Lokakarya Literasi Film (Voila 2021) Sesi I

Tulisan hari ini merupakan cerita dari mengikuti Lokakarya Literasi Film (Voila 2021), yang diselenggarakan Komunitas Ibu Profesional dan In-Docs. Kalau dilihat dari posternya ada juga disebut Liga Film Keluarga dan Nama Mbak Amelia Hapsari.

Hampir Gak Berani Daftar VOILA

Sejujurnya, waktu mendapatkan pengumuman undangan ikut Lokakarya Literasi Film yang dibayar dengan komitmen tinggi, mata berbinar di dunia film dan keluarga dan mau berkontribusi untuk keluarga, saya agak maju mundur untuk ikutan. Saya takut nggak bisa memenuhi komitmen.

Saya masih maju mundur dan berulang membaca tentang Lokakarya ini. Saya melihat materinya tentang Literasi FIlm, Membaca Film dan Merespon Film. Perasaan saya agak tergelitik karena pada dasarnya saya sering menulis tentang film dan drama yang saya tonton.

Ada pembatasan jumlah peserta sebanyak 30 orang. Kelas ini pastinya sungguh istimewa. Sambil berpikir, saya melanjutkan ngeblog tentang berbagai tempat menonton (termasuk manfaat menonton).

Saya intip form pendaftaran ikut lokakarya ini. Baru kali ini mendaftar workshop yang menjawab pertanyaanya juga makin bikin deg-degan. Kenapa deg-deg an? Karena ditanyain berbagai pertanyaan untuk mengindikasikan memang suka nonton film dan Literasi Film.

Setelah beberapa kali buka tutup form pendaftaran. Akhirnya memutuskan mendaftar juga. Berharap dengan ikut kelas ini, bisa menuliskan tentang film dan drama yang ditonton dengan lebih baik.

Kemarin saya mendapatkan email kalau saya menjadi salah satu peserta terpilih untuk mengikuti lokakarya ini. Saya mendapatkan email yang sangat jelas dan panduan tentang media belajar dan apa saja yang akan dilakukan di dalam workshop ini.

Wow, baru sekali ini saya mengikuti workshop yang semua petunjuknya sangat jelas dan terlihat kalau semua sudah disiapkan dengan baik. Kami akan belajar melalui Zoom dan memanfaatkan Google Classroom dan Google Jamboard.

Materi Sesi Pertama: Pengenalan Literasi FILM

Mungkin ada yang tidak sabar menunggu cerita tentang materi sesi pertama hari ini. Tapi sebelumnya saya juga mau menuliskan (supaya tidak lupa) beberapa hal yang baru saya pelajari hari ini.

Hal yang baru saya kenal hari ini

Beberapa hal yang baru saya kenal hari ini:

  1. Saya baru tahu ada yang namanya Literasi Film. Selama ini cuma mendengar kata review film, sinopsis film, atau ya bincang film. Nah, apa itu Literasi Film? Singkatnya, mengenal jenis film, membaca dan meresponnya. Mengerti apa yang ditawarkan film dan alasan pembuatannya dan bagaimana merespon dengan opini, argumen dan apa yang menjadi fokus kita.
  2. Saya baru tau ada organisasi In-Docs, sebuah organisasi non-profit yang misinya adalah membangun budaya keterbukaan melalui film dokumenter.
  3. Saya juga baru tahu ada namanya Liga Film Keluarga. Pantasan saja salah satu bayaran untuk ikut workshop ini adalah mau berkontribusi untuk keluarga. Selain Insitut Ibu Profesional, ada Liga Film Keluarga juga yang menjadi penyelenggara workshop ini.

Sesi Pembukaan oleh Ibu Septi Peni Wulandani

Acara dimulai pukul 3 siang tepat sesuai jadwal. Acara dibuka oleh Ibu Septi Peni Wulandani, founder dari Komunitas Ibu Profesional sekaligus dari Liga Film Keluarga.

