gambar ibu mengajarkan anaknya matematika di dapur - dibuat dengan chat gpt

Lulusan S2 ITB Memilih Jadi IRT

Beberapa waktu lalu, saya membaca utas seorang ibu yang bertekat untuk bekerja supaya bisa membiayai berbagai keperluan pendidikan anaknya: mendapatkan sekolah terbaik, mampu membayar berbagai biaya les, mempersiapkan masuk universitas jalur interasional undergraduate program. Respon yang masuk umumnya mendukung lalu menyebutkan kalau seorang lulusan universitas ternama tetapi tidak bekerja, wawasannya jadi tidak luas.

Ada lagi yang mengomentari kalau perempuan jangan hanya menuntut suami jadi provider tapi juga harus bekerja. Seperti biasa di media sosial, di mana perempuan berkumpul, pembahasan bisa meluas dan melebar berdasarkan pengalaman dan opini masing-masing disertai sedikit penghakiman dengan pilihan orang lain.

Tulisan ini bukan untuk menjawab utas di media sosial, tetapi untuk menjawab Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog bulan Maret dengan topik Aku Dulu vs Aku Sekarang. Aku seorang lulusan S2 ITB yang dulunya mau jadi dosen, tetapi setelah punya anak memilih menjadi IRT dan mengajari anak di rumah untuk mempersiapkan pendidikan anak sampai universitas tanpa harus bayar uang sekolah atau les yang mahal

Perempuan Perlu Sekolah Tinggi

Dulu, saya tidak pernah terpikir akan menjadi ibu rumah tangga yang tidak berkarir dan tidak secara aktif mencari penghasilan. Sebagai siswa berprestasi di sekolah sejak SD, SMP, SMA yang mana semuanya sekolah Negeri sampai keterima kuliah di kampus Gajah. Mama saya seorang pegawai negeri, papa saya seorang karyawan swasta. Saya melihat contoh dari orang tua saya kalau perempuan juga perlu bekerja dan bukan hanya mengandalkan suami.

Seperti kebanyakan lulusan kampus gajah, lulus sarjana rasanya bahagia dan masih ada keinginan melanjutkan ke jenjang berikutnya, mumpung masih muda. Begitu lulus, saya langsung bekerja di lingkungan kampus (ikut proyek dosen) sambil mencari sekolah lagi atau pekerjaan yang lebih baik. Sejak lulus sarjana, orang tua saya memang berhenti mengirimi saya uang bulanan dan menyatakan tidak ada anggaran untuk melanjutkan sekolah lagi.

Orang tua saya juga agak khawatir dengan keinginan saya melanjutkan pendidikan, apalagi karena pada saat itu saya belum punya pasangan. Mereka khawatir saya susah cari jodoh karena pendidikannya terlalu tinggi dan mempersulit mencari calon suami yang sepadan.

Sekolah S2 Karena Ingin Menjadi Dosen

Kesempatan untuk sekolah lagi dengan beasiswa ternyata datangnya dari kampus. Tentu saja kesempatan ini tidak saya lewatkan begitu saja, apalagi saat itu disebutkan kewajiban beasiswanya adalah sambil menjadi asisten dosen di kampus dan nantinya setelah lulus mendapat kesempatan untuk melamar menjadi dosen.

Dari dulu saya memang suka mengajar, makanya kesempatan bersekolah lagi dengan tujuan menjadi dosen adalah kesempatan yang tidak akan saya lewatkan. Sayangnya ketika saya lulus S2, kampus sedang dalam proses berganti status menjadi BHMN, mereka tidak bisa merekrut dosen dan jurusan juga tidak punya anggaran. Kabar baiknya, kami penerima beasiswa dari kampus semuanya dibebastugaskan dari kewajiban beasiswa.

Memilih jadi ibu rumah tangga

Singkat cerita, walau batal jadi dosen, saya bertemu dengan pasangan ketika sama-sama belajar S2. Setelah menikah, kami pindah ke Chiang Mai karena pak suami mendapatkan tawaran pekerjaan di Chiang Mai. Saya juga mendapat kesempatan kerja paruh waktu di kantor yang sama dengan pak suami. Saat itu saya memang memilih bekerja paruh waktu supaya saya tetap bisa belajar bahasa Thai dan juga adaptasi dengan kehidupan baru sebagai istri di negara yang baru.

Setelah anak pertama lahir, saya memutuskan berhenti bekerja. Keputusan menjadi ibu rumah tangga tentunya menjadi hasil diskusi bersama suami. Berbagai pertimbangan kami kenapa tidak bekerja padahal sudah sekolah sampai S2 di ITB sudah mencakup perhitungan finansial dan prioritas pada tumbuh kembang anak. Salah satu prinsip saya tentang membantu ekonomi rumahtangga walau tidak punya penghasilan adalah: kalau tidak bisa menghasilkan setidaknya bisa mengelola dan mencukupkan yang ada.

Walaupun sudah memutuskan cukup dengan single income, ketika anak pertama sudah berusia sekitar 4 tahun dan bisa ikut playgroup, saya kembali bekerja paruh waktu karena dibutuhkan oleh kantor. Tak lama setelah bekerja, saya hamil anak ke-2. Setelah anak ke-2 lahir akhirnya kembali memutuskan berhenti bekerja.

Sejak memutuskan jadi ibu rumah tangga, walaupun tidak bekerja di kantor bukan berarti pendidikan tinggi yang sudah saya tempuh menjadi sia-sia begitu saja. Dengan latar belakang pendidikan dan juga pengalaman bekerja yang sebentar, saya bisa memperluas wawasan dan belajar hal-hal baru yang kemudian berguna dalam mengasuh dan mendidik anak-anak.

