Jangan Tinggalkan Zona Nyaman!

comfort zone

Salah satu perenungan di akhir tahun 2021 lalu adalah: mau ngapain tahun 2022? Sudah belajar banyak, tapi masih banyak yang tidak diketahui. Tiba-tiba, jadi memikirkan apakah sekarang ini sudah terlalu nyaman dan perlu meninggalkannya? Tapi sebenarnya, kalau nyaman, kenapa malah ditinggalkan? Bukankah orang berusaha kerja keras untuk sampai ke zona nyaman?

Dari hasil pencarian, ada banyak sekali yang bilang, kita perlu meninggalkan zona nyaman untuk bisa membuat diri lebih baik, mungkin tepatnya memaksa kita mencari jalan kembali ke zona nyaman. Lah, jadinya muter dong, pas nyaman ditinggal, pas nggak nyaman pengen balik?

Tapi kemudian, saya jadi memikirkan lagi, apa sih zona nyaman itu? Dan saya menemukan kalau ternyata kita tidak harus selalu meninggalkan zona nyaman. Untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih produktif, yang perlu kita lakukan adalah berkarya di zona nyaman sambil memperluas zona nyaman kita.

Tunggu dulu, sebelum pada protes, baca dulu tulisan ini sampai selesai. Kamu boleh tidak setuju, tapi kalau menurut saya, kembali lagi dengan kalian mendefinisikan zona nyaman itu seperti apa.

Identifikasi Zona Nyaman Anda

Comfort Zone (sumber: wikipedia)

comfort zone is a psychological state in which things feel familiar to a person and they are at ease and (perceive they are) in control of their environment, experiencing low levels of anxiety and stress. In this zone, a steady level of performance is possible.[1]

Bardwick defines the term as “a behavioral state where a person operates in an anxiety-neutral position.”[2] Brown describes it as “Where our uncertainty, scarcity and vulnerability are minimized—where we believe we’ll have access to enough love, food, talent, time, admiration. Where we feel we have some control.”[3]

Wikipedia, https://en.wikipedia.org/wiki/Comfort_zone

Kalau menurut wikipedia, zona nyaman itu merupakan sebuah kondisi psikologis di mana semua hal sudah kita kenal dan kita bisa santai dan merasa semua terkendali. Pastinya kalau berada dalam zona nyaman, kita tidak sedang dalam tekanan. Pokoknya santai, merasa cukup dan merasa semua terkendali.

Faktanya, banyak hal dalam hidup ini tidak berada dalam kendali kita. Banyak hal juga yang bikin kita merasa tertekan dan merasa tidak nyaman. Lalu, kalau ada zona nyaman, kenapa kita harus meninggalkannya?

Di sini, ada yang perlu dibedakan antara zona nyaman. yang memang nyaman dengan zona nyaman yang palsu/ sementara sifatnya. Anak-anak merasa nyaman dengan orangtuanya, tapi setelah umur tertentu, apakah anak akan terus merasa nyaman dengan orang tuanya? Jangan-jangan banyak anak yang ingin cepat-cepat pergi dari rumah, supaya tidak diberi wejangan tak habis-habis setiap hari.

Setelah dewasa, pastilah kita merasa ingin bebas lepas tanpa aturan dari orang tua kita. Kita ingin kita yang menentukan masa depan kita. Kita ingin kendali sepenuhnya di tangan kita. Masalahnya, ketika kita berada di rumah, mungkin kita tidak perlu pusing memikirkan mencari duit karena semua sudah tersedia dan sebagian orang bisa tinggal minta. Tapi, kalau menurut saya, hal seperti ini bukan benar-benar zona nyaman, tapi zona ketergantungan atau malah zona malas. Apa yang akan terjadi ketika orang tua nya sudah tidak ada lagi? Kepada siapa anak ini bisa meminta? Apakah masih bisa tetap bermalas-malasan?

Inilah kenapa penting buat setiap orang mengidentifikasi, apa yang menjadi zona nyamannya. Walaupun tidak ada yang bisa kita jamin 100 persen di bawah kendali manusia, tapi ketergantungan pada orang lain, atau bermalas-malasan bukan contoh dari zona nyaman yang sebenarnya.

Zona nyaman itu buat saya merupakan zona di mana saya bisa mengerjakan hal yang saya suka dengan cara yang saya suka. Kalau saya nyaman dengan sepatu tanpa tumit, tentunya saya tidak perlu memaksa diri memakai sepatu tumit tinggi. Zona nyaman ini tidak dimiliki semua orang, lantas kenapa kalau sudah nyaman malah mau pergi mencari zona tak nyaman?

Ngobrolin zona nyaman ini, membuat saya ingat dengan buku Berani Tidak Di Sukai: Untuk menjadi bahagia, kita harus fokus dengan hal-hal yang ada dibawah kendali kita, dan tak perlu pusing dengan apa kata orang lain yang bisa saja tidak sesuai dengan kita.

Alasan kenapa kamu perlu tetap di Zona Nyaman

Dalam berkarya, setiap orang juga punya zona nyaman. Ada yang lebih mudah untuk menulis fiksi, ada yang lebih bisa menulis biografi atau opini. Apakah mereka harus pergi dari zona nyamannya untuk memaksakan diri menjadi penulis yang bukan bidangnya? Tentu saja tidak.

Mastering keahlian

Daripada setengah mati belajar hal yang kamu tidak mengerti sama sekali, lebih baik kamu mendalami apa yang sudah kamu kuasai. Jadi, jangan pernah memaksa seorang penulis non fiksi untuk menulis fiksi. Mungkin mereka bisa saja, tapi belum tentu hasilnya sebaik ketika mereka menuls non-fiksi.

Mempelajari hal baru itu bukan masalah keluar dari zona nyaman, tapi masalah memperluas wawasan. Ketika kita mengenali diri sendiri, kita mengetahui apa yang menjadi kekuatan dan kelemahan kita. Namanya kekuatan, kalau terus menerus diasah, tentunya akan semakin baik hasilnya.

Kelemahan yang ada memang bukan menjadi alasan untuk tidak mengembangkan diri. Saya sendiri dari dulu merasa tidak pernah punya keahlian dalam bidang desain, tapi dengan adanya tools seperti Canva, ternyata saya bisa menemukan sisi lain dari diri saya yang ternyata cukup bisa menikmati bermain desain. Tapi tentu saja, saya tidak akan pernah bisa lebih hebat dibandingkan dengan hasil dari orang yang memang sudah belajar lebih dulu dan memang punya kelebihan dalam membuat desain.

Bekerja dengan bahagia

Namanya merasa nyaman, pastilah kita bisa jadi produktif untuk bekerja. Kita tidak perlu memikirkan hal yang bikin stress, karena kita melakukan apa yang kita suka dan nyaman di hati.

Seperti halnya ketika mencari hiburan film atau buku bacaan, pastilah kita mencari yang sesuai dengan selera kita, untuk dapat merasa terhibur. Untuk apa kita memaksakan diri membaca atau menonton film hanya karena ratingnya tinggi tapi tidak nyaman buat selera kita. Kalau kita memilih yang sesuai dengan selera, tentunya kita akan merasa terhibur dan bisa menikmati nya.

Sama saja dengan pekerjaan, kalau kita mengerjakan sesuatu yang penuh tekanan atau mengerjakan sesuatu dengan sukacita, kira-kira pekerjaan mana yang hasilnya lebih baik?

Kalau saya sih biasanya hasil pekerjaan yang dilakukan dengan hati gembira, biasanya lebih baik daripada yang dikerjakan karena terpaksa dan penuh tekanan.

Perluaslah Zona Nyamanmu

Seperti disebutkan sebelumnya, daripada meninggalkan zona nyaman, lebih baik kita memperluas zona nyaman. Semakin luas zona nyaman, semakin produktif karena semakin ahli dan bahagia.

Nah gimana caranya memperluas zona nyaman?

Tinggal di Zona Nyaman sambil eksplorasi

Satu hal yang perlu untuk kita yang tinggal si zona nyaman, kita boleh kok eksplorasi terhadap hal-hal di sekitar kita, termasuk memenuhi rasa penasaran kita. Eksplorasi ini juga dilakukan senyaman nya saja, jangan ada keterpaksaan atau tekanan yang mengganggu zona nyaman kita.

Kembali ke contoh memilih tontonan, walaupun kita biasanya nonton romance comedy, boleh kok sesekali eksplorasi nonton yang genre lain tapi masi ada romance comedynya. Atau mungkin nonton aja tanpa ekspektasi.

Ikuti kata hati

Kalau misalnya ketika kita sudah menguasai suatu hal, biasanya namanya belajar itu nggak ada habis-habisnya. Akan ada sesuatu yang menarik untuk dipelajari berikutnya. Ikuti saja kata hati mau belajar apa.

Misalnya nih, saya dari dulu kan suka menulis catatan di blog, tapi lama-lama menghilang gara-gara sosial media. Nah, ketika saya kembali menulis setiap hari, awalnya memang ada sedikit memaksakan diri, tapi nggak sampai saya merasa tidak nyaman.

Mulai saja, ga usah over thinking

Kalau sudah menetapkan ingin memperluas ke arah mana, nggak usah banyak over thinking. Mulai saja dan perbaiki ketika ada yang perlu diperbaiki. Daripada mikir mulu dan nggak mulai-mulai. Kan seperti mantra di tahun 2022 ini: Don’t just wish, make it so!

Sedikit memaksakan diri, masih boleh-boleh saja. Dan dari dunia tulis menulis, saya belajar hal-hal lainnya yang bukan sekedar ngeblog saja. Semuanya sudah pernah saya tuliskan di akhir tahun lalu, tentang perjalanan belajar dan berkarya di 2021.

Miliki Zona Nyaman Seluas Mungkin

Daripada repot-repot meninggalkan zona nyaman, mendingan memperluas zona nyaman. Supaya kita tidak perlu harus tinggal di zona tidak nyaman. Kalau sudah menuju zona tidak nyaman, dicari solusi biar jadi nyaman. Yang pasti, namanya masalah itu bukan dihindari tapi diselesaikan. Daripada keluar masuk zona nyaman, mendingan tetap tinggal dan perluas zona nyaman, biar semakin leluasa karena zona nyamannya luas.

Kalian masih ingin keluar dari zona nyaman? Ya silakan saja, tapi kalau bisa sih tinggal di zona nyaman sambil memperluasnya untuk tetap produktif berkarya.

Leave a Reply