Review Novel Pollyanna oleh Eleanor H. Porter

novel pollyanna

Setelah beberapa hari penasaran dan tidak menuliskan insight yang didapat dari novel ini, hari saya akan menuliskan langsung reviewnya saja karena sudah selesai membaca buku Pollyanna karya Eleanor H. Porter. Saya membaca beberapa bab pertama dalam bentuk buku fisik dan berbahasa Indonesia, tapi setelah bab ke-10, saya mencari versi bahasa Inggrisnya saja.

Buku yang saya baca berupa e-book dan ada audiobook nya. Buku yang diterbitkan oleh Dover Publications, INC di tahun 2003 ini merupakan buku versi yang sama dengan buku yang terbit pertama tahun 1913. Salah satu alasan saya membaca buku ini ya memang karena buku ini merupakan buku cerita anak-anak klasik.

Jumlah halaman versi berbahasa Inggrisnya lebih sedikit dibandingkan jumlah halaman versi terjemahan bahasa Indonesia. Tapi satu hal yang membuat saya lebih cepat membacanya karena saya menggunakan versi audiobook. Saya bisa membaca sambil jemur pakaian atau mencuci piring, hehehe.

Oke, langsung saja ke bagian apa yang menarik dari Novel Pollyanna ini ya.

Cerita Keluarga

Secara singkat, buku ini menceritakan Pollyanna, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang sudah kehilangan ibu dan ayahnya. Dia berasal dari keluarga susah, dan kemudian awalnya diterima dengan terpaksa oleh adik dari ibunya Miss Polly.

Miss Polly ini tinggal sebatang kara juga, karena orang tuanya dan semua saudaranya sudah meninggal, dan walau sudah berusia 40 tahun dan punya banyak uang, Miss Polly belum menikah. Singkat cerita, walau terpaksa, Miss Polly orang yang melakukan segala sesuatu yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabnya. Pollyanna dia terima di rumahnya, karena dia merasa itulah yang perlu dilakukan sebagai bentuk tanggung jawabnya.

Pollyanna, anak yang menyebarkan kegembiraan

Walaupun Pollyanna berasal dari keluarga miskin dan orangtuanya sudah tidak ada, dia merupakan anak yang selalu berusaha mencari hal yang menggembirakan dalam segala hal. Dia ramah kepada semua orang yang dia temui. Pollyanna juga selalu jujur, walau terkadang kejujurannya terkesan jadi tidak sopan, tapi biasanya itu karena dia tidak menyadari atau belum mengetahui kalau kalimatnya itu kurang pada tempatnya.

Dengan cepat, dia berteman dengan banyak orang di kota tempat Miss Polly berada. Bahkan Miss Polly sendiri akhirnya mulai terbiasa dengan kehadiran Pollyanna yang ceria dan awalnya terasa aneh.

Pollyanna selalu ingin membantu semua yang dia temui, termasuk kucing, anjing dan juga seorang anak lelaki dari panti asuhan yang ingin memiliki rumah dengan orang tua biasa dan bukan panti asuhan. Sebenarnya bagian ini di jaman sekarang kita akan waspada ya menerima anak umur 10 tahun begitu saja tentu bisa berbahaya kalau kita tidak hati-hati. Tapi untuk setting cerita tahun 1913 pun sebenarnya tidak semudah itu orang dewasa menerima anak lelaki yang terlihat miskin dan belum dikenal sebelumnya untuk diterima di rumahnya. Pollyanna tapi tidak menyerah, dia berusaha meyakinkan banyak orang untuk menerima Jimmy Bean.

Awalnya saya pikir, Bibi Polly akan luluh hatinya dan menerima Jimmy Bean, tapi ternyata tidak semudah itu. Dan di sini lah ceritanya jadi semakin menarik. Karena biasanya, lebih mudah menyerukan bergembiralah ketika kita baik-baik saja. Dan dalam novel ini sedikit spoiler – akan ada hal yang membuat Pollyanna pun tidak mudah untuk bergembira.

Bersukacitalah!

Dalam satu bagian di buku ini, diceritakan Pollyanna bertemu dengan seorang pendeta yang sedang mempersiapkan kotbahnya. Pendeta itu sedang bingung bagaimana menyampaikan nasihat untuk anggota gerejanya, wajahnya terlihat susah dan tidak gembira.

Pollyanna tentu saja mengajak pendeta itu ngobrol dan mengingatkan pendeta itu untuk bergembira. Katanya, ayahnya pernah berusaha menghitung berapa banyak kata-kata di Alkitab yang mengajak kita untuk bergembira dan bersukacita. Ada sekitar 800 kali diingatkan untuk bergembira dan bersukacita. Saya sebenarnya terpikir ingin mencari tahu kebenaran bagian ini, tapi… sepertinya tidak sekarang, hehehe.

