Catatan dari Voila Sesi ke – 3: Merespon Film

literasi film

Setelah Jumat yang lalu saya merasa terkaget-kaget dengan informasi yang banyak tentang membaca film, hari ini saya sudah lebih tenang. Sesi ke-3 lokakarya dasar literasi film yang diselenggarakan In-Docs dan Komunitas Ibu Profesional hari ini tugasnya tidak banyak. Materi merespon film masih dibawakan oleh mas Obe Wida.

Kesimpulan setelah selesai sesi ke-3 ini adalah, ternyata menuliskan ulasan film tanpa spoiler itu tidak mudah. Ketika memberikan konten, konsep dan konteks apalagi respon dari film, masu tidak mau akan ada beberapa hal yang menjadi harus dipaparkan sebagai dasar argumen.

Akan tetapi, menuliskan analisis film itu kembali ke tujuan awal. Apakah untuk mengajak orang lain ikut menonton, atau untuk menyampaikan apa yang kita lihat ditawarkan oleh pembuat film.

Selama ini, saya menuliskan review film ataupun drama Korea memang berusaha tanpa spoiler, tapi akan lebih leluasa membahasnya ala mengupas kulit bawang.

Sesi ke-3 dibuka dengan alunan musik lama dari Vina Panduwinata yang membuat sedikit bernostalgia. Sebenarnya musik ini sekedar menunggu teman-teman yang lain masuk ke ruang Zoom. Di sesi ke-3 ini, beberapa peserta berhalangan hadir karena berbagai kesibukan lainnya.

Catatan Dari Mas Obe tentang Tugas di Minggu ke-2

Sebelum masuk ke sesi merespon film, Mas Obe memberikan beberapa catatan dari tugas. yang masuk. Misalnya saja untuk film pendek “Sunday Story”, kebanyakan penonton terjebak kalau adegan pertama adalah adegan bapak yang tidur di kamar. Padahal, judul dari film bisa menjadi shot pertama.

Banyak yang terjebak berpikir ini adalah shot pertama dari film “Sunday Story”

Saya termasuk yang yang baca tapi tak mengingat ketika menonton pertama kali. Kalau dari obrolan diskusi di break out room, memang kebanyakan ketika menonton pertama kali, tidak langsung menyadari kalau ibunya di situ salah mengingat hari.

Catatan lainnya, masih banyak yang salah menempatkan konsep dan konteks. Misalnya respon tentang menilai komunikasi antara suami istri lebih tepat sebagai konteks dan bukan konsep. Penonton juga bisa saja diajak mempertanyakan kenapa pembuat film menggambarkan ibu yang lupa hari, apakah tujuan dari membuat si ibu terlihat lupa hari? Apakah kehidupan seorang ibu itu selalu begitu, sampai lupa hari?

Selain itu bisa juga mempertanyakan kenapa di bagian akhir, ketika mereka mencuci piring bersama tetap tidak ada dialog? Apakah diam adalah cara mereka berkomuikasi sehari-harinya? Apakah ini bagian dari budaya/latar belakang keseharian keluarga ini?

Mas Obe juga membahas 2 film lainnya yang dikerjakan oleh peserta lainnya, tapi karena bukan film pilihan saya, saya hanya mendengarkan dan tidak akan saya tuliskan di sini. Oh ya, tentang konten, konsep dan konteks film ini memang awalnya cukup membingungkan. Tapi lama-lama kalau sering-sering dilakukan jadi mulai tercerahkan dan tidak tertukar-tukar lagi.

Seperti apa diskusi film yang ideal?

Dari pemaparan sesi ke-3 tentang merespon film, satu catatan yang paling berkesan buat saya adalah kalau merespon itu bukan sekedar mengritik. Kritik terhadap film juga bukan kritik yang hitam putih.

Fokus

Merespon film ini melihat mulai dari menentukan fokus yang didapatkan dari konsep.

Menentukan fokus sebuah film bisa dilakukan dengan menjawab pertanyaan: ingin melihat film sebagai apa?

  • informasi/ fakta
  • persepektif/sudut pandang,
  • pengalaman/situasi dan kondisi,
  • estetika/eksplorasi.

Umumnya kita bisa melihat fokus pada 3 hal pertama saja dan tidak usah terlalu banyak melihat eklplorasi estetikanya , katanya sih akan butuh sesi tersendiri untuk bagian ini.

Opini

Dalam mengemukakan opini terhadap sebuah film, klta tidak sekedar bilang: jelek atau bagus. Tapi kita bisa memberikan opini berdasarkan konsep yang sudah kita dapatkan:

  • impresi / apa yang kita pikirkan atau rasakan terhadap konsep tersebut. Untuk menuliskan impresi, kita bisa menggunakan beberapa kata sifat seperti: senang, sedih, muram, marah, malu, kecewa, muak dsb.
  • apakah konsep tersebut membuat kita tergerak atau terinsipirasi untuk melakukan suatu aksi atau jadi memiliki harapan baru.
  • kita juga bisa saja melakukan evaluasi dengan menyatakan apa yang menurut kita idealnya, sebaiknya, atau apa yang kita sayangkan terjadi dalam film tersebut.

Argumen

Setelah memiliki opini, kita bisa membangun argumen yang berdasar dilengkapi bukti dan memiliki basis penilaian.

Misalnya saja kita bisa berargumen terhadap apa yang menjadi impresi kita dengan memberikan konten atau konsep di bagian mana impresi itu terlihat. Kita bisa juga menambahkan konteks personal dan atau konteks non film yang membandingkan dengan realita.

Selanjutnya ketika kita mengevaluasi sebuah film, kita bisa memberi basis penilaian yang terkait dengan fokus fim. Kita bisa menambahkan konteks personal ataupun dari film dan non film. Konsep yang ada juga bisa menjadi bahan perbandingan terhadap konteks dan bisa menunjukkan konten mana yang membuat kita menangkap konsep tersebut.

Merespon Berdasar Fokus, Opini dan Argumen

Basis penilaian harus sesuatu yang konkrit dan bukan diawali dengan “pokoknya begitu”, karena akhirnya akan terjadi debat kusir tidak ada habisnya, selain namanya selera setiap orang akan mempengaruhi penilaian terhadap film.

Ketidaksetujuan terhadap sebuah film bisa dilanjutkan dengan harapan. Harapan ini tentunya bisa dilanjutkan dengan membahas konteks film dan atau melihat sudut pandang tertentu.

Akan tetapi, menuliskan ini belum tentu semudah mempraktikkan ilmunya. Karena ketika kami diberikan tugas untuk menuliskan apa yang menjadi respon terhadap film pendek yang kami tonton, saya butuh waktu agak lama memilah kembali mana yang akan menjadi fokus, opini dan argumen saya.

Membangun Pendapat dari FIlm Pendek “Sunday Story”

Menonton film Sunday Story ini, pada awalnya saya merasa ikut kesal melihat bapaknya yang tidak mau membantu istri di pagi hari. Ibunya sudah berusaha membangunkan, tapi bapaknya hanya membuka mata sedikit dan tidak mengatakan apa-apa. Sampai akhir menonton film pertama kali saya merasa bapaknya itu salah karena tidak mau membantu istrinya.

Setelah menonton ulang, saya menyadari kalau judul film menyatakan perstiwanya itu terjadi di hari Minggu. Saya berbalik merasa kasihan dengan suaminya yang diganggu tidurnya di hari libur. Si istri agak terlalu berlebihan dalam kemarahannya. Saya berharap tidak perlu ada bagian siram air ke kasur ketika marah, karena pada akhirnya sang istri akan repot sendiri menjemur kasur. Saya juga merasa janggal karena ibunya membiarkan saja anak laki-lakinya tidak sekolah (kabur dari rumah dan tidak mandi).

