Karena kami tinggal di Thailand dan juga tidak mengirmkan anak ke sekolah, saya tidak akan memberi penilaian mana yang lebih baik tentang sekolah negeri dan swasta.

Saat ini saya perhatikan kebanyakan orang tua merasa tidak aman mengirimkan anak ke sekolah negeri. Mereka merasa lebih cocok untuk mengirimkan anak ke sekolah swasta dengan atau tanpa latar pendidikan agama. Menurut mereka kualitas guru di sekolah negeri kurang bisa dipercaya selain pergaulan dengan sesama murid tidak aman untuk anak-anaknya kalau dikirim ke sekolah negeri.

Ada lagi beberapa pendapat belakangan ini yang memilih untuk menyekolahkan anak ke sekolah negeri yang gratis daripada membuang biaya besar dari SD sampai SMA dan toh hasil akhirnya sama juga kalau targetnya adalah masuk ke perguruan tinggi negeri.

Pada dasarnya menurut saya, sekolah memang salah satu cara memberikan pendidikan untuk anak, tetapi orang tua punya peranan lebih penting daripada sekolah dan guru untuk mendidik anak. Tidak ada jaminan ketika dikirim ke sekolah swasta anaknya akan berhasil, tidak juga ada jaminan sekolah negeri akan membuat anak jadi suka tawuran kayak Dylan (eh Dylan tuh dulu sekolahnya negeri atau swasta ya?)

Gap antara sekolah negeri dan swasta ini tentunya bukan hanya persoalan biaya pendidikan, tetapi juga kualitas guru-gurunya. Bahkan seperti saya sebutkan, sesama sekolah negeri atau sesama sekolah swasta, ada banyak perbedaan di dalamnya walaupun tujuannya sama-sama berharap memberikan masa depan yang cerah untuk anak didiknya.

Kurikulum Nasional atau Kurikulum lainnya?

Selain memilih sekolah, ada lagi masalah kurikulum yang jadi pertimbangan orang tua. Banyak sekolah saat ini memakai kurikulum lain selain kurikulum nasional. Selain itu banyak juga orang tua yang memilih sekolah dengan tambahan basis agama dengan harapan anaknya akan mendapatkan pendidikan agama selain pengetahuan umum. Beberapa orang tua juga lebih memilih sekolah bilingual maupun internasional dengan harapan anaknya akan melanjutkan jenjang perkuliahan bukan di Indonesia.

Lagi-lagi saya tidak tahu apa yang lebih baik, saya cuma tahu kalau sekolah internasional tentunya biayanya lebih mahal daripada sekolah dengan kurikulum nasional. Atau sekolah berasrama juga butuh biaya membayar asrama dibanding sekolah yang setiap hari anaknya perlu pulang pergi. Kenapa orang tua mengirim anaknya ke sekolah yang berasrama? Alasannya bisa beda-beda, mulai dari supaya anak tidak perlu berlama-lama di jalan pulang pergi, anak bisa belajar mandiri mengatur diri dan bertanggung jawab dengan dirinya sendiri dan tentunya bisa mengikuti peraturan asrama tanpa ketinggalan di dunia akademis. Mulai umur berapa mengirim anak ke asrama? Ini juga jawabannya kembali ke pertimbangan keluarga masing-masing.

Tetapi perbedaan jenis sekolah dan jenis kurikulum yang dipakai ini pada akhirnya bisa juga hasilnya bertemu di universitas yang sama, atau bisa juga hasilnya tidak ada jaminan sukses buat anaknya.

Kelas Tambahan Penunjang Akademik

Salah satu yang juga banyak ramai dibicarakan orang tua di sosial media adalah dukungan guru les atau tutor, baik itu secara online ataupun offline. Kelas tambahan ini bisa karena anaknya dirasa kurang dapat mengikuti apa yang diajarkan di kelas, atau untuk mengikuti berbagai lomba untuk menambah portfolio anak untuk masuk ke jenjang selanjutnya.

Untuk membayar guru les ini, orang tua tentu punya berbagai pilihan tergantung dengan kemampuan masing-masing. Ada yang memilih untuk membayar guru privat, ada juga yang mengikutkan anak ke lembaga bimbingan belajar, tentunya ada juga yang mengirim anak les dan masih juga memeriksa perkembangan anak sudah sampai di mana.

Kalau melihat di sosial media, kisaran harga kelas tambahan ini sangat bervariasi. Tergantung apa yang dipelajari, belajar privat atau bimbel dan tentunya tergantung tutornya juga. Ada yang berani menawarkan sebesar 30 ribu rupiah per sesi belajar, tetapi ada juga yang bilang 100 ribu per sesi itu merusak harga pasaran. Pernah saya baca ada yang menawarkan kelas online 500 ribu per sesi. Entah belajar apa saya sampai lupa karena sudah terheran-heran duluan.

Ada berbagai cerita tentang kelas tambahan ini. Setiap kali ada anak yang berprestasi, selalu ada pertanyaan: dia belajar tambahannya di mana? dengan siapa? harganya berapa? makannya apa? Padahal tiap anak itu beda-beda. Seorang guru yang sama tidak akan bisa menghasilkan semua juara. Demikian juga ada cerita orang tua yang marah-marah kepada tutor karena setelah sekian lama mengikuti kelas tambahan, anaknya tetap tidak bisa masuk 10 besar di kelasnya.

