Sehari Ada 24 Jam

Biasanya saya sering mendengar banyak orang yang super sibuk berkata: andai sehari lebih dari 24 jam. Berbeda dengan kebanyakan orang yang ingin hari lebih panjang, saya bersyukur sehari hanya 24 jam. Bukan, bukan karena saya sering kelebihan waktu, tapi sepertinya kalau sehari lebih panjang lagi, kebanyakan orang akan kelelahan karena pada akhirnya tetap saja kurang beristirahat demi mengerjakan semua hal yang ingin dikerjakan dalam sehari, seakan-akan tidak ada hari esok.

Penyakit yang dari dulu belum sembuh juga, saya ini suka menunda pekerjaan sampai menjelang hari berganti. Jadi untung saja sehari hanya 24 jam, jadi saya harus memaksa diri mengerjakan apa yang memang harus dikerjakan dalam rentang hanya 24 jam dan tidak lebih.

Sebenarnya 24 jam itu cukup, asal kita bisa menggunakannya dengan baik. Tapi, saya sendiri masih belum cukup baik menggunakannya. Selain rutin harian, ada hal-hal yang menjadi target harian yang terkadang ditunda dikerjakan dan akhirnya jadi deadliner.

Dalam rangka ‘Nulis Kompakan Mamah Gajah Ngeblog’ dengan tema rutin harian mamah gajah, saya akan tuliskan bagaimana 24 jam itu cukup buat saya.

Mencukupkan yang 24 jam

Apakah yang saya lakukan sehingga saya menjadi deadliner? Ada hari-hari di mana memang saya menumpuk janji, atau ada juga karena saya menuruti kemauan untuk nggak ngapa-ngapain dan menunda mengerjakan. Terkadang memang ada perasaan: ah tenang saja, pasti selesai pada waktunya. Tapi ya hasilnya pasti beda antara dikerjakan sejak awal, dengan ditunda mengerjakan sampai menjelang deadline.

Sejak beberapa tahun terakhir, saya mengusahakan menulis setiap hari. Tapi, sampai sekarang saya tetap tidak bisa melakukannya di waktu yang sama setiap harinya. Ada hari di mana saya bersemangat menulis dari pagi, tapi ada juga masa di mana saya memaksakan diri menjelang hari berganti. Memang sih, setelah berlatih menulis setiap hari, saya jadi bisa cepat memutuskan mau menulis apa hari tersebut, disesuaikan juga dengan mood menulis. Kalaupun sedang sangat tidak mood menulis, saya akan mengusahakan mengalahkan mood itu untuk menulis sebelum hari berganti.

Ada beberapa hal yang saya usahakan lakukan setiap harinya dalam daftar harian saya selain menulis, misalnya belajar bahasa duolingo, membaca, dan memeriksa daftar janji saya untuk hari berikutnya dengan harapan tidak menjadi deadliner. Sebenarnya hal-hal yang saya daftarkan ini tidak butuh waktu lama. Latihan bahasa dengan duolingo tidak lebih dari 15 menit, membaca juga targetnya 15 menit, akan tetapi untuk menulis masih butuh waktu bervariasi, tergantung nulis apa.

Untuk target membaca setiap hari, ada masa di mana saya bisa berhasil, tapi setiap kali saya berhenti satu hari, bisa keterusan berhenti cukup lama. Masih terus jatuh bangun untuk hal ini.

Tapi yang pasti, dalam 24 jam, saya mengusahakan melakukan sesuatu untuk diri sendiri setidaknya 15 menit – 30 menit. Katanya kan, kita harus membahagiakan diri sendiri untuk bisa membahagiakan orang lain. Jadi buat saya, melakukan hal-hal yang ada dalam daftar saya adalah upaya untuk membahagiakan diri sendiri agar bisa membahagiakan anak-anak dan suami.

Kami bisa di rumah saja berhari-hari

Kami keluarga homescholing, dan orang rumahan. Sebelum pandemi pun kami tipe yang lebih banyak di rumah saja. Sejak pandemi, kami bersama-sama hampir 24 jam. Tapi kan tiap orang ada slot waktunya. Pagi hari kami biasanya jalan pagi bersama keliling komplek rumah. Setelah itu sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, anak-anak belajar, saya beberes sedikit dan setelah itu menemani anak-anak belajar. Pak suami ya masuk ke kamar kerjanya.

Menjelang makan siang, saya harus memikirkan makan siang apa. Sesekali kalau anak-anak belajarnya selesai lebih cepat, kami makan siang di luar, tapi umumnya sih kami makan siang di rumah. Makan siang bersama-sama lagi. Selesai makan siang, kalau anak-anak tidak ada kegiatan di luar, ya berarti kami bisa mengerjakan kegiatan masing-masing.

