Di Indonesia, hari Kartini biasanya dirayakan dengan mengenakan busana dari daerah asal masing-masing. Kalau tinggal di Thailand dan mengikuti sekolah komunitas yang pesertanya dari berbagai belahan dunia, ada yang namanya Cultural Day atau hari kebudayaan.
Sejak tahun lalu, si sulung yang biasanya belajar di rumah bersama saya merasa bosan dan minta dicarikan sekolah. Kami menemukan sekolah komunitas yang masih bisa meneruskan cara belajar homeschooling selama ini.
Sekolah komunitas ini menjadi jalan tengah untuk permintaan si sulung yang ingin punya teman, tetapi masih tetap belajarnya berdasarkan kemampuan sendiri dan tidak harus diburu oleh kurikulum.
Jadi memang banyak hal seperti sekolah biasa karena pergi belajar setiap hari dengan jam masuk dan keluar tertentu, selain itu juga ada jadwal hari libur. Tetapi cara belajarnya masih tetap belajar mandiri dengan supervisor yang membantu beberapa anak sekaligus.
Salah satu kegiatan yang ada di sekolah komunitas adalah ada kegiatan akhir semester dan juga akhir tahun ajaran. Sejak bulan April yang lalu, sudah diumumkan kalau nantinya di akhir tahun ajaran akan diadakan cultural day. Peserta diminta mengenakan busana tradisional dari negaranya masing-masing.
Pada acara akhir tahun ajaran, biasanya orang tua akan diundang hadir ke sekolah untuk melihat pembagian penghargaan atas prestasi anak-anak, dan juga sedikit penampilan dari hasil belajar non akademis, seperti penampilan seni suara, drama, ataupun permainan instrumen. Selain pakaian yang menunjukkan budaya masing-masing, orang tua juga diminta untuk membawa sedikit makanan dari negara masing-masing untuk saling berbagi (pot luck) di akhir acara.
Antara Ulos dan Batik
Waktu diumumkan ada hari kebudayaan di akhir tahun ajaran, yang terpikir sih pakai ulos saja diselempangkan. Baju batiknya belum ada waktu itu. Bertahun-tahun tinggal di Chiang Mai, Thailand, anak-anak cuma pernah punya batik waktu masih kecil. Kami nggak punya baju batik yang muat lagi karena memang kesempatan untuk berbelanja ketika pulang itu sangat jarang. Saya juga bukan orang yang tahan untuk mencari baju di internet untuk memesan online.
Salah satu misi ketika kami ke Bali bulan April 2025 lalu yaitu mencari kemeja batik. Beruntung kami menemukan Batik Bali muat untuk si sulung. Kami membeli 3 sekaligus, supaya ada pilihan warna kalau mau dipakai ke berbagai kesempatan. Tadinya sih yang satu buat si bungsu (karena biasanya ukuran mereka sama), tetapi ternyata si bungsu badannya sudah lebih besar dari si sulung dan bajunya kekecilan untuk si bungsu.
Ketika harinya tiba, si sulung memilih batik yang warna dasarnya hitam dan gambarnya coklat keemasan. Saya tidak jadi memberikan ulos karena saya pikir hanya akan membuat dia repot menyampirkan selendang ulos di bahunya.
Ternyata, hari itu ada seorang teman si sulung yang juga memakai batik hitam dengan corak coklat keemasan. Memang, salah satu teman si sulung ada yang campuran Indonesia Amerika. Kalau dari obrolan sih, mamanya bilang paling ringkas ya pakai batik dan kebetulan ada, hehehe.
Walau tidak ada di dalam foto, sebenarnya selain si sulung dan temannya, ada gurunya juga yang mengenakan baju batik. Gurunya ini bukan orang Indonesia, tetapi dari Filipina. Saya sempat bertanya-tanya apakah Filipina juga memiliki corak batik? Ternyata gurunya memakai batik karena dia menerima oleh-oleh dari temannya orang Indonesia, dan diantara baju-baju tradisional yang dia punya, dia suka dengan batik.
Ragam Busana di Hari Kebudayaan

Senang juga rasanya melihat baju batik di antara ragam busana yang ada hari itu. Tetapi sebenarnya, seandainya si sulung mengenakan ulos, kemungkinan juga terlihat mirip dengan pakaian tradisional dari Myanmar. Ada beberapa orang yang mengenakan baju yang bahannya mirip ulos dari Myanmar dan Thailand. Selain itu ada yang berasal dari Filipina, Amerika, dan Rusia.
Sebenarnya ada beberapa yang berasal dari Korea Selatan, tetapi mereka tidak memakai hanbok. Mungkin terlalu repot kali ya kalau pakai hanbok, hehehe. Lagipula murid yang dari Korea Selatan kebetulan harus pakai dress code tertentu untuk pertunjukan biolanya.
Kalau dilihat dari berbagai ragam busana teman-teman si sulung pada hari itu, saya merasakan bagaimana oran tua yang kreatif untuk menunjukkan budaya negara tanpa harus repot. Ada yang sekedar menambahkan syal senada dengan warna baju gaun, atau ada yang menambakan penutup kepala yang senada dengan selendang dan rok. Bahkan terkadang cara memasang selendang dan aksesoris yang berbeda-beda sudah menjadi pembeda asal negara. Untuk pria, bahan kain tradisional dijadikan rompi ataupun jaket dengan dalaman berwarna polos, sudah bisa menunjukkan budaya negaranya.
Catatan yang ingin saya ambil dari hari kebudayaan di akhir tahun ajaran si sulung adalah, paling praktis pakai batik untuk hari kebudayaan. Atau kalau tidak ada batik, perlu belajar lebih kreatif untuk menunjukkan kebudayaan kita tanpa harus repot-repot.



Leave a Reply