Menulis Random Dulu dan Sekarang

Dulu, semua tulisan di blog adalah curahan hati secara random dan tidak pakai lama menuliskannya. Sekarang, ketika random menjadi topik Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog, kenapa rasanya jadi sulit memilih apa yang akan dituliskan?

Sejak topik tantangan ini diumumkan, ada berbagai topik random yang sudah mampir ingin dituliskan, tetapi pada akhirnya saya menjadi deadliner lagi. Berbagai topik random yang muncul tidak semuanya bisa dituliskan karena waktu yang ada untuk menuliskannya sudah tidak banyak lagi.

Tidak ada yang benar-benar random

Kesulitan saya dalam menuliskan topik random saat ini adalah karena setiap kali menemukan ide, akhirnya tidak bisa benar-benar random. Semua topik masih bisa dikelompokkan menjadi kategori tertentu.

Hal pertama yang terpikir ketika mencari topik random adalah membaca posting di sosial media. Tulisan yang umumnya dari orang yang berbeda dan tentunya harapannya isinya juga akan sangat berbeda satu sama lain. Tetapi ternyata saya salah, berhubung ada algoritma dalam sosial media, selalu ada topik yang muncul dibahas berkali-kali pada hari yang sama.

Beberapa hari lalu saat pulang ke Indonesia, setelah lelah berkeliling mall sejak makan siang sampai makan malam, sambil berselonjor saya iseng mengganti-ganti channel tv di hotel. Sudah lama rasanya menonton sesuatu secara random, saya pikir saya akan menuliskan apa yang saya tonton dari acara tv tersebut.

Memang karena saluran tv sangat beragam, acaranya jadi sangat beragam, tetapi pada akhirnya saya berhenti di stasiun tv yang memberikan informasi berita. Sayangnya saat ini saya sudah tidak ingat lagi apa berita yang membuat saya memilih berhenti di channel itu.

Aneka benda dari Indonesia

Ternyata saat ini menulis random menjadi hal yang sulit saya lakukan, akhirnya saya putuskan untuk menuliskan aneka benda random yang saya bawa dari Indonesia karena benda-benda tersebut tidak bisa didapatkan di Chiang Mai.

Jadi walaupun bendanya random, kategorinya bisa didapatkan di Indonesia. Benda-benda ini punya cerita yang berbeda-beda juga kenapa bisa sampai saya dapatkan ketika pulang kemarin.

Keripik Pisang Sale dan Keripik Balado

Ceritanya ada teman pak suami yang datang mengunjungi kami ke Depok dan membawakan berbagai oleh-oleh khas Indonesia. Dari berbagai jenis keripik yang dibawa, saya memilih 2 jenis keripik ini untuk dibawa ke Chiang Mai. Walaupun dulu keripik jenis ini bisa dibeli dengan mudah setiap kali ke toko oleh-oleh Bandung, sebenarnya saya cukup jarang membeli keripik ini.

Saya memilih membawa 2 keripik ini karena memang saya suka dengan rasanya. Setibanya di Chiang Mai, keripik pisang sale langsung habis dengan cepat, sedangkan keripik balado masih belum saya buka. Kalau saya buka pasti keripik itu kemungkinan habis dengan cepat.

Sendal Upanat Barabudur

Salah satu tujuan yang kami kunjungi ketika pulang kemarin adalah ke Yogyakarta untuk membawa anak-anak ke Borobudur. Saya cukup kagum dengan pengelolaan Borobudur saat ini. Banyak yang menyoroti harga masuk yang dianggap mahal, padahal sebenarnya merawat tempat wisata pastilah butuh biaya.

Saya cukup terkesan dengan Borobudur yang lebih terlihat bersih dan teratur, apalagi setiap pengunjung diberikan sendal upanat ini untuk naik ke atas, jadi tidak sembarang sepatu kotor yang bisa naik. Sendal ini juga bisa dibawa pulang (jadi termasuk komponen harga tiket masuk). Tunggu saja, cerita lebih panjang lebar tentang kunjungan ke Borobudur akan dituliskan terpisah.

Oh ya, awalnya saya pikir memakai sendal begini akan bikin kaki sakit, tapi ternyata kalau menurut paksu, dia merasa lebih nyaman berjalan menggunakan sendal ini daripada sepatu, makanya sendalnya kami bawa sampai ke CHiang Mai.

Sari Roti Sobek Cokelat Keju

Roti sobek cokelat adalah favorit anak saya yang kecil, kalau yang keju kegemaran pak suami. Di Chiang Mai tidak ada roti isi cokelat padahal di Indonesia roti cokelat itu sesuatu yang gampang didapatkan. Tetapi entah kenapa, si bungsu paling cocok dengan roti sobek dari sari roti ini. Makanya nih, setiap kali pulang ke Indonesia si bungsu akan puas-puasin makan roti sobek isi cokelat. Kami juga akan membawa beberapa roti sobek ke Chiang Mai, tetapi tidak bisa banyak-banyak juga karena ada batasan tanggal kadaluarsanya.

Pinsil Alis Viva

Kalau orang-orang banyak yang mencari pinsil alis produksi Thailand, saya malah setia dengan pinsil alis VIva. Pinsil ini bisa dibeli dengan mudah di berbagai supermarket di Indonesia. Biasanya saya cukup beli 1 setiap pulang, karena pinsilnya bisa dipakai cukup lama. Alis saya memang tidak ada, tetapi saya bukan orang yang rajin untuk memakai pinsil alis lebih dari 1 kali sehari, makanya bisa bertahan lama.

Sepertinya cerita randomnya cukup di sini dulu karena waktunya sudah hampir habis. Semoga tidak ada yang bingung membaca kerandoman saya di dalam tulisan ini.


Posted

in

by

Comments

5 responses to “Menulis Random Dulu dan Sekarang”

  1. belacanbelo Avatar

    Benar-benar barang-barang random dari Indonesia! Tapi pensil alis viva emang legend, sih ?

  2. Alfi Avatar

    Pensil alis Viva ini kayaknya emang sakti banget ya? Temen2 di sini juga suka nyari lho!

  3. Shanty Dewi Arifin Avatar

    Baru tahu Risna bisa pakai pensil alis. Hebat!

  4. srinurilla Avatar

    Kak Risna, jadi sekarang kalau mau ke candi Borobudur, harus lepas sepatu ya?
    Tapi pikiranku sama dengan Risna, pesimis dengan kenyamanan sang sandal upanat. Namun syukurlah kalau ternyata nyaman ehehe.

    Wow pensil alis VIVA. Aku sudah tahu betapa amazing-nya produk Nusantara ini sejak baca di forum FemaleDaily belasan tahun yg lalu. Semua beauty guru memberi review positif.

  5. srinurillaf Avatar

    Kak Risna, jadi sekarang kalau mau ke candi Borobudur, harus lepas sepatu ya?
    Tapi pikiranku sama dengan Risna, pesimis dengan kenyamanan sang sandal upanat. Namun syukurlah kalau ternyata nyaman ehehe.

    Wow pensil alis VIVA. Aku sudah tahu betapa amazing-nya produk Nusantara ini sejak baca di forum FemaleDaily belasan tahun yg lalu. Semua beauty guru memberi review positif.

Leave a Reply