Karena jadwal belajar anak-anak hanya di pagi hari, saya bisa punya waktu untuk belajar di siang hari. Katanya kan belajar itu seumur hidup, jadi saya juga masih suka belajar. Saat ini saya kembali belajar membaca bahasa Thai dan juga belajar video editing, selain belajar serba serbi blog. Hasil belajar edit video bisa dilihat di YouTube Drakor Class dan YouTube Gajah Baca Buku.

Menjelang sore, kami biasanya pergi keluar bersama-sama lagi. Kalau kami tidak keluar rumah, ya saya harus menyiapkan makan malam lagi. Selesai makan malam, kami biasa nonton film bersama. Atau ya anak-anak boleh membaca buku atau main komputer kalau mereka tidak ikutan nonton.

Oh ya, semasa pandemi, kami bisa di rumah saja berhari-hari. Bahkan terkadang kami tidak keluar pintu rumah kalau tidak ada yang mengantar paket. Bosan? Nggak tuh, malahan di rumah saja itu jadi merasa bisa punya wakut lebih untuk belajar dan berkarya selain mengerjakan tugas harian urusan domestik.

Mengatur waktu dan berhenti jadi penunda

Mungkin karena kami jarang pergi-pergi, waktu 24 jam itu cukup dan bisa dicukupkan. Karena saya tidak harus pergi bekerja atau mengalami kemacetan di jalan untuk antar jemput anak sekolah, ada banyak waktu untuk bisa melakukan hal-hal produktif. Menulis setiap hari merupakan salah satu cara saya untuk merasa lebih produktif, walaupun ya tulisannya sekedar cerita kami sehari-hari, atau catatan dari hobi belajar saya.

Gaya hidup yang santai terkadang bisa terjebak jadi malas, makanya saya merasa perlu untuk membuat daftar hal yang harus dilakukan ataupun perlu dilakukan. Saat ini saya masih tetap berusaha untuk menghilangkan kebiasaan menunda dalam mengerjakan apa yang menjadi target rutin harian.

Jadi memang, untuk seorang yang suka menunda seperti saya, waktu 24 jam itu cukup. Kalau sampai sehari lebih dari 24 jam, bisa-bisa saya akan semakin sulit memulai mengerjakan apa yang harus dikerjakan, karena selalu merasa masih ada waktu. Untung saja sehari hanya 24 jam, jadi saya harus terus belajar menggunakan waktu tanpa banyak menunda setiap harinya.

Bagaimana dengan kamu? Apakah kamu merasa waktu 24 jam itu cukup atau kurang? Coba deh, kalau merasa waktu 24 jam itu kurang, cek lagi apakah memang kurang atau kita saja yang masih perlu lebih baik lagi menggunakannya.

6 thoughts on “Sehari Ada 24 Jam

  1. Kalau di negara2 yang menerapkan saving time, ada hari di mana 23 atau 25 jam. Kalau sehari 25 jam, emang lebih produktif? Kayaknya enggak!… Yakin, nggak cuma aku yg memanfaatkan satu jam ekstra itu buat tidur lebih panjang!… ?

  2. Udah cukup sih 24 jam buat aku. Enak banget sebetulnya angka 24 itu kan, bisa dibagi 2, 3, 4, 6, 8, asik-asik aja.
    Makanya pas nulis artikel kompakan ini, ternyata sehari-hari aku engga ada patokan jam. Patokannya ya adzan dari masjid. Oh, aku harus istrihat dulu, sholat, trus ganti mau ngapain. Ntar adzan lagi, ganti lagi mau ngapain yg lain…haha…

  3. I feel you Risna, dulu sempat mikir kayanya enak kalau sehari lebih dari 24 jam, tapi sebenernya sama aja kan. Btw aku juga sebenernya seneng di rumah lho, dulu pas jaman lockdown itu anteng-anteng aja di rumah hehe. Enak malah lebih banyak waktu luang dan bisa ngapa-ngapain.

  4. Memang bener sih, kalau 24 jam terasa kurang, seringnya akibat manajemen waktu kita yang nggak bagus. Salut sama Teh Risna yang produktif banget. Menulis tiap hari … wow, itu sesuatu yang keren. Nggak semua orang bisa.

  5. Filosofi 24 jam Risna, mantulll. Saya setuju sekali, Risna. Bersyukur sehari ada 24 jam dan mencukupkannya.

    Sekarang saja saya suka ternganga setiap kali Risna share tulisan terbaru di group, belum sempat membaca tulisan sebelumnya; sudah ada lagi yang baru. Keren euy Mamah Risna. 🙂 Nah ini saja, menurut Risna, tidak mengusahakan menulis setiap hari ya, ehehehe. Kebayang kalau setiap hari menulis, karya tulisannya makin banyak.

    Ahahaha, samaaa Risna, saya juga type orang rumahan. Apalagi jaman sekarang sudah sangat mudah ya, pengen jajan, tinggal GoFood, tanpa sibuk-sibuk dan bermacet-macet ke luar.

Leave a Reply to Hani Cancel reply