Film Indonesia Bila Esok Ibu Tiada ini tayang di tahun 2024, sejak bulan Maret 2025 akhirnya tersedia di Netflix. Dari judulnya saja, sudah jelas kalau film ini bukan film yang ringan dan bahasannya pasti berat.
Sudah tahu bakal begitu, tetap saja saya penasaran ingin menontonnya. Bukan saya ingin tahu apa yang terjadi ketika Ibu sudah tiada, tetapi saya ingin tahu bagaimana dan apa sih yang dirasakan sang Ibu sebelum dia pergi.
Saya baru tahu kalau film ini diangkat dari novel. Saya belum membaca bukunya dan sepertinya tidak akan kuat juga membaca bukunya.
Seperti semua cerita sedih lainnya, film ini tentunya tidak langsung dimulai dengan kesedihan, tetapi gambaran kebahagiaan terutama ketika bapak juga masih ada.
Banyak bagian film yang tidak ada dialognya seolah membawa penonton mencerna apa yang dilihat saja tanpa dialog. Oh ya, tentunya secara keseluruhan banyak adegan berjalan lambat yang hanya diberikan musik latar untuk membawa emosi penonton ke arah sana.
Isi tulisan ini
Sinopsis Bila Esok Ibu Tiada
Kisah tentang sebuah keluarga dengan 3 anak perempuan dan seorang anak lelaki. Yang paling besar perempuan, sukses bekerja memiliki kantor iklan, yang laki-laki sudah menikah dan bercita-cita jadi musisi ternama. Anak ke-3 perempuan yang paling cantik dan bercita-cita jadi bintang film, sayangnya sejauh ini dia cuma bisa jadi bintang iklan saja. Dan yang terakhir perempuan, masih di bangku kuliah.
Kalau dilihat dari deretan nama pemain yang ada di posternya, kualitas akting tidak usah diragukan lagi. Christine Hakim sukses menjadi sosok Ibu dari 3 anak perempuan dan 1 laki-laki yang tidak harus banyak dialog bisa memancarkan emosinya. Adinia Wirasti menjadi kakak tertua, Fedi Nuril menjadi anak laki-laki satu-satunya, Amanda Manopo menjadi adik tercantik, dan Yasmin Napper menjadi adik paling kecil yang masih tinggal dengan ibunya tapi juga sibuk menyelesaikan tugas akhirnya.
Cerita dimulai menunjukkan kehangatan dalam keluarga. Bagaimana mereka semua sangat dekat dengan orang tuanya terutama ayahnya. Mereka semua masih tinggal di rumah dan sangat akrab. Kebersamaan dalam keluarga sangat terasa.

Mereka adalah keluarga yang senang berkumpul bersama dan bisa berbagi cerita apa saja.
Sampai kemudian, ayahnya meninggal dalam tidurnya. Dan cerita bergeser 3 tahun kemudian.
Sejak bapak pergi, anak-anak juga makin sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka bahkan mulai jarang berkumpul, walaupun saat itu ibunya masih ada.
Ibu yang mendambakan kebersamaan dengan anak-anaknya
Situasi yang diambil 3 tahun kemudian adalah hari ulang tahun ibunya yang ke-65. Bagaimana ibunya yang bangun untuk menyiapkan makanan di rumahnya. Lalu ditunjukkan bagaimana masing-masing anak punya dunianya masing-masing dan saking sibuknya sampai mereka hampir lupa kalau hari itu adalah hari ulang tahun ibunya.
Untungnya mereka punya tante yang masih memperhatikan ibunya dan membawakan kue dan tumpeng selain menelpon kakak tertua untuk mengingatkan kalau hari itu adalah hari ulang tahun.
Anak-anak yang sibuk ini akhirnya tersadar dan bergegas untuk ke rumah ibunya. Sebenarnya 2 di antara mereka masih tinggal di rumah yang sama dengan ibunya, tapi mungkin saat berangkat pagi hari, mereka tidak sempat mengucapkan selamat ulang tahun karena harus berangkat pagi-pagi ke kantor maupun ke kampusnya.
Scene berganti menunjukkan Ibu sendirian menunggu anak-anaknya pulang supaya bisa makan bersama. Di hadapannya sudah terhidang makanan yang enak-enak. Sayangnya adiknya yang membawakan makanan tidak bisa ikut makan malam bersama, jadilah ibu menunggu sampai hampir malam.

Dari scene yang ditunjukkan, pukul 8.15 salah satu anak masih membeli martabak telur dulu. Kalau pun tukang martabaknya jualan di dekat rumah, kemungkinan mereka mulai sampai di rumah pukul 8.30 malam.
Ibu senang sekali anak-anaknya akhirnya datang. Tetapi ternyata kebahagiaan itu bertahan sebentar. Si kakak yang merasa perlu mengomentari semua hal tentang adik-adiknya merusak suasana dan membuat adiknya yang lelaki memilih pulang cepat.

Ibu yang menjadi penengah buat anak-anaknya
Ibu masih tetap bersabar dan berusaha mengembalikan suasana supaya semua tetap menikmati hidangan yang ada. Menonton bagian ini saya jadi berusaha mengingat-ingat, kapan ya terakhir saya merayakan ulang tahun mama saya lengkap dengan kakak dan adik saya?
Kembali ke cerita film, suasana tidak langsung membaik tentunya. Ibu yang sebenarnya ingin kebersamaan seperti saat suaminya masih hidup merasa sedih karena anak-anaknya tidak bisa lama berkumpul bersama seperti dulu.
Ibu yang tidak ingin menyusahkan anaknya walau sudah sakit
Cerita berjalan dipercepat lagi, masalah lain adalah ketika tidak ada salah satu dari mereka yang bisa mengantarkan ibunya untuk ke rumah sakit.
Lalu ternyata dokter bilang kalau vertigo ibu cukup serius dan tidak boleh pergi sendiri dan harus selau ditemani. Tapi ya namanya orang tua, dia tidak ingin menyusahkan anak-anaknya, dia menyimpan semuanya sendiri.
Ibu merindukan suaminya yang sudah tiada
Rasa rindunya untuk mengunjungi makam suaminya di Pekalongan akhirnya dia ceritakan ke adiknya untuk membantunya membeli tiket kereta online. Ibu berangkat tanpa memberitahukan anak-anaknya, karena dia tidak ingin merepotkan atau membuat anak-anaknya khawatir.
Nah di saat anak-anak menyadari ibunya pergi dan menemukan surat keterangan dari rumah sakit, baru deh mereka panik kecarian. Saat panik, mereka tetap saja masih saling menyalahkan dan merasa paling benar.
Pulang dari Pekalongan, ibu meminta maaf ke mereka karena pergi nggak bilang-bilang.
Anak-anak yang tetap tidak mengerti ibunya
Saya pikir setelah itu mereka akan mengusahakan memberi waktu lebih banyak kepada Ibu. Ternyata ada saja masalah yang terjadi yang mempersulit hal itu.
Suatu malam, sebenarnya ada si bungsu dan sulung di rumah. Lalu ibu bangun ingin berdoa malam. Tau-tau ibu ditemukan jatuh oleh si bungsu.
Sulung yang tadinya hendak keluar menolong adik nomor 3 yang bermasalah akhirnya buru-buru pulang. Tapi ternyata saat itu Ibu menghembuskan nafas terakhirnya.
Sampai ibunya akhirnya meninggalkan mereka, mereka tetap tidak memberi waktu untuk ibunya. Padahal ibunya hanya berharap supaya anak-anaknya bisa tetap rukun dan senang berkumpul seperti dulu saat ayahnya juga masih ada.
Jadi Apa yang terjadi setelah Ibu tiada?
Si sulung yang selama ini sepertinya paling mengatur semua orang tiba-tiba seperti kehilangan arah dan tujuan. Dia tak tahu harus berbuat apa. Adik-adiknya juga merasakan bagaimana kakaknya yang selama ini mengatur mereka dan terilhat kuat ternyata jadi kehilangan tujuan dan tak tau mau apa lagi.
Adik-adiknya berusaha merangkul si kakak, dan akhirnya mereka malah jadi lebih sering mengusahakan untuk berkumpul seperti sebelum bapaknya meninggal. Setidaknya apa yang diharapkan ibunya akhirnya terkabul, walau Ibunya sudah tidak bisa melihat lagi bagaimana anaknya menjadi rukun kembali seperti dulu.
Apa yang dirasakan Ibu?
Setelah ditinggal suami, pastinya ibu merasa kehilangan orang yang biasa diajak bicara dan selama ini banyak mengajari anak-anaknya. Selain itu Ibu berusaha untuk tetap mengingat ajaran suaminya untuk tetap bersabar menghadapi kelakuan anak-anaknya.
Ibu berusaha tidak menuntut dan tidak menyusahkan anak-anaknya. Makanya ketika dia tahu dia sakit, dia berusaha tetap bisa mandiri pergi sendiri ke Pekalongan. Walaupun kalau dari scene yang digambarkan sepertinya ibu ini sudah ingin menyusul suaminya saja.

Ibu tidak ingin menjadi beban anak-anaknya. Ibu ingin anak-anaknya bisa tetap akur satu sama lain dan saat berkumpul ada rasa kebersamaan bukannya malah cekcok. Ibu tetap berusaha tersenyum walaupun dia bersedih. Ibu juga cepat meminta maaf ke anak-anaknya kalau membuat anak-anaknya susah hati.
Ibu ingin anak-anaknya bisa tetap ingat kalau mereka adalah keluarga yang tetap hangat satu sama lain.
Setidaknya itu yang saya tangkap dari menonton film ini.
Jangan tunggu esok
Pesan yang disampaikan dari film ini bukan hal yang baru. Semua orang tua ingin anak-anaknya tetapi akur sampai mereka dewasa dan punya keluarga masing-masing. Kebersamaan dan kehangatan dalam keluarga untuk berbahagia bersama-sama.
Dengan adanya teknologi komunikasi saat ini, harusnya komunikasi bisa lebih mudah dilakukan. Sayangnya, banyak alasan membuat keluarga tidak selalu bisa harmonis walau ada teknologi yang mendukung.
Sebenarnya yang terjadi di film ini harapan ideal. Karena kalau Ibu masih ada saja mereka susah untuk berkumpul, apa iya mereka akan berkumpul saat sudah tidak ada lagi alasan untuk berkumpul seperti ulang tahun Ibu?
Walau ini hanya harapan ideal, tentu saja semoga banyak penonton yang jadi ingat untuk berupaya membahagiakan orang tuanya (ayahnya ataupun ibuya) saat masih ada. Untuk tetap rukun dengan kakak dan adik, walaupun di tengah kesibukan masing-masing. Jangan tunggu sampai orang tua sudah tidak ada, baru menyesal kemudian seperti kakak beradik dalam film Bila Esok Ibu Tiada ini.


Leave a Reply