Berikut ini salah satu ayat yang menurut Pollyanna menjadi ayat favorit ayahnya. Setelah ngobrol dengan Pollyanna, pak pendeta pun jadi mendapat insight baru tentang cara menyampaikan nasihat untuk anggota gerejanya.

Ketika membaca bagian ini, saya berpikir kalau Pollyanna ini hebat sekali, apakah memang dia akan selalu bisa menemukan hal yang menggembirakan selalu? Bagaimana kalau terjadi hal yang tidak menyenangkan? Dan saya menyesal mempertanyakan itu, karena di bagian berikutnya ada insiden yang membuat Pollyanna sulit untuk bersukacita seperti biasa.

Cerita anak-anak dengan sedikit romansa

Saya tidak akan menceritakan secara detail apa yang terjadi dan membuat Pollyanna sulit untuk bergembira. Tapi, kejadian yang terjadi ini membuat ada seperti plot twist dalam cerita anak-anak ini dengan memberikan kelanjutan cerita tentang kisah cinta ibu Pollyanna dan juga kisah cinta Bibi Polly yang pernah disebutkan oleh Pak Tom.

Memang tokoh dalam buku ini berusia 11 tahun, jadi Novel ini pastinya bukan novel untuk anak yang masih kecil banget. Tapi usia 11 tahun juga belum mengerti banyak hal, cenderung sok tahu dan suka salah menyimpulkan.

Saya tidak tahu bagaimana cara menceritakan bagian ini tanpa spoiler. Sepertinya silakan dibaca sendiri saja ya, hehehe.

Oh ya, tentang nasib Jimmy Bean, si anak lelaki itu juga ada kok diceritakan sampai akhir. Walaupun tebakan saya beberapa kali salah, tapi secara keseluruhan, cerita novel ini semua masuk akal kok, Ya namanya juga cerita anak-anak, kalau terlalu berbelit-belit, bisa jadi anaknya malah jadi bingung dan tidak mengerti.

Penutup

Buku Pollyanna ini ada lanjutannya, judulnya Pollyanna Grows Up yang pertama kali diterbitkan tahun 1915. Saya masih belum memutuskan untuk membacanya atau tidak. Saya sudah melihat sih kalau buku ini juga ada di Scribd. Besok saja deh memutuskannya, hehehe.

Senang rasanya berhasil menyelesakan 2 novel di awal tahun 2022 ini. Senang juga karena saya mulai bisa menikmati membaca fiksi dan mendapatkan banyak insight dari membaca fiksi.

Bagaimana dengan kalian? Sudah membaca berapa buku di awal tahun ini? Semoga bisa tetap konsisten nih memaksakan membaca setiap hari.

9 thoughts on “Review Novel Pollyanna oleh Eleanor H. Porter

    1. Hehehe… berkat memaksakan diri membaca dan menulis insight tiap hari.

      Tapi juga pilihan bukunya fiksi sih, jadi ya masih gampang bacanya.

  1. Nice insight, lebih baik bergembira daripada sedih-sedihan ya. Keren Pollyana.

    Aku lagi baca buku tapi belum selesai karena susah haha, mungkin bakal pakai cara Dea dan Risna (nulis review/insight) biar lebih paham

  2. Keren, udah selesai 2 buku!

    Btw, saya juga suka cerita klasik anak anak, kadang walau jalan ceritanya sederhana, tp penggambaran setting dan perasaannya cukup detil ya

  3. Ah aku ingat sekali buku ini. Versi bahasa Indonesianya diterjemahkan oleh Teh Rinurbad. Aku bahagia banget waktu banyak karya klasik seperti ini diterjemahkan. Menambah pilihan bacaan untuk anak-anak tentunya. Seri Pollyana dan seri Anne of Green Gables, jujur ak suka ketukerĀ² ceritanya, apalagi begitu ke buku lanjutannya ?

  4. On going satu buku (yang padahal ga tebel2 amat, tapi belum selesai juga dari tahun lalu ?). Seru ya, baca cerita.fiksi, tuh. Pelajaran yang bisa diambil ga kalah dengan baca buku nonfiksi.

    Btw, gimana caranya akses audiobook? Sepertinya itu patut dicoba sebagai alternatif dengerin podcast waktu masak ?.

  5. Kenapa jadi ingat Candy-candy? Tapi itu mah komik ya. Cerita klasik anak-anak memang ada khasnya sendiri. Tokoh begini berkarakter ceria agar jadi role model jaman dulu mungkin

Leave a Reply to Irene Cynthia Cancel reply