Berbagai sudut pandang tentang kelas tambahan ini membuat saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Padahal banyak juga kelas tambahan itu sekedar membantu anak mengerjakan pr saja, karena orang tua tidak punya waktu untuk memastikan anaknya mengerjakan pr nya sendiri. Si anak juga mungkin malas berpikir dan mengandalkan guru les saja dalam mengerjakan tugas sekolahnya, akhirnya ya pr mungkin selesai, tetapi anak tetap tidak belajar. Untuk guru les dia sudah mengerjakan tugasnya dan istilahnya sekian terima bayaran.

Biaya pendidikan

Dari berbagai hal yang harus dipertimbangkan untuk mengupayakan pendidikan anak, ujung-ujungnya orang tua tidak selalu bisa mendapatkan semuanya. Mereka harus menerima realita kalau pendidikan butuh biaya. Walaupun mengirimkan anak ke sekolah negeri yang notabene gratis, bisa jadi masih tetap butuh biaya untuk ini itu yang tentunya bervariasi.

Saya jadi teringat lagi dengan utas seorang ibu yang menyebutkan bagaimana dia sudah menemukan calon sekolah yang menurut dia terbaik untuk anaknya, tetapi suaminya tidak setuju untuk mengupayakan biayanya karena dianggap masih terlalu mahal walau mereka berdua sama-sama bekerja. Kekecewaan ibu itu wajar saja, tetapi saya jadi terpikir, apa jadinya kalau sudah mengeluarkan 30 persen penghasilan untuk pendidikan anak, tetapi tidak ada jaminan anaknya pasti jadi orang yang dapat pekerjaan dengan gaji berkali lipat dengan biaya sekolahnya. Apakah nanti ibu itu nggak malah tambah kecewa?

Banyak yang bertanya juga berapa sih biaya wajar untuk menyekolahkan anak. Sepertinya ini kembali kepada kemampuan masing-masing. Memberikan pendidikan kepada anak memang penting, tetapi ada banyak hal lain yang juga penting yang menjadi kebutuhan utama. Apalagi kalau anaknya lebih dari 1 orang, masa iya semua penghasilan demi sekolah di tempat yang dia rasa baik. Bagaimana kalau ternyata sudah bayar sekolah mahal-mahal karena merasa sekolah itu menggunakan kurikulum internasional, tak lama kemudian sekolah itu ditutup karena ternyata tidak ada izin operasional dan hanya ngaku-ngaku semata?

Pendidikan memang butuh biaya, bahkan sekolah di rumah juga butuh biaya. Hidup ini memang butuh biaya, tetapi ya semuanya kembali kepada kemampuan masing-masing dan jangan dipaksakan untuk 1 hal saja.

Kemampuan Literasi dan Numerasi dimulai dari rumah

Dari semua pilihan sekolah, kurikulum, ataupun kelas tambahan, ada fenomena yang juga perlu diperhatikan oleh orang tua saat ini. Pendidikan untuk literasi dan numerasi yang bisa dimulai dari rumah dan sejak kecil. Orang tua juga perlu tetap mengasah kemampuan literasi dan numerasinya untuk bisa memberi contoh kepada anak. Kemudahan bertanya melalui pesan instan saat ini membuat orang yang menerima pengumuman di grup chat langsung bertanya tanpa membaca pengumuman yang diterima. Padahal informasinya sudah cukup lengkap dalam pengumuman yang ada.

Banyak orang yang tidak bisa mencerna tulisan yang panjang, mereka lebih memlih menonton video singkat saja. Akibatnya ketika pertanyaan matematika diberikan dalam bentuk soal cerita, anak-anak tidak mengerti atau terkadang tidak teliti dalam menjawab pertanyaannya.

Pendidikan anak tanggung jawab orang tua

Banyak orang tua yang mencari solusi mengajarkan apapun kepada anak dengan cara mencari tempat les. Anak belum bisa membaca dan menulis, mereka mencari guru untuk mengajarkannya. Entah apakah orang tuanya memang sangat sibuk mencari uang, atau merasa guru les lebih pintar dari mereka, makanya mereka memilih untuk mengirimkan anak ke orang lain baik itu tempat les atau sekolah sebagai jawaban dari segala persoalan pendidikan anak.

Menurut saya pribadi, bukan sekolah, bukan kurikulum, bukan guru les yang bertanggung jawab untuk pendidikan anak. Memilih pendidikan anak dengan biaya yang tinggi tidak menjamin anak pasti jadi orang sukses. Bahkan berapapun biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan anak, orang tua wajib mendampingi proses belajar anak.

Orang tua yang hadir dan mendampingi anak, lebih dibutuhkan oleh anak dibandingkan sekolah mahal, kurikulum yang keren ataupun guru les privat. Tidak ada sekolah atau guru yang bisa menjamin anak belajar, kalau anak itu tidak mendapat dukungan dan motivasi yang cukup dari rumahnya. Bagaimana menurut pembaca?


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply