Review Buku: Selendang Merah, Maria A. Sardjono

Setelah membaca karya Maria A. Sardjono yang berjudul Bukan Istri Pilihan dan sukses merasa emosi jiwa dengan tokohnya, saya mencoba mendengarkan karya lain dari penulis yang sama. Hasilnya? Tambah emosi! Hahaha…

Kalau ga sempat baca, coba deh dengarkan ulasan buku ini yang saya ceritakan di pertemuan Klub Buku KLIP (KBK) bulan Februari lalu dan sudah dijadikan episode podcast oleh Tim KBK. Tenang saja, nggak ada spoiler ending di podcast ini.

Dengarkan ulasan kalau malas baca

Sinopsis Selendang Merah

Blurb dan deskripsi buku dari Goodreads

Seperti kebanyakan buku yang saya dengarkan, saya tidak pernah membaca blurb bukunya terlebih dahulu. Saya mendengarkan buku ini semata-mata karena saya ingin mendengarkan cerita lain dari Maria A. Sardjono.

Dari awal membaca buku yang ternyata dulunya berjudul Selendang Warna Merah ini, saya bertanya-tanya apa sih peran selendang merah dalam cerita ini. Apalagi kisahnya dimulai dengan Miranda si tokoh utama wanita dihubungi ayahnya untuk berangkat ke Semarang hari itu juga.

Singkat cerita, dari awal buku diceritakan kalau Miranda perlu ke Semarang karena anaknya yang dilahirkannya di masa remaja dan tidak pernah dilihatnya selama 15 tahun sejak dilahirkan, ternyata butuh bantuan transfusi darah karena sakit demam berdarah.

Anak perempuannya itu memang langsung diadopsi oleh om dan tantenya yang selama ini hidup di luar negeri. Orangtuanya yang merencanakan hal tersebut karena awalnya malah mereka tidak setuju kalau Miranda melahirkan bayinya yang terjadi di luar pernikahan. Miranda sempat terpukul dan depresi karena kehilangan bayinya, tetapi akhirnya memang dia bisa melanjutkan sekolahnya dan bahkan saat awal cerita ini dimulai, dia sudah menjadi dosen dan sedang menjalani perkuliahan S3.

Bermula dari berita anaknya yang berada di antara hidup dan mati dan butuh bantuan, Miranda perlu menghubungi Abimanyu, cinta pertamanya di masa SMP dan ayah dari anaknya yang sebenarnya juga tidak pernah tahu kalau anak mereka itu ada. Pada saat mereka berpisah, atau tepatnya dipisahkan paksa karena orangtua Miranda tidak setuju menikahkan mereka yang masih muda belia, keputusan yang diketahui adalah bayi itu akan digugurkan. Miranda dan keluarganya pindah dan tidak pernah ada hubungan dengan Abimanyu sama sekali.

Cerita di buku berjumlah 344 halaman yang diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama pada Januari 2019 ini mulai mengupas sedikit demi sedikit masa lalu Miranda, pertemuan kembali dengan Abimanyu dan pertanyaan untuk pembaca apakah ada harapan cinta mereka akan bersatu lagi.

Eh terus selendang merahnya apa dong? Duh ini tuh kayak benang merah yang jadi selendang aja ya. Jadi ceritanya, selendang merah itu adalah hadiah dari Abimanyu saat mereka masih pacaran. Somehow selendang itu dipakai oleh Miranda ketika dia ke Semarang untuk menemui putrinya yang sedang sakit kritis dan juga tentunya pertemuan kembali dengan Abimanyu.

Selendang merah yang biasa saja dan tak mahal harganya, tetapi jadi pengikat antara masa lalu dan masa kini. Menjadi sesuatu yang membuat mereka mengingat jalinan kisah di masa lalu.

Konflik yang tarik ulur dan akhirnya berulang

Saat mendengarkan buku ini, sebenarnya saya agak kesal dengan Miranda dan Abimanyu, 2 tokoh utama dalam cerita ini. Mereka melakukan kesalahan, berpisah, bertemu kembali, dalam hati masih sama-sama menyimpan rasa, tetapi nggak saling jujur.

Memang sih ga mungkin ceritanya mereka langsung serta merta menyatakan masih suka masih cinta atau masih menunggu satu sama lain. Maria A. Sardjono berusaha memberikan gambaran buat pembaca bagaimana reaksi Abimanyu ketika mendapatkan fakta kalau ternyata anak mereka tidak digugurkan. Bagaimana konflik batin pada Miranda yang tidak pernah bisa menjalin hubungan dengan pria lain karena merasa tidak akan ada pria yang bisa menerima dirinya yang sudah punya anak di masa lalu. Lalu bagaimana mereka berusaha menjalin hubungan dengan anak mereka yang tidak tahu kalau mereka adalah orang tua kandungnya.

Konfliknya buat sebagian orang mungkin berasa membosankan, tetapi buat saya yang mendengarkan seperti mendengar sandiwara radio, jadi tidak ada masalah. Walau kesel bin gemes dengan cara berpikir Miranda dan Abimanyu, saya tetap penasaran bagaimana nih ending yang akan diberikan buat mereka.

Twistnya terjadi ketika ternyata Abimanyu sudah punya rencana untuk bertunangan. Katanya sih buat alasan bisnis semata, tetapi yang makin mengesalkan adalah tindakan Abimanyu yang seperti masih cinta dan malah mengejar-ngejar Miranda, tetapi tetap saja melangsungkan pertunangannya dengan wanita lain.

Ribet banget ya rasanya hubungan mereka yang tidak bisa menyatakan dengan jujur apa yang mereka inginkan. Sebenarnya kalau ini peristiwa di dunia nyata, kayaknya langka terjadi setelah berpisah belasan tahun mereka masih berharap untuk bersatu kembali. Tapi namanya juga cerita fiksi, semua jadi mungkin terjadi.

Yang makin mengesalkan adalah ketika mereka yang digambarkan berusaha merumuskan apa dan bagaimana untuk menjelaskan semuanya kepada orangtua Abimanyu yang dulunya sangat berharap anak itu tetap dipelihara, eh tau-tau mereka mengulang kesalahan yang sama.

Ya, ceritanya setelah di bawa ke sana dan kemari, Miranda hamil lagi! Terus gimana nih akhirnya?

Spoiler ending

Jangan dibaca kalau mau baca sendiri dan ga mau kena spoiler, tapi baca sampai habis kalau penasaran jadinya apakah mereka akan bersatu kembali, apa dan bagaimana ceritanya sampai ke sana.

Jadi sebenarnya, buat saya agak aneh kalau mereka mengulang kesalahan sampai Miranda hamil lagi. Mereka bahkan bukan dalam posisi sudah kembali jadi pasangan kekasih lagi, tetapi masih dalam tahap membicarakan bagaimana supaya bisa dekat dengan anak mereka yang pada akhirnya sudah sembuh dari sakit tetapi tetap belum tahu kalau mereka orang tua kandungnya.

Abimanyu statusnya sudah menjadi tunangan orang dan akan melangsungkan pernikahan. Miranda yang sedang sibuk menyelesaikan S3 juga berusaha fokus dengan pekerjaan dan sekolahnya. Kok ujug-ujug diceritakan mereka khilaf dan melakukan kesalahan yang sama? Kok ya udah S3 psikologi dan … duh lupa Abimanyu kerjanya apa, bisa lupa darimana asalnya anak?

Miranda yang tidak ingin merusak kebahagiaan wanita lain jelas-jelas tidak mau membuat Abimanyu membatalkan pernikahannya. Tetapi kali ini Miranda bukan lagi remaja usia sekolah, dia bisa membuat keputusan sendiri sebagai orang dewasa berusia 31 tahun. Seperti saat remaja, dia memutuskan untuk tetap memelihara bayi dalam kandungannya dan kali ini bahkan tidak memberitahukan orangtuanya dan tidak juga pada Abimanyu.

Miranda pindah pekerjaan dan menghilang dari Abimanyu. Dia memutuskan untuk membesarkan bayinya sendiri. Dia tidak merasa butuh Abimanyu. Padahal… dia sebenarnya diceritakan masih punya rasa cinta ke Abimanyu.

Duh bosan ya ini konflik muter mulu tanpa ujung. Saya juga nggak tau pengennya endingnya bagaimana. Karena saya jelas tidak suka dengan runtutan peristiwa yang kemudian membuat mereka mengulang kesalahan masa remaja mereka tersebut.

Jadi endingnya bagaimana nih. Apa masih mau berharap Abimanyu memutuskan pertunangan dan memilih Miranda? Atau biar aja Miranda membesarkan bayinya sendiri tanpa Abimanyu tahu kalau dia sedang hamil?

Spoilernya sampai sini saja deh, jawaban untuk pertanyaan tersebut silakan baca sendiri di bukunya, hehehe.


Posted

in

,

by

Comments

Leave a Reply