Tahun 2025 saya tidak banyak menulis di blog, padahal blognya tetap ada banyak selain yang ini. Ada beberapa hal yang menyebabkan saya macet menulis.
Supaya tidak terulang lagi, saya akan menuliskan apa saja penyebab saya macet menulis dan apa usaha untuk mendobrak kemacetan ini dan berhasil menulis 10 blogpost selama bulan Januari 2026 ini. Memang belum bisa menulis setiap hari seperti dulu, tapi ini sudah prestasi daripada tahun 2025 yang lalu.
Seperti yang pernah saya tuliskan kenapa kita perlu menulis walau sudah ada AI, kita perlu menulis berdasarkan pengalaman kita, untuk memberi feedback kepada AI dan mencegah feedback loop dari AI kembali ke AI.
Walau sudah ada kesadaran pentingnya tetap menulis blog di jaman konten di internet semakin banyak dihasilkan oleh AI, saya mengalami macet menulis juga gara-gara AI dan faktor-faktor lainnya.
Isi tulisan ini
Gara-gara menunda
Ada banyak perjalanan dan tempat yang dikunjungi di tahun 2025. Selain itu ada banyak juga tontonan dan produk yang rasanya ingin saya tuliskan ulasannya. Tetapi pada akhirnya dari sekian banyak yang ingin dituliskan, lebih banyak yang tidak jadi dituliskan karena saya tunda untuk menuliskannya.
Saya sering menunda menuliskannya karena terpikir akan menuliskan setelah semuanya selesai. Awalnya karena merasa masih lelah setelah perjalanan dan berpikir besok juga masih bisa menuliskannya.
Ternyata, setelah semua selesai, saya tidak jadi menuliskannya karena ada saja kegiatan lain dan tontonan lain yang berikutnya. Akhirnya semuanya terlewat begitu saja.
Untungnya ada foto-foto yang mudah-mudahan bisa menjadi bahan untuk mengingat kembali hal yang dulu ingin dituliskan. Terkadang saya mencoba menuliskan versi singkat dari semua pengalaman yang ada, tapi faktor malas mencari foto juga sering bikin saya menunda memulai menuliskannya.
Padahal setelah dimulai, biasanya memori bermunculan berlomba untuk dituliskan, sampai rasanya pegal juga mengetikkannya. Jadi untuk mengatasi masalah ini, yang perlu dilakukan adalah sudah jelas menulis jangan ditunda!
Gara-gara overthinking
Setelah menunda menuliskan, mulai deh muncul pembenaran diri untuk tidak jadi menulis. Ada banyak hal yang rasanya tidak perlu dituliskan di blog karena tidak ingin dianggap pamer atau oversharing.
Saya merasa macet karena harus memformulasikan ulang hal-hal yang awalnya ingin saya ceritakan. Sebenarnya saya tidak pernah terpikir menulis sesuatu itu untuk pamer atau flexing, karena dari sejak mulai rajin menulis blog kembali tujuannya adalah mencatat hal-hal yang ingin diingat buat saya (dan anak-anak) baca. Saya hampir lupa kalau tujuan saya menulis itu buat diri sendiri, dan bukan buat orang lain. Mungkin karena terlalu banyak baca media sosial dan segala hal yang nyata walaupun tak masuk logika, saya jadi agak mudah overthinking.
Teman-teman saya kadang menyarankan tulis saja di google doc yang terkunci rapat, tapi rasanya bahkan unutk menuliskan di google doc pun energi saya sudah habis duluan. Atau mungkin ini karena nyari-nyari alasan saja dicampur rasa malas, makanya ga mulai-mulai menulisnya.
Untuk mengatasi rasa overthinking dengan berbagai alasan roller coaster emosi ini, sudah jelas harus ingat lagi apa alasan menulis blog? Untuk siapa? Apa yang ingin disampaikan? Apa pertanyaan yang ingin dijawab. Pokoknya mulai saja jangan kebanyakan alasan!
Gara-gara kebanyakan baca media sosial
Nah ini juga salah satu penyebab ga jadi mulai menulis dan makin overthinking. Walaupun terkadang hal-hal yang dibaca di media sosial bisa jadi inspirasi untuk menuliskan pendapat sendiri, tetapi kebanyakan melihat media sosial juga bisa bikin ga mulai-mulai menulisnya. Mungkin juga terkadang ada tsunami informasi dan juga kecemasan yang sebenarnya tidak perlu ada.
Untuk mengatasi hal ini sudah jelas ya, harus kurang-kurangi tuh buka media sosial. Daripada buka aplikasi threads, instagram, facebook, x, dan atau tiktok, lebih baik buka blog sendiri atau album foto dan ingat-ingat lagi mau nulis apa hari ini.
Kalau mau lebih produktif lagi, gantikan baca media sosial dengan membaca atau mendengarkan buku, atau ya menonton juga boleh deh. Setelah baca buku atau menonton jadi ada bahan untuk dituliskan ulasannya. Atau kalau memang rasanya lagi pengen istirahat saja ya udah mendingan istirahat, selonjoran dan merem. Kita juga butuh istirahat kok, ga harus menulis terus-terusan.
Gara-gara AI (Akal Imitasi)
Nah ini sebenarnya agak terlambat saya sadari kalau ternyata mencari ide di AI itu membuat saya jadi macet menulis. Di tahun 2023, ketika AI diminta menuliskan suatu topik, hasilnya masih agak biasa saja dan banyak fakta yang tidak akurat. Tetapi sejak AI bisa melakukan pencarian di internet, tulisannya makin bikin saya merasa minder dengan tulisan saya sendiri.
Awalnya saya terpikir untuk menjadikan AI teman diskusi mencari topik dan atau memberi masukan untuk tulisan saya. Tetapi setiap kali saya membaca kembali hasil dari AI, saya merasa kalau tulisan itu bukan lagi hasil karya saya. Saya kehilangan ‘suara’ saya dan rasanya tulisan saja malah jadi dimonopoli oleh si Akal Imitasi ini.
Saya berusaha menuliskan kembali hal-hal yang tadinya ingin saya tuliskan, tetapi akhirnya malam macet karena merasa banyak kekurangannya dibandingkan hasil dari AI. Walaupun saya coba berkali-kali, akhirnya saya tidak berhasil menyelesaikan tulisan yang awalnya ingin saya tuliskan itu, walaupun idenya tadinya sudah numpuk di kepala.
Pelajaran dari kemacetan gara-gara AI ini tidak membuat saya berhenti memakai AI. Sekarang ini saya masih mengeksplorasi AI, tetapi saya tidak lagi menjadikannya alat untuk berdiskusi tentang topik yang ingin saya tuliskan di blog. Untuk menulis blog, saya kembali dengan cara lama, yaitu tuliskan apa saja yang memang ingin saya sampaikan, tak harus selengkap AI, tetapi memang berdasarkan apa yang saya pikirkan dan rasaka.
Saya menggunakan AI saat ini untuk belajar hal-hal lain, seperti misalnya merapihkan CSS di blog yang saya kelola supaya tampilannya bisa lebih rapi dan juga siapa tau nantinya bisa belajar bikin plugin sendiri di wordpress. Oh ya, saya juga masih menggunakan AI untuk membuatkan ilustrasi yang dibutuhkan di dalam tulisan saja.
Intinya sih, saya menghindari menggunakan AI untuk menulis blog, tetapi bukan berarti saya tidak mau menggunakan AI lagi. Contohnya gambar utama di tulisan ini masih memanfaatkan Gemini, tapi tulisan ini sepenuhnya adalah tulisan saya. Tidak butuh prompt buat menuliskan pengalaman sendiri toh?


Leave a Reply