Mengajari anak di rumah

Sejak anak pertama masih kecil, saya mencari kegiatan bersama ibu-ibu lainnya dan bertemu dengan komunitas homeschooling di sini. Awalnya saya pikir homeschool ini hanya alternatif sebelum anak masuk sekolah formal, tetapi ternyata karena situasi anak kami yang malah jadi sering sakit karena sekolah, kami memutuskan untuk homeschool saja.

Dulu saya pikir, sekolah dan ijasah itu paling penting, sekarang saya jadi tahu kalau pendidikan itu penting tetapi jalan mendapatkan ijasah itu bukan hanya dari sekolah saja. Untuk pendidikan anak bukan sekolah, bukan hanya guru di sekolah atau tempat kursus yang bisa membuat anak mendapatkan pengetahuannya.

Saya sering membaca banyak orang tua menyekolahkan anaknya sampai berdarah-darah. Mencari uang untuk bisa memasukkan anak ke sekolah mahal, atau ikut berbagai kursus untuk persiapan masuk perguruan tinggi yang bergengsi. Saya dan suami kurang sepakat dengan cara pandang itu. Buat apa saya mengeluarkan biaya mahal untuk sekolah dari SD sampai kuliah, apalagi kalau yang mengajarkan di sekolah tidak lebih pintar dari kami orang tuanya.

Pilihlah sesuai prioritas

Lulus masuk ke universitas terkenal bukan jaminan anak akan sukses. Kesukesesan yang saya tanamkan ke anak adalah ketika dia bisa hidup mandiri. Punya keahlian, bisa membiayai kebutuhan sendiri, tidak tergantung pada orang lain untuk mencukupkan gaya hidupnya, itulah definisi mandiri yang saya tekankan ke anak-anak saya.

Saya memang tidak bekerja menghasilkan uang, tetapi karena saya di rumah, saya merasakan berbagai manfaat menghomeschool anak. Saya punya waktu untuk membersamai anak dalam proses belajarnya. Saya bekerja sama dengan pak suami bisa menjelaskan berbagai hal yang anak tidak mengerti yang mungkin saja tidak bisa didapatkannya dari guru di sekolah ataupun di tempat kursus.

Pada akhirnya semua kembali ke prioritas masing-masing dan tentunya kesepakatan dengan suami. Mau kerja keras bagai kuda supaya bisa bayar uang sekolah anak dan kehilangan kesempatan membersamai anak, atau memilih jadi IRT untuk mengajari anak sendiri sambil belajar berbagai hal yang memperluas wawasan. Tidak ada benar atau salah, karena situasi setiap orang berbeda.


Posted

in

,

by

Comments

6 responses to “Lulusan S2 ITB Memilih Jadi IRT”

  1. dewi laily purnamasari Avatar

    Keren teh Risna, berhasil menjadi guru untuk anak-anaknya. Gak semua orang bisa loh hehehe … Aku salah satunya yang memilih mengirim anak sekolah dan pesantren.
    Salam semangat

  2. Bela Fitri Aulia Avatar
    Bela Fitri Aulia

    Huhuhu aku juga ingin menerapkan homeschooling untuk anak-anak. Tapi belum ada kesiapan mental dan ilmu ? Kerennyaa tetehhh ??

  3. srinurilla Avatar
    srinurilla

    Oh my God. Kak Risna… satu kata… K.E.R.E.N! Ini tulisan yang sangat inspiratif. Perempuan yang memutuskan jadi IRT setelah menempuh pendidikan tinggi WAJIB membaca ini.

    Ada satu hal yang bikin aku mempertimbangkan sesuatu. Yang ini, Risna:
    “Lulus masuk ke universitas terkenal bukan jaminan anak akan sukses. Kesukesesan yang saya tanamkan ke anak adalah ketika dia bisa hidup mandiri. Punya keahlian, bisa membiayai kebutuhan sendiri, tidak tergantung pada orang lain untuk mencukupkan gaya hidupnya, itulah definisi mandiri yang saya tekankan ke anak-anak saya.”

    Mindset-ku perlu aku tambahkan dengan poin ini. Makasiy ya Risna sudah berbagi insight.

  4. srinurillaf Avatar

    Oh my God. Kak Risna… satu kata… K.E.R.E.N! Ini tulisan yang sangat inspiratif. Perempuan yang memutuskan jadi IRT setelah menempuh pendidikan tinggi WAJIB membaca ini.

    Ada satu hal yang bikin aku mempertimbangkan sesuatu. Yang ini, Risna:
    “Lulus masuk ke universitas terkenal bukan jaminan anak akan sukses. Kesukesesan yang saya tanamkan ke anak adalah ketika dia bisa hidup mandiri. Punya keahlian, bisa membiayai kebutuhan sendiri, tidak tergantung pada orang lain untuk mencukupkan gaya hidupnya, itulah definisi mandiri yang saya tekankan ke anak-anak saya.”

    Mindset-ku perlu aku tambahkan dengan poin ini. Makasiy ya Risna sudah berbagi insight.

  5. Sistha MGN Avatar

    Yeyyy!! Seneng banget baca tulisan teh Risna. Kondisi kita ternyata banyak kemiripan. Pemikiran ttg istri berpenghasilan dan pendidikan anak juga.

  6. Alfi Avatar

    Bener banget: ga ada kata rugi sekolah (tinggi). Ga semua ibu2 rt bisa nemenin anaknya belajar matematika sampe tingkat SMA. Dan tentu saja di luar sana banyak juga yg bisa nemenin belajar kimia, geografi, atau sejarah, yg itu aku nyerah ga bisa. ???
    Semangat yuk! ????

Leave a Reply