Beberapa tahun mengikuti KLIP, saya sudah sering dengar nama ibu Septi. Tapi, berhubung saya belum jadi anggota Ibu Profesional, hari ini merupakan kali pertama saya melihat langsung (lewat zoom) energi dari ibu Septi (selama ini cuma dapat ceritanya saja, hehehe).

Setelah mengenalkan tentang penyelenggara kegiatan ini, Ibu Septi memberi pertanyaan kepada peserta tentang film apa yang terakhir ditonton. Kami diminta untuk menuliskan di kolom chat. Peserta yang tadinya mungkin masih malu-malu, langsung ramai menuliskan film yang terakhir mereka tonton. Namanya sesama penyuka film/serial, ada beberapa judul yang ternyata sama, dan itu membuat ada rasa akrab walau belum berkenalan.

Materi Utama Sesi Pertama oleh Mbak Amelia Hapsari

Siapa yang kenal mbak Amelia Hapsari? Saya baru kenal, hehehe. Sungkem dulu mbak. Tapi kalau mau tahu, bisa langsung tanya Google dan bisa menemukan kalau mbak Amelia Hapsari ini orang Indonesia pertama yang menjadi juri piala Oscar untuk film dokumenter.

Tapi, cerita hari ini tentunya bukan tentang film dokumenter. Film yang dibicarakan hari ini tentu saja film-film produksi Hollywood genre anak-anak dan keluarga yang sebagian besar peserta pasti sudah menontonnya.

Materi pengenalan literasi film ini mengajak peserta melihat film dari sudut pandang pembuat film dan sebagai orangtua. Apa yang ditawarkan oleh setiap film dengan tokoh yang sepertinya serupa tapi tak sama. Bagaimana industri film anak-anak, ternyata banyak yang bukan untuk anak-anak dan kita sebagai orangtua perlu untuk mendampingi anak.

Beberapa judul film yang dibahas mbak Amelia hari ini misalnya: Frozen II, Okja, Little Miss Sunshine dan My Neighbor Totoro. Selanjutnya kami juga diajak melihat trailer dari film Transformer, Karate Kid, Little Prince dan Sekala Niskala.

Mbak Amelia mengajak peserta melihat apa kesamaan dari 4 judul film pertama dan dari 4 judul film kedua. Beberapa peserta yang sudah pernah menonton salah satu dari film tersebut diminta untuk menyampaikan apa yang berkesan tentang salah satu dari film-film tersebut. Ada juga bagian pendapat peserta dari hanya melihat trailernya saja.

Catatan buat saya hari ini adalah: kita harus mengerti apa yang ditawarkan dan diceritakan oleh sebuah film untuk bisa merespon secara emosional dan intelektual. Sejujurnya saya merasa tertohok, karena selama ini, saya lebih sering merespon film itu secara emosional dan bukan secara intelektual.

Walaupun saya menyadari setiap orang bisa mendapatkan hal atau pesan yang berbeda dari sebuah film (seperti halnya buku). Justru tujuan mengenal literasi film ini adalah bagaimana menyampaikan respon yang bukan berakhir dengan: tonton saja sendiri, atau ya gitu deh pokoknya bagus banget.

Mbak Amelia juga menjelaskan tentang mengapa kita menonton film dan bagaimana menganalisis dan memilih film. Tapi bagian ini tidak akan saya tuliskan detail. Poin ini kurang lebih mirip dengan membaca buku dan menganalisis buku. Bedanya, buat saya yang agak lambat membaca buku, lebih mudah menonton film daripada membaca detail deskripsi sebuah tempat di dalam buku.

Sesi Penutup dari Mas Obe

Mas Obe memberikan sedikit sneak peak tentang materi untuk membaca film yang akan dibahas minggu depan dengan contoh dari drakor One Spring Night.

Poster One Spring Night (MBC)

Sepertinya ada beberapa peserta yang juga penonton drakor, ruang chat langsung menjadi agak ramai. Sepertinya semua sudah tidak sabar untuk menunggu materi membaca film hari Jumat yang akan datang.