Tapi saya merasa senang melihat istri dan suami cuci piring bareng. Walau mereka tidak ngobrol, tapi mereka sepertinya sudah berdamai dan harapannya si ibu tidak akan berlama-lama kesalnya.

Setelah menonton beberapa kali, film ini mengingatkan saya kalau komunikasi dalam anggota keluarga itu penting sekali, supaya tidak terjadi pergi sekolah padahal hari Minggu, atau kasur yang basah karena kesal sesaat. Anak-anak juga perlu diajar mandiri dalam mempersiapkan diri ke sekolah.

Pada akhirnya walaupun saya berharap bapaknya lebih banyak dialog dan minimal mengingatkan istrinya kalau hari itu adalah hari Minggu, saya jadi menyadari kalau memang masih banyak keluarga yang tidak menjalankan komunikasi yang ideal. Anak-anak juga perlu dibiasakan untuk mengingatkan anggota keluarga yang lain kalau salah mengingat hari libur atau kesalahan lainnya.

Catatan Akhir dari Merespon Film

Tugas kali ini bisa diselesaikan langsung karena peserta diberikan waktu sekitar 30 menit untuk menuliskan respon dalam bentuk paragraf dan bukan kotak-kotak saja.

Setelah di sesi ke-2 kami harus menguliti sebuah film dengan menentukan konten, konsep dan konteks. Kami di minta membuat beberapa paragraf saja.

Lalu akan diapakan semua konten dan konsep yang sudah ada banyak dituliskan sebelumnya? Ya dijadikan bahan diskusi kalau misalnya bertemu dengan penonton lain yang mengambil konsep kunci yang berbeda dengan kita.

Kalau lawan bicara tidak mengerti konten, konsep dan konteks, kita bisa mendiskusikan dengan cara terbalik, Berangkat dari respon tanyakan alasan kesimpulan lawan bicara (konteks), lalu mundur ke apa gagasan (konsep) yang membuat dia menyimpulkan begitu dan kemudian mengeksplorasi darimana tafsiran gagasan itu dihasilkan (konten).

Mungkin tanpa disadari, yang saya lakukan selama ini itu bergerak dari respon dan menarik mundur ke konten. Makanya terkadang pembahasannya ya tidak mendalam. Tapi pembelaannya, saya kan bukan ahli perfilman, hehehe.

Mendiskusikan tontonan dengan anak

Sebelum kegiatan berakhir, ada pertanyaan menarik di sesi tanya jawab. Mbak Amelia menjawab pertanyaan tentang bagaimana mendiskusikan tontonan dengan anak, apakah kita membahas konten, konsep atau konteks?

Nah, jawabannya kembali dengan pemahaman anak dan apa yang ditangkap anak. Biasanya, anak akan melihat dari konten (apa yang dilihat dan didengar) lalu dibandingkan sampai pada konsep apa yang dia rasakan.

Jangankan anak kecil ya, saya saja sepertinya sering berhenti di konsep lalu tiba-tiba akan berargumen, hehehe..

Penutup

Secara keseluruhan, workshop kali ini mengenalkan saya dengan literasi film lebih detail. Walaupun saya bukan kritikus ataupun tukang analisis film, tapi pastinya akan menarik sekali kalau bisa mendiskusikan film dengan orang yang melihat film sebagai passion nya, dan bukan sekedar hiburan sambil berefleksi.

Dari kegiatan ini saya jadi menyadari juga kalau saya masih harus belajar banyak untuk memaparkan apa yang saya pikirkan dan rasakan dengan dasar yang benar, dan menerima argumen orang lain ketika ada perbedaan opini. Karena seperti halnya buku, merespon film ini pun kembali pada selera dan juga latar belakang pengetahuan kita.

Apakah kira-kira pembaca akan melihat perbedaan cara saya mengulas film atau drama pada tulisan-tulisan mendatang? Kita lihat saja nanti ya, nggak berani janji apa-apa, karena saya juga masih memroses materi-materi yang saya dapatkan dalam waktu 3 minggu ini.

Leave a Reply