Antara Cuaca dan Emosi Manusia

forecasting love and weather

Saya pernah menuliskan tentang Kdrama Forecasting Love and Weather ketika masih 4 episode. Sekilas kisahnya seperti kisah cinta kantoran dan bagaimana ketika putus lalu tukaran mantan. Ternyata, cerita drama ini konfliknya tidak seperti drama receh dan cukup aktual. Ada banyak hal yang berusaha diangkat oleh drama ini, dan semuanya biasanya dikaitkan dengan prakiraan cuaca saat itu.

Melalui drama ini, saya bukan hanya memperhatikan tentang apakah besok panas atau hujan saja, tapi saya juga jadi memperhatikan misalnya kelembaban dan juga apakah ada peringatan tentang badai yang akan datang.

Namanya prakiraan, terkadang benar terkadang meleset. Misalnya mereka memprakirakan akan ada hujan, atau peringatan badai, tapi ternyata tidak ada. Kalau biasanya, saya sih nggak terlalu terpengaruh, tapi dalam drama ini digambarkan ada banyak orang yang pekerjaannya perlu memperhatikan prakiraan cuaca, termasuk dengan peringatan-peringatan yang menyebabkan ada yang harus siaga, atau ada juga yang jadi tidak bisa bekerja.

Memang cuaca banyak mempengaruhi manusia. Walaupun ada hal-hal yang bisa diantisipasi, seperti halnya membawa payung sebelum hujan. Akan tetapi ada juga hal-hal yang tidak bisa diantisipasi dan harus dihadapi. Misalnya, dalam drama ini digambarkan, walau mereka sudah tahu suhu udara akan sangat panas termasuk di malam hari, tetap saja mereka tidak bisa menghindari dan akhirnya terkena efek dari cuaca itu sendiri.

Efek cuaca terhadap emosi manusia

Gara-gara nonton drakor yang membahas berbagai terminologi cuaca, terutama pada satu episode di mana disebutkan kalau udara panas bisa membuat kita menjadi lebih emosional, saya jadi tertarik mencari tahu apakah ini hanya pakai perasaan, atau ada penelitian tentang itu.

Tanpa angka-angka penelitian, sebenarnya masuk akal saja kalau udara panas bikin kita gerah dan jadi gampang ngomel, atau bagiamana hujan membuat kita merasa gampang lapar dan males keluar rumah. Tapi ternyata, semua ini sudah pernah diteliti juga loh.

Kesimpulannya sih, kalau ada yang mau baca, ada beberapa di berkas penelitian, salah satunya dari research gate yang berjudul The Effects of Weather on Daily Mood: A Multilevel Approach. Kesimpulan ilmiahnya memang ada efek dari cuaca terhadap emosi kita, terutama untuk emosi negatif. Untuk emosi positif malah tidak ditemukan, penjelasan lengkapnya baca sendiri ya.

Tentu saja penjelasannya jadi jauh lebih menarik kalau disajikan dalam bentuk tontonan dengan selingan cerita problematika dan dinamika para pegawai di kantor cuaca dan juga tak terlepas dari urusan romantika yang terjadi di sana.

Beberapa hal pengaruh cuaca terhadap emosi misalnya saja:

Cuaca Panas

Dalam cerita kdrama Forecasting Love and Weather, ada cerita panasnya tropical night. Tropical Night adalah sebutan untuk malam di mana suhu udara tidak pernah kurang dari 25 derajat celcius. Biasanya ini terjadi di musim panas. Dengan suhu udara yang panas, biasanya membuat orang akan sulit tidur. Ketika sulit tidur, orang akan over thinking dan akan menyebabkan makin sulit tidur lagi. Akibatnya? Keesokan harinya, jadi kurang perform ketika bekerja karena kurang tidur.

Dan di saat kurang tidur plus kombinasi cuaca panas, apa lagi yang akan terjadi? Tentu saja emosi yang mudah meledak dan sensitif. Pastinya akan sulit untuk fokus dengan pekerjaan. Kalau namanya sedang tidak fokus, rentan terjadi kesalahan dan sulit untuk mengelola emosi dengan baik.