Sebenarnya saya punya opini berbeda dengan mas Obe yang sangat suka dengan drakor yang katanya hubungan romantisnya tidak terlalu uwu-uwu ini.

Menurut saya cerita One spring night ini agak tidak berdasar ketika si tokoh wanita tiba-tiba suka dengan seorang yang bekerja di apotik yang memberikan obat penghilang mabuk secara gratis karena dia ketinggalan dompet.

Saya merasa kalau memang masalahnya adalah wanita ini memang sudah ingin melepaskan diri dari pasangannya yang sudah pacaran bertahun-tahun, akan lebih baik kalau dia putus dulu. Bukan malah sembunyi-sembunyi bertemu dengan pria yang baru dikenalnya ini.

Saya merasa film ini secara tidak langsung membiarkan saja seorang menerima nasib karena terlanjur lama pacaran, sampai bertemu dengan pengganti baru berani memutuskan.

Akhirnya saya tidak meneruskan menonton drakor ini karena saya merasa karakter tokoh wanitanya terlalu plin plan dan takut menyatakan pendapat terhadap pacar lamanya.

Penutup

Salah satu teman saya di Drakor Class juga mengikuti lokakarya ini, dan saya tahu dia sangat suka juga dengan One Spring Night. Sudah beberapa kali kami berdiskusi tentang drakor ini, tapi kami tetap memiliki pendapat yang berbeda dengan drama ini walaupun beberapa drama lain kami bisa sama-sama menyukainya.

Begitulah, tidak semua orang akan mendapatkan hal yang sama walau menonton hal yang sama. Mengetahui pesan dari pembuat film dan merespon secara emosional dan intelektual juga perlu dipelajari untuk mempengaruhi orang lain.

Saya jadi ingat bagaimana setelah saya membagikan tulisan saya tentang film Ali dan Ratu-Ratu Queen (yang mungkin agak terlalu emosi), membuat beberapa teman malah jadi ingin menonton dan beberapa teman memutuskan tidak jadi menonton film ini.

Tak terasa tulisan ini jadi terlalu panjang, padahal tadinya berniat menuliskan singkat saja. Semoga saya bisa cukup rajin mengikuti lokakarya ini dan mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik.

Kalau kalian, sebelum menonton sebuah film apakah suka mencari tulisan rekomendasi terlebih dahulu atau tidak?

risna

A blogger who likes to watch Korean dramas and learn about digital desain with Canva and video editing using Kinemaster.

5 thoughts on “Lokakarya Literasi Film (Voila 2021) Sesi I

  • September 10, 2021 at 9:58 pm
    Permalink

    Habis ikut acara ini, daftar rencana nonton filmku jadi bertambah panjang ini.

    Reply
    • September 10, 2021 at 10:01 pm
      Permalink

      iya mbak sama, dan daftar tontonan yang pengen ditulis jadi nambah panjang juga, hehehe

      Reply
  • September 13, 2021 at 8:43 pm
    Permalink

    Sebagai penikmat cineas Korea Selatan, aku jadi banyak yang gak paham dengan diskusi film kemarin.
    Semoga besok ada film Korea yang didiskusikan yaa..

    …dan diskusi kita masih akan panjang kalau menyangkut One Spring Night.
    Mari kita beralih ke drama super hangat aja yaak… Uri Dimple Couple.

    Reply
    • September 13, 2021 at 10:59 pm
      Permalink

      sebenernya film dari mana saja semua sama sih. kalau aku dari kelas kemarin jadi mulai kepikiran tiap liat tontonan: ini mau menawarkan apa ya episode ini.

      tapi kalau menurutku sih apa yang ditawarkan belum tentu sampai ke penonton sesuai harapan juga, karena tiap orang kan punya perbedaan dalam menginterpretasikan film (seperti juga buku).

      Reply
  • Pingback: Membaca Film: Konten, Konsep dan Konteks - Risna Info

Leave a Reply to Shanty Dewi Arifin Cancel reply

%d bloggers like this: