Tetap Berharap yang Terbaik untuk Indonesia

Tanggal 10 Februari 2024, seluruh dunia merayakan sebagai tahun baru Cina. Perubahan shio yang sebelumnya ke tahun Naga membawa banyak orang berharap yang baik untuk shio nya masing-masing. Selamat untuk mamah yang merayakan ataupun mendapatkan libur panjang karenanya. Saya tidak merayakan tahun baru Cina, tidak libur juga, tetapi kesempatan mengantar anak berkegiatan di hari Sabtu kemarin saya pakai untuk mengirimkan surat suara yang sudah kami terima sejak awal Januari 2024.

Bulan Februari juga dikenal sebagai bulan kasih sayang, dan pemerintah Indonesia sepertinya berharap juga rakyatnya bisa merayakan hari kasih sayang dengan ikut serta dalam pesta demokrasi Indonesia. Saya tidak tahu alasan sesungguhnya kenapa pemilu Indonesia dipilih dilaksanakan tanggal 14 Februari 2024, tetapi anggap saja itu tanda kita harus ingat untuk ikut memilih tanda sayang sama Indonesia (ini antara cocokologi sama maksa ya hahaha).

Ribet di awal

Pemilu tahun ini merupakan pemilu yang terkesan lebih ribet dibandingkan beberapa pemilu yang saya ikuti sejak tinggal di Chiang Mai, Thailand. Berkali-kali, kami sudah memilih melalui surat pos. Biasanya hanya ada sekali sosialisasi, lalu surat suara akan sampai melalui pos, dan kami tinggal mengirimkannya melalui kotak surat. Selama 16 tahun di Chiang Mai, ada beberapa kali malahan ada perwakilan dari Bangkok yang datang untuk mengumpulkan surat suara (walau sudah dikasih amplop berperangko balasan). Tapi tahun ini berbeda.

Sejak tahun 2022 sudah ada sosialisasi dan pemutakhiran data yang katanya untuk persiapan pemilu. Tahun 2023 ada yang mengirimkan surat memastikan kami terdaftar mungkin sekalian memastikan alamat kami sudah benar. Awal tahun 2024, surat suara sudah mendarat di rumah kami. Yang saya bilang ribet, karena sepertinya pemilu kali ini terasa prosedurnya lebih panjang sehingga lebih banyak nomor-nomor asing yang tiba-tiba menghubungi dan meminta data.

Saya tahu mereka memang panitia pemilihan, tapi saya heran, kenapa sampai berganti-ganti orang yang menghubungi. Yang juga saya heran, berkali-kali pemilu, kami asumsi panitia pemilihan bekerjasama dengan kedutaan. Tapi kali ini katanya sih datanya dapat dari kemenlu. Yang bikin agak sebal, walaupun saya rajin menghadiri sosialisasi, tetap saja nomor paspor saya tidak dimutakhirkan dan mereka berharap saya mengupdate data saya melalui googleform yang bukan menggunakan alamat resmi tetapi alamat pribadi.

Hampir Golput

Dengan rawannya masalah kebocoran data, saya bersikeras tidak mau memperbaharui data lewat jalur yang tidak aman tersebut. Saya pikir kemungkinan terburuk tidak mendapat surat suara. Berhubung sampai dengan saat mencoblos, saya tidak punya pasangan calon yang buat saya meyakinkan, saya tergoda buat tidak memilih saja.

Saya memang tidak mengikuti acara debat. Setiap kali masa menjelang pemilu saya akan menyembunyikan teman-teman yang terlalu banyak membagikan tentang pasangan yang mereka dukung. Beberapa teman membagikan tempat untuk mencari informasi hasil debat yang tidak memihak. Saya membaca sekilas dan walaupun semua terasa memberikan janji yang menjanjikan, namanya juga janji ya, tapi saya tidak yakin mereka akan melakukan janjinya. Mungkin setelah tambah umur, kita tidak mudah percaya janji manis, hehehe.

Beberapa hari lalu, akhirnya saya mendapat pencerahan dan memutuskan untuk memilih. Sebagai warga negara yang baik, tentu saja memilih lebih baik daripada tidak memilih. Saya memilih bukan yang harus menang, saya memilih yang saya harap melaksanakan janji program-programnya walaupun saya tetap meragukan mereka hahaha. Entah kenapa 3 pasangan calon yang ada itu menurut saya agak terlalu muluk-muluk, sampai saya merasa kalau apa yang mereka janjikan itu bisa jadi hanya janji manis semata. Tapi ya kalau mereka bisa melakukannya, bagus banget toh!

Berharap pada yang dipimpin

Saya menyadari mengurusi lebih dari 1 kepala itu ribet. Jangankan mengurus negara dengan jutaan penduduk, pengalaman baru-baru ini mengurus kelas ekskul yang hanya terdiri dari 27 siswa saja butuh waktu untuk menentukan jadwal yang tepat untuk semua. Rencana saya hanya membuka maksimal 2 kelas, ternyata jadi 4 kelas untuk bisa mengakomodasi semua peserta.

Saya jadi membayangkan, bagaimana seorang pemimpin yang punya rencana dan berusaha mengakomodasi untuk kebaikan satu negara, yang pastinya dia pun berharap yang baik-baik untuk kemajuan bersama. Jadi pemimpin itu berat, bahkan Dilan tidak akan berani bilang biar aku saja. Dengan adanya 3 pasang orang berani yang mengajukan diri menjadi pemimpin Indonesia, saya harap sih mereka bisa membawa Indonesia semakin baik.

Tidak mungkin ada manusia sempurna, walaupun mereka jadi presiden dan wakilnya sekalipun. Mungkin mereka punya misi pribadi, tapi bisa jadi memang berharap bisa memajukan negeri (sambil mengisi pundi-pundi sendiri? #eh). Ya kalau semua pundi-pundi sama-sama terisi, itu sesuatu yang diharapkan bersama toh!

Saya berharap baik pada pemimpin maupun yang dipimpin. Jadilah pemimpin yang tidak hanya berjanji tapi berikan bukti. Kami perlu bukti bukan janji. Lakukan apa yang sudah dijanjikan untuk kebaikan negeri ini.

Saya berharap untuk yang dipimpin, walaupun yang terpilih bukan pilihanmu, tetaplah untuk mendukung pemimpin terpilih, karena itu adalah suara rakyat yang percaya kalau mereka memang bisa membawa negeri ini ke arah kebaikan. Ikut dukung siapapun pemimpin terpilih untuk melaksanakan program kerjanya, bukan malah berharap mereka gagal melaksanakannya. Lagipula, kalau Indonesia maju, walaupun pemimpin terpilih mungkin bukan yang kita pilih, tapi kemungkinan besar kita akan merasa bangga jadi orang Indonesia.

Tetap berharap

Untuk kegiatan pemilu ini, siapapun yang terpilih jadi pemimpin, saya akan tetap berharap. Seperti lirik lagu yang saya hanya ingat judulnya saja. Saya bahkan tidak ingat siapa penyanyinya. Pokoknya tetap berharap yang terbaik untuk negeri ini.

Yang terbaik seperti apa? Ya mulai dari roda perekonomian yang berputar baik, pembangungan yang merata dari sabang sampai merauke, fasilitas kesehatan yang juga memperhatikan seluruh pelosok negeri, pendidikan yang juga tetap diperhatikan untuk menghasilkan generasi muda yang bisa berkarya membangun bangsa, dan tentunya juga pemerintahan yang bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Namanya berharap yang terbaik, pokoknya semua yang bagus-bagusnya!

Ada tertulis di Alkitab, kitab suci agama yang saya yakini:

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih,  dan yang paling besar di antaranya ialah kasih 

(1 Korintus 13:13)

Kita bisa punya pengharapan dengan siapapun yang kita pilih, tetapi kita tetap harus punya kasih terhadap siapapun yang terpilih dan para pemilih yang berbeda pilihannya dengan kita. Tetap mendukung mereka dan mendoakan mereka untuk diberi kemampuan menjalankan pemerintahan dengan baik, karena mengurus banyak kepala yang berbeda itu berat!

Selamat memilih!

Yuk buat kamu yang berencana golput, sebagai rakyat yang baik, kamu sebaiknya tidak golput. Pilih saja yang paling bagus program kerjanya menurut hati kamu. Tanggal 14 Februari 2024 tunjukkan kasih sayangmu pada Indonesia. Segera ke tempat pemungutan suara terdekat, siapapun yang terpilih nantinya, mari kita dukung untuk kemajuan Indonesia.

Saya sudah memilih via pos, dan sekarang giliran kamu!

Yay, beres juga nih Tantangan Blogging Mamah Gajah Ngeblog dengan tema Harapan untuk Pemimpin Indonesia!

Posted

in

by

Comments

One response to “Tetap Berharap yang Terbaik untuk Indonesia”

  1. […] Tulisan saya ini sekedar ingin mengingatkan kembali, selamat memilih untuk yang memiliki hak pilih. Jangan lupa untuk tetap menjaga kasih di hati walaupun dengan orang yang berbeda pilihan. Pokoknya tetap berharap yang terbaik untuk Indonesia. […]

Leave a Reply