Musim panas biasanya diidentikkan dengan musim liburan untuk santai di pantai dan tidak usah mikirin kerjaan, sebenarnya ada baiknya juga ya jauh-jauh dari pekerjaan di saat kita ada potensi kurang tidur dan malah gak bisa fokus.

Tapi harus diperhatikan juga, terlalu banyak sinar matahari juga tidak baik untuk kita, karena kita bisa mengalami overheat. Kalau misal di musim panas, kita lupa untuk banyak menggantikan cairan tubuh, bisa-bisa kita dehidrasi.

Terlalu banyak sinar matahari juga bisa mengakibatkan sunburn, atau bahkan kanker kulit kalau kita tidak hati-hati. Jadi memang bahkan uv index pun harus kita perhatikan, biar tidak sampai terkena kanker kulit dari uv indeks yang terlalu tinggi.

Maka dari itu, walaupun sinar matahari bisa membantu tubuh menghasilkan vitamin D yang sering disebut-sebut sebagai hal yang dibutuhkan untuk kebahagiaan dan imun, tetap saja tidak boleh berlebihan.

Cuaca Dingin

Cuaca dingin cenderung membuat kita malas bergerak di luar rumah, karena kita harus memakai perlengkapan untuk melawan dingin. Padahal, kalau kita bergerak, justru memberi kehangatan. 

Untuk musim dingin yang disertai langit gelap dan menyembunyikan matahari, hal ini bisa mengakibatkan tingkat depresi meningkat. Ya apalagi kalau bukan karena kekurangan vitamin D yang juga mempengaruhi hormon bahagia yang tidak diproduksi kalau tidak dapat bantuan dari Vitamin D.

Cuaca dingin ini bisa disebabkan angin kencang disertai hujan seperti badai, ataupun salju. Walaupun terlalu panas tidak baik, terlalu dingin juga tidak baik. Makanya kita perlu menghangatkan badan ketika udara sangat dingin.

Kelembaban Udara alias Humidity

Kelembaban udara ini pengaruhnya biasanya ke pertumbuhan jamur. Terlalu lembab, mengakibatkan bagian rumah yang tidak mendapat sinar matahari atau udara dari luar akan menjadi berjamur, tapi kalau terlalu kering, mengakibatkan kulit kita kering. Serba salah ya emang semua yang terlalu. Kalau rumah ada jamurnya, bisa berbahaya buat pernapasan kita.

Biasanya, di musim dingin di negara bersalju, kelembaban justru rendah, kulit menjadi kering sekali dan membutuhkan pelembab. Sedangkan di musim hujan, biasanya kelembaban justru tinggi. Dan dengan menghilangnya matahari di saat hujan inilah yang menjadi faktor kemungkinan tumbuhnya jamur di musim hujan (eh ini bukan pepatah, tapi sungguhan).

Masih ada banyak istilah-istilah cuaca lainnya, Tapi kesimpulannya jelas sekali, apapun cuacanya, bisa mempengaruhi kita dan umumnya bukan pengaruh positif, malah pengaruh negatif.

Penutup

Cuaca itu mempengaruhi emosi manusia. Bahkan ada yang namanya seasonal affective depression (SAD), yang merupakan depresi yang terkait dengan perubahan musim. BIasanya SAD mulai dan berakhir hampir selalu di waktu yang sama setiap tahunnya. Gejalanya akan dimulai menjelang musim dingin, menyerap energi dan membuat merasa moody. Gejala ini menghilang ketika memasuki musim semi atau di awal musim panas.

Jadi memang ada baiknya kita memperhatikan ramalan cuaca, supaya kita bisa mempersiapkan diri menghadapi cuaca apapun. Harapannya sih, walaupun katanya cuaca mempengaruhi mood, kita bisa tetap mengatasi pengaruh emosi negatif dari cuaca tersebut.

Kalau kalian pernah merasakan emosi seperti apa di cuaca tertentu?

Leave a Reply